Tragedi Cinta Satu Malam

Tragedi Cinta Satu Malam
Boxer Pink Kevin


__ADS_3

"Apa yang sedang kalian berdua lakukan di depan kamar paman, Lee Chan?"


Deg...!


Kevin dan Laurent sama-sama terlonjak kaget mendengar suara dingin dan tegas dari arah belakang. Sontak saja keduanya menoleh dan mendapati Rey berdiri di depan pintu berpelitur elegan sambil bersidekap dada.


"PAPA!!"seru Laurent dengan mata membulat sempurna. Bocah itu berlari menghampiri Rey dan melompat ke dalam gendongannya. "Kami sedang mencari kamar papa dan mama, tapi tidak menemukannya. Kakak Kevin bilang dia tidak sengaja memasukkan celana boxer pink-nya di dalam koper mama dan tanpa celana itu dia tidak bisa tidur." Tutur Laurent memberi penjelasan.


"Kapan ak-" Kevin tidak melanjutkan ucapannya melihat delikan tajam Laurent. Kevin mendengus kasar. "Benar, Pi. Aku sedang mencari mami, tanpa boxer itu aku tidak bisa tidur."


Rasanya Kevin ingin menelan Laurent hidup-hidup. Bagaimana bisa bocah itu menggunakan dirinya sebagai alasan supaya tidak terkena marah oleh Rey.


"Kamarnya ada di sana, bukan itu. Itu kamar paman, Lee Chan. Masuklah, mama kalian ada di dalam."


"Kalau begitu turunkan aku sekarang." Pinta Laurent. Rey pun menuruti permintaan putrinya kemudian menurunkan Laurent dari gendongannya. "Kakak Kevin, tunggu aku!!" seru Laurent dan bergegas mengejar bocah laki-laki itu yang lebih dulu meninggalkannya.


Sedangkan Rey hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepala melihat tingkah kedua buah hatinya. Rey tersenyum tipis. "Ada-ada saja mereka." Rey beranjak dan melangkahkan kakinya menyusul Laurent dan Kevin.


Di dalam sana kedua bocah itu sedang sibuk mencari celana boxer warna pink yang Laurent maksud. Jessica yang merasa tidak memasukkan boxer itu ke dalam kopernya juga di buat bingung. Apalagi seingatnya Kevin paling benci warna pink. Lalu kenapa tiba-tiba mereka mencari boxer.


"Aku menemukannya!!" seru Laurent dan membuat mata semua kini beralih padanya.


Tampak Kevin membelalakkan matanya, bocah itu nyaris tidak percaya dengan apa yang di temukan oleh Laurent. Rasanya dia tidak percaya,dari mana bocah itu mendapatkannya?" batin Kevin kebingungan. Kevin menghampiri Laurent kemudian mengambil celana itu dari tangannya dan membawanya pergi begitu saja.


"Yakk!!! Kakak Kevin, tunggu aku!!!" seru Laurent dan segera mengejar kakak kembar tersebut. Jessica menatap Rey dan keduanya sama-sama mengangkat bahunya.


"Kau percaya mereka kemari hanya untuk mencari celana itu? Rasanya aku mau pingsan saat mendengar Laurent mengatakan jika Kevin sedang mencari celana boxernya, parahnya lagi boxer itu berwarna merah muda. Karena yang aku tau dia sangat membenci warna pink." Ujar Jessica.


"Kau seperti tidak mengenali putrimu saja. Dia tidaklah sepolos yang kau kira. Aku menemukan ini di saku pakaiannya." Rey menunjukkan sebuah botol kecil berisi serbuk putih. Itu adalah obat perangsa**. "Mereka sepertinya sedang merencanakan sesuatu untuk kita."


Mereka mendapatkan obat itu dari Lee Chan. Menurut Chan, mereka akan segera mendapatkan adik jika memasukkan serbuk putih itu ke dalam minuman kedua orang tuanya.


Jessica mendengus berat. "Mereka itu ya, ada saja tingkah dan ulahnya." Wanita itu menggelengkan kepala. Jessica menoleh dan dia sedikit terlonjak kaget melihat tatapan dan seringai di bibir Rey. "Ke-kenapa kau menatapku seperti itu? Dan seringaimu itu, kenapa sangat mengerikan?" tanya Jessica terbata-bata.

__ADS_1


Rey menarik pinggang Jessica dan membuat wanita itu jatuh dalam pelukannya. "Apakah kau sudah mempersiapkan dirimu dengan baik, istriku? Karena malam ini aku akan memakanmu sampai habis." Bisik Rey di iringi seringai nakalnya. Dan sontak saja kedua mata Jessica membelalak saking kagetnya.


"Apa?"


Rey memiringkan kepalanya dan bibirnya menuju bibir ranum Jessica. Kedua mata itu tertutup dengan perlahan ketika dia merasakan sesuatu yang lembut dan basah menyapu permukaan bibirnya di susul pagutan-pagutan lembut yang menuntut.


Rey menuntun lengan Jessica menuju lehernya dan mengalungkannya di sana. Meskipun awalnya sempat gugup, namun pada akhirnya Jessica tetap menerima ciuman tersebut dengan baik. Bahkan tak ragu Jessica membalas ciuman Rey yang semakin menuntut.


Sadar Jessica membalas ciumannya. Rey segera mengangkat tubuhnya dan membaringkannya di atas tempat tidur. Jari-jari besar Rey bergerak untuk membuka gaun pengantin yang masih melekat indah di tubuh putihnya lalu menanggalkannya.


Rey semakin terbakar gairah ketika melihat sepasang bukit kembar yang masih tersembunyi apik di balik pengamannya, yang detik berikutnya ia tanggalkan juga.


Tak ingin kalah dari Rey. Jessica pun berusaha melepaskan semua kain yang melekat di tubuh Rey. Kemeja dan Vest sudah berhasil Jessica tanggalkan dan sekarang terkulai di lantai, menyisahkan singlet putihnya.


Dan malam ini akan terasa sangat berbeda. Bagaimana tidak, mereka melakukan pertama kalinya sebagai sepasang suami istri.


-


Kevin yang penasaran segera menempelkan telinganya pada pintu. Bocah itu membelalakkan matanya dan langsung bergidik ngeri mendengar suara-suara aneh yang berasal dari dalam sana. Buru-buru ia menarik Laurent menjauh dari sana karena Kevin tidak ingin otak adiknya sampai teracuni.


"Itu bukan anak-anak seperti kita. Sebaiknya kita pergi sekarang."


"Tapi, Kakak Kevin. Aku kan sangat penasaran. Sebentar lagi ne, aku benar-benar ingin mendengarnya!!"


"Tidak, pokoknya kita harus pergi, titik!!"


Kevin bersikeras menyeret Laurent pergi dari sana. Dan hal tersebut membuat bocah itu kesal setengah mati. Pasalnya dia masih ingin mengetahui apa yang di lakukan kedua orang tuanya di dalam sana. Mereka memberinya adik atau tidak, Laurent sangat penasaran.


"Ahhh...!! Kakak Kevin sangat tidak asik!!"


-


Jessica mendesah lelah, ia berguling ke kanan menyamankan posisi saat ini. Tentu saja lelah dalam artian lain. Dia lelah setelah olah raganya bersama Rey beberapa saat yang lalu.

__ADS_1


Wanita yang telah resmi berstatus sebagai nyonya Lu itu memperhatikan keadaannya saat ini. Ia merasa miris. Pakaiannya sudah tanggal, ia hanya berbalut selimut tebal sebagai satu-satunya kain yang membungkus tubuhnya, Kulit punggungnya yang polos bersentuhan dengan dada bidang Rey yang tak tertutup apa-ala.


Sepasang bola matanya yang masih terbuka, memberi atensi bosan pada sebagian kamar pengantin yang terlihat sudah serupa tenda pengungsi bencana alam. Pakaian yang tertumpuk di lantai bak barang bekas yang tak lagi berguna.


Lengan Rey mencarinya, melingkar sempurna pada pinggang ramping Jessica. Jemarinya bergerak pelan di pusar Jessica, sentuhannya lembut dan maksud menggoda. "Kenapa, Sayang? Apa kau tidak bisa tidur?" bisik Rey di sela-sela leher dan pundak Jessica yang terbuka. Sesekali bibir itu mengecup pundak dan leher wanitanya.


Jessica membisu, membiarkan pertanyaan itu menggenang dalam keheningan yang tercipta. Rey juga tampak tidak begitu menghiraukan, bibirnya masih bergerak-gerak ringan menyentuh bagian polos tubuh istrinya seperti menggigit, mengecup, mengisap dengan begitu lembut dan penuh sayang.


Jessica merubah posisinya. Ia dan Rey saling berhadapan sekarang. "Aku tidak bisa tidur,"


"Kalau tidak bisa tidur, kita bergadang saja sampai pagi," kata Rey dalam arti lain yang membuat Jessica merinding seketika. Dan Jessica bisa merasakan seringai di balik punggungnya.


Dan Jessica benar-benar tidak mampu menolak ketika Rey mulai melancarkan aksinya. Ciuman dan kecupan pada tubuhnya menghantarkan Jessica menuju dimensi lain, dimensi yang hanya bisa di masuki oleh dirinya dan Rey. Dimensi yang membuat Jessica melayang dalam kenikmatan.


-


Sepasang pengantin baru terlihat duduk di sebuah meja pojokan yang hanya cukup untuk mereka berdua setelah mencari tempat yang pas di hati, apalagi di tempat ini ada jendela yang langsung bisa melihat pemandangan laut ke luar.


Rey terus memperhatikan wanita di depannya yang sedang makan dengan anggunnya. Memotong makanan di piringnya perlahan kemudian memasukannya pada mulut mungilnya. Rey tersenyum hangat, hatinya benar-benar menghangat merasakan perasaan yang begitu luar biasa dengan adanya wanita itu di sisinya.


"Kau tahu? Andaikan kapal ini akan tenggelam pun aku tidak akan menyesalinya," ucap Rey sambil menyeruput kopi hitamnya


Jessica mengangkat kepalanya dan mengeryitkan alisnya. "Kenapa?"


"Karena ada dirimu di sini. Selama kau ada di sampingku dan menggenggam tanganku, aku tidak akan merasa ragu dan takut untuk menghadapi apapun. Karena kau adalah kekuatanku, anugerah terindah yang Tuhan berikan padaku. Aku bahagia memilikimu di sampingku."


Jessica tersenyum lembut. Wanita itu meraih tangan Rey dan menggenggamnya. "Begitu pula diriku. Aku sangat bahagia bisa menjadi bagian terpenting dalam hidupmu. Bersamamu, aku ingin menghabiskan sisa umurku. Aku mencintaimu, Rey Lu." Ucap Jessica dengan senyum yang sama.


"Nado."


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2