
Suara berisik jam weker membuat gadis belia berusia 12 tahun itu terpaksa membuka matanya kendati masih sangat mengantuk.
Tadi malam ia sulit sekali untuk tidur setelah terbangun karena mimpi buruk, jam tidurnya jadi berkurang drastis. Sambil mengucek pelan kelopak matanya, gadis dua belas tahun itu akhirnya membuka mata sepenuhnya. Suara memekakkan telinga masih terdengar membuat Laurent menggapai jam berbentuk bunga tersebut dan mematikan alarmnya.
Mata coklatnya yang jernih turunan dari sang ibu memandang keadaan kamarnya yang masih gelap. Dengan kening mengerut, gadis yang mulai beranjak remaja itu turun dari ranjang dan membuka tirai yang menutupi jendela kamarnya.
Ia kembali duduk di ranjangnya dan melirik jam di atas nakas, pantas saja suasana di luar masih agak sedikit gelap karena matahari belum muncul, jam masih penunjukkan pukul setengah lima pagi.
Laurent kembali berbaring sambil memeluk guling kesayangannya, pandangannya lurus ke depan. Pikirannya melayang kembali saat ia terbangun dari mimpi buruk yang ia alami tadi malam. Seingatnya, ia tidur bersama kedua orang tuanya setelah bermimpi buruk itu. Tapi kenapa sekarang ia malah bangun di kamarnya sendiri? Laurent mencerutkan bibirnya kesal.
"Papa menyebalkan!"
Gadis itu kembali menggerutu dan membenamkan kepala di bantal empuknya. Rasanya dia ingin menjadi kecil lagi agar bisa selalu tidur bersama sang ibu.
Kekesalan Laurent bukannya tanpa alasan. Pasalnya, ini pertama kalinya sang ayab melakukan hal menyebalkan seperti itu. Rey sering sekali melakukannya. Setiap kali ia ingin tidur bersama mereka. Tapi pagi harinya ketika bangun, ia sudah berada kembali di kamarnya sendiri.
Padahal Laurent hanya ingin menghabiskan waktu dengan ibunya, bermanja-manja dengannya. Tapi sang ayah selalu menghalangi dan tidak pernah mengijinkan ia ikut tidur bersama mereka. Sekalinya boleh, pasti dia akan pindah kamar saat pagi tiba. Bukankah ayahnya itu sangat menyebalkan?
Setelah mandi dan berganti pakaian. Laurent segera turun untuk sarapan bersama kedua orang tuanya juga saudara kembarnya. Laurent tidak merasa heran ketika melihat papanya masih dengan pakaian santainya. Gadis kecil itu menghampiri ketiganya kemudian bergabung bersama mereka.
"Pagi, Ma, Pa." sapa Laurent pada kedua orang tuanya seraya mendaratkan pantatnya di samping Jessica.
"Pagi juga, Sayang. Kau ingin makan dengan lauk apa?"
"Samakan saja dengan, Mama."
"Baiklah,"
Kevin memicingkan matanya melihat ekspresi suram Laurent pagi ini. Sangat-sangat tidak biasanya ia menunjukkan ekspresi semacam itu saat pagi hari, kecuali jika moodnya sedang buruk.
__ADS_1
Kevin mengangkat bahunya acuh. Dia terlalu malas bertanya. Toh itu bukan urusannya juga. Usai sarapan, Kevin langsung pergi ke kamarnya, sedangkan Laurent pergi ke taman belakang bersama ibunya. Dan Rey pergi ke ruang kerjanya. Chan baru saja mengirim beberapa email dan harus segera dia periksa.
-
Memberikan pupuk, mencabuti rumput liar, serta memberi air di tiap tanaman bunga merupakan pekerjaan Jessica ketika dia sedang tidak bekerja atau sebelum berangkat bekerja. Jessica tak pernah absen menilik pertumbuhan bunga-bunganya yang tumbuh di halaman belakang rumah.
Ia begitu menyukai pekerjaan tersebut. Meskipun terkadang cukup memakan banyak waktu dan sedikit melelahkan, namun Jess!ca melakukannya dengan senang dan sepenuh hati. Baginya hal itu begitu menyenangkan, dan Jessica sangat menyukai ketika sedang berkutat dengan bunga-bunganya. Apalagi jika bunga-bunga itu tumbuh subur.
Seperti pada salah satu bunga yang ada di depannya. Warnanya merah menyala serta memiliki bentuk mahkota yang unik dan tampak indah memesona. Jessica melebarkan senyumnya. Bunga itu memiliki bentuk dan aroma yang khas. Terlihat begitu segar dengan tetesan air di sekeliling kuncupnya. Ia memetik salah satu bunga itu. Lalu mengamatinya lebih dekat.
"Ma, berapa banyak yang ingin kau petik hari ini?" Suara bak lonceng itu mengalihkan perhatian.
Jessica berbalik dan menatap sang putri yang berdiri tak jauh dari tempatnya berada. Sama seperti dirinya. Laurent juga sangat menyukai bunga. Mawar terutama.
"Secukupnya saja. Hanya untuk ruang tamu, bunga di kamar tidak perlu di ganti karena masih segar."
Dan tanpa mereka berdua sadari. Ada sepasang mata yang sedari tadi menatap mereka dari kejauhan. Orang itu berdiri di depan dinding kaca di ruang kerjanya. Orang itu tersenyum tipis. Hatinya menghangat melihat senyum cerita di wajah istri dan putrinya.
"Ma, aku rasa papa sedang memperhatikan kita. Lihatlah ke sana,"
Jessica mengikuti arah pandang Laurent, dan benar apa yang dia katakan. Rey menatapnya dari kejauhan. Pria itu terlihat melambaikan tangannya membalas lambaian putrinya.
"Ma, bagaimana kalau kita panggil papa supaya ke sini juga?"
"Apa papamu mau?"
"Akan aku coba,"
Laurent menoleh dan mendesah kecewa, pasalnya sang ayah sudah tidak ada di sana. Dan Jessica hanya mendengus geli melihat perubahan ekspresi pada sang putri.
__ADS_1
"Sudah semakin siang dan semakin terik, kita masuk saja." Ucap Jessica yang kemudian di balas anggukan oleh Laurent. Keduanya berjalan beriringan meninggalkan taman.
-
"Aku tidak sudi!! Lebih baik aku menerima hukuman mati dari pada harus meminta maaf pada mereka!!"
Diego menatap wanita di hadapannya itu dengan tatapan super datar. Ia tau jika Tiffany memang sangat keras kepala dan dia mengakui hal itu. Bukan hanya satu atau dua hari saja dia mengenalnya. Tapi bertahun-tahun dan Tiffany tetap dengan pribadi yang sama.
"Kapan kau bisa membuka hati dan menyadari semua kesalahanmu, Tiffany Hong?! Mungkin hidupmu tidak akan berakhir di tiang gantungan jika kau bersedia meminta maaf dan mengakui semua kesalahanmu pada mereka. Karena hanya mereka yang bisa meringankan hukumanmu saat ini."
"Aku yakin kau tidak tuli, bahkan aku akan mengatakannya hingga ribuan kali jika aku tidak sudi dan tidak akan pernah Sudi untuk meminta maaf pada mereka. Hidupku sudah di tentukan di tiang gantungan, dan di sanalah hidupku akan berakhir. Jadi jangan coba untuk mengubahnya!!"
Tiffany di jatuhi hukuman gantung setelah di jerat dengan pasal berlapis. Kejahatan Tiffany sudah terlalu banyak hingga dia harus terima di jatuhi hukuman mati, salah satunya adalah percobaan pembunuhan.
Terlalu kejam memang, namun hukum tetaplah hukum dan siapa yang berbuat kejahatan pasti akan menerima hukumannya.
"Sebaiknya kau pergi saja. Aku terlalu muak melihat wajahmu!!"
"Tiffany, pikirkan sekali lagi. Masih belum terlambat untuk memperbaiki segalanya. Hukumanmu juga bisa di peringan lagi, berhentilah menjadi wanita yang keras kepala seperti ini."
"Jika kau mau berubah, aku akan menunggumu. Aku akan menikahimu setelah kau keluar dari sini. Kita lupakan semua yang terjadi dan kita buka lembaran baru, kita akan hidup bahagia sebagai keluarga,"
"Bermimpilah terus, karena sampai kapanpun aku tidak akan meminta maaf pada mereka. Dan aku...Tidak Sudi memungut kembali apa yang telah aku buang!!" Tiffany beranjak dan pergi begitu saja.
"Kau sangat keras kepala dan egois, Tiffany Hong."
-
Bersambung.
__ADS_1