
Terdengar suara gaduh dari lorong yang bersahut-sahutan, beberpa perawat mendorong sebuah kereta dorong, dia mana seorang wanita terbaring dengan keadaan bersimbah darah. Sebuah besi terlihat menancap pada perut bagian kirinya. Dan darah juga tampak mengalir dari kepalanya.
Seorang anak kecil berlari mengikuti mereka berdua sambil menangis menjerit-jerit memanggil ibunya yang berada diantara hidup dan mati, rupanya wanita yang tidak sadarkan diri itu adalah ibu kandung si bocah bergigi ompong tersebut.
"Lebih cepat lagi.." kata salah satu dari para perawat itu
"Cepat.. cepat.."
"Kondisinya semakin menurun."
"Tolong lebih cepat lagi… tolong selamatkan adikku.. tolong lebih cepat lagi." Teriak wanita yang berjalan di samping para perawat itu.
"Ibu... Ibu... Ibu..." Jerit anak kecil itu sambil menangis ketakutan. Dia sangat takut hal buruk sampai menimpa ibunya.
"Tolong sembuhkan Ibuku.." teriak anak kecil itu yang. asih berjalan di samping kereta dorong di samping wanita itu.
"Tahan dulu," namun langkah para perawat itu di hentikan oleh seorang pria lengkap dengan jas putihnya. "Kalian tidak bisa membawanya masuk ke dalam ruang operasi sebelum mengikuti prosedur yang ada."
"Tapi, Dokter. Keadaan wanita ini sangat kritis. Dia bisa meninggal jika dibiarkan saja.
"Prosedur tetaplah prosedur. Dan kalian harus tetap mematuhinya bagaimana pun kondisinya."
"Tolong sembuhkan ibuku.." mohon anak kecil itu sambil menarik jas putih si dokter muda tadi.
Dengan kasar, ia menghempaskan tangan kecil itu dan membuat bocah kecil jerembab ke lantai rumah sakit.
"Kau! Dokter biadab!" maki si wanita tadi.
Satu persatu perawat itu pun meninggalkan kereta dorong di mana wanita yang tengah sekarat itu berbaring. Mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa. Semua memang harus mengikuti prosedur dan itu sudah menjadi aturan mutlak yang harus di patuhi siapa pun.
"Suster… dokter… siapapun.. tolong.." mohon si wanita itu kepada suster-suster yang masih tersisa di sana.
__ADS_1
"Maaf Nyonya, terlebih dahulu Anda harus mengisi formulir dan menyerahkan uang jaminan administrasi." Jawab suster jaga yang berdiri di meja penerimaan pasien.
"Suster, setidaknya tolong dulu dia." Pintanya.
"Maaf, Nyonya. Tapi saya betul-betul tidak punya kuasa untuk memberikan ruangan ataupun pertolongan apapun sebelum Anda menandatangai formulir pendaftaran dan membayar bi…."
"SUSTER.. KAU TIDAK LIHAT ANAKNYA? Anak itu akan jadi yatim piatu kalau rumah sakit keji ini tidak segera menolong bapaknya!" teriak pria itu kalap.
Jessica yang baru saja keluar dari ruang operasi terkejut melihat ada keributan di depan meja administrasi, dan dengan terburu-buru ia mendekati kerumunan ribut tersebut, dibelakangnya tampak dokter lain mengikuti dengan raut wajah tegang.
Jujur saja dada Jessica selalu berdebar hebat setiap kali harus bergelut dengan hidup dan mati seseorang. Dari sudut matanya ia melihat seorang bocah yang tersedu-sedu memanggil Ibunya.
"Suster, biarkan mereka membawanya masuk dan segera cek kondisinya." Titah Jessica yang langsung dipatuhi oleh para suster dan dokter jaga. "Apa yang terjadi padanya, Nyonya? Apakah dia bagian dari korban kecelakaan beruntun yang baru saja terjadi?" tanya Jessica pada wanita di samping kanannya. Wanita itu menggeleng.
"Bukan, Dokter. Adik saya di tusuk oleh suami keduanya dengan besi berkarat itu dan kepalanya di hantam dengan balok kayu." Jelas wanita itu dengan berurai air mata.
"Saya akan mencoba melakukan yang terbaik. Semoga ini belum terlambat." Ucap Jessica dengan senyum tipis di sudut bibirnya.
Wanita itu meraih tangan Jessica dan menggenggamnya. "Dokter saya mohon pada Anda. Selamatkan adik saya. Putrinya bisa menjadi yatim piatu jika dia sampai tidak selamat." Ujar wanita itu memohon.
Dengan stetoskop dan lampu senter kecil ditangannya, dokter laki-laki yang tadi keluar dari ruang operasi bersama Jessica mencoba memeriksa dengan teliti keadaan wanita malang tersebut.
"Ibu… bangun.. ibu.. bangun… Kau harus bangun, kau tidak boleh meninggalkanku," tangis pilu bocah kecil itu terus saja terdengar.
Jessica yang memang memiliki hati yang lembut merasa betul-betul terenyuh. Hatinya seperti tercabik-cabik. Ia membayangkan jika yang berada di posisi anak itu adalah kedua buah hatinya. Jangankan untuk mengalaminya, membayangkannya saja sudah membuatnya jetakutan. Jessica tersenyum, Ia mendekat ke arah bocah kecil itu dan memelukknya.
"Tenang, Nak. ibumu pasti akan baik-baik saja." Ucapnya pelan, berusaha menenangkan. Bocah itu menatap langsung kedua bola mata hazel nan indah itu, ia terseyum dan ia percaya.
"Maaf.. tapi ini sudah terlambat." dokter pria itu melepas stetoskop yang melingkar di lehernya.
Ia menggeleng kepada wanita tadi dan melirik ke arah dokter cantik yang langsung membelalakan matanya saat mendengar ucapan dokter itu barusan.
__ADS_1
Jessica langsung bangkit dari duduknya. "Apa maksudmu?" tanya Jessica meminta penjelasan. "Bahkan kita belum mencobanya,"
"Tapi kita tidak bisa menolongnya, ini sudah terlambat, harapannya untuk bisa bertahan hidup sangat tipis dan tidak ada gunanya melakukan operasi juga." Dokter itu menggelengkan kepalanya.
"Dia mengalami pendarahan hebat di otak dan besi itu menusuk organ vitalnya, pupilnya mengalami dilatasi, dan kita sudah tidak bisa berbuat apa-apa.." Jelasnya.
"Tapi kita tidak bisa membiarkannya begitu saja. Bagaimana kalau diagnosamu salah?" lawan Jessica sambil menatap langsung ke dalam mata hitam seniornya tersebut.
"Diagnosaku akurat, Dokter Jessica! Dan berapa kali lagi aku harus menegaskannya padamu jika sudah tidak ada gunanya melakukan operasi." Dengan tegas dokter itu menjawab tuduhan juniornya. Amarah terlihat dari sorot matanya.
"Tidak, kita masih memiliki waktu. Seandainya pun gagal setidaknya kita telah mencobanya. Keajaiban itu ada, paling tidak kita coba lakukan operasi. Dan apa kau tidak melihat anaknya. Dia masih sangat kecil. Dan mereka hanya tinggal berdua. Jika kau membiarkannya, apa kau tidak kasihan pada anak itu, Dokter Kim?" cecar Jessica yang mulai terbakar emosi.
"JANGAN MENDEBATKU, JESSICA ASTORIA!!" bentak doker itu penuh emosi dan mengejutkan semua orang yang ada di sana. Termasuk sosok pria yang baru saja menginjakkan kakinya di rumah sakit bertaraf internasional tersebut.
"Aku akan membayar berapapun biaya operasinya!" sahut Jessica lantang. "Aku akan menanggung semua biaya operasinya, aku tidak akan membiarkan anak ini sampai kehilangan Ibunya, tidak akan pernah!!"
"Aku tidak membicarakan tentang dokter Jessica. Tapi peluang untuk menyelamatkan hidupnya hanya 1% walaupun dengan jalan operasi."
"Walaupun hanya 0.1%, jika itu peluang untuk selamat, kita harus berusaha untuk menyelamatkannya, Dokter! Jika semua dokter mengatakan hal yang sama bahwa tidak ada harapan bagi para pasiennya untuk hidup, apakah berarti hidup mereka harus selesai begitu saja tanpa diusahakan terlebih dahulu?" dengan keras kepala dokter cantik itu mempertahankan argumentnya.
Ia sama sekali tidak punya hati untuk melihat bocah malang ini kehilangan ibunya. Dan posisi anak itu mengingatkan Jessica pada peristiwa yang dulu pernah di alaminya ketika ia kehilangan ibunya.
"Jangan mendebatku, Dokter Jessica. Sebaiknya kau berhentilah bersikap keras kepala. Aku adalah dokter senior di rumah sakit ini. Dan aku yang lebih mengerti mengenai hidup dan mati seseorang dibandingkan dirimu!!"
"Baiklah, jika kau tidak mau melakukannya! Biar aku saja yang melakukannya. Akan aku buktikan padamu bila harapan itu selalu ada, dan tidak ada kata terlambat di dunia ini. Aku akan menyelamatkan nyawa wanita ini meskipun tanpa bantuanmu!!"
"Dan jika di dunia ini semua Dokter sama sepertimu, yang selalu memasrahkan nyawa seseorang pada takdir, maka... Lupakan. Segera siapkan ruang operasi, kita harus mengoperasi wanita ini dengan segera."
"Baik Dokter!!"
Rey yang mendengar dan melihat semuanya tak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum. Ternyata tidak hanya cantik parasnya, tapi Jessica juga memiliki hati seperti malaikat. Dan dia sangat beruntung memiliki istri seperti Jessica.
__ADS_1
-
Bersambung.