Tragedi Cinta Satu Malam

Tragedi Cinta Satu Malam
Season 2 (Bab 14)


__ADS_3

Luna menatap suaminya yang saat ini sedang bersiap-siap di kamar mereka. Sangat berbeda dengan biasanya, penampilan Kevin terlihat lebih rapi. Kemeja berwarna navy yang di balut Vest hitam yang senada dengan celana bahan dan jasnya.


"Sebenarnya kau mau pergi ke mana? Kenapa harus berpakaian serapi itu?" tanya Luna seraya menatap heran suaminya.


"Aku harus menemui papa untuk membahas tentang pekerjaan. Mulai besok setelah pulang kuliah aku harus pergi pergi bekerja," jawab Kevin memberi penjelasan.


"Hah? Bekerja?"


Kevin mengangguk. "Tentu saja aku harus bekerja. Memangnya kau mau makan apa kalau aku tidak berkerja? Kau mau makan batu kerikil?"


Luna langsung panik sendiri saat membayangkan ia harus makan makanan yang terbuat dari krikil mulai dari tumis krikil, nasi krikil dan sebagainya. Maka ia menganggukkan kepalanya dua kali, pertanda bahwa ia menyetujui peraturan yang kedua.


"Tapi Vin, di mana kau akan bekerja?" tanya Luna penasaran.


"Papa memintaku mengelola salah satu perusahaannya yang ada di sini. Perusahaan itu adalah cabang utama dari perusahaan induk. CEO yang mengelolanya mengundurkan diri karena suatu hal, dan maka untuk sementara, aku yang ambil alih."


"Memangnya kau bisa?" tanya Luna sedikit ragu.


Yang benar saja! Mana mungkin pemuda yang belum lama masuk kuliah bisa menjalankan perusahaan! Bukannya untuk mengurus sebuah perusahaan harus memiliki pengalaman dan mengambil jurusan manajemen bisnis, agar bisa menjalankan perusahaan dengan baik? Sedangkan Kevin tidak mengambil jurusan manajemen bisnis


"Aku sudah belajar tentang dunia bisnis sejak kecil. Jadi kau tidak perlu meragukan apapun, apalagi mengenai kemampuanku di dunia perbisnisan. Mungkin aku memang belum berpengalaman, tapi aku cukup mahir dan bisa di andalkan." Tutur Kevin panjang lebar.


Lagi-lagi Luna menganggukkan kepala sebagai tanda jika dia telah paham dengan penjelasan suaminya. "Tapi selama kau tidak ada di rumah bagaimana jika aku merasa bosan dan kesepian? Pasti kau akan sering lembur dan pulang tengah malam." Luna memasang mimik muka sedih dan frustasi.


"Kau bisa menungguku di rumah keluarga Lu atau di rumah ayahmu. Saat pulang, aku akan menjemputmu."


"Apakah itu artinya waktu bersama kita juga harus berkurang?"


Kevin menghampiri Luna kemudian berlutut di depannya. "Tentu saja tidak, akhir pekan semua waktuku untukmu. Dan jika kau merindukanku kau bisa pergi ke kantor untuk menemuiku. Dan aku tidak akan melarangmu meskipun kau ingin seharian berada di sana." Tuturnya dan membuat mata Luna berbinar.

__ADS_1


"Benarkah?" Kevin mengangguk. Wanita itu pun langsung berhambur ke dalam pelukan suaminya dan memeluk Kevin dengan sangat erat.


Kemudian Kevin melepaskan pelukannya. "Aku harus segera berangkat. Kau ingin tetap di rumah atau ingin aku antarkan pada mama?"


"Aku di rumah saja. Hari ini aku tidak ingin pergi ke mana pun, aku malas dan hanya ingin tidur seharian." Ucapnya yang kemudian di balas anggukan oleh Kevin.


"Baiklah, aku akan menghubungimu nanti. Aku pergi dan baik-baik di rumah."Kevin menepuk kepala Luna dan mendaratkan kecupan pada keningnya. "Aku pergi ya," Luna tersenyum dan mengangguk.


Setelah mengantarkan Kevin sampai depan pintu. Luna kembali ke dalam dan berjalan menuju taman belakang untuk melihat bunga-bunganya. Luna berencana memetik beberapa tangkai mawar untuk mengganti bunga di kamarnya yang mulai layu.


-


Kabar tentang adanya CEO baru telah sampai ke telinga para karyawan dari semua departemen. Saat ini para karyawan berdiri berjajar di depan pintu untuk menyambut CEO baru mereka yang katanya masih muda dan tampan.


Menurut desas-desus yang beredar jika dia adalah putra dari pemilik perusahaan dan keturunan asli dari keluarga Lu. Dan jika itu benar, maka soal ketampanan dan wibawa sudah tidak bisa di ragukan lagi.


Sebuah sedan hitam mewah berhenti di depan perusahaan. Seorang pria keluar dari balik kemudi kemudian berjalan memutar dan membukakan pintu untuk tuannya.


Para karyawan wanita sesekali mencuri pandang pada atasan barunya itu yang terlewat tampan. Dan tidak di ragukan jika bibit dalam keluarga Lu semuanya adalah bibit unggul.


Semua sudah kembali dan menempati meja masing-masing. Melihat pimpinan baru mereka yang terlewat tampan membuat mereka begitu bersemangat dan tak sedikit dari karyawan wanita yang berusaha mempercantik dirinya hanya demi menarik perhatian sang CEO yang luar biasa tampan itu.


Sama seperti ayahnya 'Rey' Kevin juga begitu tampan dan penuh dengan pesona.


Seorang pria muda yang baru saja tiba di sana memperhatikan setiap wanita yang sibuk dengan dandanannya. Ck, mereka berlebihan sekali! Dandanan sudah menor begitu masih saja ditambah lagi. ckckck…. pria itu menggeleng-gelengkan kepala  prihatin.


Tapi mengherankan kenapa mereka begitu sibuk berdandan dan mempercantik dirinya seperti itu, alasannya adalah CEO baru yang tampan.


"Huaa...Rasanya aku mau pingsan melihat CEO baru kita. Dia begitu tampan dan mempesona, aku jadi mau di jadikan kekasih olehnya." Teriak Anna kegirangan.

__ADS_1


"Kau benar, tapi dia sudah tidak lajang. Hahh, menyebalkan sekali. Tapi aku ini cantik jadi mana mungkin dia tidak akan jatuh hati pada pesonaku." Tambah Mirra sambil merapihkan lipstick merahnya.


Dan pria itu hanya bisa mendengus. Mengabaikan para karyawan yang sedang bergosip. Ia melanjutkan langkahnya dan berjalan menuju ruangan atasannya.


"Tuan Presdir," pria itu membungkuk pada Kevin setibanya di depan pemuda itu. "Ini adalah dokumen dari semua departemen dan Anda bisa memeriksanya."


"Hn,"


"Jika Anda membutuhkan sesuatu, Anda bisa menghubungi saya, kalau begitu saya permisi dulu." Kevin mengangguk. Dan mempersilahkan pria itu untuk pergi.


Ting...


Perhatian Kevin sedikit teralihkan oleh dentingan pada ponselnya. Senyum di bibirnya merekah melihat foto yang Luna kirim padanya. Lalu Kevin meletakkan ponselnya tanpa berniat untuk membalas pesan tersebut.


-


Sean menggaruk tengkuknya. Sejak kedatangannya ke mansion megah ini, gadis cantik yang berdiri menghadapnya ini terus memandangnya. Dengan ekspresi tidak suka yang kentara. Tapi Sean menyikapinya dengan senyum yang mengembang.


Kedatangannya ke mansion mewah ini memang tidak di harapkan. Ia tahu jelas akan hal itu. Tapi bukan Sean namanya jika menyarah dan pasrah pada penolokan Laurent.


"Kau-" Laurent Lu melayangkan tatapan bahwa dirinya terganggu atas kehadiran pemuda tersebut. "-kehadiranmu sangat tidak di harapkan di rumah ini.." tuturnya dingin.


"Aku tau, tapi aku akan tetap datang meskipun kau menolakku."


"Dasar bedebah, pergi sana. Lagipula sedang tidak ada orang di rumah. Pergilah, aku harus belajar jika tidak papa akan menggantung ku hidup-hidup jika nilaiku sampai menurun lagi." Laurent mengusir Sean dan memaksanya untuk keluar.


Dan Sean hanya bisa mendesah pasrah. Memang sangat tidak mudah mendapatkan hati Laurent yang dingin dan membeku itu. Tapi jangan panggil dia Sean jika tidak bisa meluluhkan hati Laurent.


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2