Tragedi Cinta Satu Malam

Tragedi Cinta Satu Malam
Season 2 (Bab 11)


__ADS_3

Mengikhlaskan dan merelakan... Adalah dua hal yang paling berat yang harus Bian lakukan saat ini. Cintanya telah di miliki oleh orang lain, dan apa lagi yang bisa dia lakukan selain merelakan Luna bahagia bersama Kevin.


Bian mencoba tersenyum meskipun dalam hati dia menangis darah. Dia mencoba bersikap biasa saja meskipun hatinya tercabik-cabik.


Bian tersenyum sambil melambaikan tangan pada Luna yang sedang berjalan bersama Kevin. "Luna," seru Bian dan menghampiri keduanya. Luna tersenyum dan membalas lambaian tangan Bian, sedangkan Kevin hanya memasang muka datar.


"Kau datang sendiri? Di mana Teresa?"


"Dia tidak masuk hari ini. Aigoo, pasangan baru kita semakin mesra saja. Luna, kemarilah biarkan aku memelukmu untuk yang terakhir kalinya." Ucap Bian sambil merentangkan kedua tangannya dan hendak memeluk Luna. Tapi di halangi oleh Kevin.


"Kau sudah bosan hidup ya!!"


"Aahhh, Kevin sakit.." teriak Bian karena lengannya di pelintir ke belakang oleh Kevin. Pemuda itu memanyunkan bibirnya. "Kau sangat kejam, aku hanya ingin memeluk Luna sebentar saja. Masa iya tidak boleh, bagaimana pun juga kami bersahabat baik." Bian memegang lengan kanannya.


"Cih, tapi aku tidak suka jika milikku di sentuh oleh orang lain!!"


"Aisshh, kenapa kau ini overprotektif sekali sih jadi suami. Tapi ya, itu artinya kau sangat mencintainya. Ya sudah, aku duluan." Bian beranjak dari hadapan keduanya dan pergi begitu saja.


"Kenapa tenaganya kuat sekali, lenganku sakit." Bian terus saja menggerutu di sepanjang jalan. Luna yang mendengarnya hanya terkikik geli, di matanya sahabatnya itu begitu menggemaskan.


Luna mengangkat kepalanya saat merasakan rangkulan pada bahunya. "Ayo," gadis itu tersenyum dan mengangguk. Pasangan muda itu berjalan beriringan menuju kelas. Dan kebersamaan mereka yang begitu intim tentu saja menyita perhatian banyak pasang mata.


Mereka saling berbisik, ada yang merasa iri, cemburu dan tidak suka. Tak sedikit pula yang menggunjingkan Luna. Tapi Luna tak ingin terlalu ambil pusing dan menghiraukan mereka semua.


-


"Apa ini?"


Laurent menatap bingung kotak berwarna merah berbentuk hati yang Sean berikan padanya. Gadis itu mengangkat wajahnya dan menatap penasaran pada pemuda di depannya.

__ADS_1


"Ayahku baru saja kembali dari Swis, dan aku meminta supaya dia membawakan coklat Special dari sana. Dan coklat ini untukmu."


Laurent mengambil kotak coklat itu lalu membukanya. Kedua matanya langsung berbinar-binar melihat isi coklat di dalam kotak tersebut. "Huaa...!! Ini sangat lezat. Sean, bagaimana kau bisa tau apa yang aku sukai?" Laurent menatap Sean penasaran.


"Sudah jelas, itu karena aku menyukaimu. Kelas hampir di mulai, aku pergi dulu." Sean menepuk kepala coklat Laurent dan pergi begitu saja.


Tak lama setelah kepergian Sean, Luna dan Kevin berjalan beriringan memasuki kelas. Luna melepaskan genggaman tangan suaminya dan menghampiri Laurent yang sedang asik memakan coklatnya.


"Emm, ini enak."


"Omo!!" Laurent terlonjak kaget karena kemunculan Luna yang begitu tiba-tiba. Saking asiknya sampai-sampai Laurent tidak menyadari kedatangan sahabat yang merangkap sebagai kakak iparnya itu.


"Yakk!! Kenapa kau suka sekali membuat orang jantungan,eo? Bagaimana kalau jantungku tiba-tiba melompat keluar karena dirimu?!" amuk Laurent, sedangkan Luna malah terkekeh geli.


"Siapa suruh kau begitu menghayati rasa manisnya coklat ini. Ngomong-ngomong siapa yang memberikannya untukmu? Ahhh, jangan bilang itu Sean?" Luna menyenggol lengan Laurent dan terus menggodanya.


Laurent mendengus berat. "Memangnya siapa lagi yang selalu menggangguku dengan barang-barang semacam ini jika bukan dia." Tuturnya.


"LUNA!!!"


Perhatian semua orang teralihkan oleh teriakkan yang berasal dari arah pintu. Di sana, seorang pria berdiri sambil membawa puluhan bunga mawar yang telah di rangkai menjadi satu. Laki-laki itu yang pastinya adalah Bastian melangkahkan kakinya dan menghampiri Luna


Tapi sebelum sampai dia di tempat Luna. Seseorang lebih dulu menahannya. "Aku tidak akan mengijinkanmu mendekatinya!!" ucap orang itu dengan nada dingin.


Bastian menyentak tangan orang itu yang pastinya adalah Kevin dan balas menatapnya, tajam. "Memangnya siapa kau?! Dan atas dasar apa kau menghalangiku? Luna adalah calon kekasihku dan dia akan menjadi wanitaku!!" ujar Bastian menegaskan.


Kevin mendorong Bastian dan menghimpitnya di dinding. "Kau bertanya siapa aku dan atas dasar apa aku menghalangimu?! Aku beri tau padamu, Luna adalah istriku dan aku tidak suka jika milikku di dekati apalagi di sentuh oleh orang lain!!" ujar Kevin menegaskan.


Dan apa yang baru saja Kevin katakan tentu saja menghebohkan seisi ruangan, semua orang terkejut begitu pula dengan Luna. Luna tidak menyangka jika Kevin akan mengatakan secara terang-terangan pada semua orang jika dirinya adalah istrinya. Luna sungguh merasa terharu.

__ADS_1


"Kau!!!"


Brug...


"Kevin!!!" Luna dan Laurent menjerit histeris saat tiba-tiba Bastian mencengkram pakaiannya dan memukul wajahnya. Membuat pelipis kirinya robek dan mengeluarkan darah.


Kevin menyeka darah di pelipisnya dan menatap Bastian dengan marah. Tangannya terkepal kuat. "Kau sudah mencari masalah dengan orang yang salah!!" ucap Kevin dan melayangkan satu bogem mentah pada wajah Bastian. Saking kerasnya pukulan itu sampai membuat tubuh Bastian tersungkur di lantai.


"Kevin, cukup!! Aku tidak ingin kau terlibat masalah hanya karena brandalan ini." Seru Luna seraya menarik suaminya menjauh dari Bastian.


"Dan kau...!!" Luna menunjuk Bastian dengan telunjuknya. "Cari mati?" Luna mengarahkan lututnya pada wajah Bastian dan membuat hidungnya langsung berlumur darah. Bastian berteriak namun tak di hiraukan oleh Luna. "Kita ke ruang kesehatan, luka di pelipismu harus di obati."


.


.


Sebuah perban yang menyatu dengan plester menutup luka di pelipis kiri Kevin. Darah segar menyembul di permukaan kasanya yang menandakan jika luka itu masih baru. Luna mendengus berat, dia tidak tau kapan orang seperti Bastian akan berhenti membuat masalah dan membuat orang lain terluka.


"Kau terluka, bagaimana kalau kita pulang saja? Pasti rasanya sangat pusing ya?" Luna menatap Kevin dengan cemas.


Kevin menggenggam tangan Luna dan menggeleng. "Sama sekali tidak, kita kembali ke kelas saja. Lagi pula aku baik-baik saja." Ucapnya meyakinkan.


"Apa kau yakin?!" Kevin mengangguk. "Baiklah, tapi kalau kau merasa pusing beri tau aku dan kita pulang saja." Kevin terkekeh sambil mencubit pipi Luna .


Kecemasan Luna sangatlah berlebihan menurutnya, dan melihat wajah cemas istrinya membuat Kevin merasa geli sendiri. Pasalnya Luna terlihat begitu menggelikan dan menggemaskan.


"Baiklah, aku mengerti." Ucapnya dan kemudian mengecup singkat bibir ranum Luna yang selalu tampak menggoda di matanya. Bibir Luna kini menjadi candu baru untuk Kevin selain rokok dan minuman beralkohol. "Nanti saja kita lanjutkan di rumah. Ayo kita kembali ke kelas." Kevin yang kemudian di balas anggukan oleh Luna.


"Baiklah,"

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2