Tragedi Cinta Satu Malam

Tragedi Cinta Satu Malam
Dua Anak Yang Jenius


__ADS_3

Memiliki anak yang pintar dan jenius adalah impian setiap orang tua yang merupakan sebuah anugerah yang dari Tuhan. Itu pula yang di rasakan oleh Rey dan Jessica. Bagaimana tidak, Tuhan memberikan sepasang anak kembar pada mereka yang terlewat pintar di usianya yang baru delapan tahun.


Kevin dan Laurent begitu berbakat dan jenius. Sejak kecil mereka berdua memang berbeda


dengan anak-anak se-usianya, mereka sudah bisa memiliki pemikiran yang dewasa dan rasioal, terlebih si sulung Kevin.


Di usianya yang baru delapan tahun, Kevin sudah bisa membedakan antara masalah pribadi atau bukan. Sejak kecil Kevin mempunyai pikiran yang setara dengan orang-orang dewasa.


Selain itu Kevin juga sangat mahir dalam beberapa pekerjaan yang umumnya di lakukan oleh orang dewasa,


"Kakak Kevin, apa yang sedang kau lakukan?" tanya Laurent melihat bocah laki-laki itu tengah sibuk di dapur dengan di temani oleh beberapa pelayan.


"Apa kau buta dan tidak melihat aku sedang apa? Jelas-jelas aku sedang memasak. Aku berencana menyiapkan makan siang untuk mami dan papi, mereka terlalu sibuk dengan pekerjaannya dan pasti tidak akan sempat makan siang ke luar. Dan aku memasak untukmu juga. Aku ingin supaya kau dan papi mencicipi masakanku." Terang Kevin.


Mata Laurent membelalak. "Omo!! Jadi, Kakak Kevin bisa memasak?" bocah itu menatap Kevin tak percaya.


"Hn," jawabnya singkat.


"Apa aku bisa membantumu?" Laurent menatap Kevin dengan antusias.


"Tidak!!"


Laurent menekuk wajahnya. "Kenapa? Begini-begini aku juga bisa di andalkan. Ayolah, biarkan aku membantu juga ya. Aku juga ingin membuatkan sesuatu yang Special untuk mama dan papa. Aku juga ingin terlihat menonjol di mata mereka berdua, terutama di mata mama. Jadi biarkan aku membantu ya." Rengek Laurent memohon.


Kevin mendengus. "Cuci saja buahnya. Aku tidak ingin kau mengacau dan menghancurkan rasanya."


"Aku tau, mencuci buah juga tidak terlalu buruk."


-


Diantara keriuhan yang terjadi di rumah sakit besar Internasional Seoul, terlihat seorang dokter ahli bedah yang menjadi salah satu dokter andalan di rumah sakit tersebut baru saja keluar dari sebuah ruangan bersama seorang suster yang berjalan mengekor di belakangnya.


Bukan lagi sebuah rahasia umum bila Jessica adalah seorang dokter perfeksionis dan bertangan dingin, tidak sedikit nyawa yang berhasil selamat di tangan ajaibnya. Dokter muda nan cantik itu berjalan menuju ruangannya. Dia merasa lelah setelah memeriksa para pasiennya dan hendak beristirahat sejenak.

__ADS_1


Suster yang berjalan sejajar dengan langkahnya, terlihat memberikan penjelasan dan melaorkan keadaan pasien yang kemarin baru saja menjalani operasi pengangkatan hematophilia di kepalanya.


"Dr. Astoria, pasien kamar nomer 109 telah siuman pagi ini." Lapor suster tersebut.


"Bagus! Cek terus kondisinya, Suster." Dokter cantik itu tersenyum, ia merasa senang karena kerja kerasnya membuahkan hasil untuk kesembuhan bagi pasien yang ditanganinya.


"Ekhem...!!! Pengantin baru kita yang baru saja melangsungkan pernikahan di kapal pesiar terlihat sangat bahagia." Goda Sunny yang entah sejak kapan sudah berjalan di sampingnya. Sementara suster tadi pergi untuk meneruskan pekerjaannya.


"Bagaimana perjalananmu selama tiga hari ini? Pasti banyak sekali moment-moment tercipta antara kalian berdua. Ngomong-ngomong bagaimana malam pertama kalian? Eh, bukan malam pertama ya, aku hampir lupa, hahaha." Dan endingnya sebuah jitakan mendarat mulus pada kepala Sunny.


"Kau terlalu banyak bicara, sebaiknya jangan menggangguku dan kembalilah bekerja." Jessica menepuk bahu Sunny dan pergi begitu saja.


-


Rapat telah usai beberapa jam lalu, kini Rey tengah bersantai diruangannya. Mengistirahatkan tubuhnya yang terasa lelah. Ia menutup kedua matanya sampai tidak menyadari kedatangan dua bocah laki-laki dan perempuan yang datang mengantarkan makan siang untuknya.


"Pi, apa kau benar-benar tidur atau hanya menutup mata saja?" tegur Kevin setelah berhadapan dengan Rey.


Kedua kelopak mata itu terbuka, menampilkan kembali iris berwarna coklat. "Kevin, Laurent, kalian berdua ada di sini?" ujarnya sedikit terkejut melihat kedatangan dua buah hatinya.


Rey menetapkan tubuhnya dan kemudian pandangannya bergulir pada Kevin. "Benarkah? Jadi kau yang menyiapkan semua makanan in!?" Kevin mengangguk. "Lalu bagaimana dengan mami kalian? Siapa yang mengantarkan makan siang untuknya?" tanya Rey sambil menatap kedua buah hatinya.


"Papa," jawab Laurent cepat. "Setelah makan siang, Papa harus mengantarkan makan siang untuk mama. Kami terlalu sibuk hari ini. Banyak pekerjaan yang harus kami kerjakan, bukankah begitu Kakak Kevin?" Laurent mengerlingkan mata pada Kevin.


"Hn,"


Rey mengacak rambut Kevin dan Laurent bergantian. "Kebetulan Papa sedang free hari ini. Papa akan pergi mengantarkan makanan-makanan ini untuk mama kalian."


-


BRAK...!!


"Dokter Jessica…" seorang suster jaga unit gawat darurat berlari terengah-engah dan mendobrak pintu ruang praktek Jessica dengan keras, dan membuat wanita yang sedang menutup matanya itu terlonjak kaget

__ADS_1


"Ada apa, suster?" tanya Jessica dengan begitu tenang.


"Terjadi sebuah kecelakaan dan korbannya seorang wanita berusia 40 tahun. Dia menjadi korban tabrak lari dan harus segera ditangani. Korban mengalami pendarahan hebat dikepala." Lapornya.


"Apa?!" pekik Jessica. Dengan tergesa-gesa Dokter cantik itu melangkahkan kakinya menuju ruang gawat darurat, di ikuti suster yang melapor tadi dengan mengekor di belakangnya.


"Bagaimana kondisinya?" tanya Jessica setibanya di di ruang UGD disana, di sana ada dua suster dan satu dokter magang.


"Besar pupil kanan 5mm, pupil kanan 1mm, hanya pupil kiri yang bisa merespon. Detak jantung lemah, pendarahan hebat pada kepala belakang, luka sobek di pelipis, dan tulang rusuk bagian kanan patah." Dokter magang tersebut menjelaskan kondisi korban tabrakan tersebut secara rinci pada Jessica.


Dokter muda segera mengambil posisi dengan berdiri di samping pasien. "Lakukan instubasi segera, CAT SCAN kepalanya, laporkan sekarang dan siapkan ruang operasi. Kondisi pasien tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Lakukan sekarang." Titahnya.


"Baik dokter, segera laksanakan."


.


.


.


Waktu berjalan begitu cepat. Setelah hampir dua jam operasi pengangkatan gumpalan darah dan penyumbatan saluran otak itu berlangsung, akhirnya Jessica menyelesaikan operasinya. Dokter cantik itu melakukan tugasnya tanpa rasa panik dan grogi sedikit pun. Sifat tenangnya ini memberikan rasa nyaman pada team yang juga membantu jalannya operasi, dan juga pada keadaan psikis pasien.


Jessica meninggalkan ruang operasi dan kembali ke ruangannya setelah mengganti pakaiannya. Dia merasa sangat lelah dan lapar, mungkin memesan dari luar bukanlah ide yang buruk, pikirnya.


Suara decitan pintu di buka menyita perhatian seorang pria yang sedang duduk di dalam ruangan itu sambil memainkan ponselnya. Sudut bibirnya tertarik ke atas melihat siapa yang datang.


"Kau sudah selesai?" ucap orang itu seraya bangkit dari duduknya.


Sebuah kemeja warna gelap yang lengannya di gulung sampai siku, Vest abu-abu dan celana bahan yang senada dengan warna vestnya terlihat membalut tubuhnya. Membuat aura ketampanannya semakin terlihat jelas. Dan keberadaan pria itu di sana sedikit mengejutkan Jessica yang baru saja tiba di ruangannya.


"Eo, Rey, kau ada di sini?!"


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2