Tragedi Cinta Satu Malam

Tragedi Cinta Satu Malam
DOKTER PRIBADI


__ADS_3

Setelah satu minggu di rawat di rumah sakit. Akhirnya Rey diijinkan untuk pulang. Luka-lukanya sudah semakin membaik begitu pula dengan cidera pada mata kirinya. Namun untuk beberapa waktu Rey harus merelakan hidup dengan satu mata yang berfungsi karena perban belum kau beranjak dan lepas dari mata kirinya.


Bukannya bahagia karena ayahnya akhirnya diijinkan pulang, Laurent malah terlihat sedih dan dia terus memasang wajah cemberut sepanjang hari dan tentu saja hal itu sangat membingungkan untuk Rey karena putrinya itu tidak mau mengatakan apapun.


Rey baru saja keluar dari kamar mandi, aroma maskulin seketika memenuhi ruangan yang didominasi oleh warna putih dan biru tersebut. Beruntung tidak ada wanita di dalam kamarnya yang akan histeris dan mimisan saat melihat Rey keluar dari dalam sana hanya berbalut handuk yang melingkari pinggulnya.


Setelah berpakaian lengkap, Rey segera turun dan menemui Laurent yang terus saja merajuk sejak pagi. Dari arah tangga, Rey melihat Tiffany tengah memarahi Laurent yang terus saja menolak untuk makan. Tidak hanya memarahinya, tapi Tiffany juga membentak dan memakinya dan hal itu tentu saja tidak bisa Rey terima.


"CUKUP TIFFANY HONG!!"


Sontak keduanya menoleh pada asal suara. Mata Laurent berbinar melihat kedatangan Ayahnya, gadis kecil itu menyeringai jahil, sebuah ide seketika muncul dikepalanya.


"PAPA, HUAAAA..!"Tiba-tiba tangis Laurent pecah, gadis kecil itu bangkit dari duduknya dan berhambur ke dalam dekapan sang ayah.


"Hiks, Mama jahat, Mama terus saja memarahiku dan membentakku. Mengataiku ini dan itu. Hiks,, dia menindasku lagi! Huaaa...!!" Laurent menyembunyikan wajahnya dilengkungan leher Rey dan kembali terisakan.


"BOHONG, JANGAN BICARA SEMBARANGAN KAU BOCAH SIALAN. MEMANGNYA KAPAN AKU MENINDASMU, HAH. TURUN KAU ANAK PEMBAWA SIAL BIAR AKU MEMBERI PELAJARAN PADA...!!"


PLAKKK...!


Rey menampar wajah Tiffany dengan keras, saking kerasnya sampai-sampai membuat dia menoleh ke samping, bekas tangan Rey terlihat jelas pada pipi kanannya yang memerah.


"Kenapa kau menamparku? Memangnya apa salahku dan di mana letak kesalahanku?"


"Sebaiknya pikiran sendiri." Ucap Rey dan pergi begitu saja.


Rey membawa Laurent kekamarnya dan meninggalkan Tiffanya sendiri di sana. Sementara itu. Laurent terlihat menjulurkan lidahnya pada Tiffany dan bermaksud mengejeknya. Dan melihat hal tersebut tentu saja membuat Tiffany semakin kesal dan marah padanya.


"Panggil, Lee Chan kemari." Pinta Rey pada seorang pria berpakaian formal setengah baya.


"Baik Tuan."


Rey menurunkan Laurent dari gendongannya dan mendudukkan gadis kecil itu diatas tempat duduknya. "Sekarang katakan pada, Papa kenapa kau terus saja merajuk sampai tidak mau makan?" ucap Rey dengan nada tegas namun penuk kelembutan.


Laurent menundukkan wajahnya dan merenggut. "Bibi cantik." Rey memicingkan mata kanannya mendengar apa yang Laurent katakan.


"Maksudmu dokter Astoria?" Tanya Rey memastikan.


Laurent mengangguk. "Pa, aku sedih karena tidak bisa bertemu lagi dengan bibi cantik. Papa tau bagaimana dia memperlakukanku selama aku di sana? Dia memperlakukanku dengan hangat, saat ada petir dia memelukku dan meyakinkan jika semua akan baik-baik saja. Pa, aku menginginkan seorang Mama seperti bibi cantik, yang hangat dan baik seperti Ibu peri. Bukan seperti Mama Tiffany , dia kejam dan tidak memiliki hati seperti nenek sihir."


Rey mengambil nafas panjang dan menghelanya. "Dengarkan ini, nak! Pernikahan bukanlah sebuah permainan. Papa tidak bisa menikahinya hanya karena keinginanmu saja, harus ada ikatan hati diantara dua orang sebelum mereka memutuskan untuk bersama dan hidup di bawah satu atap yang sama."


"Lalu bagaimana dengan Papa dan mama Tiffany? Apa kalian berdua saling mencintai?"


"Jika mamamu, dan Papa beda lagi ceritanya. Papa memang tidak pernah mencintainya, tapi Papa harus tetap menikahinya karena dia yang mengandung dan melahirkan dirimu. Laurent tidak perlu merasa sedih, Papa akan membawamu pada bibi cantik nanti. Tapi sekarang sebaiknya kau makan dulu ya, biarkan bibi Ahn menyiapkannya untukmu. Jika tidak, Papa tidak akan membawamu menemuinya."


"Baiklah, aku mau makan sekarang." Rey tersenyum dan mengusap kepala coklat putrinya dengan lembut "Tapi Papa harus berjanji." Rey menautkan jari kelingkingnya pada kelingking Laurent.


"Baiklah, Papa berjanji." Bocah itu berhambur ke dalam pelukkan Rey dan memeluknya dengan hangat.


"Boss, kau memanggilku?" Ucap Chan dan mengintrupsi ayah dan anak itu untuk menoleh pada asal suara. Tau jika ada hal penting yang akan dibicarakan oleh ayahnya dan Lee Chan. Laurent buru-buru turun dari pangkuan sang ayah kemudian pergi meninggalkan mereka berdua.


"Bagaimana hasilnya?"

__ADS_1


"Ini hasilnya, Boss! Ada penarikan dana sebesar lima puluh juta dolar dari dana perusahaan dan mengalir ke dalam rekening mertua Anda. Aku rasa ini adalah perbuatan Nyonya, karena hanya dia yang berani melakukannya."


"Selain itu, ada beberapa hal yang tak masuk akal yang berhasil kami temukan. Sudah beberapa kali Nyonya mentrasfer uang kerekening mantan perawat di rumah sakit tempat dia melahirkan Nona muda, dan beberapa kali juga mereka terlihat bertemu secara diam-diam."


Rey melemparkan berkas-berkas itu keatas meja dan mendesah berat. "Selidiki masalah ini dan segera bekukan semua card milik Tiffany dan Ibunya. Aku rasa sudah cukup semua kemewahan dan kebebasan yang aku berikan pada mereka selama ini."


"Baik Boss." Lee Chan begitu bersemangat, ia merasa begitu bahagia melihat Tiffany tertindas. Chan memang memiliki dendam kesumat pada wanita itu dan dia berharap agar Tiffany bisa segera hidup dengan sengsara.


"Oya Boss, aku lihat Nona Muda merajuk lagi. Apa ini ada hubungannya dengan dokter cantik itu? Bagaimana jika aku memberikan sebuah usul padamu? Dokter Wang, 'kan sudah memutuskan untuk pensiun karena sudah tua, dan ingin fokus pada keluarganya. Bagaimana jika kau memilih dokter Astoria sebagai gantinya untuk menjadi Dokter pribadi keluarga Lu? Dia adalah dokter yang hebat, dan kemampuannya di dunia kedokteran sudah tidak bisa diragukan lagi."


"Baiklah, segera jemput dia kemari. Aku akan bicara padanya."


"Siap Boss. Kalau begitu saya permisi dulu." Lee Chan melesat cepat meninggalkan kamar Rey dan sang empunnya. Rey mendesah berat, menggelengkan kepala melihat tingkah asisten pribadinya itu.


****


"Dokter Jessica , seseorang Ingin bertemu dengan Anda."


Seorang perawat datang keruangan praktek Jessica dan menyampaikan tentang kedatangan Lee Chan. Jessica pun mengatakan agar perawat tersebut mempersilahkan orang itu untuk masuk.


"Malam dokter, apa kau masih mengingatku?" Tanya Chan sambil menunjuk mukanya sendiri.


Jessica mengangguk seraya menyunggingkan senyum ramah. "Hahaha! Aku sudah menduganya, mana mungkin wajah tampan sepertiku akan mudah dilupakan. Dan mengenai kedatanganku kemari, Boss Xi ingin agar aku menjemputmu dan membawamu menemuinya. Ada hal penting yang ingin dia bicarakan dengan anda, Dokter."


"Tuan Lu ingin bertemu denganku?" Lee Chan mengangguk. "Tunggu sebentar. Berikan aku untuk segera bersiap." Lagi-lagi Chan mengangguk.


Lee Chan tak berkedip sedikit pun saat memandang Jessica. Ia begitu terpesona dengan wajah cantik wanita tersebut. Selain memiliki wajah yang sangat cantik dan dewasa, dia juga sangat lembut dan rendah hati.


"Sungguh sosok wanita idaman, semoga saja Boss tidak jatuh hati padanya apalagi berniat menikahinya agar aku bisa mempersuntingnya." Chan sampai meneteskan liurnya melihat bagaimana elegannya Jessica ketika mengikat rambut panjangnya.


Chan menggeleng dengan cepat. "Dan bisakan kita berangkat sekarang. Aku tidak bisa pulang terlambat dan membuat putraku menunggu."


"Aku di sini, Mami." sahut seorang bocah dari arah belakang. Kevin menghampiri mereka dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celananya.


"Kevin, bagaimana kau bisa ada di sini? Dan dengan siapa kau datang?" Tanya Jessica penasaran.


"Aku di sini karena mencemaskan Mami, sejak tadi ponsel Mami sulit dihubungi dan aku merasa sangat cemas." Jawab Kevin dengan aksen dinginnya.


"Maaf, Sayang! Sudah membuatmu cemas. Mami memang sengaja mematikan ponsel, ada dua Operasi besar hari ini." Jelas Jessica penuh sesal.


"Tidak masalah, yang penting Mami sudah baik-baik saja." Ucapnya kemudian memeluk Jessica.


Sementara Chan langsung kehilangan kata-katanya dan tertegun melihat sikap Kevin yang 11-12 dengan Rey. Selain wajahnya yang begitu mirip dengan Laurent, dia juga memiliki sifat Rey yang seperti kutub utara.


Rasanya begitu sulit dipercaya padahal mereka adalah orang asing yang tidak saling mengenal dan bertemu sebelumnya. Sementara Laurent memiliki sifat Jessica yang ceria dan sehangat mentari pagi.


"Dokter, kau bisa membawa putramu bersama kita. Dan aku rasa Boss tidak akan keberatan meskipun dia ikut bersama kita."


"Baiklah."


.


.

__ADS_1


.


Setelah menempuh perjalanan hampir empat puluh lima menit. Akhirnya mereka tiba di mansion mewah milik Rey. Chan segera membukakan pintu untuk Jessica dan mempersilahkan wanita itu untuk segera turun. Rey memiliki rumah empat kali lebih besar dari rumah miliknya. Ada banyak penjaga di sana, dan puluhan pelayan yang terlihat berlalu lalang. Dan Jessica tidak tau bila Rey sekaya itu.


"Kau? Apa yang kau lakukan dirumahku?"


Langkah Jessica dihadang oleh Tiffany. Wanita itu berhenti di depan Jessica sambil bersidepa dada.


"Rumah ini terlarang untuk wanita sepertimu, jadi sebaiknya segera pergi dari sini."


"Tidak ada yang bisa mengusir tamuku." Sahut seseorang dari arah belakang.


Terlihat seorang pria dalam balutan kemeja hitam lengan terbuka yang dibalut long vest berwarna hitam pula serta celana bahan yang senada dengan warna kemeja dan vestnya berdiri di ujung tangga. Wajah tampannya tidak menunjukkan ekspresi apapun selain datar, tatapannya dingin dan penuh intimidasi.


"Ikutlah denganku, ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu." Jessica mengangguk, wanita itu melewati Tiffany begitu saja tanpa sedikit pun menatap padanya.


Tatapan Tiffany kemudian bergulir pada Kevin yang hanya diam sambil menatapnya datar. Entah kenapa Tiffany merasa sedikit merinding melihat tatapan bocah itu.


"Kau, pergilah dari sini. Aku muak melihat wajahmu itu, jadi menghilanglah dari hadapan mataku."


Kevin menyeringai dan menatap Tiffany dengan tatapan meremehkan. "Memangnya siapa Bibi bisa mengusirku seenaknya? Lagi pula, paman Lu saja tidak mempermasalahkan keberadaanku di sini. Kenapa harus Bibi yang sewot?"


"Jangan hanya karena anak kecil, kau bisa menindasku seenaknya, karena aku bukanlah anak kecil yang bisa dengan mudah kau tindas." Kevin menutup matanya sambil bersidekap dada, dan kata-kata tajan Kevin berhasil menampar perasaan Tiffany dengan keras.


"KAU? ANAK KURANG AJAR, BERANINYA KAU...!!"


PLAKK..!


Tangan Tiffany ditahan oleh Chan sebelum berhasil menyentuh wajah bocah itu."Sebaiknya kau tidak membuat masalah lagi jika tidak ingin Boss benar-benar mengusirmu dan melemparmu keluar dari sini." Ucap Chan memperingatkan.


"Eo? Kau di sini, apa bibi cantik juga datang?" Kaget Laurent melihat keberadaan Kevin dirumahnya.


Bocah laki-laki itu mendengus berat. "Ck, kenapa harus bertemu bocah menyebalkan ini sih." Keluh Kevin sedikit mendumal.


Mata Kevin membelalak merasakan tarikan pada lengannya. "Yakk! Apa yang kau lakukan?" Teriak Kevin karna ulah Laurent yang menarik dirinya dengan sesuka hati.


"Kakak, harus ikut denganku. Ada yang ingin aku tunjukkan padamu." Kevin mendengus berat, dengan terpaksa dia mengikuti kemana Laurent akan membawanya.


Lee Chan menjentikkan jarinya. Sebuah ide muncul di kepalanya. "Aku tau, sebaiknya aku mengintip mereka seja. Siapa tau akan ada pertunjukkan yang menggemparkan." Chan terkekeh dan bergegas pergi ke kamar Rey yang ada dilantai dua.


Chan berharap ada hal yang mengejutkan antara Rey dan Jessica, hal yang terjadi secara tidak sengaja mungkin.


"Baik Tuan Lu, saya bersedia menjadi dokter pribadi keluarga Lu." Jessica berdiri dan berjabat tangan dengan Rey. Sudut bibirnya tertarik keatas membentik lengkungan indah di wajah cantiknya. "Kalau begitu saya permisi dulu." kemudian Jessica membungkuk pada Rey.


Wanita itu melangkahkan kakinya, tiba-tiba... "Aaaahh..!" tanpa sengaja kaki kanannya tersandung kaki kirinya. Mungkin tubuh Jessica sudah bersentuhan dengan lantai yang keras jika saja Rey tidak lebih sigap menangkapnya.


Degg..! Degg..!! Degg..!


Jantung Jessica berdetak kencang saat iris matanya bersirobok dengan iris mata milik Rey. Lagi-lagi Jessica merasakan sesuatu yang familiar ketika menatap iris abu-abu milik Rey.


Ia seperti pernah melihat sorot mata itu tapi Jessica tidak ingat kapan dan di mana. Sementara itu, Lee Chan yang tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang langkah seperti ini segera mengabadikannya.


"Perfect..!" Laki-laki itu tersenyum puas.

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2