
Jam besar di pusat kota sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Namun matahari masih belum menampakkan wujudnya. Penduduk kota pun baru sedikit yang bangun karena sekarang hari Minggu. Mungkin yang baru bangun hanyalah penduduk yang benar-benar rajin atau hanya sedang ingin bangun pagi.
Di sebuah rumah mewah yang memiliki dua lantai terlihat ada seorang wanita muda yang sedang berdiri di balkon yang ada di lantai dua kamarnya. Wanita cantik berambut panjang dan bermata coklat.
Kelopak matanya tertutup rapat. Berusaha merasakan hembusan angin di pagi itu. Angin pagi itu memang cukup dingin karena hujan baru saja berhenti. Sejak semalam hujan besar telah mengguyur kota Seoul dan baru setengah jam yang lalu hujan berhenti. Bahkan kumpulan awan mendung masih tampak menggantung di atas sana menunggu sang mentari agar ia naik ke atas.
"Cukup dingin tapi menyegarkan," guman wanita itu seraya membuka matanya.
"Luna, sedang apa kau di sini? Kupikir kau masih belum bangun?" sapa seseorang dari balik punggung wanita itu 'Luna'.
"Kevin. Kau membuatku kaget saja, bagaimana jika jantungku sampai bermasalah lagi?!" Luna mengusap dadanya. Kevin benar-benar membuat Luna terkejut.
"Maaf, aku sungguh tidak bermaksud mengejutkanmu." Kata Kevin penuh sesal. Kevin baru saja kembali dari rutinitas paginya setelah bangun tidur, yakni olah raga ringan seperti lari mengelilingi kompleks. "Kenapa sudah bangun? Aku pikir kau masih tidur."
"Aku bangun lebih awal hari ini. Aku sudah menyiapkan sarapan untuk kita. Sebaiknya kau mandi dan setelah ini kita sarapan." Ucap Luna yang kemudian di balas anggukan oleh Kevin.
"Ya sudah, aku mandi dulu." Kevin menakup sisi wajah Luna dan pergi begitu saja. Luna beranjak dari balkon dan pergi ke dapur, ia hendak menyiapkan kopi untuk Kevin.
.
.
Suara bel yang berbunyi menyita seluruh perhatian Luna. Wanita itu beranjak dari dapur dan pergi menuju pintu untuk melihat siapa yang datang. Senyum di bibirnya langsung mengembang lebar setelah mengetahui siapa yang datang.
"Mama, Laurent, kalian di sini."
"Hari ini papa pergi ke luar negeri lagi. Jadi kami berdua memutuskan untuk sarapan di sini. Kebetulan Mama memasak cukup banyak hari ini." Tutur Laurent.
"Begitu ya? Ma, ayo masuk."
__ADS_1
"Di mana Kevin, Lun? Apa anak itu masih belum bangun?" tanya Jessica saat tak melihat keberadaan putra sulungnya.
"Dia sedang mandi, Ma. Sebentar lagi juga turun,"
"Mama pikir masih belum bangun. Sayang, sebaiknya kau jangan terlalu lelah. Pikirkan kesehatanmu. Kau baru pulang dari rumah sakit semalam. Biar Mama dan Laurent saja yang menyiapkan sarapannya."
"Tidak apa-apa, Ma. Lagipula pekerjaan ini tidak berat apalagi menguras tenaga. Dan aku sudah baik-baik saja." Jawabnya meyakinkan.
"Sebaiknya dengarkan, Mami dan berhenti menjadi wanita keras kepala, Luna Lu!!" sahut seseorang yang saat ini sedang menuruni tangga.
Sontak saja ketiganya menoleh pada asal suara dan mendapati Kevin berjalan menghampiri mereka bertiga. Pemuda itu terlihat lebih fress dari sebelumnya. "Kapan, Mami datang?" tanya Kevin setelah berdiri berhadapan dengan Jessica.
"Sekitar 10 menit yang lalu. Pagi-pagi sekali papimu sudah berangkat ke Eropa, makanya kami memutuskan sarapan bersama kalian. Sarapan sudah siap, sebaiknya kita makan sekarang." Ucap Jessica yang segera di balas anak dan menantunya.
.
.
Ini adalah hari Minggu, jadi wajar jika keduanya memutuskan untuk tetap di rumah dan tidak pergi ke mana pun. Apalagi di tengah cuaca buruk semacam ini.
Meskipun waktu sudah menunjuk pukul 10 pagi. Tapi begitu dingin di karenakan suhu udara kembali mengalami penurunan di karenakan cuaca hari ini yang tidak bersahabat sama sekali. Kevin menyalahkan perapian sedangkan Luna membuat coklat panas di dapur.
Pasangan muda itu tak berniat untuk pergi ke mana pun dan hanya ingin menghabiskan waktunya di rumah dengan bermalas-malasan sepanjang hari.
"Ini." Luna menyerahkan coklat panas yang baru saja dia buat pada Kevin kemudian duduk di sampingnya. Api dari perapian sedikit memberikan rasa hangat pada keduanya di tengah cuaca yang tak bersahabat seperti ini.
"Apa kau sudah meminum obatmu?" Kevin tau dengan kebiasaan buruk istrinya yang suka kelupaan meminum obatnya. Luna memang agak teledor dan ceroboh. Beruntung Kevin selalu mengingatkannya.
"Sudah, dua jam yang lalu." Jawabnya. "Uhh, kenapa rasanya dingin sekali ya," Luna mengusap lengannya yang tertutup lengan mantel hangatnya.
__ADS_1
"Kemarilah," Kevin meraih tangan Luna kemudian menempatkan wanita itu di depannya. Kedua tangan Kevin melingkari perut Luna dan memeluknya dengan erat. "Apa kau masih merasa kedinginan?!" tanya Kevin memastikan.
Kevin menggeleng. "Tidak, aku merasa lebih baik sekarang." Selanjutnya kebersamaan mereka di isi keheningan. Tak sepatah kata pun keluar dari bibir Luna maupun Kevin.
Luna menyandarkan punggungnya pada dada bidang suaminya. Meresapi rasa hangat yang mengaliri setiap sel dalam tubuhnya. Wanita itu tersenyum tipis, hatinya semakin menghangat, sehangat pelukan Kevin pada tubuhnya.
-
Sean menghentikan mobilnya di sebuah restoran mewah yang terletak di pusat kota. Pemuda itu segera turun dan membukakan pintu untuk gadis pujaan hatinya. Sean terlihat begitu bersemangat apalagi ketika melihat Laurent tersenyum padanya.
Setibanya di dalam restoran Laurent di buat kebingungan karena tak ada satu pengunjung pun di sana. Beberapa pegawai berjajar di depan pintu seolah-olah sedang menyambut kedatangan mereka berdua. Ada pula pemain musik yang sedang membawakan lagu 'First Love' dari Sondia. Namun hanya aransemennya saja.
"Ayo," Sean mengulurkan tangannya dan membawa Laurent ke salah satu meja yang terlihat berbeda dari meja yang lainnya.
"Sean, sebenarnya ada apa dengan restoran ini? Kenapa terlihat aneh begini? Para pelayan itu, red carpet dan musik yang di mainkan musisi. Kenapa semua terasa janggal?!" ujar Laurent setengah berbisik.
Tiba-tiba Sean beranjak dan berdiri di depan Laurent. Pemuda itu mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jasnya lalu menunjukkan di depan Laurent. Pemuda itu berlutut di depan sang dara. Dan apa yang Sean lakukan membuat Laurent terkejut bukan main.
"Sean," gumam Laurent setengah berbisik.
"Laurent Lu, menikahlah denganku. Aku memang tidak bisa menjanjikan dunia padamu, tapi aku bisa membuatmu bahagia dan menjadi wanita paling beruntung di dunia. Untuk itu ambil cincin ini dan mari kita menikah."
Laurent menggeleng. "Tapi, Sean. Apa ini tidak terlalu cepat? Maksudku, kita masih kuliah dan belum dewasa. Apa kau yakin semua akan akan baik-baik saja jika kita menikah?"
"Kevin dan Luna saja mampu membuktikannya kenapa kita tidak? Aku berjanji akan menjadi suami yang baik untukmu. Kau tidak perlu memaksakan diri untuk mencintaiku. Aku akan mengajarimu dan membuatmu mencintaiku secara perlahan-lahan. Dan aku hanya ingin jawaban iya atau tidak." Ujar Sean panjang lebar.
Laurent mengambil nafas panjang dan menghelanya perlahan. "Ya, aku mau menikah denganmu!!" jawab Laurent pada akhirnya.
Dan Sean langsung beratraksi dengan melakukan salto kesamping setelah mendengar jawaban Laurent. Pemuda itu sangat bahagia karena sang pujaan hati mau menikah dengannya. Impiannya untuk hidup bersama Laurent pun akhirnya menjadi kenyataan. Mereka akan segera menikah.
__ADS_1
-
Bersambung.