
"KYYYAAA!! SETAN!!"
Lee Chan berteriak sekencang-kencanganya karena kemunculan wanita jadi-jadian yang mencoba untuk menggodanya. Ini sudah ketiga kalinya dia bertemu dengan sosok yang sering di sebut sebagai mahluk dua alam tersebut.
"Oppa ganteng mau kemana sih? Biar Jenny temani ya, Jenny gak keberatan kok dan jika Oppa ganteng mau, Jenny bisa menemanimu bermain sampai 50 ronde."
"Amit-amit tujuh turunan. Aku tidak mau, dari pada bermain denganmu lebih baik aku bermain solo. Yakk!!! Perhatikan di mana letak tanganmu berada!! Ahhh, jangan di pegang-pegang. Sosisku bisa berkarat jika di sentuh oleh mahluk dua alam sepertimu!!"
"Ahh, Oppa ganteng suka gitu deh. Jenny kan suka megang sosis berurat yang besar seperti ini."
"Tapi aku tidak suka!! Akkkhhh...!! Jangan di remas-remas, ngilu bodoh!!"
"Alahh, bilang saja kalau nikmat." Jenny menggerlingkan matanya pada Lee Chan.
"Yakk!! Mahluk dua alam. Apa yang kau lakukan? Ahhh, sosisku yang malang. Sakit bodoh, gigimu runcing. Yakk...!! Jangan di teruskan. Mahluk dua alam, hentikan.... Ahhh, kau gila ya. Sial, kau membuatku, ahhhh..."
"Ayo, Oppa tampan keluarkan semuanya. Nikmat bukan, bukankah aku sudah bilang kalau ini akan sangat nikmat."
Tangis Lee Chan pun pecah. Jika biasanya dia adalah seorang pelaku, tapi malam ini dia justru korbannya.
-
Bukan rahasia lagi jika wanita berparas cantik itu adalah sosok malaikat tanpa sayap bagi para pasiennya. Dia sering melakukan keajaiban di meja operasi, apa yang tidak mungkin bagi dokter lain, justru mungkin bagi Jessica.
Walalupun usianya masih muda, tetapi keahliannya sebagai dokter tentu tidak bisa diragukan lagi. Dan entah sudah berapa banyak nyawa manusia yang berhasil selamat berkat tangan diringinnya
Paras wajahnya sangat cantik, memiliki sepasang mata hazel yang sangat indah. Siapapun yang melihatnya pasti akan jatuh hati pada tatapan matanya, lembut dan ceria. Rambutnya yang berwarna caramel panjang sepunggung di ikat poni tail. Dan menyisakan sedikit anak rambutnya yang terurai disamping kedua wajahnya.
Meskipun sudah memiliki dua anak. Tapi bentuk tubuhnya masih tetap terjaga dengan baik. Tubuhnya sangat ramping, memiliki kaki yang jejang dan kulitnya yang putih bersih seperti intan, sikapnya yang ramah terhadap setiap orang, membuat Dokter satu ini disenangi dan dikagumi oleh banyak pasien yang sudah datang padanya.
Dan tak ketinggalan jika dia juga sangat murah senyum. Setiap orang dirumah sakit tempatnya bekerja pasti mengenalnya. Tidak ada yang tidak mengenal Jessica. Dokter pindahan dari luar negeri yang sangat berbakat dan bertangan dingin.
__ADS_1
Ellena berdiri dari duduknya seraya membuka jas berwarna putih yang dia pakai. Menyisahkan dress terusan berwarna hitam berbahan brukat setengah lengan.
Sambil merenggangakan sedikit otot-otot ditubuhnya. Jessica berjalan pelan ke kamar mandi yang terletak diujung kanan dekat pintu masuk runang prakteknya.
Suara langkah kakinya yang menggema diruangan itu terdengar sangat kontras. Menandakan bahwa sedang sepinya ruangan itu dan juga rumah sakit itu.
Terang saja, karena ini sudah lewat dari tengah malam. Dan jika saja tidak ada operasi darurat mungkin saat ini Jessica sudah tidur nyenyak di atas tempat tidur super nyamannya.
Dengan langkah gontai, Jessica masuk ke kamar mandi, dan berjalan menuju wastafel, memutar kerannya dan dia menegadahkan tangannya untuk menampung sejumlah air yang kemudian dia basuhkan pada wajahnya yang lelah agar terlihat lebih segar.
Setelah di rasa cukup, kemudian Jessica mengeringkannya dengan sebuah handuk kecil yang sudah disediakan di kamar mandi itu. Setelahnya, dia tatap sendiri bayangan wajahnya dicermin.
"Kau berantakan sekali, Jess," ucap Jessica pada dirinya sendiri. "Sebaiknya setelah ini kau harus cuti beberapa hari." Imbuhnya.
Jessica melangkahkan kaki jenjangnya meninggalkan kamar mandi, ketika tiba diluar ia dikejutkan oleh seseorang yang membelakangi dirinya di dekat meja. Seorang pria yang masih memakai pakaian kerjanya, hanya jas hitamnya saja yang sudah dia tanggalkan dari tubuh kekarnya.
Jessica menghampiri pria itu tanpa suara kemudian memeluknya dari belakang, dan membuat pria itu sedikit terkejut.
"Lihatlah betapa kacaunya dirimu, Nyonya Lu. Sebaiknya kau mengambil cuti lagi selama beberapa hari. Aku sungguh tidak ingin jika kau sampai jatuh sakit karena kelelahan." Tutur Rey.
"Itu juga yang aku pikirkan. Mungkin aku memang harus mengambil cuti selama beberapa hari. Akhir-akhir ini pekerjaan di rumah sakit ini semakin menumpuk dan aku kekurangan waktu untuk beristirahat."
Rey mendesah berat. "Itulah kenapa aku memintamu untuk berhenti bekerja. Bukankah sekarang ada aku yang menafkahimu?!"
"Jujur saja, Jess, aku ingin supaya kau lebih fokus pada aku dan anak-anak. Waktumu jadi terbagi dua, mereka masih sangat membutuhkanmu. Apalagi Laurent, pasti dia ingin memiliki lebih banyak waktu bersama ibunya setelah kalian terpisah begitu lama." Tutur Rey panjang lebar.
Kata-kata Rey membuat Jessica terdiam. Mungkin yang dikatakan oleh suaminya menang ada benarnya juga. Dia sudah menikah dan harusnya ia bisa lebih fokus pada keluarga kecilnya. Dan Jessica akan memikirkan baik-baik apa yang Rey katakan sebelum dia mengambil keputusan.
"Akan aku pikirkan. Dan bisakah kita pulang sekarang? Aku sangat lelah." Ucapnya
Rey mengangguk. "Tentu."
__ADS_1
-
"Ibu!!"
Tuan Smit berteriak histeris melihat sosok wanita yang tengah terkulai dalam keadaan tak berdaya di pinggir jalan setelah di pukuli oleh warga. Bukan tanpa alasan, wanita tua itu kepergok sedang mencuri uang dan emas serta beberapa barang mewah lainnya di sebuah pusat perbelanjaan.
Para warga memilih main hakim sendiri dari pada harus melaporkannya pada pihak yang berwajib. Mereka menganggap jika itu terlalu ringan dan tidak akan memberikan efek jera bagi si pencuri.
Tuan Smit menghampiri ibu angkat yang merangkap sebagai ibu mertuanya tersebut dan menangis melihat bagaimana kondisinya saat ini. "Ibu, bangun. Kau harus bertahan,kau tidak boleh meninggalkanku. Ibu bangun." Pintanya sambil memeluk erat tubuh itu.
"Aku sudah tidak ku...at...!!"
"IBU!!"
Dan akhirnya wanita tua itu meninggal dalam pelukannya. Di bawah derasnya guyuran air hujan. Nenek Smit menghembuskan nafas terakhirnya. Tuan Smit mengangkat jasad ibunya dan membawanya pergi untuk di makamkan. Bagaimanapun dia, dia harus mendapatkan pemakaman yang layak.
-
Degg...
Jessica menghentikan langkahnya ketika tiba-tiba merasakan perasaan yang tidak enak. Entah kenapa dia tiba-tiba teringat pada ayah dan neneknya. Rey yang menyadari istrinya tidak berada lagi di sampingnya lantas menoleh dan mendapati Jessica berdiri dalam keadaan termangu.
Rey berbalik kemudian menghampiri wanita itu dan bertanya padanya. "Ada apa?" tanya Rey yang sontak Jessica mengangkat wajahnya.
"Rey, bisakah kau menemaniku keluar. Aku ingin mencari ayah dan nenekku. Entah kenapa aku merasakan perasaan yang tidak enak. Aku memiliki firasat buruk tentang mereka. Sejahat dan seburuk apapun mereka perlakuan mereka padaku, tapi mereka tetaplah keluargaku. Kau mau kan?" Jessica menatap Rey penuh harap.
"Baiklah."
-
Bersambung.
__ADS_1