
Cuaca hari ini sedang tidak bersahabat. Gemuruh petir menggelegar hebat. Langit yang biasanya ditemani senyum cerah sang mentari kini terlihat gelap diselimuti gumpalan awan hitam, membawa butiran air hujan dan turun membasahi permukaan tanah hingga membuat jalanan tergenang air. Sebagian orang lebih memilih berada didalam rumah daripada harus berurusan dengan percikan air hujan.
Seorang wanita yang sedari tadi berdiri di depan jendela kamarnya terus saja menggerutu melihat rintik hujan dari kaca jendela yang tertutup rapat.
Jutaan tetes air yang turun dari langit terlihat bagai benang-benang perak yang terus berkesinambungan tiada henti, menciptakan kesan cantik dengan latar belakang langit kelabu. Gemericik tetesan air terdengar sayup-sayup dari celah bingkai jendela hingga menambah kesempurnaan nuansa hujan.
Bukan lagi rahasia bila Luna selalu membenci datangnya Hujan. Hujan membuatnya merasa kesal, sedih dan terkadang membawa kepiluan. Hujan membuatnya terjebak hingga tak ada aktifitas yang bisa Luna lakukan selain duduk diam atau berdiri dalam sepi sambil menatap hujan.
Hujan di malam hari memang tidak menyisahkan apa-apa kecuali aroma petrichor yang terbawa angin dan menyapa ventilasi, sebelum akhirnya terhirup oleh organ respirasi.
Halaman rumah berwarna putih itu masih dipenuhi tetes-tetes air pada tiap pucuk rumputnya. Sementara tanah kecokelatan basah di bawah hijau rumput menguarkan aroma petrichor yang terlalu pekat hingga membumbung ke udara, menciptakan samar kabut putih yang nyaris tak tertangkap netra manusia.
Warna di antara hitam dan putih masih menyelubungi beberapa sudut langit, membiaskan muram hingga ke bumi yang belum di tinggalkan oleh hujan.
Luna tak akan pernah ragu menyatakan dengan bangga pada dunia bahwa dia adala pembenci aroma petrichor Nomor 1.
Di saat sebagian wanita seisinya akan menyatakan bahwa mereka menyukai hujan berikut aroma tanah basah yang hujan tinggalkan.
Tapi, tidak dengan wanita satu itu.
Luna sangat membenci aroma tanah dan udara setelah hujan. Membencinya sepenuh hati. Membenci dengan satu alasan yang ia sendiri tak mengerti, sama halnya dengan ia yang tak mengerti kenapa orang-orang memuja aroma aneh bahkan memberi nama untuk kabut samar yang mencemari udara dan organ respirasinya itu.
"Luna," suara bak lonceng yang terbawa udara mendadak menggetarkan organ auditorinya, memaksanya dengan suka rela untuk melepas atensinya dari pemandangan hujan di luar jendela.
Luna menoleh, binernya berhenti di sepasang netra abu-abu tajam yang sangat dikenalnya tengah berjalan menghampirinya. "Ada yang menarik?" tanya sosok itu yang pastinya adalah Kevin.
Luna menggeleng. "Tidak ada." Jawabnya singkat.
__ADS_1
Kevin melingkarkan kedua tangannya pada perut Luna dan meletakkan dagunya di atas bahu kanannya. "Kau masih membenci hujan?" Luna mengangguk. "Kenapa?"
"Karena hujan membawa kalian pergi dari sisiku. Pertama ibu, lalu dirimu. Meskipun akhirnya kau kembali, tapi tetap saja setiap mengingat moment itu membuat dadaku terasa sesak."
"Dan sekarang aku akan menebusnya. Aku akan selalu berada di sisimu apapun yang terjadi, aku tidak akan meninggalkanmu, apapun alasannya aku akan selalu berada di sisimu." Tutur Kevin sambil mengeratkan pelukannya.
Luna mengangkat wajahnya dan memperhatikan apa yang Kevin kenakan. Celana panjang dan singlet hitam. "Apa kau tidak merasa kedinginan?" Luna melirik Kevin sekilas.
Pemuda itu tak langsung menjawab dan hanya terus menatapnya. Membuat Luna merasa gugup setengah mati. "Kenapa menatapku seperti itu?" ucapnya setengah tersipu. Posisinya dan Kevin saling berhadapan.
Kevin menyeringai. "Bukankah kita selalu menemukan cara untuk menghangatkan diri?" Tangan Kevin bergerak. Jatuh tepat di pinggang Luna, melingkari pinggang milik lelaki itu sebelum menariknya mendekat.
Pergerakan itu semakin memangkas eksistensi jarak di antara mereka. Mempertemukan dua kain beda warna yang mereka kenakan. Luna mengangkat wajahnya. Kevin menatapnya.
Begitu sudah terlalu terbiasa dan seolah memiliki telepati saat dua bibir itu bertemu. Menggoda hujan yang terus turun di luar sana. Menghangatkan dingin yang menusuk.
.
.
Mereka baru saja menyelesaikan apa yang telah di mulai sejak satu jam yang lalu. Kevin menjatuhkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya di leher jenjang Luna. Menghirup dalam-dalam aroma bunga sakura yang menguar dari tubuh wanita itu. Aroma yang sangat disukainya.
Jari-jari lentik Luna menggenggam jari-jari Kevin. Jari mereka saling bertautan.Hingga kata-kata yang sering keluar dari bibir tipisnya dengan konstan keluar lagi untuk ke sekian kalinya.
"Aku mencintaimu, Luna Lu." Bisik Kevin dan kembali memagut bibir tipis Luna, singkat.
Desau angin yang lancang menggoyangkan gorden jendela di belakang mereka menjawab semuanya. Sudut bibir itu tertarik ke atas membentuk lengkungan indah di wajah cantiknya. "Aku juga mencintaimu," jawab Luna dan berhambur ke dalam pelukan suaminya.
__ADS_1
"Tidurlah. Kau pasti lelah, aku juga sangat lelah." Bisik Kevin dan semakin mengeratkan pelukannya. Kecupan pada keningnya dan usapan pada punggung polosnya langsung menghantarkan Luna menuju alam mimpi.
-
"Pagi, Pa, Ma." Sapa Laurent setibanya dia di meja makan.
Jessica yang tengah sibuk menyusun makanan di atas meja terlihat memicingkan mata melihat wajah sumringah putrinya. Dan tanpa bertanya lebih jauh pun seharusnya Jessica tau apa alasan Laurent terlihat sebahagia itu.
"Kau tidak ikut sarapan?" tegur Rey melihat Laurent yang hanya meneguk susunya.
"Nanti saja di luar, Pa. Sean mengajakku sarapan di luar. Aku hampir terlambat. Ma, Pa, aku berangkat dulu." Pamit Laurent dan pergi begitu saja.
Selepas kepergian Laurent. Di rumah itu hanya menyisahkan Rey dan Jessica. Meskipun usia mereka sudah tidak muda lagi. Tapi mereka selalu terlihat harmonis. Baik itu di depan anak-anak atau ketika anak-anak tidak ada. Rey selalu menunjukkan sisi hangatnya ketika bersama Jessica, wanita yang telah memberinya dua anak yang hebat.
"Apa yang kau lihat, Rey? Kau bisa melubangi wajahku jika terus menatapku seperti itu. Sebaiknya kita sarapan sekarang. Bukankah kau harus ke kantor setelah ini,"
"Hn, kau benar. Ya sudah, ayo kita sarapan sama-sama." Jessica tersenyum dan mengangguk.
Selanjutnya sarapan mereka lewati dengan tenang. Tak ada perbincangan diantara mereka berdua. Baik Rey maupun Jessica memilih tetap diam dalam keheningan. Hanya terdengar suara sendok dan garpu yang saling bersentuhan.
Semenjak menikah. Tak sekalipun mereka terlibat pertengkaran yang berujung fatal, meskipun perdebatan kecil tak jarang mewarna kebersamaan mereka berdua. Saling beradu argument yang justru semakin mempererat hubungan mereka.
Dan Jessica merasa sangat beruntung memiliki suami seperti Rey. Dia tak yakin jika hidupnya akan berjalan seperti saat ini jika saja orang yang menikahinya bukanlah pria yang kini menjadi suaminya.
-
Bersambung.
__ADS_1