Tragedi Cinta Satu Malam

Tragedi Cinta Satu Malam
Season 2 (Bab 5)


__ADS_3


Halo kakak-kakak sekalian. Jangan lupa buat baca juga new novel Author yang baru netes ya. CINTA TULUS UNTUK KUPU-KUPU MALAM. Like koment selalu di tunggu 🙏🙏🙏


-


Dia, yang tak akan pernah ku gapai...


Dia, yang selalu memenuhi pikiranku...


Dia, yang selama ini ku simpan di dalam hati ini..


-


Kevin Lu. Ya, dialah orangnya. Orang yang telah menggoyahkan hati Luna sejak lama. Semenjak ia melihatnya beberapa tahun yang lalu. Dan sekarang, perasaan itu semakin dalam terhadapnya. Apalagi setelah pertemuan mereka malam itu, setelah kepergian Kevin 6 tahun yang Lalu.


Jujur saja, Luna sangat tersiksa dengan perasaan yang selama ini hanya terpendam di dalam hatinya, tapi ia juga tak punya keberanian untuk mengungkapkannya secara langsung pada Kevin, apalagi Kevin tak pernah menunjukkan ketertarikannya pada dirinya. Luna memilih memendamnya dari pada dia patah hati karena cintanya yang tidak terbalas.


Malam biasanya tak segelap ini. Yaa mungkin karena awan mendung masih menyelimuti langit. Nampak seorang gadis berambut coklat panjang duduk di sebuah bangku taman.


Ia tak sendiri, ada seorang pemuda di hadapannya menatap gadis itu dengan tatapan yang sulit di jelaskan dengan kata-kata.


Sudah 15 menit mereka saling diam dalam keheningan. Saling menatap tanpa berani berucap. Mereka tahu hal ini pasti akan terjadi. Maka dari itu wajah mereka di buat setenang mungkin, meskipun pada kenyataannya jantung si gadis berdegup kencang.


"Lun, kau ingin minum sesuatu?" tanya Kevin memecah keheningan.


Luna mengangkat wajahnya. Membuat matanya langsung bersirobok dengan mata abu-abu milik Kevin. "Orange Jus, sepertinya tidak buruk." Jawabnya tersenyum.


Kevin mengangguk. "Baiklah, tunggu di sini sebentar aku akan segera kembali." Ucap Kevin yang kemudian di balas anggukan oleh Luna.


Selepas kepergian Kevin. Beberapa pria terlihat menghampiri Luna. Siapa lagi mereka jika bukan anten-antek Sebastian.


Sepertinya Bastian masih belum menyerah untuk mendapatkan pengakuan dari Luna. Kali ini bukan sekedar bunga, coklat ataupun boneka. Melainkan gaun pengantin dan dekorasi pernikahan yang di angkut oleh dua truk besar


Bastian turun dari mobil mewahnya yang sudah di hiasi bunga lalu menghampiri Luna yang tampak tidak suka melihat kedatangannya. Bastian langsung berlutut di depan Luna sambil menyerahkan sebuah cincin berlian padanya.


"Luna, lihatlah betapa bergunanya diriku untukmu. Aku tidak pernah main-main dengan perasaanku. Aku tulus dan aku serius padamu. Untuk itu segera terima cintaku dan biarkan aku masuk ke dalam hatimu."


"Kau sudah tidak waras ya? Berdiri dan jangan membuatku malu seperti ini." Luna memperhatikan sekeliling, mereka menjadi pusat perhatian.

__ADS_1


"Tidak, aku tidak akan berdiri sebelum kau menerima cincin ini. Aku sungguh-sungguh menyukaimu, Luna Nero. Sangat menyukaimu. Rasa suka yang aku miliki padamu itu sedalam samudra dan setinggi Himalaya. Tidak dangkal seperti air sungai yang kering. Tulus seperti, seperti, seperti apa ya... Ahhh...pokoknya tulus. Jadi terima cintaku,"


Luna menghampiri Bastian dan membuat pemuda itu tersenyum lebar. Luna mengulurkan tangannya pada kotak berisi cincin tersebut. Bastian sangat yakin jika Luna akan menerima perasaannya. Lagi pula wanita mana yang bisa menolak cincin berlian yang begitu berkilauan.


"Aku tetap menolak!!" Luna menutup kotak cincin itu dan pergi begitu saja.


"Luna, tunggu!!" seru Bastian dan segera menahan langkah Luna. Bastian menggenggam pergelangan tangan Luna yang kemudian di hempaskan olehnya. "Luna, apa alasanmu menolakku? Aku ini tampan, mapan dan terkenal di kampus. Kau pasti akan sangat bahagia jika menerima cintaku."


"Aku tetap menolak!!"


"Luna, aku mohon padamu."


"Sudah cukup!! Kau membuatnya tidak nyaman." Tiba-tiba Kevin datang dan menahan lengan Bastian ketika pemuda itu hendak menggenggam tangan Luna. "Ayo kita pergi," Kevin menggenggam tangan Luna dan membawa gadis itu pergi dari sana.


"YAKK!!" dan apa yang dia lakukan itu justru memancing amarah Bastian. "Brengsek kau!! Berani-beraninya kau membawa pergi gadisku?! Apa yang kalian tunggu, cepat hajar dia."


Bruggg...


Kevin mendorong Luna dan menangkis serangan yang mengarah pada wajahnya. Lalu Kevin menarik lengan yang hendak memukulnya tadi dan kemudian membantingnya ke tanah.


Luna terperangah dengan kemahiran Kevin dalam bela diri, begitupula dengan Bastian. Bastian berdiri llau menyeret pergi kedua anak buahnya yang salah satunya terkapar.


Bastian menunjuk Kevin sambil menatapnya marah. "Ingat, ini belum selesai. Aku pasti akan membalasmu." Ucapnya dan pergi begitu saja.


-


Sean tengah asyik asik menyantap sarapan paginya di kantin. Sementara gadis di sebelahnya masih sibuk mengaduk-aduk jus alpukatnya. Sedari tadi Lauret hanya diam dan seperti sedang memikirkan sesuatu. Sean meletakkan sendoknya lalu ia menengok ke arah samping, melihat gadis di sebelahnya yang terus saja melamun.


"Ada yang mengganggumu, Laurent?" tanya Sean akhirnya. Dia sangat-sangat penasaran.


Laurent pun langsung tersadar dari lamunannya dan kini menatap Sean yang juga menatap padanya. Laurent menggeleng. "Jika tidak ada apa-apa, lalu kenapa kau melamun?" tanya Sean memastikan.


Laurent mendesah berat. "Aku memikirkan kelanjutan dari hubungan Luna dan Kevin. Jelas-jelas mereka saling suka dan menyayangi sejak lama. Tapi masih saling gengsi dan mempertahankan ego masing-masing. Luna yang terlalu tertutup dan Kevin yang tidak peka sama sekali. Dan hal itu membuatku frustasi." Tuturnya.


"Jadi karena mereka?" Laurent mengangguk.


"Dari pada kau pusing memikirkan bagaimana hubungan mereka. Lebih baik pikirkan bagaimana hubungan kita kedepannya. Masa depan yang cerah sedang menunggu kita untuk kita arungi bersama."


Laurent memicingkan matanya. "Apa maksudmu?" Sean menggeleng buru-buru.

__ADS_1


"Bukan apa-apa. Hahaha, aku hanya bercanda saja." Laurent mendecih dan menatap sebal pemuda di sampingnya. "Kau mau kemana?"


"Kelas."


"Yakk!! Laurent tunggu aku!!"


-


Matahari bersinar terik ketika Luna melangkah perlahan menuju Seoul Universitas. Sebuah gerbang megah nan kokoh yang bertuliskan Seoul National University ini menyambut kedatangannya dengan ramah.


Luna segera memasuki gerbang kampus yang sangat luas dan bersih ini. Suasana kampus yang ramai dengan mahasiswa-mahasiswi baik yang sudah lama ataupun mahasiswi baru. Hari ini Luna terpaksa datang ke kampusnya dengan berjalan kaki. Mobilnya mogok di tengah jalan dan parahnya lagi lokasinya jarang ada ke daraan umum yang melintas. Hingga dia tidak memiliki pilihan lain selain berjalan kaki.


Luna mengedarkan pandangan seperti sedang mencari seseorang. Tapi sepertinya yang dia cari tidak ada. Luna mendesah berat. Tak ingin terllau ambil pusing. Ia pun segera melanjutkan langkahnya.


"Luna....!!"


Luna menghentikan langkahnya karena seruan keras seseorang. Sontak saja dia menoleh dan mendapati Bian berjalan menghampirinya dengan senyum sehangat mentari pagi seperti biasanya.


"Bian, tumben kau datang terlambat hari ini?" tanya Luna keheranan.


"Luna, apa kau melihat ada yang berbeda dariku? Apa kau melihat sesuatu yang baru pada diriku?" Bian merentangkan kedua tangannya dan menatap Luna dengan mata setengah berbinar-binar.


Luna memicingkan matanya. "Aku rasa tidak ada selain penampilanmu yang terlihat mengerikan itu. Dan apa-apaan ini, kenapa kau malah berdandan aneh seperti ini?"


"YAKK!! Dasar tidak punya hati. Jelas-jelas aku berdandan seperti ini supaya kau bisa tertarik padaku dan kau malah meledekku? Hiks, sungguh betapa sedih dan hancurnya hatiku."


"Ck, berhentilah bersikap menggelikan. Sudahlah, ayo masuk sekarang atau kita akan ketinggalan satu materi."


"Iya, tapi jangan tarik-tarik. Bagaimana kalau aku sampai terjungkal ke depan?"


"Bagus kalau terjungkalnya ke depan. Kalau kebelakang baru mengejutkan. Kau terlalu cerewet..!!"


"Aduh, Luna pelan-pelan."


"Diam!!!"


"Luna, kau sangat menyebalkan!!"


"Bodoh amat!!"

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2