
Oya, kakak-kakak sekalian. Jangan lupa buat baca juga new novel Author yang baru netes ya. KISAH HIDUP SI KUPU-KUPU MALAM. Like koment selalu di tunggu 🙏🙏🙏
-
"APA? PUTUS?!"
Bastian memekik sekencang-kencangnya setelah mendengar dua kata yang baru saja keluar dari mulut Amarah. Tidak ada angin, tidak ada hujan.Gadis itu baru saja mengatakan jika dia ingin putus darinya.
"Ta-tapi kenapa?"
"Karena aku tidak pernah cinta padamu. Selama ini aku menerimamu dan mau pacaran denganmu karena aku hanya merasa kasihan saja. Kau terus memohon dan merengek supaya aku mau menerima cintamu. Karena cinta pertamaku sudah kembali, jadi tidak ada alasan untuk kita tetap bersama."
"Amarah, kau.. sangat jahat. Padahal aku sangat mencintaimu dengan setulus hatiku dan sepenuh jiwaku. Tapi kenapa kau malah memutuskanku? Memangnya apa salahku? Apa kurang ku padamu?"
Amarah memutar jengah matanya."Kekuranganmu banyak, dan tidak akan selesai aku satu hari jika aku katakan satu persatu. Intinya kita putus dan bye-bye."
"Amarah....!! Kau jahat!!!"
Semua orang menertawakan dirinya, tapi Bastian tidak mau peduli. Ia sedih dan patah hati karena Amarah baru saja memutuskan dirinya yang jelas-jelas sangat mencintainya.
"Boss, berhentilah bersikap menggelikan. Lihatlah, semua orang mengejek dirimu. Sangat tidak lucu karena preman kampus menangis hanya karena patah hati. Perempuan cantik bukan hanya Amarah saja. Bahkan kampus kita masih memiliki tiga primadona yang lebih cantik dan lebih popular darinya. Luna, Laurent dan Teresa."
Bastian menyeka air matanya. "Kau benar, untuk apa aku menangis hanya karena patah hati. Baiklah, saatnya pejuang cinta mendapatkan kembali cinta dari gadis cantik. Ayo ikut aku, aku akan mengencani Luna."
"Oke, Boss."
-
Sepanjang mata pelajaran berlangsung. Tak sedikit pun Kevin meloloskan pandangannya dari si mungil yang duduk tak jauh dari tempatnya berada. Ada sesuatu dalam diri Luna yang membuat Kevin tak bisa meloloskan pandangannya dari sang dara.
Seperti ada sebuah magnet yang memaksa Kevin untuk selalu memandang paras ayunya. Luna semakin cantik dan menawan, dan Kevin tidak bisa memungkiri hal itu.
Laurent yang menyadari hal itu langsung tersenyum misterius. Dia segera mengetikkan sebuah pesan singkat yang kemudian ia kirim pada Luna.
Dan sontak saja Luna menoleh setelah membaca pesan singkat Laurent, dan benar saja. Kevin tengah menatapnya dan membuat mata mereka saling bersirobok selama beberapa saat.
Melihat tatapan Kevin membuat jantung Luna berpacu cepat. Gadis itu berdebar-debar tak karuan. Tak ingin terlihat konyol. Buru-buru Luna mengalihkan pandangannya dan menatap ke arah lain.
"Hei, ada apa? Kenapa pipimu memerah?" tanya Teresa setengah berbisik.
Buru-buru Luna memegangi pipinya yang tiba-tiba memanas. "Mungkin karena udara hari ini yang cukup panas, hahaha." Jawabnya di iringi tawa konyol.
__ADS_1
Teresa mengintip ke luar dan gadis itu mengerutkan keningnya. "Tidak panas, bahkan cuaca hari ini agak mendung. Ahhh, jangan bilang karena anak baru itu, Kevin Lu." Goda Teresa sambil memasang senyum jahil.
"Ja-jangan bicara sembarangan. Mana mungkin karena dia." Luna menundukkan wajahnya, dia merasa malu.
"Tapi matamu mengatakannya, Luna Nero. Bibir bisa saja berbohong, tapi tidak dengan pancaran mata. Dan lihatlah, dia terus menatap ke arahmu. Aku rasa dia juga menyukaimu."
"Jangan ngaco, sebaiknya fokus saja ke materi yang di terangkan!!" Luna mengarahkan wajah Teresa ke depan. Dan lagi-lagi gadis itu hanya tertawa, dan hal itu membuat Luna semakin kesal.
"Kau menyebalkan."
-
"LUNA NERO, TERIMA CINTAKU!!!"
Nyaris saja Luna, Laurent dan Teresa tersedak ludahnya sendiri ketika mereka melihat sebuah banner besar yang terpasang di halaman kampus. Beberapa orang terlihat menghampiri Luna sambil membawa bunga, coklat dan boneka yang kemudian mereka berikan padanya.
"Apa-apaan ini?" tanya Luna penuh kebingungan.
"Luna Nero, Boss Bastian ingin menyatakan cinta padamu. Dan terimalah semua hadiah ini. Hadiah-hadiah ini adalah bukti jika Boss serius dan tulis padamu." Ucap salah satu anak buah Bastian.
"Sebaiknya bawa kembali semua hadiah-hadiah ini. Aku tidak sudi menerimanya." Luna mengembalikan semua coklat, boneka dan bunga yang dia terima pada anak buah Bastian dan pergi begitu saja. "Bian, tunggu aku."
"Luna tunggu,"
"Bye-bye." Teresa melambaikan tangannya. Dan kedua gadis itu tertawa terbahak-bahak. Mereka berani bersumpah, pasti setelah ini Bastian akan memarahi mereka habis-habisan.
-
"Kevin, aku kangen."
Tubuh Kevin terhuyung kebelakang karena ulah Amarah yang memeluknya dengan tiba-tiba. Kevin yang merasa tidak nyaman langsung menyentak tangan Amarah dan mendorongnya hingga wanita itu terhuyung.
Tapi bukan Amarah namanya jika dia menyerah begitu saja. Sekali lagi Amarah memeluk Kevin dan kali ini dia tidak membiarkan Kevin melepaskan pelukannya lagi.
"Aku senang akhirnya kau kembali. Aku sangat-sangat merindukanmu." Ujarnya sambil memeluk Kevin dengan erat.
"Lepaskan," pinta Kevin. Suaranya rendah namun penuh penekanan.
Amarah menggeleng. "Tidak mau, aku tidak mau melepaskanmu." Jawabnya.
"AMARAH!!!"
Suara mirip lumba-lumba langsung menggema dan mengejutkan semua orang yang ada di kantin. Siapa lagi jika bukan Laurent. Laurent menghampiri Amarah dan langsung menjambak rambutnya lalu menjauh dari Kevin.
__ADS_1
"Laurent Lu, apa-apaan kau ini?! Yakk!! Kau bisa membuat kepalaku botak!! Laurent Lu, lepaskan!!" teriaknya histeris.
"DIAM!!" bentak Laurent marah. Laurent mendorong Amarah hingga wanita itu terhuyung. "Jangan coba-coba menggoda Kakakku lagi. Aku tidak terima jika Kakakku di goda oleh wanita murah** sepertimu!! Kevin, ayo kita pergi." Laurent menarik lengan Kevin dan membawanya menjauh dari Amarah.
"ARRRKKHHH....!! LAURENT LU, KAU KETERLALUAN!!"
-
"Luna, kau harus makan yang banyak."
Bian terus saja menambahkan nasi ke dalam mangkuk Luna padahal nasi dalam mangkuk gadis itu sudah penuh. Bukan hanya nasi saja, tapi juga berbagai lauk pauk juga.
"Kau harus tumbuh tinggi. Jika makanmu hanya sedikit saja, bagaimana kau bisa tumbuh tinggi." Ujarnya.
"Dasar konyol." Sebuah toyoran mendarat mulus pada kepala belakang Bian. "Jelas-jelas Luna mungil dari sananya. Masih di suruh tumbuh tinggi." Ujar Laurent.
Bian mencerutkan bibirnya sambil mengusap kepalanya yang baru saja di toyor oleh Laurent."Dasar gadis menyebalkan. Berhenti menoyor kepalaku, kau pikir kepalaku ini samsak hidup." Ujarnya kesal.
"Siapa suruh kau asal bicara. Sudahlah, aku mau pesan makanan dulu."
"Tidak perlu, aku sudah membawakannya untukmu." Ucap Sean yang entah dari mana datangnya tiba-tiba sudah ada di hadapan Laurent.
"Omo!!" dan membuat gadis itu terlonjak kaget."Yakkk! Tidak bisakah kau tidak usah muncul tiba-tiba seperti hantu? Bagaimana kalau aku sampai jantungan karena dirimu?!" amuk Laurent pada pemuda itu.
Sedangkan yang di marahi hanya menunjukkan senyum tanpa dosa. Laurent mendecih tidak suka. Dengan kesal Laurent merebut nampan makanan dari tangan Sean lalu memakan, makanan yang Sean bawakan untuknya.
"Tumis Cumi keringnya sepertinya enak. Boleh aku mencicipinya?" tanya Kevin yang sontak mengejutkan Luna. Gadis itu menatap Kevin dan mengangguk.
"Tentu saja."
"Hn, enak."
"Kalau kau suka, kau boleh mengambilnya karena aku tidak terlalu suka tumis cumi kering."
Melihat hal itu membuat Bian mati-matian menahan gejolak di dalam hatinya. Pemuda itu meremas ujung kemejanya dan sudut bibirnya berkedut-kedut seperti hendak menangis. Hati Bian serasa seperti terbakar melihat gadis pujaannya dekat dengan pria lain.
"Beginilah rasanya. Sakitnya patah hati. Inikah rasanya, sakit tak berdarah."
Mendengar nyanyian Bian bukannya merasa prihatin. Mereka malah tertawa terbahak-bahak, kecuali Luna dan Kevin. Luna hanya meringis ngilu sedangkan Kevin tetap memasang muka datarnya. Bukannya terlihat menyedihkan, Bian malah terlihat menggelikan.
-
Bersambung.
__ADS_1