Tragedi Cinta Satu Malam

Tragedi Cinta Satu Malam
Gugup


__ADS_3


Jessica yang baru saja selesai mandi tampak sangat gugup ketika keluar dari kamar mandi dan mendapati Rey tengah duduk di sofa sambil menatap ke arahnya. Jessica tidak tau kenapa suaminya itu begitu tampan dan mempesona, padahal dia adalah pria dengan dua anak yang telah berusia delapan tahun.


Dengan gugup, Jessica berjalan menuju ruangan di mana semua barang-barangnya dan Rey tersimpan.


Ibu dua anak itu tidak ingin terlihat konyol di depan suaminya yang sangat tampan itu.


Setelah berpakaian lengkap, Jessica keluar dari ruangan tersebut dan mendapati Rey tengah berdiri di dekat meja riasnya sambil bersidekap dada. Lagi-lagi gugup mendera dirinya melihat tatapan Rey yang begitu intens.


"Ke-kenapa kau menatapku seperti itu, Rey Lu? Apakah ada yang salah di wajahku?" tanya Jessica berusaha setenang mungkin.


"Ada," Rey beranjak dan kemudian menghampiri Jessica. Pria itu kemudian menarik Jessica hingga sang dara jatuh di dalam pelukannya. Rey menatap Jessica dengan senyum lembut tersungging di bibirnya.


"Ja-jangan menatapku seperti itu," Jessica semakin gugup.


"Kau tau? Ada satu kesalahan fatal yang kau miliki, Nyonya Lu. Yakni kau terlalu cantik." Ucap Rey sambil mengusap pipi Jessica dan mengunci manik coklatnya.


Dan hal itu membuat Jessica merasa panas dingin. Dia gugup tak karuan. "Hahaha....! Apa yang kau katakan, Rey Lu. Kenapa kau jadi jago menggombal seperti ini? Hahaha," Jessica memukul dada Rey dan tersenyum gamang. Entah kenapa dia merinding sendiri mendengar gombalan Rey.


"Aku mengatakan yang sebenarnya, Sayang. Kau memang sangat cantik. Bukan hanya parasmu, tapi juga hatimu. Dan aku merasa sangat bahagia karena yang menjadi ibu dari anak-anakku adalah dirimu." Rey menangkup wajah Jessica dan mengunci manik matanya.


Jessica menurunkan tangan Rey dari wajahnya."Kau membuatku jantungku berdebar kencang, Rey. Sebaiknya hentikan jika kau tidak ingin menjadi duda di usia muda." Tuturnya. Jessica hendak beranjak dari hadapan Rey, namun cengkraman pada pergelangan tangannya menghentikan langkahnya.


"Kau pikir bisa begitu saja pergi dariku, Nyonya." Ucap Rey kemudian mencium singkat bibir ranum Jessica.


"Rey, selalu saja kau mengambil ciuman dariku tanpa ijin," keluh Jessica sambil mencerutkan bibirnya.


Rey terlekeh. "Aku tidak peduli. Aku mengambil miliku bukan milik orang lain, jadi siapa yang bisa melarangnya?" Rey menarik pinggang Jessica hingga wanita itu jatuh ke dalam pelukannya. "Kau adalah milikku, Nyonya Lu. Dan selamanya akan begitu," Rey menundukkan kepalanya dan bibirnya bergerak menuju bibir Jessica, menciumnya dan memagutnya.


Perlahan kedua mata Jessica tertutup rapat. Wanita itu mengangkat kedua tangannya dan mengalungkannya pada leher Rey. Dan tak ragu Jessica membalas ciuman itu. Ciuman yang awalnya lembut dan penuh perasaan, semakin lama malah berubah menjadi ciuman panas yang menuntut. Sampai akhirnya....


Tokk... Tokk.. Tokk...


"Mama, Papa, apa kalian ada di dalam?"

__ADS_1


Seorang bocah mengintrupsi ciuman mereka berdua. Laurent datang di saat ciuma mereka sedang panas-panasnya. Rey mendesah kesal, sementara Jessica malah terkekeh geli. Wanita itu beranjak dari hadapan Rey dan kemudian berjalan menuju pintu.


"Mama, kenapa lama sekali kau membuka pintunya? Memangnya apa yang sedang Mama dan Papa lakukan di dalam sana? Apa kalian sedang membuatkan adik baru untukku dan kakak Kevin?" Laurent menatap Jessica dengan mata berbinar-binar.


Dan Jessica sendiri bingung harus menjawab apa. Dan yang menjadi pertanyaannya, siapa yang mengajarkan Laurent tentang membuat adik?


Rey menghampiri putrinya. "Kenapa kau bertanya seperti itu?" tanyanya datar.


"Aku hanya menanyakan apa yang paman Chan katakan, kata Paman Chan... Jika dua orang dewasa sedang berduaan di kamar, itu artinya mereka sedang membuat adik. Apa itu juga yang sedang Papa dan Mama lakukan?" tanya Laurent penasaran.


"Ini sudah malam, sebaiknya kau kembali ke kamarmu dan segera tidur. Satu lagi, sebaiknya jangan dengarkan apa yang si jangkung gila itu katakan!!"


"Kenapa Papa jadi marah dan mengomeli Laurent? Aissh, Papa tidak asik sama sekali," Laurent mencerutkan bibirnya.


"Jangan bawel lagi, sebaiknya sekarang Papa antar kau ke kamar. Dan Papa tidak ingin mendengar alasan apapun lagi!!"


Rey membawa Laurent ke dalam gendongannya dan kemudian membawa bocah itu meninggalkan kamarnya.


.


-


Hachu....


Lee Chan tiba-tiba bersin padahal dia tidak sedang terkena flu. "Aisshh, siapa yang sedang membicarakan diriku? Menyebalkan sekali," gerutu Chan. Saat ini Chan sedang menikmati surga dunia, di mana dia sedang di manjakan oleh ke lima kucing liarnya.


Chan terus mendesah di bawah kendali ke lima kucing liar itu. Dia benar-benar merasa terpuaskan oleh kenikmatan yang mereka berikan.


"Oh, baby... Lanjutkan lagi, ahh.. Itu sangat nikmat. Ya, ya, ya begitu. Benar sekali, lanjutkan ahhh... Nikmat."


Chan merasa jika seluruh dunia berada dalam genggamannya. Pria itu menutup matanya dan bibirnya terus mengeluarkan sebuah desah kenikmatan yang dia dapatkan dari percintaan tersebut. Liar dan sangat luar biasa.


"Oh nikmatnya,"


-

__ADS_1


Pagi hari yang indah, ditemani biasan-biasan sinar mentari pagi yang mencoba masuk ke ruangan lewat celah-celah tirai yang masih tertutup. Rumah yang asri, nyaman dan benar-benar sangat cocok untuk sepasang pengantin baru. Kenapa bisa di sebut sebagai pengantin baru, karena belum genap satu bulan mereka resmi menjadi suami-istri..


Kedua matanya terbuka dengan perlahan, sosok berhelaian keperakan itu mencari sosok lain yang ia yakini berada di sampingnya. Tapi, nihil. Kosong. Karena sosok itu tak ada di sana.


"Sayang?" serunya tiba-tiba seraya bangkitdari berbaringnya dan melupakan rasa kantuk yang masih mendera matanya, serta mimpi indah yang masih menggodanya. Pria itu 'Rey' menjadi panik mengetahui Jessica tiba-tiba saja menghilang, padahal ini masih pukul enam pagi.


Kakinya berjalan menuju kamar mandi yang ada di kamarnya, menengok sebentar ke dalam dan langsung berbelok arah saat mengetahui tempat itu kosong. Tak ada orang di sana, sesekali Rey menguap dan mengusap matanya menahan kantuk. Ia berfikir, di mana kiranya sosok itu berada. Dan otak jeniusnya seketika berisikan satu kata


—Dapur.


Ia melangkah melewati ruang tamu dan ruang keluarga. Kemudian Rey berhenti di depan dapur dan ia dapat mendengar suara gaduh dari sana.


Dan Rey yakin jika istri cantiknya itu berada di dalam sana, tapi yang menjadi pertanyaannya, apa Jessica benar-benar serius menyiakan sarapan? Mengingat bagaimana payahnya wanita itu dalam urusan masak memasak.


Sosok itu terlihat begitu serius dengan kegiatannya—ia bisa melihat punggungnya dari sini. Sepertinya ia tak sadar dengan kedatangannya.


"Ahhh," tiba-tiba Jessica berteriak histeris karena minyak di dalam wajan itu tiba-tiba saja meletup-letup. "Yakk!!! Kenapa dengan minyak ini? Kenapa malah meletup-letup seperti ini?"


"Nyonya, biar saja yang melakukanya."


"Tidak, tidak, tidak, pokoknya aku harus menyelesaikan masakan ini." Jessica bersikeras. "Ahhhh," dan lagi-lagi wanita itu menjerit histeris.


Rey mendengus geli. Dengan langkah begitu pelan, ia menghampiri sosok yang tengah membelakanginya tersebut. Dan berdiri tepat di belakangnya. "Memangnya apa yang sedang kau masak?" tanya Rey tiba-tiba. Dan sebuah spatula otomatis langsung mendarat pada keningnya. "Ahhh...!! Jess, kenapa kau malah memukulku?" kaget Rey sambil memegangi keningnya yang memar


"O-Omo!! Rey, aku tidak sengaja, maaf.. Dan salahmu sendiri kenapa kau harus mengejutkanku?!!" seruan protes keluar dari mulut Jessica.


Dari nadanya ia benar-benar terdengar terkejut, tapi detik berikutnya rasa cemas menggerogoti perasaannya melihat luka memar di kening suaminya.


"Sebaiknya kita ke kamar dan obati memarnya. Bibi, tolong selesaikan ya."


"Baik, Nyonya."


Keduanya pun berjalan beriringan meninggalkan dapur dan pergi ke kamar mereka yang berada di lantai dua. Meskipun hanya memar saja, tapi tetap harus di obati dan di rawat dengan benar.


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2