
"PAPA..!!"
Tangis Laurent berhenti detik itu juga saat melihat kedatangan sang ayah. Gadis cantik itu berlari menghampiri Rey dan langsung memeluk kakinya. "Mereka jahat, masa iya tidak mau mengantarkanku pada Papa. Pokoknya Papa harus memecat mereka." Rey menyentil kening putrinya dengan gemas dan tersenyum tipis.
"Kau pikir, Papa akan menuritimu?" Laurent mengangguk. "Papa tidak akan memecat mereka karena mereka sudah bekerja sangat lama dan hanya mereka yang bisa, Papa percayai untuk menjagamu. Sekarang kau mengerti?" Laurent mengangguk.
Rey menurunkan Laurent dan mendudukkan gadis kecil itu di atas tempat tidurnya. "Pa, tumben jam segini Papa sudah pulang? Papa merindukan Laurent ya?" Rey mendengus berat
"Papa, tidak akan pulang jika kau tidak membuat masalah. Tetap di sini, Papa akan mandi dulu dan setelah ini kita jalan-jalan keluar."
"Oke, Pa."
Laurent turun dari ranjang dan berjalan menuju ruangan dimana Rey menyimpan semua barang-barangnya seperti pakaian dan sepatu serta jam tangan mahalnya. Bocah itu terlihat memilah-milah pakaian mana yang bagus Rey pakai hari ini, dan pilihannya jatuh pada kemeja putih tanpa lengan dan long vest hitam berlebel Gucci.
Laurent menatap pakaian itu dengan senyum mengembang kemudian membawanya keluar "Papa, pakai ini saja, oke." Laurent menyerahkan kemeja dan vest itu pada Rey.
Rey tidak memberikan jawaban, sebagai gantinya dia mengambil kemeja dan long vest itu kemudian memakainya.
Laurent tidak berkedip dan matanya berbinar-binar melihat bagaimana tampannya sang ayah dalam balutan pakaian pilihannya. Rey menggenggam jari-jari mungil Laurent dan keduanya berjalan beriringan meninggalkan kamarnya.
****.
Bukan rahasia lagi bila seorang Jessica sangat payah dalam segala hal, dan salah satunya adalah memasak. Jangankan memasak, memasak air pun dia tidak bisa, beruntung dia memiliki putra yang begitu memperhatikannya dan mengerti dirinya dengan baik.
Mungkin usianya memang baru delapan tahun, tapi Kevin sudah mahir dalam segala hal, dan salah satunya adalah memasak. Hampir setiap hari bocah laki-laki itu yang memasak untuk Jessica dan juga dirinya sendiri. Sejak kecil Kevin sudah sangat mandiri dan tidak pernah bergantung pada orang lain, termasuk pada Ibunya.
Jessica sendiri adalah seorang Dokter yang sangat hebat. Entah sudah berapa banyak nyawa yang berhasil selamat berkat tangan ajaibnya. Selain itu, dia sangat ramah dan rendah hati sehingga dia begitu disukai oleh para pasien dan perawat di rumat sakit lama tempatnya bekerja. Dan rencananya dia akan mulai bekerja lagi hari ini sebagai dokter baru di salah satu rumah sakit terkemuka di negeri ini.
"Mami tidak perlu bekerja hari ini, aku baru saja menghubungi pihak rumah sakit dan mengatakan pada mereka jika Mami baru bisa mulai bekerja besok pagi. Dan mereka tidak mempermasalahkannya."
"Apa? Kau sungguh melakukannya dan mereka mengijinkannya?" Kevin mengangguk "Tapi bagaimana kau melakukannya dan bagaimana mereka bisa mendengarkan bocah sepertimu?" ucap Jessica penih keheranan.
"Mami meragukanku? Begini-begini aku jauh lebih berguna dari pada dirimu. Dan lagi pula, aku tau jika Mami sangat kelelahan setelah perjalan panjang kita kemarin. Sebaiknya Mami cepat bangun, ini sudah siang. Kita tidak memiliki bahan makanan apapun , kita harus pergi berbelanja."
"Memangnya ini jam berapa?"
Jessica mengikuti arah tunjuk Kevin dan membulatkan matanya. "Jam sembilan? Yakk! Kevin, kenapa kau tidak membangunkan Mami dari tadi? Aissh! Bocah ini." buru-buru Jessica pergi ke kamar mandi. Sedangkan Kevin hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepala melihat tingkah Ibunya.
"Dasar kekanakan."
__ADS_1
.
.
Setelah berkendara hampir tiga puluh menit, Jessica dan Kevin tiba dipusat perbelanjaan. Namun setibanya di sana, mereka langsung di suguhi pemandangan yang begitu mengilukan.
Seorang pria terlihat tak sadarkan diri dengan darah segar mengalir dari kepalanya dan menutupi sebagai wajahnya. Disekitarnya banyak pecahan lampu kristal berserakan, serta seorang gadis kecil yang menangis disampingnya.
"Huaaaaa..!! Papa bangun, Papa tidak boleh mati, Papa tidak boleh meninggalkan Laurent. Huaaa, Papa bangun, jangan menakuti Laurent. Papa bangun, buka matamu. Hiks, siapa pun tolong papaku." Bocah perempuan itu yang ternyata adalah Laurent, terus menangis sambil mengguncang tubuh Rey yang sedang tak sadarkan diri.
"Tenang nak, ambulans akan segera tiba. Papamu pasti akan baik-baik saja." Bujuk seorang wanita menenangkan.
"Hiks, Papa Laurent berdarah-darah. Bagaimana jika Papa sampai mati? Hiks, Laurent tidak mau kehilangan Papa!! Papa bangun, hiks... buka mata Papa..."
"Mami, kenapa kau hanya diam saja. Cepat tolong pria itu." Seru Kevin dan segera menyadarkan Jessica.
"Pegang tas, Mami." Jessica segera membelah lautan manusia yang mengerumini laki-laki itu.
"Permisi-permisi, tolong beri jalan, saya dokter." Satu persatu menyingkir dan memberikan jalan untuk Jessica.
Pertama-tama yang Jessica lakukan memeriksa detak jantung dan nadinya. Kedua mata Jessica membelalak melihat adanya tanda-tanda jika laki-laki itu mengalami pneumothorax, dan hal itu terlihat saat laki-laki itu terlihat kesulitan untuk bernafas.
"Ini dokter." seorang pria memberikan bolpoinnya pada Jessica.
Dia harus melakukan penanganan cepat, karena jika tidak, laki-laki ini bisa saja kehilangan nyawanya dalam beberapa menit saja akibat insiden tersebut.
Jessica menusukkan ujung bolpoin itu ke bagian dada, lebih tepatnya pada interkostal dua lurus mid klavikula. Sekitar dua tulang rusuk, hal itu dilakukan supaya udara yang terjebak di dalam rongga dada bisa keluar. Dan berhasil, laki-laki itu membuka kembali matanya dan bernafas sedikit tersenggal-senggal.
"Anda baik-baik saja? Tuan, bisakah Anda mendengar saya? Coba Anda sebutkan angka berapa ini?" Jessica mengangkat tangannya dan menatap laki-laki itu dengan serius.
DEGG..!! 'Suara itu?' keget laki-laki itu setelah mendengar suara Jessica yang terdengar begitu familiar.
Laki-laki itu menutup matanya dan mendesah berat. "Kau pikir aku bodoh, jelas-jelas itu angka tiga." Jessica menghela nafas lega. "Aahhh..!" Rintihan terdengar dari sela-sela bibirnya , salah satu tangannya mencengkram kepalanya yang serasa ingin cepat ditambah lagi mata kirinya yang terus berdenyut nyeri.
Sepertinya ada pecahan dari lampu kristal yang jatuh itu masuk dan menusuk mata kirinya. Dan dia terluka parah demi melindungi putrinya.
"Papa, huaaaa..!!" Laurent semakin histeris dan langsung berhambur memeluk laki-laki itu yang tak lain dan tak bukan adalah Rey. "Hiks, aku fikir Papa akan mati dan meninggalkan aku sendiri. Hiks, Laurent sangat-sangat takut." Tangis Bocah itu kembali pecah ketika memeluk ayahnya.
"Tenanglah Nak, Papa baik-baik saja." Bisik Rey meyakinkan.
__ADS_1
"Tuan, kita harus segera ke rumah sakit. Kau terlalu banyak kehilangan darah, jika menunggu almbulan, itu akan terlalu lama. Aku akan mengantarkanmu." Jessica segera membantu Rey berdiri dan menuntunnya keluar.
Luka-lukanya lumayan parah dan perlu penanganan dengan segera.
Jessica membantu Rey untuk duduk di jok belakang. Tiba-tiba Jessica merobek dressnya yang kemudian dia gunakan untuk mengikat kepala Rey yang terus mengeluarkan darah dan ikatan kain itu kemudian turun menuju mata kirinya, yang juga mengeluarkan darah.
"Kevin, kau duduk dibelakang bersama paman ini dan putrinya. Bantu menekan dan mengikat luka pada lengannya."
"Oke, Mami."
.
.
Mereka tiba di rumah sakit dua puluh menit kemudian. Jessica mengendarai mobilnya agak sedikit ngebut, tujuannya adalah supaya Rey bisa segera mendapatkan pertolongan karena jika terus dibiarkan dia bisa mati kehabisan darah.
Beberapa perawat langsung menyambut kedatangan mereka, Rey di bawah ke dalam dengan menggunakan kereta dorong. "Nyonya, sebaiknya Anda tunggu di luar saja. Suami Anda biar kami yang menanganinya."
"Dia bukan suamiku tapi pasienku, aku juga dokter di rumah sakit ini. Namaku Jessica Astoria."
"Oh, Dokter Astoria rupanya ini Anda, maaf kami tidak tau. Silahkan masuk kalau begitu."
Pertama-tama yang harus dilakukan adalah membuka ikatan pada kepala dan mata kirinya, kemudian membersihkan darah yang menutupi sebagian wajah tampannya. Dan setelah darahnya benar-benar bersih, kini Jessica dapat melihat keseluruhan wajah tanpa Rey tanpa menghalang apapun.
"Ada beberapa pecahan lampu yang menusuk mata kirinya, kita harus melakukan operasi dengan segera. Siapkan peralatannya."
"Baik dokter."
Saat ini Jessica sibuk menjahit luka pada pelipis kanannya yang robek. Sementara para suster yang membantunya membersihkan dan mengobati luka pada lengan kiri atas serta leher dan dadanya.
Banyak pecahan lampu yang menacap dibeberapa titik yang harus segera dicabut. Dan pekerjaan Jessica dilanjutkan dengan operasi kecil pada mata kiri Rey, dalamnya pecahan kaca lampu yang menusuk retinanya membuat Jessica merasa tak yakin jika mata itu akan bisa berfungsi dengan baik seperti sedia kala.
Tapi apapun hasilnya nanti, setidaknya dia sudah mencobanya dan bekerja dengan keras.
Dan setelah hampir satu jam, pekerjaan para tim medis pun selesai. Perban terlihat melilit dahi Rey yang kemudian turun hingga menutupi mata kirinya. Perban juga terlihat dibeberapa titik seperti leher dan lengan kiri atas.
Rey segera dipidahkan ke ruang inap dan yang perlu Jessica lakukan sekarang adalah menemui Laurent dan mengatakan padanya jika Papanya baik-baik saja.
-
__ADS_1
Bersambung.