Tragedi Cinta Satu Malam

Tragedi Cinta Satu Malam
Pemakaman


__ADS_3

Hening.


Yang terdengar hanya suara tetesan air hujan yang enggan berhenti menghujam bumi. Di salah satu tempat di bumi ini, sebuah acara berlangsung mati. Dengan hujan yang tak mau berhenti, dengan petir yang tak henti-hentinya menggelegar, dengan baju hitam yang membuat suasana semakin kelam, dengan wajah-wajah yang berdiri tanpa berekspres, membuat acara ini terasa mati.


Hujan mulai bertambah deras, sang penggali tanah menengok ke kiri dan kanan, meminta tanda, kemudian anggukan dari lelaki bertubuh tinggi yang berada di sebelahnya sudah memberi jawaban.


Semuanya harus selesai hari ini, tidak peduli hujan maupun badai. Tak ada suara Raung tangis selain isakan kecil dari seorang pria yang tengah berlutut di samping peti mati, sambil berharap dalam hati kalau ini semua hanyalah mimpi.


Tak sampai dua puluh menit, sebuah lubang sudah siap diisi. Semuanya hampir selesai. Namun, tidak ada kesedihan yang beranjak pergi. Bahkan dengan melihat lubang itu saja bisa membuat hati orang ini teriris. Tepat pada malam hari ini, saat hujan tengah membasahi bumi, sesuatu telah di akhiri.


Beberapa orang hanya terdiam sambil menatap lirih peti yang tengah dimasukkan perlahan ke dalam lubang istirahat yang abadi. Hujan semakin menggila, membuat payung yang dibawa beterbangan, membuat baju yang dipakai sukses basah kuyup, membuat hati seorang anak terluka.


Bagaimana tidak? Bersamaan dengan datangnya badai, secara langsung ia menyaksikan ibunya menjemput akhir hidupnya. Dengan mata kepala sendiri ia melihat tubuh sang ibu kaku dan kini harus dimasukkan ke sebuah lubang gelap.


Perlahan, peti kayu itu dimasukkan ke dalam lubang.


Perlahan, ditimbun oleh tanah.


Perlahan, tapi pasti peti kayu itu menghilang dari jangkauan mata.


Dan perlahan ...


Lelaki bertubuh gendut itu kini sudah sukses berlutut di hadapan makam Ibunya. Ia tak kuasa melihatnya semua ini. Sungguh, ia tak sanggup. Air matanya sudah mengering, yang tersisa hanyalah jeritan tertahan dan luka yang mendalam.


"IBU!!!"


Sementara itu. Seorang wanita hanya menatap datar pada gundukan tanah di hadapannya. Lalu pandangannya bergulir pada pria yang berdiri di sampingnya.


"Sebaiknya kita pulang. Aku sangat kedinginan." Ucapnya yang kemudian di balas anggukan oleh si pria. Keduanya dan beberapa orang berpakaian hitam itu pun mulai beranjak pergi dan meninggalkan lokasi.


Rasa sakit di hatinya belum sepenuhnya sembuh. Apa yang dia alami di masa lalu begitu membekas dan sulit untuk dihapuskan. Jika bukan karena rasa kemanusiaan, dia enggan untuk melakukannya. Tapi dia masih memiliki hati nurani.

__ADS_1


"Jessica, tunggu,"


Langkah kakinya lantas terhenti ketika seruan memanggil namanya. Wanita itu tak bereaksi dan tetap berdiri pada posisi yang sama. Tidak menoleh ataupun berbalik, sampai sosok pria kini berdiri di hadapannya.


Pria itu menjatuhkan tubuhnya dan berlutut di depan Jessica. Sambil menangis dia memohon ampun, namun tidak ada jawaban. Ini terlalu menyakitkan, terlalu dalam luka yang telah dia goreskan di hatinya. Terlalu sakit apa yang dia lakukan padanya.


Kedua tangannya terkepal kuat di samping tubuhnya. Dia menangis bukan karena ucapan pria setengah baya itu. Dia menangis karena luka lamanya kembali terbuka, luka lama yang membuatnya ingin marah dan memaki pria yang tak lain dan tak bukan adalah ayah kandungnya.


Jessica menyeka air matanya dan menatap tajam pada pria itu. "Terlalu mahal maaf untukmu. Jika kau memang menyesal, temui ibuku dan minta maaf padanya, karena sampai kapanpun aku tidak akan memaafkanmu!" Jessica beranjak dari hadapan pria itu dan pergi begitu saja.


.


.


Tetesan demi tetesan air mata yang mengalir dari pelupuknya terlihat bak aliran sungai yang mengalir dari hulu ke hilir.


Tangannya yang terkepal berkali-kali memukul dadanya dengan brutal. Mencoba menghilangkan rasa sesak yang menghimpit. Berharap apa yang dia lakukan bisa mengurangi rasa sesak yang dia rasakan.


Rey yang tidak tahan melihat Jessica yang terus menangis menghampirinya dan kemudian memeluknya. Memberikan rasa tenang pada batinnya yang bergejolak hebat.


Isakannya tak lagi terdengar, Rey melonggarkan pelukannya dan mendapati wanitanya tengah tertidur pulas dalam pelukannya.


Rey mendesah berat. Pria itu kemudian berdiri dan mengangkat tubuh wanitanya. Jessica tertidur karena terlalu lelah menangis.


Dengan perlahan , Rey membaringkan Jessica di atas tempat tidur. Menyelimuti sampai sebatas dada. Lagi-lagi Rey mendesah berat. Rey beranjak dan pergi meninggalkan kamarnya. Mungkin sedikit minum bisa menghilangkan pening di kepalanya.


.


.


Lampu ruangan itu kembali di hidupkan. Seorang pria duduk di sofa sambil di temani sebotol wine dan satu kotak rokok beraroma mint.

__ADS_1


Wine di dalam botol itu hanya tersisa setengah saja dan lebih dari lima puntung rokok ada di tempatnya.


Derap langkah yang datang sedikit menyita perhatiannya. Seorang pria awal lima puluhan terlihat menghampirinya. Rey menuangkan wine ke dalam gelas yang kosong dan memberikan pada pria tersebut.


"Temani aku minum, Paman."


Pria itu menatap Tuan-nya yang terlihat kacau. Dan tanpa bertanya pun, tentu dia tau apa yang membuatnya terlihat seperti itu. Tak ada pertanyaan yang keluar dari bibirnya. Dia tidak ingin membuat buruk suasana hati Tuan-nya. Pria setengah baya itu hanya terus menatapnya dengan tatapan yang sulit di jelaskan.


"Kenapa belum tidur?" tanya Rey pada pria di depannya.


"Hanya belum bisa saja. Apa, nyonya sudah tidur?"


"Hn, dia baru saja tidur."


Dan selanjutnya hanya keheningan. Tak ada lagi perbincangan diantara mereka. Baik Rey maupun pria setengah baya itu sama-sama diam dalam kebisuan.


-


Kicauan suara burung yang saling bersahut-sahutan dan juga terpaan sinar mentari pagi membuat Jessica harus terbangun dari tidurnya. Saat matanya melirik ke arah jam yang terpasang di dinding kamarnya, waktu telah menunjukkan pukul tujuh kurang lima menit.


Jessica menguap lebar. Ia merasa begitu segar pagi ini. Udara pagi yang begitu nyaman untuk dihirup, cicitan burung yang terdengar merdu, dan juga matahari pagi yang bersinar cerah. Jessica beranjak dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket semua.


Namun, ketika ia telah sampai di hadapan cermin di kamar mandi di kamarnya, tiba-tiba saja sekelab kejadian malam tadi menghampiri ingatannya. Membuat senyuman cerah yang terpasang di wajahnya buyar seketika. Ah… mengingatnya saja cukup membuat sesak di dadanya.


Jessica keluar dari kamar mandi dan mendapati Rey duduk di atas tempat tidur sambil tersenyum lebar. Pria itu kemudian bangkit dari tempat tidurnya dan menghampiri Jessica. Tanpa sepatah katapun, Rey menarik Jessica ke dalam pelukannya dan memeluknya dengan erat.


"Hei, ada apa?" tanya wanita itu sambil membalas pelukan Rey.


Rey menggeleng. "Tidak ada, hanya ingin memeluk istriku yang cantik ini saja."


Jessica tersenyum tipis. Wanita itu memejamkan matanya dan mengeratkan pelukannya pada tubuh Rey. Menenggelamkan kepalanya pada dada bidang yang tersembunyi di balik kemeja birunya. Dan hanya di samping Rey dia merasa tenang.

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2