
Sinar mentari pagi menerobos masuk melewati cela-cela jendela yang masih tertutup. Sinar matahari itu mengenai wajah porselen milik seorang pemuda yang masih tertidur pulas di bawah selimut tebalnya.
Namun tidur nyenyaknya perlahan terusik oleh silau sinar mentari yang serasa menusuk hingga ke dalam retinanya.
Kelopak mata itu terbuka perlahan, memperlihatkan sepasang mutiara abu-abu tajam yang tampak sayu.
"Sudah pagi rupanya,"
Pemuda itu beranjak dari berbaringnya dan pergi ke kamar mandi. Setelah mandi dan berpakaian lengkap. Kevin meninggalkan kamarnya dan menghampiri Luna yang sedang menyiapkan sarapan di dapur.
Kevin tersenyum tipis. Pemuda itu berjalan menuju meja makan. Kevin duduk dalam diam sambil menopang dagu dengan tangan kanannya yang ia tumpu pada meja makan. Menikmati sinar mentari pagi yang terasa hangat melalui jendela terbuka di samping kanannya.
Sepasang manik abu-abunya menatap punggung sosok jelita yang sedang menyiapkan sarapan di dapur. Semilir angin pagi berdesir menerpa rambut coklat tuanya. Kelopak matanya perlahan tertutup.
Ia semakin tenggelam di dalam pikirannya. Memikirkan bagaimana kehidupannya bersama Luna kedepannya. Apakah hubungan mereka masih tetap seharmonis ini hingga puluhan tahun ke depan?
Kevin benar-benar tidak ingin Luna pergi dari hidupnya dan dia tak pernah ingin kehilangan Luna. Jika di tanya apakah Kevin mencintai Luna? Maka jawabannya iya, Kevin memang sangat mencintai Luna. Itulah kenapa dia mengambil sebuah keputusan besar dengan menikahi Luna padahal mereka masih muda dan belum lulus kuliah.
"Omo!! Kevin, sejak kapan kau duduk di sana?!" Kevin segera tersadar dari lamunan panjangnya karena pekikan kaget Luna. Sepertinya wanita itu belum menyadari jika Kevin sudah duduk di meja makan sejak beberapa menit yang lalu.
"Baru beberapa menit yang lalu. Apa yang sedang kau masak?" Kevin bangkit dari duduknya dan menghampiri Luna. Pemuda itu memeluk Luna dari belakang lalu mengecup pipi kanannya.
"Hanya menu sederhana." Jawabnya tersenyum.
"Bukankah aku sudah memintamu untuk tidak menyiapkan sarapan dan makan malam. Tapi kenapa kau masih saja bersikeras?" Kevin melepaskan pelukannya kemudian berpindah dan berdiri di samping Luna.
Luna menoleh dan membuat mata mereka saling bersirobok. "Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan. Kau adalah kepala rumah tangga di sini, jadi tidak seharusnya kau melayaniku." Tutur Luna sambil menakup sisi wajah suaminya. "Ini sudah hampir selesai, setelah ini kita sarapan sama-sama." Ucap Luna yang kemudian di balas anggukan oleh Kevin.
"Baiklah, Sayang."
__ADS_1
.
.
Usai sarapan. Mereka berdua bersiap-siap untuk pergi kuliah. Luna telah rapi dengan balutan dress putih setengah lengan dan sepanjang lutut yang agak mengembang di bagian pinggul ke bawah.
Sedangkan Kevin terlihat santai dengan balutan pakaiah casualnya. T-**** putih polos yang di balut rompi hitam bertudung dan celana berwarna hitam pula.
"Sudah siap?" tanya Kevin yang kemudian di balas anggukan oleh Luna. "Ayo," Luna menerima uluran tangan Kevin sambil tersenyum lebar.
Dan keduanya pun berjalan beriringan meninggalkan kamar dan berjalan menuju halaman.
-
Laurent melangkahkan kakinya memasuki kampus tempat ia menuntut ilmu sejak satu tahun yang lalu itu. Kampus sudah ramai dengan mahasiswa yang berlalu-lalang. Namun ia tetap melangkahkan kakinya menuju tempat sepi yang selalu ia suka.
Hingga tiba-tiba ada seseorang yang menutup matanya dari belakang.
"Hayo, coba tebak siapa aku?" Kata seseorang yang manutup mata Laurent.
Laurent mendengus berat. "Aku tahu ini kau, jadi jangan main-main lagi." Jawab Laurent dengan malas dan menyingkirkan tangan besar, putih, dan memiliki jari-jari yang bagus itu.
Sean mendengus berat. Padahal dia hanya ingin memberikan kejutan untuk Laurent. Tapi Laurent malah tidak menyukainya. "Dasar kejam. Aku kan hanya ingin memberikan kejutan untukmu." Pemuda itu mencerutkan bibirnya.
"Ck, dasar kekanakan." Laurent bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja. Tujuannya datang ke taman untuk menghindari Sean, tapi pemuda itu malah menemukannya. "Dasar manusia menyebalkan. Tidak bisa apa sehari saja tidak mengganggu hidupku?!"
"Laurent, tunggu aku!!"
-
__ADS_1
Mobil milik Kevin baru saja memasuki parkiran kampus. Setelah memarkirkan mobilnya di tempat biasa. Kevin dan Luna segera turun dari dalam mobil itu dan meninggalkan parkiran. Keduanya berjalan beriringan sambil bergandengan tangan. Banyak yang merasa iri melihat kemesraan yang mereka tunjukkan, apalagi bagi mereka yang masih bertitle jomblo.
"Kevin,"
Namun langkah mereka harus terhenti karena kemunculan Amara dan kedua temannya yang jelas-jelas tak di harapkan sama sekali oleh Luna. Luna mendecih dan menatap mereka tidak suka. Amara terutama.
"Kevin, malam ini ada film baru di bioskop, bagaimana kalau kita pergi nonton bersama? Kebetulan aku memiliki dua tiket."
"Kau bisa mencari orang lain. Karena aku tidak tertarik sama sekali. Sayang, ayo." Kevin kembali menggenggam tangan Luna dan pergi begitu saja.
Amara yang kembali mendapatkan penolakan dari Kevin tentu saja tidak terima. Amara mengejar Kevin dan menghalangi jalannya dengan berdiri di depan pemuda itu sambil merentangkan kedua tangannya.
"Sebenarnya apa yang kau inginkan dari suamiku?!" kali ini giliran Luna. Sepertinya wanita itu sudah mulai gerah dengan sikap dan tingkah Amara yang terus saja mengusik ketenangan suaminya.
"Dengar ya, Amara Robert. Sebaiknya berhentilah menjadi wanita murahan yang tak tau diri. Kevin sudah menikah dan beristri, jadi berhentilah mengganggu dan mengusik kehidupan kami. Kau masih muda dan cantik, tapi sayangnya bodoh. Jika aku menjadi dirimu, aku pasti akan sangat malu, karena sikap dan tindakanmu ini sangatlah memalukan!!"
Gyutt...
Amara mengepakkan tangannya. Kata-kata tajam Luna serasa menampar hatinya. Dan tanpa satu patah kata pun, Amara beranjak dari hadapan mereka berdua dan pergi begitu saja.
"Aku benar-benar tidak mengerti dengan wanita itu. Kenapa dia begitu bodoh dan membiarkan dirinya sendiri di perbudak oleh cinta. Dan apakah dia tidak sadar jika apa yang dia lakukan itu malah bisa menghancurkan dirinya sendiri." Tutur Luna sambil menggelengkan kepala.
"Untuk apa juga kau memikirkan dia. Wanita seperti itu tidak mungkin bisa mengerti dan memahami apa yang dikatakan oleh orang lain. Sudahlah, ayo ke kelas sekarang." Ucap Kevin yang kemudian di balas anggukan oleh Luna.
Luna akan terus mengawasi wanita itu dan tidak akan melepaskannya begitu saja. Ia tidak akan tinggal dia jika Amara masih berani bersikap macam-macam lagi pada Kevin. Ia pasti akan memberikan pelajaran pada wanita itu jika dia memang masih berani mendekati suaminya lagi.
-
Bersambung.
__ADS_1