Tragedi Cinta Satu Malam

Tragedi Cinta Satu Malam
Season 2 (Bab 17)


__ADS_3

Semilir angin malam berhembus ke setiap penjuru bagian bumi yang telah di singgahi hitam pekatnya malam. Matahari tenggelam pada perpaduannya, Sang Dewi malam kini telah menampakkan cahayanya dengan ribuan manik-manik langit yang bertaburan di sisiannya.


Sebuah mobil sport hitam yang dikendarai dengan kecepatan sedikit di atas rata-rata oleh pemiliknya itu mulai melaju pelan ketika ia hampir sampai di tempat tujuan.


Setelah memastikan mobilnya terparkir dengan benar, pria berwajah dingin itu dengan santai melangkahkan kakinya memasuki rumah sakit tempat istrinya di rawat. Di tangan kanannya menggenggam sebuah buket bunga yang dia beli ketika dalam perjalanan tadi. Ia tau jika istrinya sangatlah menyukai bunga mawar.


Sesampainya di depan pintu ruang inap istrinya. Samar-samar pemuda itu mendengar suara ribut beberapa orang yang sedang mengobrol juga saling bercanda. Tanpa bertanya pun tentu dia sudah tau siapa yang ada di dalam sana.


Decit suara pintu di buka dari luar mengalihkan perhatian semua orang yang ada di dalam ruangan bernuansa putih tersebut. Membuat senyum di bibir satu-satunya wanita yang memakai pakaian rumah sakit itu semakin lebar ketika melihat siapa yang datang.


"Kevin," panggilnya dengan nada lirih.


Laurent yang semula duduk di depan Luna segera berdiri dan memberi sedikit ruang untuk saudaranya itu. "Karena, Kevin sudah ada di sini. Sebaiknya kami pula sekarang." Ucap Laurent yang kemudian di balas anggukan oleh Luna. "Kami pulang dulu, Sean ayo."


Selepas kepergian Sean dan Laurent. Di dalam ruangan itu hanya menyisahkan Luna dan Kevin. Kevin menghampiri Luna kemudian duduk di sampingnya. "Bagaimana keadaanmu? Apa dadamu masih sakit?" tanya Kevin yang segera di balas gelengan oleh Luna.


"Aku sudah tidak apa-apa, dan mama bilang besok sudah boleh pulang." Jawab Luna menuturkan.


"Syukurlah, aku lega mendengarnya. Apa kau sudah makan malam?" tanya Kevin, Luna menggeleng. "Kalau begitu ayo kita makan malam bersama. Kebetulan aku membeli makanan kesukaanmu. Aku akan menyuapimu," Luna tersenyum dan mengangguk.


Setelah makan malam. Mereka pergi ke taman rumah sakit. Luna mengatakan ingin melihat bintang dan Kevin menyetujuinya. Keduanya duduk bersebelahan di bangku taman yang berhadapan dengan sebuah pertunjukan air mancur.


Langit malam ini terlihat lebih gelap dari malam-malam sebelumnya. Rembulan bersembunyi di balik awan kelabu, bersama para bintang yang biasanya berkelip dan memberikan keindahan pada langit malam. Tak ada satupun bintang yang bisa Luna lihat malam ini, dan itu membuatnya kecewa.


"Bintangnya tidak ada," ucap Luna setengah berbisik.

__ADS_1


"Ya, langit memang sedikit tak bersahabat sejak sore tadi." Jawab Kevin menanggapi.


Kevin menatap wanita di sampingnya yang sedari tadi hanya menatap lurus ke depan. Setelah perbincangan singkat itu tidak ada lagi percakapan di antara mereka berdua. Baik Luna maupun Kevin sama-sama diam dalam keheningan. Mata Luna terus menatap lurus ke depan, lebih tepatnya pada pertunjukkan air mancur di depannya.


Luna mengangkat kepalanya dari bahu Kevin dan menatap langsung ke dalam mata abu-abunya. "Bukankah Minggu depan adalah ulang tahun mama? Bagaimana kalau kita membuat kejutan kecil-kecian untuknya? Aku tadi sempat membahasnya dengan Laurent dan dia setuju. Menurutmu bagaimana?" Luna menatap Kevin penuh harap.


"Masalah itu aku serahkan padamu dan, Laurent. Karena kalian berdua yang lebih tau. Udara di sini semakin dingin. Ayo kita masuk," Kevin bangkit dari duduknya lalu mengulurkan tangannya pada Luna.


Luna tersenyum dan kemudian menerima uluran tangan suaminya. "Bisakah kau menggendongku sampai ke dalam? Aku malas berjalan," Kevin mendengus geli. Pemuda itu kemudian membungkuk di depan Luna dan mengisyaratkan supaya wanita itu naik ke punggungnya. Luna tersenyum dan segera naik ke atas punggung suaminya.


Luna mengalungkan kedua tangannya pada leher suaminya dan menyandarkan kepalanya di punggung lebar suaminya. "Setelah kita lulus kuliah nanti kau ingin memiliki berapa anak?" tanya Luna sambil menatap sisi wajah Kevin.


"Entah, dua anak saja cukup."


"Ani," Luna menggeleng. "Dua saja tidak cukup. Aku ingin memiliki anak satu lusin," lanjutnya menambahkan.


Luna memukul punggung suaminya. "Enak saja kau membandingkanku dengan kucing." Jawab Luna melayangkan protesnya. "Siapa tahu Tuhan memberi kita anak kembar. Sekali hamil tiga, tiga kan lumayan. Empat kali hamil jumlahnya sudah dua belas." Ujar Luna memaparkan.


Kevin mendengus geli. Jika saja posisi mereka tidak seperti sekarang. Pasti ia sudah menjitak kepala coklat istrinya. Bagaimana bisa wanita itu berpikir untuk memiliki dua belas anak. Dan setelah obrolan konyol itu tidak ada lagi satu kalimat pun yang keluar dari bibir Luna selain suara dengkuran halusnya.


Kevin menengok pada Luna yang masih berada di atas punggungnya. Ternyata Luna sudah tidur terlelap. Kevin mendengus geli.


'Mungkun saja dia kecapekan sampai ketiduran,' pikir Kevin. Kevin tersenyum lembut. Pemuda itu melanjutkan langkahnya dan berjalan lebih cepat menuju ruang inap Luna. Leher Luna bisa pegal jika terlalu lama tidur dalam posisi yang tidak tepat.


Setibanya di kamar inap Luna. Kevin menurunkan wanita itu dari punggungnya kemudian membaringkan di atas tempat tidur dengan perlahan dan hati-hati. Sangat pelan, seolah-olah tubuh Luna adalah barang ringkih yang murah hancur jika tidak di perlakukan dengan penuh kelembutan.

__ADS_1


Kevin menarik selimut yang ada di bawah kaki Luna lalu menyelimutinya sampai sebatas dada. Satu kecupan Kevin daratkan pada kening Luna. Kemudian pemuda itu beranjak dan pergi meninggalkan ruangan inap wanita itu. Kevin ingin merokok. Dan tidak mungkin ia merokok di dalam ruangan inap Luna.


-


"Sungguh, kau ingin memberiku kesempatan?"


Itu adalah pertanyaan yang kesepuluh kalinya dalam kurun waktu satu jam. Rasanya Sean masih tidak percaya dengan apa yang di sampaikan oleh Laurent. Setelah berkali-kali menolaknya. Akhirnya Laurent mulai membuka hatinya dan memberikan sebuah kesempatan pada Sean.


"Laurent, katakan jika ini bukan mimpi tapi nyata. Coba cubit lenganku." Pinta Sean sambil mengulurkan lengannya dan meminta supaya Laurent mencubitnya.


Laurent mendengus. Gadis itu menarik lengan Sean dan mencubit lengannya dengan keras. Kali ini hingga memerah. "Bagaimana? Apa kau sudah puas?" Laurent menatap pemuda itu yang sekarang mengulum senyum lebar.


Sean mengangguk. "Sangat puas. Dan aku sangat bahagia, kemarilah biarkan aku memelukmu." Sean membuka kedua tangannya dan berniat untuk memeluk Laurent, tapi segera di tahan oleh gadis itu.


"Kau mau mati ya?!"


"Hehehe, maaf aku hanya terlalu bersemangat. Baiklah, sebagai kekasih yang baik. Bagaimana kalau sekarang aku mentraktirmu makan atau mungkin berbelanja pakaian? Katakan saja, kau ingin apa, aku pasti akan membelikannya untukmu."


"Kalau begitu bawakan Namsan Tower untukku,"


"Apa?! Jangan bercanda, bagaimana aku bisa membawakan Namsan Tower padamu? Bagaimana jika replikanya saja?" ucap Sean dengan mata berbinar-binar.


Laurent berdecak lidah. "Terserah," ucapnya dan pergi begitu saja.


"Yakkk!! Sayang, tunggu aku!!!"

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2