
"KEVIN, KYYYAA!!"
Suara teriakan para wanita menggema di tribun penonton ketika pemuda yang hanya memakai celana pendek hitam dan kaos putih tanpa lengan itu berhasil memasukkan bola ke dalam ring untuk yang kesekian kalinya.
Mereka sedang menyaksikan latihan basket. Dan hari ini Kevin yang menjadi bintangnya. Siapa yang menduga jika mahasiswa baru pindahan dari luar negeri itu ternyata sangat mahir dalam bermain basket.
Postur tubuhnya yang tinggi semakin mempermudahkannya dalam mencetak angka. Dan tentu saja hal itu menguntungkan Sean dan Bian yang kebetulan satu tim dengannya. Mereka yang tidak pernah menang ketika melawan Bastian dan antek-anteknya, hari ini malah mendapatkan nilai telak.
"Hahaha...!! Sepertinya roda sedang berputar. Hei, Sebastian Kim, sepertinya taringmu mulai patah ya?" ucap Bian setengah mencibir.
"Diam!!! Aku belum kalau dari kalian, kita main sekali lagi. Dan aku akan membuktikan jika tim kalian hanyalah tim cacing tanah,"
"Permainan sudah berakhir. Jika memang sudah kalah, akui saja. Dan satu hal lagi, berhentilah mengatakan omong kosong apalagi meremehkan dan merendahkan orang lain. Karena kau belum tentu lebih baik dari orang yang kau remehkan." Kevin menyenggol bahu Bastian hingga terhuyung dan pergi begitu saja.
"KEVIN LU!! BERHENTI KAU!!"
Kevin menghentikan langkahnya begitu pula dengan Bian dan Sean. Ketiganya menoleh dan mendapati Bastian menghampiri mereka dengan emosi yang meledak-ledak.
Bastian mengangkat kepalan tangannya dan mengarahkan pada wajah Kevin, tapi sayangnya pukulan itu berhasil di tahan oleh pemuda itu.
Kevin menahan pukulan Bastian dengan telapak tangannya. Jari-jarinya kemudian menutup dan meremas kepalan tangan Bastian dengan kuat. Bastian berteriak dan menjerit kesakitan. Meminta supaya Kevin melepaskannya tapi sayangnya tak di indahkan oleh Kevin.
"Aarrkkhhh...!! Sakit, lepaskan brengsek!! Ka-Kau ingin membuat jari-jariku remuk ya?!" teriak Bastian menahan kesakitan.
"Kevin, sudahlah. Lepaskan saja. Percuma saja kau membuang-buang tenaga untuk manusia seperti dia. Sebaiknya kita pergi saja dari sini," Bian menepuk bahu Kevin. Dan ketiganya berjalan beriringan meninggalkan lapangan basket.
-
Luna menghampiri suaminya yang sedang berkumpul bersama Sean dan Bian. Wanita itu datang sambil menenteng minuman dan makanan ringan. Tidak hanya sendiri, Luna datang bersama Laurent dan Teresa.
"Sayangku," Sean langsung berdiri dan memeluk Laurent ketika melihat kedatangan garis itu. "Aku kangen,"
"Yakk!! Apa-apaan kau ini? Jangan mempermalukanku di depan banyak orang. Lepaskan aku atau kita putus saja!!"
"Sayangku, kamu sangat jahat. Baiklah, aku akan melepaskanmu tapi setelah ini..."
"Omo!!"
Teresa dan Luna memekik melihat apa yang Sean lakukan. Sedangkan Laurent langsung membelalakkan mata saking terkejutnya. Bagaimana tidak terkejut, Sean menciumnya tepat di bibirnya.
"Ya Tuhan, Sean dia benar-benar sudah tidak waras,"
"Dia sangat gentle. Andaikan yang dia cium adalah aku."
"Kkkyyyaaaa!! Sean kenapa harus mencium Laurent!!"
Akhirnya Sean mengakhiri ciumannya. Pemuda itu mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya lalu berlutut di depan Laurent. "Ini adalah cincin milik mendiang ibuku. Dan aku ingin memberikannya padamu. Laurent, hari ini juga ayo kita menikah." Lagi-lagi semua orang yang ada di sana di buat heboh oleh kegentlean Sean.
Laurent menyapukan pandangannya dan semua orang bersorak dan meminta supaya ia menerima Sean. Lalu pandangan Laurent bergulir pada Kevin yang terlihat menganggukkan kepala, begitu pula dengan Luna.
__ADS_1
Gadis itu menarik napas panjang dan menghelanya. Laurent mengulurkan tangannya pada Sean dan mengangguk. "Baiklah, aku mau menikah denganmu." Jawab Laurent pada akhirnya.
Sean tersenyum dan segera menyematkan cincin itu di jari manisnya. Dan lagi-lagi semua bersorak bahagia. Dari semua orang yang ada. Hanya ada satu orang yang tidak terlihat bahagia, Amara. Berkali-kali wanita itu menghentakkan kakinya dan menatap pasangan itu dengan kesal.
"Tidak Luna, tidak Laurent, kenapa semua bisa mendapatkan pasangan yang sempurna, sedangkan aku malah mendapatkan musibah!!"
"Sayang, kau terlalu jahat dengan menyebutku musibah. Aku adalah anugerah karena diriku kau menjadi seorang ibu."
"ITU MUSIBAH!!!" teriak Amara dan pergi begitu saja.
"Sayang, tunggu...!!"
-
"Sebenarnya kita mau ke mana? Bukankah ini adalah jalan menuju perbukitan." Luna menoleh dan menatap suaminya yang sedang mengemudikan mobil di sampingnya.
Lantas Kevin menoleh dan tersenyum tipis."Bukankah kau ingin melihat bintang tanpa penghalang. Dan aku sedang berusaha untuk mewujudkannya." Jelasnya.
Luna pernah mengatakan pada Kevin jika dia ingin melihat bintang dengan mata telanjang. Dan malam ini Kevin hendak mewujudkannya. Dan setelah melakukan perjalanan hampir satu jam mereka pun tiba di lokasi.
Suasana benar-benar sunyi, jam tangan yang di pakai Kevin sudah menunjukkan pukul delapan malam. Angin malam yang lembab dan kering benar-benar membuat gerah. Luna bersyukur karena ia memakai blus tipis dan rok di atas lutut. Udara benar-benar tidak bisa diajak berkompromi.
Mereka melewati jalan setapak menuju bukit. Beruntung bukan jalanan berbatu atau berlumpur sehingga Luna tidak merasa kesulitan berjalan.
Setibanya di tempat yang di tuju. Luna dan Kevin memutuskan untuk duduk di hamparan rumput, mereka masih saling terdiam. Luna benar-benar tidak bisa menahan rasa kagumnya ketika melihat hamparan bintang yang menghiasi langit malam.
"Kau menyukainya?" Luna mengangguk antusias.
"Sangat, Kevin ini sangat indah. Terimakasih telah menunjukan langit malam terindah padaku dan mengingat keinginanku." Ujar Luna dan kemudian berhambur ke dalam pelukan suaminya.
Kevin tersenyum lebar. "Sama-sama, Sayang." Dan mengecup singkat kening Luna.
Mereka masih terus memandang langit malam yang dihiasi ribuan bintang yang bertaburan. Malam ini adalah malam terindah yang pernah Luna lihat dalam hidupnya. Dan ia bahagia karena bisa melihat bintang bersama pria tercintanya.
"Kami menemukan kalian!!"
Seruan dari balik punggung mereka mengejutkan Luna. Sontak saja ia menoleh dan mendapati kedatangan sahabat-sahabatnya. Luna terkejut. "Bagaimana kalian bisa tau kami ada di sini?" Luna menatap keempatnya penasaran.
"Aku yang memberitahu mereka." Jawab Kevin menimpali.
Tentu suasana akan menjadi semakin ramai dengan kedatangan mereka berempat. Laurent, Sean, Bian dan Teresa. Dan keenamnya sekarang sedang berbaring di atas rumput hijau dengan pandangan tertuju pada langit malam.
Hamparan bintang yang bertaburan di atas sana terlihat begitu sempurna. Cuaca malam ini memang sangat bersahabat, dan Luna bersyukur untuk hal itu.
"Luna," panggil Kevin setengah berbisik.
Wanita itu menoleh dan menatap suaminya. Mata mereka saling bersirobok. "Terimakasih telah memberikan warna baru dalam hidupku. Aku sangat bahagia memilikimu di sisiku. Kau adalah anugerah yang Tuhan kirimkan padaku. Terimakasih, Sayang. Karena telah menjadi wanitaku. Aku mencintaimu, Luna Lu. Sangat-sangat mencintaimu." Ujar Kevin dan kemudian mengecup singkat bibir Luna.
"Aku juga mencintaimu." Balas Luna.
__ADS_1
Dua pasangan yang mendengar jelas apa yang mereka ucapan tak bersuara dan hanya tersenyum menanggapi. Mereka semua saling diam dalam heningnya malam. Menikmati anugerah yang Tuhan berikan melalui ciptaannya. Dan langit malam bertabur bintang merupakan ciptaan Tuhan yang paling sempurna.
-
Kata orang cinta itu buta,
Karena cinta tak mekiliki mata tuk melihat...
Kata orang cinta itu tuli,
Karena cinta tak memiliki telinga tuk mendengar...
Kata orang cinta itu bisu,
Karena cinta tak memiliki mulut tuk bicara...
Dan mengapa orang-orang selalu menyalahkan cinta?
Cinta itu tak pernah membutakan siapapun,
Egolah yang membuat mereka buta...
Cinta tak bersalah, karena cinta itu abstrak
Murni, tulus, dan transparan
Cinta tak dapat dipandang dengan mata
Namun dapat dilihat dengan hati
Tak dapat disentuh dengan jari,
Namun dapat digenggam dengan jiwa
Cinta itu kuat dan tegar,
Tak dapat ditaklukan dengan gelombang badai sekalipun
Cinta selalu ada di setiap hati dan nafas manusia,
Karena dengan cinta, kita dapat melihat, merasakan, mendengar, dan menyentuh
'Indahnya Dunia'
Karena dunia tanpa cinta. Seperti sayur tanpa garam, hambar...
-
The End.
__ADS_1