Tragedi Cinta Satu Malam

Tragedi Cinta Satu Malam
Season 2 (Bab 9)


__ADS_3


Halo kakak-kakak sekalian. Jangan lupa buat baca juga new novel Author yang baru netes ya. CINTA TULUS UNTUK KUPU-KUPU MALAM. Like koment selalu di tunggu ๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


-


Malam yang dingin telah berlalu dan pagi yang hangat telah datang. Bulan telah kembali keperaduannya dan posisinya di gantikan oleh matahari.


Matahari telah membumbung tinggi di langit. Cahayanya yang agung telah sampai di ujung cakrawala. Di sebuah rumah yang tidak bisa di katakan biasa-biasa saja, di dapur lebih tepatnya, dua perempuan berbeda usia terlihat sibuk menyiapkan sarapan dan saling berbincang. Siapa lagi jika bukan Jessica dan Luna.


Dan inilah yang selalu Luna lakukan ketika ayahnya menitipkannya di kediaman keluarga Lu. Menyiapkan sarapan bersama Jessica adalah hal yang paling Luna sukai. Jessica adalah wanita yang hangat dan penuh kasih sayang. Dan darinya ia bisa merasakan kehangatan seorang ibu.


Semenjak ibunya meninggal, Luna tidak pernah lagi merasakan bagaimana hangatnya pelukan seorang ibu. Namun dengan tangan terbuka Jessica datang dan memeluknya saat dia sedang terpuruk, dan Jessica pula yang selalu ada di sisinya ketika Luna melewati masa-masa sulit pasca kepergian ibunya. Jadi tidak salah bila sekarang mereka begitu dekat.


"Pagi, Ma, calon kakak ipar." Sapa Laurent yang kemudian bergabung bersama mereka berdua.


Dan muncul rona merah di pipi Luna ketika Laurent memanggilnya dengan sebutan kakak ipar. Luna merasa malu apalagi Laurent memanggilnya di depan Jessica. Sementara Jessica menyikapinya dengan kekehan ringan.


Tanpa sepengetahuan Luna dan Kevin. Sebenarnya mereka berdua sudah di jodohkan sejak lama. Rey dan tuan Nero membuat kesepakatan untuk menjodohkan putra-putri mereka dan Jessica sangat menyetujuinya. Apalagi ia dan Luna begitu dekat dan Jessica ingin supaya gadis itu menjadi putrinya.


"Oya, Ma. Di mana papa? Kenapa aku tidak melihatnya?"


"Papamu berangkat ke Macau pagi ini, dan baru kembali satu Minggu lagi. Sebaiknya segera panggil kakakmu, sarapan sudah siap. Kita sarapan sama-sama."


"Kenapa bukan kekasihnya saja yang memanggilnya." Ucap Laurent sambil menggerlingkan mata pada Luna.


Jessica memicingkan matanya. "Kalian sudah jadian? Maksud Bibi, apa kalian berdua sudah resmi berkencan?" Luna mengangguk malu-malu. Jessica tersenyum lebar dan langsung memeluk Luna.


"Sayang, Mama sangat bahagia kau dan Kevin resmi berkencan. Dan Mama ingin mulai hari ini kau harus memanggil Nama bukan dengan sebutan Bibi, tapi Mama. Dan Mama akan segera bicara dengan papamu juga Paman Rey, hubungan kalian perlu segera di resmikan." Ujar Jessica dengan begitu bersemangat.


"Dan aku akan segera menyiapkan gaun pengantinnya. Semakin cepat semakin baik. Lagipula hal baik tidak boleh di tunda-tunda, hahaha."


Luna merasa terharu dengan sikap Jessica dan juga Laurent. Mereka berdua menerima dirinya dengan begitu baik.


"Ya sudah, Sayang. Segera panggil Kevin untuk sarapan bersama." Pinta Jessica yang kemudian di balas anggukan oleh Luna.

__ADS_1


Luna memisahkan diri dari ibu dan anak itu, dan pergi ke kamar Kevin yang berada di lantai dua. Setibanya di sana Luna melihat kamar itu telah kosong dan sosok yang dia cari tak ada di sana, sampai dia mendengar suara gemercik air dari kamar mandi. Dan Luna yakin jika Kevin sedang berada di dalam sana.


CKLEKK....


Luna baru saja hendak beranjak dari sana. Tapi suara pintu di buka menghentikan langkahnya. Sontak saja gadis itu menolah dan mendapati Kevin keluar dari dalam sana dalam keadaan telanja** dada.


"Ahhh," gadis itu memekik kencang. Dan buru-buru Luna menutup mukanya dengan telapak tangannya. "A-Aku tidak lihat apa-apa." Luna berbalik dan memunggungi Kevin.


Kevin terkekeh geli. Pemuda itu menghampiri Luna dan langsung memeluknya dari belakang. Punggungnya berbenturan dengan dada Kevin yang terbuka. "Ke-Kevin apa yang kau lakukan? Pakai dulu pakaianmu, ka-kau bisa sakit jika hanya memakai handuk saja." Ujar Luna setengah terbata-bata.


"Jangan harap kau bisa kabur dariku, Sayang." Bisik Kevin menyeringai.


"Ahhh," Luna terkejut saat Kevin melepaskan pelukannya kemudian membanting tubuh Ellena ke atas tempat tidur. "Kevin, apa yang kau lakukan?" kaget Luna.


"Luna Nero, ayo kita menikah."


Ucapan Luna terselesaikan dengan raut wajah penuh keterkejutan. Mulutnya sedikit menganga mendengar apa yang baru saja diucapkan seorang Kevin Lu.


"A-apa k-kau bilโ€”lang? Me-menikah?" Luna memekik terbata-bata.


"Ke-Kevin ..." Luna tidak mampu melanjutkan kata-katanya lagi.


Lidahnya kelu dan rahangnya kaku bahkan untuk sekedar menutup kembali mulutnya yang terbuka saja sangat sulit. Ia terlalu syok dengan ajakan Kevin yang begitu tiba-tiba. Bahkan raut wajah Kevin tak menunjukkan ekspresi apapun selain datar, tak ada kegugupan yang terlihat dari raut wajahnya yang tenang.


Kevin Lu, melamar Luna Nero dengan begitu tiba-tiba setelah resmi mengencaninya semalam? Oh kau sangat luar biasa Kevin, begitu to the poin dan tak banyak basa basi.


Sebuah lamaran singkat, di sebuah kamar, tanpa ada cincin apalagi suasana yang romantis. Hanya ada hembusan angin, dan hangat sinar mentari pagi yang menyelimuti bumi.


"A-Aku-"


"Kau hanya tinggal menjawab mau atau tidak!! Aku bersungguh-sungguh dan aku tidak main-main dengan apa yang baru saja aku katakan. Aku, mencintaimu."


Dan selanjutnya bibir Luna sudah berada dalam pagutan bibir Kevin. Lembut dan basah bibir Kevin menyapu dan melum** permukaan bibirnya.


Kedua tangannya berada dalam genggaman Kevin. Kevin meremas jari-jari Luna dengan lembut. Bibir mereka masih saling bertaut dengan begitu lembut, tak ada perlawanan dari Luna. Luna menerima ciuman Kevin dengan sangat baik. Namun ciuman itu tak berlangsung lama, Kevin segera mengakhirinya.

__ADS_1


"Aku menantikan jawaban darimu, Luna Nero." Ucap Kevin seraya menyatukan keningnya dan Luna. "Kau hanya tinggal menjawab ya atau tidak, aku berjanji akan membahagiakanmu." Ujar Kevin sambil mengunci manik indah itu.


"Aku... Bersedia menikah denganmu, Kevin Lu."


Kevin tersenyum. Memang inilah jawaban yang Kevin nantikan dari Luna. Dan Kevin tidak akan menundanya lagi, dia akan langsung memberitahu ibunya mengenai rencana pernikahannya dengan Luna.


.


.


"Aku ingin menikahi Luna malam ini juga,"


"Uhuk... Uhuk... Uhuk..."


Jessica dan Laurent sama-sama tersedak makanan di dalam mulutnya karena pernyataan Kevin. Dengan entengnya Kevin mengatakan pada ibu dan adiknya jika ia ingin menikahi Luna. Parahnya lagi Kevin ingin menikahinya malam ini juga.


Jessica meraih gelasnya dan meminum beberapa teguk air putih. Wanita itu mengangkat wajahnya dan menatap Kevin yang juga menatap padanya.


"Kevin, kami jangan bercanda, pernikahan bukanlah sebuah permainan. Bagaimana kau bisa menikah tanpa persiapan apapun. Kita harus membahas masalah ini dengan ayahmu juga Paman Nero. Ini adalah hal yang sangat besar."


"Aku sudah berbicara dengan Papa, dan dia sudah setuju. Paman Nero juga tidak keberatan. Kami tidak membubuhkan persiapan apapun, Ma. Aku dan Luna tidak menginginkan pesta meriah yang dihadiri ribuan tamu undangan, hanya restu dari kalian yang kami butuhkan. Untuk itu restui kami menikah."


"Tapi Kevin, siapa yang akan menjadi wali untuk Luna sementara Paman Nero sedang berada di Dubai bersama ayahmu!!"


"Paman Nero akan tiba sore ini, jadi sudah tidak ada alasan lagi untuk kami menundanya. Mama merestuinya bukan?"


Jessica bangkit dari duduknya dan kemudian menghampiri Kevin. Ibu dua anak itu langsung memeluk putra sulungnya.


"Tentu saja Mama merestuimu, tapi ada satu hal yang harus selalu kau ingat. Jaga dan sayangi Luna dengan sepenuh hati. Jangan pernah sekalipun kau membuatnya menangis. Karena mulai malam ini dia adalah menantu keluarga Lu,"


Kevin tersenyum dan mengangguk. "Tentu, Ma. Pesan Mama ini akan selalu aku ingat."


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2