Tragedi Cinta Satu Malam

Tragedi Cinta Satu Malam
KEBENARAN YANG TERUNGKAP


__ADS_3

"PAPA."


Rey membuka kedua tangannya dan menyambut Laurent ke dalam pelukkannya. Kedua mata Rey tertutup rapat, ia tidak tau bagaimana caranya menebus semua kesalahannya pada Laurent.


Jika saja dia bisa lebih peka pasti semua ini tidak akan berlangsung selama bertahun-tahun, tidak seharusnya dia tetap mempercayai Tiffany ketika hatinya saja menolak untuk percaya. Tapi nasi telah menjadi bubur, yang bisa Rey lakukan sekarang adalah memperbaiki semuanya.


"Di mana mama Tiffany?"


"Dia tidak ada, dia pergi dengan di jemput oleh seorang pria dan mereka terlihat sangat akrab. Papa, mama sudah menghianati Papa, kenapa Papa tidak langsung menceraikan dia saja? Aku tidak menyukai wanita itu meskipun dia mamaku, aku lebih menyukai bibi cantik dan aku ingin dia yang menjadi mamaku."


Rey mengusap rambut panjang Laurent dengan lembut. "Cepat atau lambat Papa akan menceraikan dia, tapi Laurent harus lebih bersabar, oke." Gadis kecil itu mengangguk.


'Maafkan Papa, Nak. Karena Papa tidak bisa mengatakan yang sebenarnya padamu sekarang. Tapi Papa berjanji padamu, tak lama lagi kita berempat akan berkumpul dan bersama.' Lirih Rey membatin.


"Papa, bisakah malam ini Laurent tidur bersama Papa? Laurent ingin di peluk Papa sepanjang malam."


Rey mengangguk. "Tentu nak."


Setelah memastikan Laurent benar-benar tidur, Rey meninggalkan gadis kecil itu sendiri di kamarnya dan menemui Lee Chan yang baru saja kembali. Wajah laki-laki itu tampak berseri-seri dan dengan segera ia menunjukkan hasil temuannya pada Rey.


"Ini adalah rekaman CCTV sembilan tahun yang lalu. Aku mendapatkannya dengan susah payah, Boss. Dan aku harus mengeluarkan banyak uang untuk bisa mendapatkannya. Sekarang kau bisa meneriksanya dan aku harap kau tidak terkena serangan jantung setelah melihat kebenarannya." Lee Chan menyerahkan laptopnya pada Rey.


Dalam rekaman itu, terlihat jelas jika wanita yang berdiri di antara dua kamar adalah Jessica, dia terlihat kebingungan, lalu akhirnya wanita itu memilih masuk ke dalam kamar 206.


Tak lama setelahnya terlihat sosok Rey masuk ke dalam kamar yang di masuki oleh Jessica. Rey mempercepat rekaman video tersebut, di menit ke 60 terlihat Jessica keluar dari kamar tersebut dan sosok Tiffany tiba-tiba muncul di sana. Dan Rey sudah bisa menebak yang terjadi selanjutnya.


"Tiffany Hong, tunggu dan lihat saja apa yang bisa aku lakukan padamu. Aku akan membuatmu membayar semua ini dengan sangat mahal."


-


Menjadi seorang Dokter tentu tidaklah mudah, selain banyak waktunya yang tersita di rumah sakit, Dokter harus siap menerima semua konsequensi dari pekerjaannya tersebut, tak jarang mereka disalahkan jika ada pasien yang kehilangan nyawa dimeja operasi dan masih banyak lagi.


Meskipun demikian, tapi hal tersebut tidak mematahkan semangat Jessica untuk bisa menyelamatkan nyawa manusia , dan berkat tangan ajaibnya, tidak sedikit nyawa yang berhasil selamat.


"Kau sudah bekerja keras hari ini. Istirahatlah sebentar." Pinta Antolin melihat wajah lelah Jessica.


Jessica menerima kopi yang Antolin berikan padanya dan sedikit menyeruputnya. "Jangan terlalu mencemaskan aku senior, aku baik-baik saja." Ucapnya meyakinkan. "Iya, bagaimana operasinya? Lancar?" tanya Jessica memastikan.


"Tentu saja, bukankah kau tau sendiri jika aku adalah dokter yang sangat hebat, hahahha..!" Jessica memijit pelipisnya.


Jika penyakit narsisnya sudah kambuh, akan terlihat sisi yang berbeda dari diri seorang Jack Antolin.


"Ya, aku percaya dan bisakah sekarang kau ijinkan aku pergi? Masih ada beberapa pasien yang harus aku tangani." Kemudian Jessica bangkit dari duduknya dan meninggalkan Antolin begitu saja.


Tak sedikit pun Antolin melepaskan tatapannya dari punggung Jessica yang semakin menjauh. Antolin mengangkat tangan kanannya dan mengarahkan kedepan seolah-olah hendak menjangkau punggung Jessica, rasanya begitu dekat tapi tetap saja jauh untuk digapai.

__ADS_1


Sekeras apapun dia mencoba , tapi tidak akan mudah meluluhkan hatinya.


Antolin bangkit dari duduknya dan terkejut mendapati sosok Rey berada di rumah sakitnya."Wow, lihatlah siapa yang datang!! Tumben kau datang kemari tanpa memberi tauku dulu, apa ada hal penting yang begitu mendesak sampai-sampai kau datang kemari?"


"Di mana Jessica?" Tanya Rey to the poin.


Antolin memicingkan matanya. "Jessica, untuk apa kau mencarinya? Dan bagaimana kau bisa mengenal dia? Omo, jangan bilang jika rumor itu memang benar, jika dokter cantik dari rumah sakit ini yang mendapatkan kehormatan untuk menjadi dokter pribadi keluarga Lu adalah dia?" Antolin menatap Rey tak percaya.


"Tidak ada waktu untuk menjelaskannya, dia mana dia sekarang? Aku harus menemuinya karna ada hal penting yang harus aku sampaikan padanya."


"Dia sedang memeriksa pasien, mungkin sebentar lagi juga selesai, bagaimana kalau kau tunggu di ruang prakteknya saja."


Tanpa menghiraukan Antolin, Rey beranjak dari sana dan pergi begitu saja. Muncul tanda tanya di benak Antolin, memangnya hal penting apa yang ingin Rey sampaikan pada Jessica sampai-sampai dia begitu terburu-buru.


Meskipun sangat penasaran, tapi Antolin tidak berani bertanya lebih karena takut memancing emosi Rey yang sangat mengerikan itu, mengingat bagaimana temprament-nya pria bermarga Lu tersebut.


.


.


.


"Tuan Lu."


Dan kemudian Jessica menerima map itu dengan bingung. "Apa ini, Tuan Lu?" Tanya Jessica sambil menatap Rey yang juga menatap padanya.


"Lihat dan baca sendiri." Pinta Rey datar.


Jessica membuka map itu dan membaca isi dinya. "A-apa maksudnya ini, Tuan Lu?" Tanya Jessica meminta sebuah penjelasan.


"Itu adalah hasil tes DNA yang aku lakukan secara diam-diam, hasil tes itu menunjukkan jika Tiffany bukanlah Ibu kandung dari Laurent melainkan dirimu, Jessica Astoria. Kau pasti bingung, diawal musim semi sembilan tahun yang lalu di kamar 206 Garden Hotel. Kau mengingatnya?"


Kedua mata Jessica membelalak saking kagetnya, salah satu tangannya menutup mulutnya, air matanya jatuh tanpa bisa dia cegah.


"I-itu artinya, kau adalah pria yang tidur bersamaku malam itu? Dan Laurent, mungkinkah dia adalah...? Ya Tuhan." Nyaris saja Jessica kehilangan keseimbangannya jika saja Rey tidak segera menangkap tubuhnya.


Kemudian Rey membawa wanita itu ke dalam pelukanya. "Aku fakta ini sangat mengejutkan bagimu, tapi inilah kebenarannya, kebenaran yang selama delapan tahun tertutup oleh sebuah kebohongan."


Jessica menggepalkan tangannya. Hatinya bergejolak hebat, berkali-kali wanita itu memukul dadanya sendiri dengan brutal. Berharap apa yang dia lakukan itu bisa mengurangi rasa sesak yang serasa menghimpit dadanya.


"Tiffany Hong, wanita itu, aku tidak akan pernah bisa memaafkannya. Tidak akan pernah, karena dirinya, putriku hidup menderita selama delapan tahun. Hiks, hiks."


"Bersama-sama kita akan membalasnya. Kita akan berikan balasan yang setimpal pada wanita itu, tapi untuk sementara, bisakah kau rahasikan kebenaran ini? Aku memiliki sebuah rencana untuk wanita itu, aku harap kau tidak merasa keberatan."


"Urusan wanita itu bisakah serahkan padaku. Sejak lama aku memiliki dendam pribadi padanya, dan aku ingin menghancurkan wanita itu dengan tanganku sendiri. Tapi aku tidak menolak jika kau ingin membantuku." Tuturnya.

__ADS_1


Rey menarik kepala Jessica dan menyandarkan pada dada bidangnya, dan menggunakan kepala Jessica sebagai sandaran dagunya "Aku tidak akan membiarkanmu melakukannya sendiri, aku pasti akan membantumu." Jessica menutup matanya, mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukkan Rey.


Memang tidak ada cinta diantara mereka berdua, tapi keberadaan Laurent dan Kevin menjadi alasan besar untuk mereka bersatu karna cinta bisa tumbuh dengan sendirinya.


Rey melepaskan pelukkannya dan menatap langsung ke dalam sepasang iris hazel Jessica. "Dendam seperti apa yang kau miliki pada wanita itu, bisakah kau bercerita sedikit padaku?" pinta Rey.


Jessica berjalan menuju jendela yang ada di samping kanannya "Aku tidak tau dari mana harus memulainya. Semua ini berawal dari dua puluh tahun yang lalu, aku kehilangan Ibunya saat usiaku delapan tahun. Pada awalnya semua baik-baik saja, nenek dan ayah sangat menyayangiku dan begitu memanjakanku sampai akhirnya Tiffany dan Ibunya datang dalam keluarga kami."


"Mereka merampas semua yang aku miliki termasuk nenek dan ayah ,dan mereka membuat hidupku bagaikan di neraka. Kemudian Iblis itu menjadi Nyonya besar dan Tiffany menjari seorang Nona, aku dijadikan pembantu di rumahku sendiri. Wanita itu mengaku sebagai saudara perempuan ayah, Tiffany adalah sepupuku, begitulah yang aku tau."


"Dan pada saat itu aku masih terlalu kecil dan tidak memiliki daya untuk melawan apalagi membalas perbuatan mereka, aku hanya bisa pasrah dan menerima semua perbuatan buruk mereka padaku. Dan aku...!!"


Rey menarik Jessica ke dalam pelukkannya sebelum wanita itu menyelesaikan ceritanya. Dia memahami betul apa yang Jessica rasakan saat ini.


"Jangan diteruskan lagi, aku bisa memahami perasaanmu. Tapi semuanya sudah berlalu dan sekarang kau memiliki keberanian untuk melawan. Akhir pekan ini keluarga Hong akan mengadakan pesta, apa kau ingin membuat pertunjukkan di sana?"


"Jika kau mau aku bersedia untuk membantumu, mari bersama-sama kita berikan pelajaran pada mereka yang pernah menyakitimu." Jessica menyeka air matanya dan mengangguk.


Ketukan dan suara decitan pintu di buka dari luar mengalihkan perhatian keduanya. Terlihat Antolin masuk ke dalam ruang praktek Jessica.


"Apa aku mengganggu kalian berdua?" tanya Antolin seraya menatap keduanya bergantian.


"Tidak, lagi pula aku sudah selesai. Aku pergi dulu." Rey menepuk bahu Antolin dan pergi begitu saja.


Antolin menatap kepergian Rey dengan tatapan yang sulit dijelaskan dan mendesah berat. Lalu pandangannya bergulir pada Jessica. "Mau makan siang bersama?" tawar Antolin pada Jessica.


"Aku rasa bukan ide buri, sebentar aku ambil tasku dulu."


"TIDAK BOLEH..!" Tiba-tiba Kevin datang dan merentangkan kedua tangannya di depan pintu.


"Memangnya siapa yang mengijinkanmu membawa pergi Mamiku? Mami, kau makan siang di sini saja, aku sudah membawakan makan siang untuk Mami."


Antolin memijit pelipisnya. Kevin adalah sandungan terbesar untuknya bisa mendapatkan hati Jessica , Kevin begitu tidak menyukainya dan dia berusaha keras untuk mencegah dirinya mendekati sang Ibu.


"Hei nak, bagaimana kalau kita pergi bersama-sama? Paman akan membelikanmu mainan yang banyak dan ice cream rasa greentea kesukaanmu?"


"Cih, aku bukan anak kecil. Pergi sana, Paman membuatku kehilangan selera makan saja."


Antolin merasa semakin hari sikap Kevin semakin mirip dengan Rey.


Sikap dinginnya, tatapan tajamnya dan mulut pedadnya benar-benar Rey versi mini. Apalagi wajah Kevin yang begitu mirip dengan Laurent. Dan Laurent yang mewarisi sifat Jessica, sungguh bukan hanya sebuah kebetulan semata. Dan Antolin menunggu agar waktu yang menjawab semuanya.


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2