
"Kakak Kevin, kembalikan makanan itu padaku!!"
"Pokoknya tidak boleh!!Kau tidak boleh makan lagi, lihatlah tubuhmu, kau gendut!!"
"Aisshh!! Tapi aku kan baru makan sedikit, jadi cepat kembalikan makanan itu padaku!!"
"Tidak!! Sekali tidak tepat tidak!! Lihatlah tubuhmu, kau mirip dengan telor bebek. Pendek dan gendut, jadi mulai sekarang aku akan mengawasi porsi makanmu!!"
"Kakak Kevin!!"
Jessica dan Rey hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepala melihat tingkah kedua buah hatinya. Mereka begitu menggemaskan. Apalagi ketika Laurent memasang Wajah kesalnya karena Kevin melarangnya untuk makan lagi.
Dan di sini mereka sekarang. Berada di sebuah cafe yang tidak terlalu jauh letaknya dari kantor milik Rey. Mereka sedang menyantap makan siangnyanya.
"Mama," Laurent turun dari kursinya kemudian menghampiri Jessica. "Mama, Kakek Kevin sangat jahat padaku!! Masa aku tidak boleh makan lagi sih," adu Laurent pada Jessica.
"Tapi Kakakmu memang ada benarnya, Sayang. Lihatlah tubuhmu, sepertinya berat badanmu naik lagi. Mulai hari ini, Mama sendiri yang akan mengawasi dan mengatur porsi makanmu!!"
"Yakk!! Kenapa Mama malah ikut-ikutan?! Pa,"
"Kali ini Papa setuju dengan Mama dan Kakakmu. Kau memang agak gendutan, Laurent Lu!!"
Laurent mencerutkan bibirnya. "Yakk!! Kenapa Papa malah ikut-ikutan juga? Aisshh, kalian semua menyebalkan!! Sudahlah aku mau ngambek dulu!!" Laurent turun dari pangkuan Jessica dan pergi begitu saja. Sedangkan Jessica dan Rey hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepala melihat tingkah putri kecil mereka.
"Dasar bocah ini,"
.
.
Usai makan siang. Jessica mengajak si kembar untuk pulang, sedangkan Rey kembali ke kantornya. Rey masih memiliki beberapa agenda penting hari ini yang harus ia selesaikan, salah satunya adalah bertemu dengan koleganya yang datang dari Dubai. Rey mendapatkan proyek besar lagi, dia memang selalu beruntung belakang ini.
Rey tiba di ruangannya dan mendapati seorang pria tengah duduk di sofa sambil menikmati segelas wine. Rey mendesah berat, dengan enggan ia menghampiri pria tersebut.
"Aku menunggumu dari tadi, sebenarnya kau dari mana saja, Rey?!"
__ADS_1
"Bukan urusanmu," jawabnya sinis. "Ada keperluan apa kau datang ke mari?" tanya Rey pada pria dihadapannya.
"Beginilah caramu menyambut tamu? Dan sepertinya kau memang tidak suka berbasa-basi ya? Baiklah, aku akan langsung saja pada intinya. Di mana Tiffany, dan siapa wanita itu?!"
Rey menyeringai sinis. "Sepertinya hubungan di antara kalian berdua bukan hanya sekedar rumor belaka? Apa sedekat itu hubungan kalian sampai-sampai kau menyempatkan diri menemuiku secara pribadi hanya untuk menanyakan keberadaannya."
"Apa maksudmu?"
"Aku rasa kau yang lebih tau mengenai apa yang aku katakan. Dan jika kau ingin menemuinya, pergilah ke kantor polisi maka kau akan bertemu dengannya."
"Apa yang kau lakukan padanya?"
"Tentu saja memberikan hukuman padanya. Bagus aku hanya memenjarakannya saja. Karena jika aku mau, aku sudah mengirimnya ke neraka sejak lama!!"
"Kau!!" Diego menarik pakaian Rey yang kemudian di sentak oleh pria bermarga Lu tersebut. "Kenapa kau harus melakukan ini padanya? Akulah yang membuatnya menyelingkuhimu, dia sudah menolakku tapi aku yang terus memaksanya. Dia tidak bersalah. Jadi jangan limpahkan semua kesalahan padanya!!"
Lagi-lagi Rey tersenyum meremehkan. "Aku tidak peduli pada perselingkuhan kalian, lagipula itu bukanlah urusanku. Dan jika kau ingin mengetahui bagaimana wanita itu sebenarnya. Sebaiknya lihat sendiri video yang ada di dalam rekaman ini. Kau akan tau seberapa baiknya wanita tercintamu itu. Dan sebaiknya sekarang kau pergi, aku masih banyak urusan." Rey berjalan menuju pintu dan membukanya lebar-lebar, mempersilahkan Diego untuk pergi.
Diego mengepalkan tangannya. "Sialan kau, Rey Lu!!" Diego menyenggol lengan Rey dan pergi begitu saja.
"Aku harap kau tidak akan menangis darah setelah mengetahui seperti apa wanita itu yang sebenarnya."
-
Semua kemewahan dan hidup makmur yang pernah dia rasakan hilang dalam sekejap mata. Dan hidupnya berbalik 180 derajat. Hidupnya yang menurutnya sudah sempurna itu lenyap seketika karena insiden malam itu.
Dan selama dua bulan ini Terra menjalani hidup yang sulit dan serba kekurangan. Dia tampak kotor dan lusuh, pakaian yang dia kenakan pun tampak tak layak dan robek di sana-sini. Jangankan untuk membeli pakaian, untuk membeli makan saja bahkan dia tidak mampu.
Saat ini Terra, nenek Smit dan tuan Smit tinggal di sebuah gubuk kecil yang terlihat sangat tidak layak yang terletak di pinggiran kota.
"Sampai kapan kau akan bermalas-malasan seperti ini? Bangun dan cari uang, apa kau tidak tau jika aku sangat kelaparan?!" bentak Terra pada suaminya.
"Apa kau buta dan tidak melihat jika aku sedang sakit? Jika kau ingin makan, sebaiknya cari sendiri saja. Jangan terus merepotkanmu."
"Oh, bagus ya. Sekarang kau mulai perhitungan padaku. Pergi sekarang juga atau aku akan melemparmu keluar dari gubuk ini?!"
__ADS_1
"Kau mengacamku?"
"YA, MEMANGNYA KENAPA?" bentak Terra penuh emosi.
"Kau!!" dengan emosi yang berapi-api, tuan Smit mendorong tubuh Terra dan mencekik lehernya. "Wanita sepertimu tidak seharusnya ada di dunia ini. Aku akan menghabisimu!!"
"Le-lepaskan, ka-kau membuatku tidak bisa bernapas."
"Aku akan segera mengirimu ke Neraka, wanita sialan!!"
"Uhuk-uhuk," Terra terus terbatuk-batuk, tapi tuan Smit tidak peduli.
Wanita itu mulai kehabisan napas dan kehilangan kesadaran, sampai akhirnya dia benar-benar tewas di tangan suaminya sendiri. Tuan Smit melepaskan cekikannya dan tubuh wanita itu pun ambruk ke tanah tanpa lantai itu.
"TERRA!!" nenek Smit yang baru saja tiba dari mencari air terkejut bukan main saat melihat tubuh menantunya terkulai di lantai. Nenek Smit menghampiri Terra dan matanya langsung membelalak saat menyadari jika wanita itu sudah tidak bernyawa lagi.
"Kau membunuhnya?!" nenek Smit menatap menantu yang merangkap sebagai putra angkatnya itu tak percaya. "Bodoh!! Jangan diam saja, cepat buang jasadnya atau kau akan mendapatkan masalah?!" pria itu mengangguk dan segera mengangkat tubuh Terra yang sudah tidak bernyawa lalu menghanyutkannya di sungai.
Baik dirinya maupun nenek Smit sama-sama tidak ingin ada jejak di rumah mereka apalagi ada yang tau mengenai kematian Terra yang di akibatkan oleh dirinya. Dan menghilangkan jejak adalah pilihan yang terbaik.
-
Rey tiba di rumahnya hampir tengah malam dan mendapati hampir seluruh ruangan dalam keadaan gelap. Tapi ia tidak merasa heran mengingat ini ini sudah menjelang tengah malam.
"Tuan," seorang pria menyambutnya.
"Apa mereka sudah tidur?"
"Nona dan tuan muda sudah tidur sejak beberapa jam yang lalu. Sedangkan nyonya pergi ke rumah sakit, beliau langsung pergi setelah mendapatkan telfon darurat. Saya dengar telah terjadi kecelakaan beruntun dan rumah sakit kekurangan tenaga medis."
"Bawa tasku ke kamar. Aku akan menyusulnya."
"Baik, Tuan."
Rey memutuskan untuk menyusul Jessica ke rumah sakit. Dia mencemaskan Jessica, Rey takut jika istrinya itu sampai kelelahan karena bekerja terlalu keras.
__ADS_1
-
Bersambung.