Tragedi Cinta Satu Malam

Tragedi Cinta Satu Malam
SEBUAH TITIK TERANG


__ADS_3

BRAKKK...!!


"REY LU...!!"


Rey membuka mata kanannya setelah mendengar dobrakkan keras pada pintu dan teriakan marah Tiffany yang menggema keseluruh penjuru ruangan. Tanpa bertanya lebih jauh pun, tentu Rey sudah tau alasan kenapa Tiffany bisa sampai semarah itu.


Rey merubah posisinya menjadi duduk dan menatap Tiffany dengan datar. "Apa kau benar-benar Idiot, Tiffany Hong! Sampai-sampai tidak tau bagaimana harus bersikap sebelum masuk ke dalam kamar orang lain."


"Kaauuu...!"


Tiffany semakin marah karna ucapan Rey. Kata-kata tajam yang keluar dari mulut Rey membuat semakin marah dan emosi. Tiffany menghampiri Rey dengan emosi berapi-api, dengan kasar Tiffany menarik pakaian Rey dan menatapnya dengan tajam.


"Itu, adalah perbuatanmu 'kan? Kau yang sudah membekukan semua card milikku! Apa kau tau, karena dirimu aku di permalukan di depan teman-temanku. Aku tidak mau tau, kau harus mengembalikan apa yang sudah menjadi milikku." teriak Tiffany menuntut.


Rey menyentak tangan Tiffany dan menatapnya dingin. "Kau fikir siapa dirimu sampai-sampai bisa mengaturku sesuka hatimu." Ucap Rey sinis.


Rey menarik lengan Tiffany dan membantingnya ke atas tempat tidur. "A-apa yang kau lakukan, brengsek? Lepaskan, kau membuatku tidak bisa bernafas!" Teriak Tiffanya sambil berusaha menyingkirkan tangan Rey dari lehernya.


"Bagus aku hanya membekukan semua cardmu saja. Karena jika aku mau, aku sudah membuatmu membusuk di dalam penjara karena kau sudah berani menggelapkan uang perusahaan dan memberikan pada Ibumu."


Kedua mata Tiffany sontak membelalak, terkejut lebih tepatnya. Rey menyeringai dingin dan menatap remah pada wanita itu. "Kenapa? Apa kau terkejut? Seharusnya betina sepertimu aku kirim ke Neraka. Dan berterimakasih-lah pada Laurent, karena berkat dia kau masih tetap bisa berada di sini hingga detik ini." Rey melepaskan cekikannya pada leher Tiffany dan meninggalkan wanita itu begitu saja. "Siapkan mobilku."


"Baik Tuan."


Rey menghentikan mobilnya di sebuah club malam. Mungkin sedikit minum dan bertemu kawan lamanya tidaklah buruk, dalam perjalanan, Rey menghubungi teman-temannya dan mengajak mereka berkumpul di club malam yang dulu sering mereka datangi, tak ketinggalan Rey juga menyertakan Lee Chan agar ikut bergabung juga. Tapi bukan berarti Lee Chan bagian dari Four Corner.


Dan dalam kurun waktu delapan tahun belakangan ini, Rey jadi jarang berkumpul bersama mereka. Setelah kelahiran Laurent lebih tepatnya, dan alasannya karena dia tidak ingin memberikan contoh yang buruk pada putri kecilnya.


Kedatangan Rey di sana begitu menarik perhatian. Hampir semua mata wanita tertuju padanya, menatapnya dengan tatapan memuja, tak sedikit pula ada yang sampai mimisan melihat betapa tampannya dia, ditambah lagi bagaimana bidangnya dada Rey dan kencangnya otot lengannya yang terhiasi tribal pada lengan kanannya.


Rey sengaja tidak memakai jasnya dan membiarkan tubuh bagian atasnya hanya terbalut vest hitam berkombinasi abu-abu, tanpa kemeja ataupun t-shirt sebagai dalaman vestnya karna suasana di club sangatlah panas.


"Huaaa..! Bukankah itu adalah Tuan Lu dari Lu Empire? Ternyata dia lebih tampan aslinya ya dari pada ditelevisi, majalah atau surat kabar. Lihatlah vest itu, memeluk tubuhnya dengan pas, dia benar-benar sempurna!"


"Astaga, kagum sih kagum, tapi lihatlahah matamu hampir terlepas dan sudah berapa ember air liurmu yang menetes itu. Kau ini terlalu menjijikkan. Seperti aku dong, aku juga menyukainya tapi berlebihan sepertimu."


"Tidak berlebihan bagaimana? Lihat di mana posisi tanganmu saat ini, bahkan kau menggunakan botol sebagai media pelepasanmu. Dasar ****** gila."


Rey menutup mata kanannya dan mendengus berat. Inilah yang paling dia benci dari wanita, terlalu berisik dan tidak memiliki etika.


CEO muda itu berjalan dengan kedua tangan tersembunyi di dalam saku celananya. Begitu cool dan penuh wibawah, meskipun benda hitam bertali masih belum mau beranjak dari mata kirinya. Tapi hal itu tidak sedikit pun mengurangi ketampanannya. Dia justru terlihat semakin tampan dan misterius.


Dia begitu sempurna untuk ukuran seorang pria, jadi tidak salah bila begitu banyak wanita yang takluk dan bertekuk lutut untuk mendapatkan hatinya. Tapi sayangnya tak satu pun dari mereka yang berhasil meraih dan meluluhkan hati CEO yang dingin.


"BOSS..!!"


Lee Chan terlihat begitu bersemangat dan sangat antusias melihat kedatangan Rey, di dalam ruangan itu sedikitnya ada empat pria tampan termasuk Lee Chan.


Mereka dalah Antolin, Jimin dan Rico. Ketiganya adalah sahabat Rey sejak mereka masih sama-sama duduk di bangku sekolah menengah pertama.


Jimin dan Ricko adalah CEO dari sebuah perusahaan yang bekerjasama dengan perusahaan milik Rey, dan Rey adalah Investor terbesar diperusahaan milik mereka berdua. Sedangkan Antolin adalah seorang Dokter, dan Rey juga berisventasi sangat besar di rumah sakit milik keluarga Jack.


"Wow, lihatlah Boss Lu kita sudah datang. Bagaimana kabarmu sobat? Dan kami turut prihatin atas apa yang menimpamu satu minggu yang lalu."


"Aku tidak butuh simpati darimu, maniak dolar. Lagi pula sudah sangat terlambat untukmu mengatakannya." kemudian Rey meminum Wine yang baru saja Lee Chan tuangkan untuknya.


"Tidak pernah berubah! Dingin, arogant dan bermulut tajam." sahut Antolin dan membuat pandangan Rey kini bergulir padanya. "Look, bahkan dia langsung ingin menerkamku." imbuhnya menambahkan.


"Jangan begitu, Hyung! Tidak seharusnya kita memojokkan Rey Hyung, apalagi dia sudah susah payah mengundang dan mengumpulkan kita di sini. Bagaimana jika kita nikmati malam yang panjang ini dengan bahagia dan penuh gairah? Pasti akan begitu menyenangkan."


Rico menyeringai. "Heh! Tetap saja, tidak berubah, dasar mesum akut."


"Jangan sembarangan menyebutku mesum , Hyung. Aku hanya pengagum dan pemuja liang surganya wanita. Aku juga begitu baik hati karna mau membagi hartaku dengan mereka. Tidak seperti kalian, kalian berempat itu terlalu pelit dan perhitungan. Tidak salah jika banyak sekali wanita yang mau membuka kakinya secara suka rela padaku." Ujar Jimin panjang lebar.


Rico memijit pelipisnya. Mendengar ocehan Jimin membuat kepalanya terasa agak pening. Diantara Four Corner, memang hanya dirinya yang belum pernah merasakan bagaimana rasanya memakan wanita karena Rico itu berbeda, Rico memiliki kelainan dan dia tidak pernah tertarik pada wanita.


Rey membuka mata kanannya yang sebelumnya tertutup dan menatap ketiga sahabatnya satu persatu dengan cukup serius.

__ADS_1


"Kenapa kau menatap kami dengan tatapan mengerikanmu itu, Rey Lu? Kau membuatku merinding saja." Antolin memegangi tengkuknya yang berasa dingin setelah melihat tatapan Rey. Rey mendesah berat.


"Four Corner, sebaiknya kita bubarkan!" sontak semua mata kini tertju pada Rey.


"Apa maksudmu?" Rico menuntut sebuah penjelasan dari Rey.


Rey mengambil nafas panjang dan menghelanya. "Apa menurut kalian hal itu masih berguna? Saat ini kita berempat bukan lagi remaja pembuat onar yang selalu terlibat masalah. Dari awal terbentuk, Four Corner sudah memiliki citra yang sangat buruk dikalangan masyarakat. Lebih baik sekarang kita fokus saja pada pekerjaan dan masa depan masing-masing , aku sudah memiliki putri dan bagaimana jika putriku sampai memandang buruk ayahnya karena hal ini? Aku harap kalian bisa mempertimbangkannya."


Mendengar ucapan Rey membuat Rico, Jimin dan Antolin terdiam. Mereka memikirkan apa yang Rey katakan dan menurut mereka itu ada benarnya. Memang sudah tidak seharusnya Four Corner tetap ada di saat mereka telah dewasa dan mencapai kesuksesan masing-masing.


"Aku setuju Four Corner dibubarkan, tapi jangan sampai hal ini mempengaruhi persahabatan diantara kita. Four Corner boleh bubar, tapi asal jangan persahabatan kita." Rey, Jimin dan Rico mengangguk.


"Boss, nona muda merajuk lagi. Orang rumah baru saja menghubungiku dan mengatakan jika nona muda minta diantarkan ke rumah dokter Jessica."


Rey mendesah berat. "Kalian bertiga nikmati saja malam ini sampai puas. Malam ini aku yang akan mentraktir kalian. Aku harus pulang sekarang, mungkin putriku sudah menungguku." Rey bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja, diikuti Lee Chan yang berjalah mengekor belakangnya.


Mobil mewah yang Lee Chan kendarai melaju kencang pada jalanan malam yang legang. Karena ini sudah lewat tengah malam jadi tidak banyak kendaraan yang bisa mereka temui.


Dari jarak dua puluh meter, Chan melihat seorang wanita tengah bersusah payah memeriksa mobilnya yang sepertinya mengalami masalah.


"Boss, bukankah itu dokter Jessica." Lee Chan mengurangi kecepatan pada mobilnya. Sontak mata kanan Rey terbuka dan mengikuti arah tunjuk Lee Chan.


"Tepikan mobilnya." Pintanya dingin.


"Baik Boss."


Rey segera turun dari mobilnya dan menghampiri wanita itu yang memang Jessica.


"Ada apa dengan mobilmu?" Tanya Rey tiba-tiba.


"Omo?" Dan membuat Jessica terkejut karena kemunculannya yang seperti hantu. "Tuan Lu, Anda mengejutkan saya." Jessica mengusap dadanya dan mendesah berat. "Mobil ini tiba-tiba mogok, dan saya tidak tau harus bagaimana karena saya tidak tau soal mesin." Ujarnya.


Rey mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang. "Tidak perlu cemas, sebentar lagi orang bengkel akan tiba untuk mengambil mobilmu. Sebaiknya kau pulang bersamaku, Kevin biar aku yang mengangkatnya."


Rey menatap wajah Kevin yang sedang terlelap selama beberapa saat, di lihat dari sisi mana pun bocah itu memiliki kemiripan dengan dirinya saat masih kecil.


"Silahkan, Dokter." Lee Chan membukakan pintu untuk Jessica dan mempersilahkannya untuk masuk ke dalam.


"Terimakasih, Tuan Lee! Maaf jadi merepotkan." Lee Chan tersenyum sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Hahaha! Bukanlah hal yang besar, lagi pula ini adalah pekerjaan yang sangat mudah." Ucapnya tersenyum.


"Dan sampai kapan kau akan berdiri di sana? Cepat masuk dan kemudikan mobilnya."


Keringat dingin Chan langsung mengucur deras setelah mendengar suara dingin Rey masuk dan berkaur di dalam telinganya. Dia buru-buru kembali ketempat duduknya dan dalam hitungan detik, mobil mewah milik Rey melaju kencang meninggalkan area taman.


.


.


.


"Tuan, berikan anak itu pada saya. Biar saya saja yang mentantarkannya keruang tamu."


Seorang laki-laki berusia setengah baya langsung menghampiri Rey dan meminta Kevin yang berada dalam gendongannya. Tapi Rey menolak dan mengantarkan sendiri bocah itu ke kamar tamu.


Rey sengaja membawa Jessica dan Kevin pulang kerumahnya, Laurent terus saja merajuk dan tidak mau tidur karena ingin bertemu dengan dokter cantik itu.


"Dokter, mari saya antar ke kamar nona muda."


Dari jarak dua meter. Jessica dapat mendengar dengan jelas tangisan Laurent dan suara seorang wanita yang mencoba menenangkannya, tapi sepertinya tidak berhasil. Jessica mengetuk dulu pintu didepannya sebelum membukanya.


"Boleh, Bibi masuk?"


Tangis Laurent langsung berhenti seketika setelah dia mendengar suara wanita yang begitu familiar dan tak asing untuknya. Bocah perempuan itu langsung turun dari tempat tidurnya dan menghampiri Jessica.


"BIBI CANTIK."

__ADS_1


Tubuh Jessica terhuyung kebelakang karena pelukkan Laurent yang begitu tiba-tiba. Dan tanpa ragu, Jessica mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan gadis kecil itu.


"Bibi sudah di sini, sekarang Laurent harus menjadi gadis penurut, ya. Laurent harus tidur karena jika tidak, Bibi akan pergi dari sini." Bujuk Jessica.


Laurent melonggarkan pelukkannya. "Asalkan bibi cantik mau menemaniku di sini dan tidur bersamaku." Jessica tersenyum dan mengusap rambut panjang Laurent dengan lembut.


"Baiklah bibi akan menemani Laurent di sini dan memeluk Laurent sepanjang malam." Ucapnya bersungguh-sungguh.


Sementara itu, tanpa Jessica sadari dua orang pria berbeda usia terlihat berdiri di depan pintu dan menyaksikannya ketika dia membujuk Laurent dengan tatapan sulit dijelaskan.


"Tuan, apakah Anda tidak merasa jika mereka berdua terlihat seperti Ibu dan anak? Di lihat dari sisi manapun, nona muda dan dokter Jessica memiliki begitu banyak kemiripan. Dan hal seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya, nona muda adalah orang yang paling tidak bisa menyesuaikan dirinya dengan orang lain, tapi sepertinya dokter Jessica adalah sebuah pengecualian."


"Seperti ada sebuah ikatan tak kasat mata diantara mereka berdua, dan kasih sayang dokter Jessica pada nona muda begitu alami tanpa dibuat-buat. Itu adalah kasih sayang seorang Ibu kepada putrinya. Mungkin hal ini sangat tidak masuk akal tapi ini adalah hasil dari pengamatan saya selama beberapa hari terakhir ini."


"Ya, hal ini memang sangat tidak masuk akal. Bagaimana bisa sikapku menurun pada Kevin, sedangkan Laurent mewarisi sifat Jessica. Sungguh sesuatu yang sulit dijelaskan dengan logika, mengingat jika tidak ada ikatan darah diantara aku, Laurent dan mereka berdua. Mungkin ini hanya sebuah kebetulan saja. Kembalilah kekamarmu, kau sudah bekerja keras hari ini, pergilah untuk istirahat."


"Baik Tuan, saya permisi dulu."


Begitu banyak kebetulan yang tidak bisa Rey jabarkan satu persatu. Semua begitu aneh dan tidak masuk akal, dan semua kebetulan ini seperti sebuah takdir yang telah direncanakan oleh Tuhan.


Rey menghentikan langkahnya saat melewati kamar tamu yang ditempati oleh Kevin. Dengan langkah tanpa suara, Rey masuk ke dalam dan memperhatikan bocah itu yang sedang terlelap, menatapnya cukup lama dan tanpa berkedip.


Perasaannya menghangat saat melihat bagaimana polosnya wajah Kevin yang sedang terlelap, dia terlihat seperti bocah pada umumnya tapi dia akan berbeda ketika membuka mata. Meskipun usianya baru delapan tahun, tapi Kevin lebih dewasa dari usianya.


"Kevin Smith, siapa kau sebenarnya? Kenapa aku selalu merasa familiar setiap kali menatap matamu, dan bagaimana bisa tumbuh rasa sayang di dalam hatiku sejak pertama kali aku menatap mata abu-abumu." Rey mengusap kepala Kevin dengan lembut tanpa melepaskan tatapannya dari wajah polosnya.


Dan usapan Rey pada kepalanya membuat kedua mata Kevin terbuka, dan betapa terkejutnya bocah itu saat melihat keberadaan Rey di sana


"Pa-paman Lu!! Sedang apa Paman di sini, dan aku ada di mana?" Kevin menggulirkan pandangannya dan menatap kesegala penjuru arah. Ini bukan kamarnya.


"Kau ada di rumahku, apa aku mengusik tidurmu?" tanya Rey yang hanya disikapi datar oleh Kevin.


Bocah itu turun dari tempat tidur. "Di mana Mamiku? Dan bagaimana aku bisa berada di tempat ini?" tanya Kevin menuntut sebuah penjelasan.


"Mobil mamimu tiba-tiba mogok dan kami tidak sengaja bertemu, mamimu tidak keberatan untuk menginap di sini dan saat ini dia sedang menemani Laurent di kamarnya." tutur Rey menjelaskan.


Kevin mengambil nafas panjang dan menghelanya "Sudah aku duga, kapan bocah manja itu bisa berhenti menyusahkan mamiku." Kevin tidak suka jika Laurent terus-terusan mengusik ketenangan Ibunya.


Rey bangkit dari duduknya. "Bagaimana kalau kita berbincang dibalkon? Aku rasa langit malam ini cukup cerah dan bersahabat. Ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan padamu." Kevin menutup matanya dan mengangguk.


Berada di dekat Rey terkadang membuat Kevin merasa seperti uji nyali. Bagaimana tidak, Rey adalah pria dingin yang minim ekspresi, sepanjang hari dia selalu memasang wajah dingin dan datar. Dan Rey adalah pria paling dingin yang pernah Kevin temui dalam hidupnya, tapi juga orang pertama yang tidak bisa dia larang saat Rey berbincang dengan ibunya.


"Apa yang ingin kau tanyakan padaku?" tanya Kevin to the poin.


"Mengenai Ayahmu, aku tidak pernah melihat dia diantara kalian, apa dia sedang berada diluar negeri?"


Kevin menutup matanya dan mendesah. "Aku tidak memiliki ayah, dan sejak lahir aku tidak pernah tau siapa syahku. Saat aku bertanya, mami tidak pernah menjawab dan selalu mengelak. Aku pernah tidak sengaja mendengar perbincangan mami dan bibi Sunny, mereka sedang membahas tentang pria yang tidur dengan Mami sembilan tahun yang lalu."


"Aku tidak bisa mendengar semua hanya saja aku mendengar mami menyebutkan Garden Hotel dan kamar 206. Sembilan tahun yang lalu tepat diawal musim semi, mami tidur dengan pria karena salah masuk kamar dan mereka sama-sama mabuk. Itu saja karena aku keburu ketahuan bibi Sunny." Tutur Kevin dengan mata terpejam.


"Tunggu, apa katamu? Kamar 206 diawal musim semi sembilan tahun yang lalu di Garden Hotel?" Kevin mengangguk.


Rey terdiam untuk beberapa saat. Di kota ini hanya ada satu Hotel Garden, dan diawal musim semi dia masih menempati kamar itu dan baru keluar dari sana satu minggu kemudian. Dan pada saat itu hanya ada satu wanita yang tidur dengannya dan itu pun bukan karena faktor kesengajaan.


Mata kanan Rey membelalak 'Mungkinkah wanita yang aku tiduri malam itu bukan Tiffany tapi... Jessica?' Pekik Rey membatin.


"Paman, kenapa kau diam? Apa kau merasa tidak percaya dengan ceritaku dan menganggap aku hanya mengarang saja?" Seru Kevin dan menyadarkan Rey dari lamunan panjangnya.


Rey menggeleng. "Tidak, sebaiknya kau kembali tidur. Tiba-tiba, Paman merasa lelah dan ingin beristirahat." Rey menepuk kepala Kevin dan pergi begitu saja, dan tanpa Kevin sadari, Rey mengambil rambutnya saat menepuk kepalanya.


"Dasar patung es aneh. Hoaaam, aku mengantuk dan ingin tidur lagi." Kevin berbalik dan kembali kekamar.


Bocah itu menjatuhkan tubuhnya pada tempat tidur dan dalam hitungan detik bocah itu kembali terlelap dalam mimpinya.


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2