Tragedi Cinta Satu Malam

Tragedi Cinta Satu Malam
Season 2 (Bab 8)


__ADS_3


Halo kakak-kakak sekalian. Jangan lupa buat baca juga new novel Author yang baru netes ya. CINTA TULUS UNTUK KUPU-KUPU MALAM. Like koment selalu di tunggu 🙏🙏🙏


Di bawah sana, paduan cahaya jingga-kuning saling berpendar. Tampak kelap-kelip seperti ribuan bintang di langit malam, seperti kunang-kunang .


Alunan musik disko yang menghentakkan pendengaran terdengar sayup-sayup. Angin malam meredam pecah nadanya hingga ke telinga sosok pemuda yang berdiri di atap bar memandang langit malam yang tampak gelap. Pekik suara manusia juga terdengar sesekali.


Asap rokok mengepul. Meliuk hanyut ke atas kemudian menghilang. Batangnya masih di apit di antara dua bibir, ujungnya yang berwarna abu-abu pekat, jatuh menjadi partikel yang lebih kecil. Rokok dihisap, cahaya jingga menyala semakin terang, lalu redup, digantikan asap yang kembali melayang dan menghilang tersapu angin.


"Benda itu tidak baik untuk tubuh. Bisa menimbulkan warna hitam di paru-parumu," ucap seseorang yang berdiri tepat di balik punggung si pria dalam jarak sejauh dua meter.


Kevin melepaskan rokoknya yang hanya tinggal setengah. Benda itu jatuh ditarik gravitasi yang kemurian mencapai tanah. Kevin berbalik dan mendapati seorang gadis dalam balutan mini dress hitam yang sangat kontras dengan kulitnya yang seputih susu.


Gadis itu melewati Kevin begitu saja dan berjalan menuju pagar pembatas. Kedua tangannya yang terlipat dia letakkan di atas pagar besi yang terasa dingin dan keras itu. Gadis cantik itu menoleh, menatap pemuda di sampingnya.


"Sebaiknya hilangkan kebiasaan burukmu itu, Kevin Lu. Asal kau tau saja jika merokok tidaklah baik untuk kesehatanmu." Ujar gadis itu memberi nasehat.


"Sudah malam, apa kau tidak ingin pulang? Dan di mana mantel hangatmu? Gaunmu itu terlalu mengerikan, Luna Nero,"


"Kau memperhatikanku? Dan sayangnya au tidak membawanya. Laurent dan Teresa menahannya dan menyembunyikan entah di mana." Jawabnya.


Kevin mendesah berat. Pemuda itu meraih pergelangan tangan Luna dan membawanya meninggalkan atap bar. "Hei, kau mau membawaku kemana?" seru Luna, gadis itu berusaha melepaskan cengkraman tangan Kevin dari pergelangan tangannya.


"Aku akan mengantarkanmu pulang, tempat semacam ini terlalu berbahaya untukmu. Dan satu lagi, aku tidak suka dengan pakaian super mini yang kau pakai ini. Karena itu bisa mengundang para serigala kelaparan untuk menerkammu!"


"Kenapa kau harus peduli. Bahkan tak ada hubungan apapun di antara kita."


"Kau terlalu cerewet, hubungi Laurent dan katakan jika kau pulang bersamaku."


"Tapi-"


"Aku tidak suka di bantah, Nona Nero!!"


Luna mendesah berat. Sepertinya memang sulit bicara dengan Kevin. Pemuda keras kepala ini benar-benar membuatnya dongkol setengah mati. Namun di sisi lain Luna juga merasa senang karena Kevin begitu memperhatikannya.

__ADS_1


Meskipun dia sendiri tidak bisa mengartikan kepeduliannya itu, apalagi menganggap jika itu sebagai bentuk perasaan Kevin padanya. Karena tidak ada yang tau bagaimana perasaan pemuda itu yang sebenarnya.


-


"Dasar Kevin menyebalkan,"


Teresa menyernyit bingung mendengar ocehan yang keluar dari bibir Laurent. Teresa meletakkan minumannya kemudian menghampiri sahabatnya itu.


"Ada apa?"


"Kevin bertingkah menyebalkan lagi. Masa iya dia membawa Luna pulang duluan, padahal aku kan masih ingin mengajaknya bersenang-senang."


Teresa merangkul bahu Laurent. "Tidak perlu sedih. Kan masih ada aku. Bagaimana kalau kita lanjutkan pestanya dan kita bersenang-senang. Apalagi kau sudah memberitahu ibumu jika kau akan menginap di rumahku. Ready?"


"Ready,"


-


Kevin menghentikan mobil sportnya di area Sungai Han. Pemuda itu lekas turun di ikuti Luna yang kemudian berdiri disampingnya. Mereka duduk di cap depan mobil. Kevin mengeluarkan sebungkus rokok dari dalam saku celananya. Mengambil satu lalu menyulutnya.


Mengabaikan Kevin. Luna beranjak dan meninggalkannya begitu saja. Gadis bertubuh mungil melangkahkan kakinya ke suatu tempat. Malam ini adalah satnight, jangan heran banyak pasangan yang sedang kencan disini. Ya, menikmati indahnya Sungai Han saat malam hari sangat indah terlebih bersama orang yang kita cintai. Tapi bagaimana dengan dirinya?


Luna memang tidak datang sendirian, tapi sayangnya orang itu bukanlah kekasih Luna. Melainkan teman masa kecilnya yang merangkap sebagai cinta pertamanya, apakah salah jika Luna mengharapkan sesuatu yang lebih dalam hubungan mereka? Tentu saja tidak, setiap orang berhak berharap termasuk Luna.


Gadis itu duduk di tepi sungai, tepat dibawah pohon ek yang hanya satu-satunya di tepi sungai ini. Gadis itu menyandarkan punggungnya pada pohon ek.


Pertengahan bulan November, angin musim dingin semakin bertiup kencang hingga menusuk tulang, namun gadis yang satu ini enggan beranjak. Luna mengusap lengannya berharap apa yang dia lakukan bisa mengusir rasa dingin yang dia rasakan sampai akhirnya...


Pukk...


Sebuah mantel hangat jatuh di atas bahu kecilnya. Sontak saja Luna menoleh dan mendapati Kevin berdiri di samping kanannya. Kemudian Kevin mendudukkan dirinya di samping Luna.


"Kevin, kau melihat dua itik yang sedang berenang itu? Terkadang aku merasa iri pada mereka,"


Kevin memicingkan matanya. "Kenapa?"

__ADS_1


"Karena mereka berpasangan, sementara aku tidak. Terkadang aku merasa kasihan pada diriku sendiri karena jatuh cinta pada pemuda bodoh yang tidak peka sama sekali. Dan memendam cinta dalam hati terkadang membuatku frustasi, aku ingin berhenti dan menyerah, tapi aku tidak bisa. Apalagi setelah dia muncul kembali di hadapanku. Hal itu membuatku semakin sulit,"


"Memangnya siapa laki-laki itu?"


"Kenapa kau ingin tau? Apakah itu penting untukmu? Dan apakah kau benar-benar ingin tau siapa laki-laki yang aku sukai dan nyaris membuatku gila?"


"Hn,"


"Kau, orang itu adalah kau, pemuda tidak beruntung yang aku sukai selama ini. Pemuda yang tidak peka sama sekali, pemuda menyebalkan yang membuatku jatuh cinta setengah mati padanya."


"Dasar bodoh!!" satu jitakan mendarat mulus pada kepala coklat Luna. Dan selanjutnya bibir Luna sudah berada dalam pagutan bibir Kevin. Kevin memagutnya dengan sangat lembut dan penuh perasaan.


Dan apa yang Kevin lakukan membuat kedua mata Luna terbelalak seketika. Bagaimana tidak, Kevin menciumnya dengan begitu tiba-tiba. Tanpa komando dan aba-aba.


Seketika tubuh Luna terpaku menyadari apa yang tengah Kevin lakukan padanya, tidak ada penolakan apalagi balasan dari Luna. Gadis itu diam seperti patung yang tak bernyawa.


60 detik telah berlalu, namun ciuman itu masih tetap berlangsung. Baik Kevin maupun Luna masih sama-sama enggan untuk mengakhiri ciumannya, Kevin terus melum** bibir atas dan bawah Luna secara bergantian. Dan mereka segera mengakhiri ciumannya, saat pasokan udara dalam paru-paru mulai menipis.


Kevin memandang Luna tepat di kedua mata indahnya. Dan lagi-lagi jantung Luna berpacu semakin cepat. "Berkencanlah denganku, Luna Nero." Pinta Kevin tanpa mengakhiri kontak matanya.


"Dan bodoh jika kau mengira selama ini perasaanmu hanya bertepuk sebelah tangan saja. Karena pada kenyataannya aku sudah jatuh cinta padamu semenjak Laurent mengirimkan fotomu padaku. Aku sungguh tidak menyangka jika gadis menyebalkan dan barbar itu telah berubah menjadi sosok yang begitu sempurna dan luar biasa. Untuk itu jadilah kekasihku,"


"Kevin," gumam Luna lirih.


"Kau hanya perlu menjawab iya atau tidak."


Luna mengangguk. "Ya, aku bersedia." Kevin tersenyum. Di tariknya lengan Luna dan Kevin kembali mendekap gadis itu ke dalam pelukannya. Luna merasa bahagia karena pada akhirnya perasaannya terbalas juga.


Kevin melepaskan pelukannya dan menatap paras ayu gadis yang telah resmi menjadi kekasihnya itu. "Sudah malam, ayo pulang." Ucapnya yang kemudian dibalas anggukan oleh Luna. Dan keduanya pun segera pergi meninggalkan Sungai Han.


Mungkin cara Kevin mengungkapkan perasaannya tidak seromantis kebanyak pria di luaran sana. Tanpa bunga, tanpa coklat ataupun boneka. Tapi Luna tidak peduli dengan semua itu. Karena yang terpenting baginya adalah Kevin membalas perasaannya.


Ia tidak akan menuntut Kevin menjadi orang lain hanya untuk mencintainya. Tapi Luna akan membiarkan Kevin mencintai dirinya dengan caranya sendiri. Dan intinya Luna merasa bahagia karena cintanya terbalas oleh sang pujaan hati.


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2