Tragedi Cinta Satu Malam

Tragedi Cinta Satu Malam
Mati Kutu


__ADS_3

"Kakak Kevin!!!"


Kevin buru-buru menghindar ketika melihat Laurent berlari menghampirinya sambil merentangkan kedua tangannya. Bocah perempuan itu langsung memeluk wajahnya karena yang dia peluk hanyalah ruang hampa, Kevin menghindar karena tidak ingin di peluk olehnya.


Laurent menghampiri sang kakak sambil berkacak pinggang. Ia ingin membuat perhitungan dengan Kevin karena sudah membuatnya kesal setengah mati.


"Kakak Kevin jahat!! Kenapa malah menghindar dan tidak membiarkan aku memelukmu?" bocah itu mencerutkan bibirnya.


"Karena kau bau asem. Mandi sana, aku benar-benar tidak tahan dengan bau tubuhmu itu!!"


Dan rasanya Laurent ingin menggantung kakak kembarnya itu hidup-hidup. Bagaimana tidak, Kevin membuatnya kesal setengah mati dengan kata-kata tajam yang keluar dari mulutnya yang lebih pedas dari satu kilogram cabe.


"Yakk!! Enak saja menyebutku bau asem!! Jelas-jelas aku sudah harum. Hidung Kakak Kevin saja yang sedang bermasalah. Sudahlah, lebih baik aku membantu mama memetik bunga saja. Bersama Kakak Kevin hanya membuatku naik darah!!" Laurent mengibaskan rambutnya dan pergi begitu saja.


Kevin mendengus berat. Semakin lama Laurent semakin terlihat mirip dengan Jessica. Semua yang ada dalam diri wanita itu menurun pada putri bungsunya. Dan hal itu sekali lagi membuktikan jika buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Sedangkan Kevin sendiri mewarisi sifat dingin Rey.


Kevin menolehkan kepala ketika mendengar derap langkah seseorang yang datang. Terlihat Rey menuruni tangga dengan gagahnya. Kevin tersenyum tipis melihat kedatangan sang ayah.


"Pi, kau sudah rapi. Apa kau akan ke kantor hari ini?!"


"Hm, Papi ada pertemuan penting dengan beberapa kolega dari luar negeri. Di mana mami dan adikmu?" tanya Rey.


"Mereka ada di taman. Mami sudah menunggumu dari tadi untuk sarapan. Aku akan memanggil mereka dan setelah ini kita sarapan sama-sama." Ucapnya yang kemudian di balas anggukan oleh Rey.


Rey menghentikan langkahnya ketika dia merasakan ponsel di dalam saku celananya berdering. Dan nama Lee Chan langsung menghiasi layar ponselnya yang menyala terang.


"Ada apa, Chan?!" tanya Rey to the poin.


"Boss, aku diare parah dan tidak bisa masuk hari ini."

__ADS_1


"Hm, sayang sekali ya, padahal aku ingin memberimu bonus. Tapi kau malah tidak datang, atau mungkin memang kau yang tidak memiliki banyak rejeki. Baiklah, kau istirahat saja di rumah dan semoga cepat S.E.M.B.U.H!!"


"BOSS, TUNGGU DULU DAN JANGAN DITUTUP TELFONNYA!! AKU GAK JADI SAKIT DAN AKU AKAN BERSIAP-SIAP!!"


Rey menyeringai penuh kemenangan. Dia sudah hapal betul dengan tabiat orang kepercayaannya tersebut. Ia tau jika saat ini Chan tidaklah sakit, melainkan sedang di manjakan oleh kucing-kucing liarnya. Memasukan kembali ponsel itu ke dalam saku celananya.


Pria dalam balutan kemeja putih yang di balut Vest hitam serta celana yang senada dengan vestnya itu pun melanjutkan langkahnya. Terlihat Jessica dan Laurent yang baru saja kembali dari taman sambil memeluk beberapa tangkai mawar.


"Papa!"


Tubuh Rey sedikit terhuyung karena pelukan putrinya yang sangat tiba-tiba. Laurent terkekeh. Bocah perempuan itu mengalungkan tangannya pada leher Rey dan kemudian mencium singkat pipinya.


"Papa sangat tampan. Jika aku sudah dewasa nanti. Aku ini memiliki suami setampan Papi!!" ujar bocah itu dengan polosnya.


"Belajar dan sekolah dulu yang benar, baru mikir soal percintaan. Dasar bocah mesum!!"


Laurent terkekeh. Entah kenapa dia begitu suka menggoda kakaknya dan membuatnya marah. Bocah perempuan itu sepertinya memiliki hobi baru selain bermain boneka. Yakni mengganggu dan membuat marah kakaknya.


Rey menurunkan Laurent dari gendongannya ketika melihat Jessica menghampirinya. Wanita itu berdiri tepat di hadapan Rey dan kemudian membetulkan dasinya yang terpasang dengan tidak sempurna.


"Kau sangat mahir dalam segala hal. Kecuali satu, memasang dasi." Jessica mengangkat wajahnya dan tersenyum tipis.


Rey menarik pinggang Jessica kemudian mengecup singkat bibirnya. "Apalagi memakanmu, bukankah aku lebih mahir lagi," pria itu menyeringai.


"Uhuk,"Jessica terbatuk mendengar ucapan suaminya yang sedikit fulgar tersebut. Wajahnya tiba-tiba memanas apalagi melihat seringai di bibir Kissable-nya.


"Hahaha....!! Apa yang kau katakan, Rey Lu? Kau membuatku gugup saja. Su-sudahlah, sebaiknya kita segera sarapan sebelum makanannya menjadi dingin." Ucapnya dan pergi begitu saja.


Jessica tidak ingin semakin terlihat konyol di depan Rey. Suami tampannya itu sukses membuatnya mati kutu karena malu.

__ADS_1


Rey mendengus geli. Menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya. Pria itu tersenyum tipis. Rey melanjutkan langkahnya dan kemudian menghampiri kedua buah hatinya.


-


Suasana di sebuah kantor tampak sepi dan tenang. Tapi bukan berarti belum ada satu orang pun yang datang, justru kantor itu sudah terisi penuh orang-orang yang bekerja di di sana. setiap bilik ruangan sudah terisi lengkap dengan satu orang karyawan. Lalu yang menjadi pertanyaannya, apa yang membuat kantor ini tampak sepi?


Nampaknya seseorang yang memegang posisi tertinggi di kantor ini sudah datang. Oh, tepat pukul 07.00. Perfect! Mata coklatnya yang tajam bak mata elang tengah memindai ruangan-ruangan dan orang-orang di sekitarnya dengan sangat teliti, tak ada satupun yang terlewatkan.


Bahkan ia tak menghiraukan seluruh karyawan yang berdiri tegang dan memasang senyum aneh menakutkan, ya.. mereka memang sangat tegang. Tak terlewat sedikitpun, meskipun itu ada seekor nyamuk yang tidak sengaja masuk dan terbang di kolong meja di balik bak sampah. Sangat detail bukan? Tapi untungnya itu tidak ada. Jika ada maka... Akan lain lagi ceritanya.


Langkah sang penguasa yang yang pastinya adalah Rey tiba-tiba terhenti. Membuat semua orang di dalam ruangan devisi pemasaran tiba-tiba lupa bagaimana caranya bernafas. Keringat dingin keluar dari telapak tangan dan pelipisnya, jantung berdisko ria tanpa mengajak yang punya.


Rey Lu perlahan mundur dan matanya kembali memindai orang-orang itu, membuat jantung para staf semakin berdebar tak karuan. Tanpa peduli kondisi sang pemilik yang sudah memasang muka kaku sulit tersenyum dan lain sebagainya


Langkah kaki lebarnya berhenti di depan dua staf karyawan perempuannya. Membuat kedua karyawan itu mendadak serasa berada di ruang angkasa. Mereka mempersiapkan mental untuk kemungkinan terburuk yang akan memvonisnya.


"Yunna.." Karyawan berambut nyentrik dan berpoles make up sedikit tebal itupun langsung tegang seketika, nyawanya serasa melayang di udara. Namun jantungnya masih berpesta ria.


"Y-ya Sajangnim." Akhirnya jawaban itu keluar dengan sukses.


"Ini kantor, bukan tempat pesta atau tempat ajang kecantikan. Jika kau hanya ingin memamerkan kecantikanmu, sebaiknya kalau pulang saja dan tidak perlu bekerja!! Dan kau...!! Ini bukan pangkalan para pelac**, jika ingin menjajakan tubuhmu, sebaiknya bekerja di tempat lain saja!!"


Dan kedua orang itu pun langsung lemas seketika. Mereka mendapatkan teguran keras dari sang pemimpin. Rey melanjutkan langkahnya dan masuk ke dalam ruangannya.


Rey memang paling benci jika ada karyawannya yang tidak sesuai dengan apa yang telah di tentukan oleh kantornya. Dan dia tidak akan segan-segan untuk bersikap tegas pada orang tersebut. Dan jika tidak bisa di peringatkan. Maka tak ragu-ragu Rey akan langsung memecatnya.


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2