
Luna menghentikan langkahnya dan menatap datar tiga gadis yang berdiri dihadapannya. Siapa lagi jika bukan Amara dan kedua datang setianya. Luna tidak tau apalagi yang mereka inginkan kali ini.
Amara mendekati Luna kemudian mendorongnya dan menghimpit tubuh wanita bertubuh mungil itu pada tembok. "Kali ini apa lagi yang kalian inginkan dariku?" Luna menatap ketiganya bergantian.
"Jauhi Kevin dan tinggalkan dia!!"
"Kalau aku tidak mau bagaimana?" Luna mengangkat kepalanya dan membalas tatapan Amara.
"Itu artinya kau sudah bosan hidup!!"
Luna mendengus dan memutar matanya jengah. "Kau pikir. Dengan bersikap seperti ini, memaksaku untuk meninggalkan Kevin, maka dia akan mau denganmu? Jangan bermimpi." Luna mendorong kening Amara dengan telunjuknya. "Kevin tidak akan melepaskan intan permata hanya demi batu kerikil. Minggir, kalian menghalangi jalanku!" Luna mendorong tubuh Amanda dan pergi begitu saja.
"LUNA NERO, AKU AKAN MEMBUNUHMU!!"
Jlebbb....
Kevin datang tepat waktu dan menghalau pisau yang hendak Amara gunakan untuk menusuk Luna dengan tangan kirinya. Akibatnya tangan kiri Kevin terluka dan terus mengeluarkan darah. Dan apa yang Kevin lakukan itu tentu saja mengejutkan Luna juga beberapa orang yang ada di sekitar mereka.
Tubuh Amara sedikit terhuyung dan peluh membanjiri keningnya. Tatapan Kevin yang tajam dan penuh intimidasi membuat Amara merinding sendiri, Amara mundur beberapa langkah kebelakang.
"Ke-Kevin, aku-"
Plakk...
Tamparan keras pada pipi kanannya mengintrupsi ucapan Amara. Luna berdiri di depan perempuan itu dengan nafas memburu tak beraturan. Jantungnya berdetak cepat dan peluh mulai membasahi keningnya. Luna sangat terkejut melihat tangan Kevin berdarah-darah di depan matanya.
"Yakk!! Kau!! Kenapa kau-?!"
Plakk...
Sekali lagi Luna menampar Amara dengan keras. Membuat ruam merah tampak pada kedua pipinya. "Yakk!! Apa kau gila?!" teriak Amara penuh emosi.
Amara hendak membalas Luna, tapi segera di hentikan oleh Laurent dan Teresa yang tiba-tiba muncul di sana. Amara di seret dan di bawa ke suatu tempat oleh mereka berdua. Bahkan mereka menghiraukan teriakkan Amara dan makiannya.
"Luna," buru-buru Kevin menahan tubuh Luna ketika melihat istrinya tiba-tiba saja limbung dan nyaris tak sadarkan diri.
__ADS_1
Alat pacu jantung yang melingkar di pergelangan tangan Luna tiba-tiba berbunyi dengan keras dan membuat Kevin panik setengah mati. Kevin segera mengangkat tubuh Luna dan membawanya ke rumah sakit. Dia takut hal buruk sampai menimpa istrinya.
.
.
"Dokter, bagaimana keadaannya?!" tanya Kevin saat melihat seorang dokter baru saja keluar dari ruang IGD.
"Keadaannya sudah kembali stabil. Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Dia hanya mengalami syok. Anda bisa menemuinya setelah kami memindahkannya ke ruang inap."
Dan Kevin bisa menghela nafas lega setelah mengetahui keadaan Luna baik-baik saja. Dia sempat merasa takut. Kevin sangat takut jika hal buruk sampai menimpa Luna. Tapi sekarang dia merasa lega karena Luna baik-baik saja.
Kevin tersenyum tipis saat melihat wanitanya yang tengah duduk di atas ranjang inapnya sambil menatap ke luar jendela. Dengan langkah tanpa suara Kevin menghampiri Luna kemudian duduk di sampingnya. "Bagaimana keadaanmu?" tanya Kevin sambil menggenggam tangan Luna.
"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja. Lalu bagaimana dengan luka di tanganmu? Apakah sudah di obati? Apakah lukanya parah?" Kevin menunjukkan telapak tangannya yang sudah terlilit perban.
"Dokter sudah menjahitnya dan lukanya tidak seberapa dalam." Jelasnya.
Luna mendesah lega. "Syukurlah." Ucapnya dengan raut wajah penuh kelegaan. "Maaf, karena diriku kau terluka seperti ini. Jika saja kau tidak melindungiku. Pasti hal semacam ini tidak akan terjadi."
"Apa yang kau bicarakan. Lagipula bagaimana mungkin aku bisa diam saja saat melihatmu berada dalam bahaya. Dan jika hal itu kembali terulang, bahkan aku akan menyelamatkanmu hingga ratusan dan ribuan kali."
"Apa yang kau tangisi?" bisik Kevin sambil mengusap punggung Luna dengan gerakkan naik turun.
"Aku-"
"Luna!!" kalimat Luna terintrupsi oleh kedatangan Jessica. Ibu dua anak itu langsung meninggalkan semua pekerjaannya setelah mendengar kabar dari perawat jika putra dan menantunya sedang di rawat.
"Sayang, kau baik-baik saja bukan?" Jessica menakup wajah menantu kesayangannya dan memastikan keadaannya. Luna mengangguk. Meyakinkan pada ibu mertuanya jika dia baik-baik saja.
Luna menggenggam tangan Jessica seraya tersenyum lebar. "Seperti yang, Mama lihat. Aku baik-baik saja. Bukankah Mama tau jika menantu Mama yang paling cantik ini sangat kuat." Ujarnya terkekeh. Alhasil sebuah jitakan mendarat mulus pada kepala coklat Luna.
"Kau ini!!"
Kevin yang melihat interaksi antara Ibu dan istrinya tak dapat menahan diri untuk tidak tersenyum. Hatinya menghangat melihat senyum di bibir kedua wanita terhebatnya itu. Dan senyum seperti itulah yang ingin Kevin lihat setiap harinya.
__ADS_1
"Mi, bisakah kau menjaganya untukku? Aku harus pergi ke kantor setelah ini. Ada jadwal rapat penting satu jam lagi." Ucap Kevin yang kemudian di balas anggukan oleh Jessica.
"Tentu, kau bisa pergi sekarang. Istrimu biar Mami yang menjaganya." Kevin mengangguk.
"Baiklah."
-
"YAKK!! WANITA GILA, CEPAT LEPASKAN AKU!!"
Laurent dan Teresa saling bertos ria. Mereka baru saja menyingkirkan satu benalu seperti Amara. Laurent dan Teresa mengunci Amara di dalam gudang yang gelap dan penuh dengan tikus serta kecoa.
"Kkyyyaaa!!! Tikusss...!! Aahhh...!! Kecoa sialan jangan merambati tubuhku!! Ahhh...!!! Hiks, lepaskan dan keluarkan aku dari sini brengsek!!"
"Nikmati saja kebersamaanmu dengan mereka. Dan selamat bersenang-senang," seru Laurent dengan suara sedikit meninggi.
"Sialan kau Laurent Lu, Teresa Kwon. Aku tidak akan memaafkan kalian berdua!!" teriak Amara penuh emosi.
Tapi di hiraukan oleh keduanya. Keduanya segera meninggalkan gudang dan pergi ke kantin. Lama-lama mereka merasa lapar juga setelah mengerjai Amara habis-habisan.
Bastian selaku mantan kekasih Amara tidak terima mendengar jika wanita yang sudah memberinya malam terindah itu di kerjai habis-habisan oleh Laurent. Bastian dan kedua temannya langsung mencegat langkah kedua gadis itu.
"Katakan, di mana kalian menyekap, Amara?!" tanya Bastian dengan emosi yang mulai berapi-api.
"Kenapa kau ingin tau? Bukankah kau dan dia sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi? Dan wanita itu sudah mencampakanmu, jadi untuk apa lagi kau peduli dan mencarinya?!"
"Jangan banyak omong!! Katakan di mana dia?!" bentak Bastian penuh emosi.
"Jangan harap kami akan memberi tau kalian bertiga. Minggir dan jangan halangi jalanku." Teresa menendang perut Bastian dan membuat pria itu terhuyung.
"Sialan kau betina!!" teriak Bastian marah. "Apa yang kalian tunggu? Cepat temukan Amara dan cari di mana kedua betina sialan itu menyekapnya!!"
"Ba-baik Boss." Jawab keduanya dengan kompak.
Bastian mengeram marah. Bukan keadaan Amara yang dia cemaskan. Tapi janin di dalam perutnya. Ya, saat ini Amara tengah mengandung buah hatinya, darah dagingnya. Itulah kenapa Bastian tidak ingin jika wanita itu sampai kenapa-napa.
__ADS_1
-
Bersambung.