Tragedi Cinta Satu Malam

Tragedi Cinta Satu Malam
TAKUT PETIR


__ADS_3

Jledeerr...!!


"KYYYYAAA.."


Jessica menjerit histeris saat petir menyambar dengan tiba-tiba. Langit yang semula cerah seketika menjadi pekat karena gumpalan awan hitam yang menggulung di langit. Membuat langit yang sudah kelam kian terasa mencekam. Kilatan cahaya putih di langit yang saling bersahutan, membuat sebagian manusia bumi ketakutan tak terkecuali Jessica.


Ibu dua anak itu memang sangat takut pada petir, dia akan berteriak dan menangis saat petir tiba-tiba menyambar. Wanita itu meringkuk di bawah sambil menutup kedua telinganya, matanya terus mengalirkan lelehan kristal bening.


"Kau baik-baik saja?" Rey menyentuh bahu Jessica yang gemeter, peluh membasahi hampir disekujur tubuhnya. "Kau takut?" Wanita itu mengangguk.


Entah sebuah dorongan dari mana, tiba-tiba saja Rey menarik bahu Jessica dan membawa wanita itu ke dalam pelukannya. "Jangan takut, semua akan baik-baik saja." Ucapnya meyakinkan. Rey mengusap punggung Jessica dengan gerakkan naik-turun.


Rey tidak mengerti, bagaimana bisa wanita dalam pelukannya itu begitu ketakutan pada suara petir, bukankah kemarin Laurent mengatakan bila Jessica memeluknya ketika ada petir. Mungkinkah wanita itu mencoba bersikap berani demi menenangkan Laurent yang juga sangat takut pada petir?


'Ya Tuhan..!'


Dan sementara itu, Lee Chan langsung histeris dalam hati. Ia nyaris saja pingsan dengan apa yang saat ini tengah disaksikan oleh matanya. Bossnya yang terkenal dingin dan tidak peduli dengan apapun yang ada disekelilingnya, tiba-tiba memeluk seorang wanita yang sedang ketakutan karena suara petir? Bahkan dia mencoba menenangkanya. Sungguh, ini adalah pertunjukkan yang sangat langkah dan Lee Chan harus segera mengabadikannya.


"Paman minggir." Tubuh Chan terhuyung kesamping karena ulah Kevin yang tiba-tiba menerobos masuk ke dalam kamar Rey. Bocah itu melihat Jessica yang sedang menangis ketakutan. "MAMI." serunya, dan kedua mata Kevin sedikit membelalak melihat Jessica tengah berada dalam dekapan Rey.


Kevin mendekati mereka berdua. "Mami, kau baik-baik saja? Jangan takut lagi, aku di sini bersama Mami. Mami jangan takut, Kevin akan melindungi Mami." Kemudian Kevin memeluk Jessica dengan erat sambil menutup kedua matanya. Kevin tau bila ibunya sangat takut pada petir.


Dan sementara itu...


Rey tidak bisa berkomentar apa-apa melihat bagaimana cara Kevin menangkan Jessica. Bocah itu begitu dewasa di usianya yang baru menginjak usia 8 tahun. Dia begitu perhatian dan peduli pada Jessica, dan hal itu membuktikan bila Jessica membesarkannya dengan sangat baik.


Jessica melepaskan pelukannya dan tersenyum lembut. "Mami baik-baik saja, Nak. Dan semua sudah terkendali." Jessica mencoba meyakinkan pada Kevin jika dirinya sudah baik-baik saja. Lalu pandangan Jessica bergulir pada Rey. "Maaf, Tuan Lu, jika saya sudah bersikap kurang sopan." Rey menggeleng, dan meminta agar Jessica tidak perlu memikirkannya.


"Huaaa! Bibi cantik benar-benar di sini."


Brugg!


Tubuh Jessica sedikit terhuyung kebelakang karna pelukkan Laurent yang sangat tiba-tiba. Gadis kecil itu berlari dan melompar ke dalam pelukannya.


"Laurent, sangat senang melihat Bibi cantik ada di rumah ini. Apa itu artinya Bibi cantik sudah menyetujui permintaan, Laurent untuk menikahi Papa? Jika Bibi cantik setuju, aku bersedia melamar Bibi cantik untuknya," tutur Laurent dengan polosnya.


"Bibi-"

__ADS_1


"Laurent, jangan bicara sembarangan!! Dan apa yang kau lakukan? Tidak seharusnya kau memeluk orang asing apalagi meminta hal tidak masuk akal seperti itu, kemari kau." Serunya.


Tiffany yang baru datang langsung menarik Laurent yang sedang memeluk Jessica. Dia sungguh tidak suka bila Laurent terlalu dekat dengannya.


"Huaaa..! Apa yang Mama lakukan? Mama sakit, huaaa..!" Tangis Laurent pun pecah.


Kevin yang menyaksikan hal itu merasa marah. Bocah laki-laki itu langsung menginjak kaki Tiffany dengan keras dan menarik Laurent menjauh darinya. "Hiks, kakak, kau menyekamatkanku? Huaaa..! Aku merasa jika kau itu adalah pahlawanku."


"KALIAN SEMUA MEMANG TIDAK TAU MALU, BISA-BISANYA KALIAN MELAKUKAN INI SEMUA PADAKU. DAN KAU JESSICA, JANGAN HARAP KAU SUDAH MENANG DARIKU. LIHAT SAJA APA YANG BISA AKU LAKUKAN PADAMU. SEPERTI SEBELUMNYA, AKU PASTI AKAN MENGAMBIL SEMUANYA YANG MENJADI MILIKMU LALU MENGIRIMU KE NERAKA!!"


PLAKK..!


Sebuah tamparan keras langsung mendarat dengan mulus pada pipi Tiffany, ini kedua kalinya hari ini Rey menampar dirinya dan kali ini karena Jessica.


"CUKUP, TIFFANY HONG! KAU BENAR-BENAR SUDAH KETERLALUAN, KELUAR KAU DARI SINI, KELUAR." teriak Rey seperti penuh emosi.


Dan Jessica sampai menelan ludah melihat bagaimana menyeramkannya pria itu ketika sedang marah. Rey terlihat begitu menyeramkan apalagi sorot matanya yang terlihat berbahaya itu.


"****," umpatan keluar dari bibir Rey. Rey menekan mata kirinya yang kembali berdenyut. Terlihat cairan merah segar melumuri tangannya serta perban yang digunakan untuk menutup mata itu.


"Tu-tuan Lu, mata Anda berdarah." Kaget Jessica setengah panik.


"Tuan Lu, bisakah Anda berbaring? Saya akan melihat luka jahitnya apakah terbuka atau tidak." Rey mengangguk kemudian berbaring seperti yang Jessica sarankan.


Jessica membuka perban yang menutup mata kiri Rey kemudian membersihkan darah yang ada disekitar matanya. Setelah memastikan darahnya benar-benar bersih , Jessica bisa melihat dengan jelas ada jahitannya yang terbuka pada kelopak dalamnya. Setelah menjahitnya kembali, kemudian Jessica menutupnya kembali dengan perban.


"Anda sebaiknya istirahat saja, Tuan Lu. Kalau begitu saya permisi dulu."


Rey menahan pergelangan tangan Jessica, membuat dokter cantik itu mau tidak mau harus menghentikan langkahnya. "Di kuar sedang hujan lebat di tambah lagi ini sudah hampir tengah malam. Sebaiknya kau bermalam saja, aku akan meminta seseorang untuk menyiapkan kamar tamu untukmu dan putramu." merasa tidak enak jika harus menolak niat baik Rey. Jessica pun setuju untuk bermalam di sana.


"Baiklah, aku bersedia."


.


.


Kevin yang tidak bisa tidur memutuskan untuk keluar kamar. Bocah itu memicingkan matanya melihat lampu ruang tengah masih menyala, dengan tenang, bocah itu melangkahkan kakinya dan mendapati Rey yang tengah duduk di sana dengan di temani sebotol wine dan satu bungkus rokok.

__ADS_1


"Kata mami, minuman keras dan rokok tidak baik untuk kesehatan," sontak Rey mengangkat wajahnya dan menatap datar pada bocah yang berdiri di depannya.


"Kau belum tidur?" Rey bertanya dengan nada datar.


"Paman, kau terlihat kacau. Apa kau sedang ada masalah?" alih-alih menjawab. Kevin malah balik bertanya. Bocah itu kemudian duduk di samping Rey. "Orang dewasa memang sulit di pahami, tidak mami tidak kau, kalian semua sama saja. Sama-sama membingungkan."


"Apa maksudmu?"


Kevin mengangkat bahunya. "Entahlah, aku juga tidak tau apa yang sedang aku bicarakan. Paman, sebaiknya kau segera pergi tidur. Dan satu lagi, jangan kebanyakan merokok dan meminum, minuman beralkohol." Kevin memberi saran dan pergi begitu saja.


Rey menatap kepergian bocah itu dengan tatapan yang sulit di jelaskan. Lagi-lagi dia merasakan debaran yang aneh ketika menatap mata bocah itu. Dan Rey seperti melihat dirinya sendiri pada diri Kevin.


****


Bukan lagi menjadi rahasia bila Tiffany memiliki hobi berbelanja dan menghambur-hamburkan banyak uang. Dia adalah tipe wanita yang memiliki kegilaan pada fashion, dan dalam waktu satu bulan dia bisa menghabiskan puluhan juta dolar hanya untuk memenuhi rasa dahaganya pada berbelania barang mahal dan mewah.


Hari ini Tiffany berniat membelikan teman-temannya beberapa barang mewah seperti tas dan sepatu. Saat ini ketiganya sedang berada di pusat perbelanjaan untuk membeli semua barang yang diinginkan. Karna satu dua barang tidak ada ruginya yang terpenting dia dipandang baik oleh orang lain


"Kalian boleh pilih tas dan sepatu mana pun, aku yang akan membayarnya karna suamiku baru saja memberiku uang yang sangat banyak."


"Kau memang yang terbaik, Tiffany Lu, kami sangat tidak menyesal memiliki sahabat sepertimu." Ucap wanita pertama.


"Itu benar. Selain cantik dan kaya, kau juga sangat murah hati. Kami pasti akan selalu menjadi sahabat terbaikmu." Sahut wanita kedua.


"Aahh..! Kalian terlalu memuji, aku tidaklah sehebat itu. Aku akan memilih dan melihat-lihat juga."


Setelah mendapatkan semua barang yang diinginkan. Mereka membawa barang-barang itu kekasir untuk membayar dan hal tidak terduga malah terjadi "Maaf Nyonya, tapi kartu yang ini tidak bisa." Ucap kasir itu seraya menyerahkan card milik Tiffany.


"Tidak bisa? Bagaimana mungkin? Coba yang ini." Tiffany memiliki firasat buruk sekarang "Ini juga tidak bisa, semua kartu ini sudah dibekukan."


Gyuttt...!


Tiffany mengepalkan tangannya. Dengan emosi yang meluap-luap. Wanita itu pergi meninggalkan pusat perbelanjaan, bahkan Tiffany tidak peduli dengan panggilan teman-temannya. Dia harus membuat perhitungan dengan Rey karna sudah mempermalukan dirinya di depan semua teman-temannya.


"Rey Lu, aku tidak akan pernah memaafkanmu."


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2