Tragedi Cinta Satu Malam

Tragedi Cinta Satu Malam
Season 2 (Bab 3)


__ADS_3

Sebuah mobil sport berwarna merah meluncur memasuki gerbang kampus Seoul University dan menuju area parkir yang tidak jauh dari gerbang utama. Dan kedatangan mobil tersebut menyita perhatian banyak pasang mata.


Seorang gadis cantik berambut coklat terlihat turun dari dalam mobil tersebut di susul oleh pemuda yang sebelumnya duduk di balik kemudi.


Kedatangan mereka berdua langsung menyita banyak pasang mata, terutama kedatangan pemuda asing berwajah tampan dan bertubuh tinggi itu. Semua mata wanita kini tertuju padanya.


Pemuda itu membuka kaca mata hitamnya dan membuat para gadis yang ada di sekitaran tempat parkir langsung heboh dan saling berbisik-bisik. Bahkan ada yang berteriak histeris. Membuat gadis yang berjalan di samping si pemuda mendecih tidak suka.


"Dasar kampungan, seperti tidak pernah melihat pria tampan saja." Gadis itu 'Laurent' langsung mendecih tidak suka.


"Apa kalian lihat-lihat? Tidak pernah melihat pria tampan ya? Bubar sana!" sinis si gadis dan segera membubarkan kerumunan.


"Huuuu...Dasar menyebalkan," merekapan langsung bersorak. Mereka kesal karena Laurent seenaknya saja membubarkan mereka.


"Bodoh amat," Laurent menjulurkan lidahnya tanda jika dia tidak peduli.


Laurent akui jika saudara kembarnya itu memang begitu tampan dan sangat menawan. Jadi tidak salah jika dia di gilai begitu banyak perempuan.


Bahkan sejak masih kecil Kevin sudah sangat popular dan banyak anak perempuan yang berlomba-lomba mendapatkan perhatian darinya dan berusaha untuk mendekatinya. Tapi sayangnya tak satupun dari mereka ada yang berhasil. Karena Kevin selalu bersikap acuh pada mereka.


Kevin dan Laurent berjalan beriringan meninggalkan parkiran. Dan sepanjang jalan Laurent terus saja menggerutu tidak jelas. Dan hal itu membuat Kevin merasa geli sendiri. Memang tidak ada yang berubah pada saudarinya ini, selain dia semakin cantik dan juga bertambah tinggi. Laurent tetap saja kekanakan.


"SEBASTIAN ROBERTO, CEPAT KEMBALIKAN PONSELKU!!!"


Kevin dan Laurent sama-sama menghentikan langkahnya setelah mereka mendengar teriakan seorang perempuan. Sontak keduanya menolah dan mereka melihat Luna yang berusaha mendapatkan kembali ponselnya yang di ambil paksa oleh Bastian dan teman-temannya.


Gadis itu terlihat kesulitan ketika Bastian mengangkat tangannya lebih tinggi. Luna sampai melompat beberapa kali, tapi tetap saja tidak bisa menjangkaunya.


"Kembalikan sekarang juga atau-"

__ADS_1


"Atau apa?" Bastian menyela cepat.


Keanu mendesah berat. Pemuda itu menghampiri Bastian dan langsung merebut ponsel milik Luna dari tangannya. "Yakk!! Brengsek, siapa kau?!" bentaknya marah.


Kevin menyeringai dingin. "Sama sekali tidak berubah, tetap saja suka membuat onar. Luna, ayo pergi." Kevin meraih tangan Luna dan membawanya pergi dari sana. Dan meninggalkan Laurent begitu saja.


"Yakk!! Kalian berdua, kenapa aku malah di tinggal?!"


Bastian mengeram marah dan menatap punggung Kevin yang semakin menjauh dengan tatapan membunuh. Dia tidak akan membiarkannya, Bastian pasti akan membalasnya.


-


Bian terus mengaduk-aduk jusnya dengan tidak berminat. Hatinya di landah rasa galau yang begitu berlebihan. Bagaimana tidak, semalam Luna menghubunginya dan mengatakan jika cinta pertamanya sudah kembali. Dan hal itu membuatnya sedih setengah mati.


Saat ini Bian sedang berada di kantin bersama beberapa temannya. Terus terang saja Bian sangat penasaran dengan tampang pria yang membuat Luna jatuh cinta hingga dia tidak bisa melupakannya selama bertahun-tahun.


"Hey Bi, sampai kapan kau hanya diam dan tidak mengungkapkan perasaanmu padanya! Kau sudah menyukainya sejak lama kan, lalu tunggu apalagi, ungkapkan saja perasaanmu." Ucap Denta pada Bian lalu memasukan sepotong roti ke dalam mulutnya.


"Entahlah, aku juga tidak tau. Hanya saja aku merasa kalau Luna itu terlalu sempurna bagiku. Dia dan aku begitu dekat dan kami bersahabat sejak lama. Kau juga tau kan kalau Luna itu idola di kampus ini, dan selain itu sudah ada orang lain di dalam hatinya," jawab Bian sambil terus mengaduk-aduk minumanya.


"Hei lihat ke sana !Itu bukankah Luna, lalu siapa orang yang menggenggam tangannya?!" seru Leo heboh.


Kemudian Bian mengikuti arah tunjuk Leo. Terlihatlah seorang wanita cantik dengan rambut coklat gelapnya sebatas punggung, dia begitu cantik dalam balutan dress putih dan heels yang senada dengan warna dressnya. Dengan membawa buku yang dipeluknya.


Melihat itu Bian bergumam. "Luna, kau memang sangat cantik." Namun senyum di bibirnya langsung pudar ketika melihat sosok tampan dan tinggi yang berjalan di samping Luna sambil menggenggam tangannya. "Ya Tuhan, apakah pemuda itu adalah cinta pertama Luna?" jeritnya membatin.


"Tch. Kau selalu berkata seperti itu, tapi tidak pernah mau mengungkapkanya. Dasar penakut.! " Mendengar kata itu perempatan terdapat di dahi Bian.


"Apa kau bilang! Aku ini bukan penakut. Aku hanya tidak ingin menghancurkan persahabatan di antara kami yang berharga. Dan sebagai orang yang mencintainya dengan tulus. Melihatnya berbahagia adalah sesuatu yang sangat berarti bagiku. Dan itu sudah lebih dari cukup untuk diriku. Sudahlah aku akan menghampirinya sekarang." Bian meminum jusnya dan pergi begitu saja.

__ADS_1


Bian menghampiri Luna yang sedang berjalan bersama Laurent dan sosok tampan yang seketika memporak-porandakan hatinya. Bian tersenyum dan segera memanggil kedua gadis itu.


"Luna, Laurent..." seru Bian dan menghentikan langkah ketiganya. "Tumben kalian hanya berdua, di mana Teresa?" Bian mencoba untuk berbasa-basi.


"Sepertinya hari ini dia tidak masuk."Jawab Laurent.


"Ngomong-ngomong siapa pemuda ini? Aku tidak pernah melihatnya. Apakah dia mahasiswa baru di kampus ini?"


"Oya, perkenalkan dia Kevin Lu, saudara kembarku dan dia baru datang dari London. Dan dia mahasiswa baru di kelas kita." Jelas Laurent.


"London?! Omo, Luna, jangan bilang jika dia adalah cinta pertama yang sering kau bicarakan dan kau lukis selama ini?" tebak Bian.


Dahi Kevin menyernyit. "Cinta pertama?"


"Hahaha...!! Jangan dengarkan dia. Dia hanya asal bicara. Lagipula temanku yang pergi ke London bukan kau saja. Hahaha, aku duluan ya. Bian, ayo."


Luna yang kehilangan muka di depan Kevin langsung menarik Bian dan membawanya pergi dari sana. Rasanya Luna ingin menggantung Bian hidup-hidup karena sudah membuka rahasia terbesarnya. Dan bagaimana sekarang dia harus menghadapi Kevin? Luna sangat merutuki kebodohan Bian.


"Aduh, Luna apa-apaan kau ini?! Jangan tarik-tarik, aku hampir saja terjungkal." Seru Bian melayangkan protesnya.


"Diamlah, kau sudah membuatku kehilangan muka di depannya."


Bian mendengus berat. Itu artinya tebakannya memang benar. Jika pemuda itulah yang menjadi cinta pertama Luna. Melihat wajahnya yang tampan yang di tunjang stylenya membuat Bian merasa minder untuk bisa mendapatkan hati dan cinta Luna.


"Ya Tuhan, inikah saatnya aku menyerah?!"


Sungguh Bian tak menyangka jika kisah cintanya akan berakhir seperti ini. Dan jika memang sudah saatnya menyerah. Maka Bian akan menyerah dan merelakan cintanya bahagia bersama orang lain. Karena sesungguhnya cinta tidaklah harus memiliki. Ya begitulah pepatah berkata.


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2