
Malam sudah semakin larut tapi Jessica masih tetap terjaga. Berkali-lali ia mencoba untuk menutup matanya tapi selalu tidak bisa, dan melihat langit bertabur bintang adalah pilihan terbaik yang dia miliki saat ini.
Malam ini langit terlihat lebih cerah dari malam-malam sebelumnya, bulan berpendar disinggasananya dengan ditemani jutaan manik-manik langit yang memainkan sinarnya.
Semilir angin malam bertiup lirih mengibarkan helaian panjangnya yang terurai, dinginnya malam yang semakin menusuk tak membuat Jessica beranjak dari posisinya.
Samar-samar dia mendengar derap langkah kaki seseorang yang datang, yang semakin lama semakin terdengar jelas ditelinganya. Dan tak lama kemudian sosok Rey datang dan menghampirinya, muncul rona merah di pipi Jessica melihat bagaimana bidangnya dada Rey yang tersembunyi di balik kemeja hitamnya yang tiga kancing teratasnya di biarkan terbuka, hingga terlihat singlet putih yang menjadi dalaman kemejanya .
Tak ingin Rey melihat wajahnya yang memerah, buru-buru Jessica memalingkan wajahnya dan berpura-pura menatap langit untuk menyembunyikan kegugupannya
"Kenapa belum tidur?" tanya Rey seraya berdiri disamping Jessica.
"Aku belum mengantuk." jawab Jessica tanpa menatap lawan bicaranya "Lalu kenapa kau sendiri belum tidur?"
"Ada beberapa Email yang harus aku periksa." jawab Rey datar.
Untuk sesaat keheningan menyelimuti kebersamaan mereka berdua. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir Rey maupun Jessica. Keduanya sama-sama diam dalam kebisuan, sesekali Rey menatap wanita disampingnya dan tanpa sadar sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk lengkungan indah di wajah tampannya.
Tiga puluh tahun dia hidup. Ini pertama kalinya ada wanita yang berhasil menggetarkan hatinya, hanya dengan menatap matanya dan melihat senyum manis diwajah cantiknya.
Rey pikir ia bisa mencintai Tiffany seiring berjalannya waktu, tapi perasaan itu justru tidak tumbuh sedikit pun meskipun enam tahun mereka hidup bersama di bawah satu atap yang sama.
Tapi berbeda dengan perasaan yang dia rasakan pada Jessica, ia merasa tertarik sejak pertama kali menatap mata hazelnya, mungkin hal itu terjadi karena Jessica adalah wanita yang dia tiduri malam itu tujuh tahun yang lalu.
"Udara di sini semakin dingin, sebaiknya segera masuk, kau bisa sakit jika terlalu lama berdiri di sini." Nasehat Rey mengingatkan.
Jessica menggeleng. "Sebentar lagi, karena jarang-jarang aku bisa melihat langit seperti ini. Jika kau merasa lelah, masuklah dan segera beristirahat." pinta Jessica.
"Kalau begitu aku akan menemanimu di sini," ucap Rey menyahuti.
Jessica tidak bisa melarang apalagi mengusir Rey karena itu bisa menyinggung perasaannya, dia tidak memiliki pilihan lain selain membiarkannya.
Udara yang semakin dingin menbuat Jessica sedikit menggigil, berkali-kali terlihat dia mengusap lengannya yang hanya tertutup kain tipis dressnya. Melihat hal itu membuat Rey berinisiatif memberikan kehangatan pada wanita yang sudah memberikan dua permata untuknya.
Deeegg..!
Jessica tersentak kaget merasakan sepasang tangan memeluknya dari belakang, tanpa melihat pun tentu Jessica tau siapa yang memeluknya sehangat ini. "Eeeugghh..!" Lengkungan panjang keluar dari sela-sela bibirnya, saat merasakan kecupan lembut bibir Rey pada leher jenjangnya.
"Rey hentikan, ka-kau membuatku basah." rancau Jessica karna kecupan Rey pada lehernya yang semakin menggila.
"Kalau begitu jangan ada yang ditahan, lepaskan semua." bisik Rey dan kembali mengecupi leher jenjang Jessica dan meninggalkan beberapa tanda kepemilikan di sana.
__ADS_1
Sadar jika posisi mereka tidak menguntungkan baginya. Rey merubah posisi mereka dengan saling berhadapan, bibir ranum Jessica langsung disambut oleh bibir Rey ketika wanita itu berbalik badan.
Kedua tangan Rey membingkai wajah Jessica dan bibirnya terus melum** bibir atas dan bawah Jessica secara bergantian. Laki-laki itu terus melum** bibir Jessica yang menurutnya sangat menggoda, Rey memandang manik hazelnya dan menarik pinggangnya untuk membunuh jarak diantara mereka hingga tubuh keduanya menempel sempurna..
Rey memagut bibir wanita tanpa ampun dan menginvasinya habis-habisan. Dan Jessica cukup kewalahan menghadapi serangan Rey hingga dia memutuskan untuk melawannya dengan lidah dan kedua tangannya yang masih bebas dan mengalungkan pada leher Rey.
Sadar Jessica membalas ciumannya. Rey segera merubah posisi mereka dengan menempatkan Jessica di atas pangkuannya, wanita itu duduk menghadap Rey dengan kedua tangannya yang terkalung pada leher pria bermarga Lu tersebut.
Seolah tak puas dengan melum** bibirnya saja. Rey mencoba untuk mendapatkan yang lebih dengan memasukkan lidahnya ke dalam mulut hangat Jessica, mengobrak-abrik rongga mulutnya dan mengabsen satu persatu gigi putihnya.
Sesekali Rey membawa lidah Jessica menari bersama, bukan tarian lembut yang diiringi musik dansa melainkan tarian sensual nan panas yang diiringi alunan musik erotis yang menghentak.
Benang saliva terlihat ketika Rey menarik bibirnya menjauh dari bibir Jessica untuk mengambil nafas sesaat, tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang dia miliki. Jessica berusaha meraup udara sebanyak-banyaknya untuk mengisi asupan oksigen dalam paru-parunya yang mulai menipis.
Jari jemari lentik Jessica meremas helaian coklat milik Rey ketika laki-laki itu sekali lagi melum** bibirnya dengan keras "Aaahhh... he-hentikan. Rey.. kau membuatku , Aaaahhh.. semakin basah." Rancau Jessica disela-sela ciuman mereka.
Seakan tuli, Rey menghiraukan permintaan Jessica. Laki-laki itu meremas salah satu bukit kembar Jessica dengan kedua tangannya, dan membuat Jessica kembali menggerang ditengah ciuman mereka
"Aaaahhh.. Rey." rancau Jessica tidak karuan.
"Lepaskan semuanya, Sayang, dan jangan ada yang ditahan." bisiknya.
Kemudian Rey mengangkat tubuh Jessica bridal style dan membawanya kekamarnya. Dengan hati-hati Rey membaringkan tubuh Jessica diatas tempat tidurnya dan kembali menyergapnya.
"A-apa kita akan melakukannya?"
"Menurutmu," Rey menyeringai nakal.
"Ti-tidak bisa, i-ini adalah masa suburku, bagaimana jika aku sampai...?"
"Kenapa, apa kau merasa takut?" Rey menyela cepat.
Jessica menggeleng. "Bukan begitu, hanya saja-"
"Atau mungkin kau masih merasa trauma dengan yang pernah terjadi di masa lalu? Jangan takut dan cemas Sayang, aku tidak akan membiarkan apa yang terjadi di masa lalu kembali terulang. Aku pasti akan mendampingimu melewati semuanya, karena aku tau jika tidak mudah melewati fase pertama masa kehamilan. Bukankah sekarang ada aku, aku akan selu berada disampingmu."
Melihat kesungguhan dalam mata Rey membuat Jessica mengangguk, mengijinkan Rey untuk melakukan sesuatu yang lebih pada dirinya. "Kau hanya perlu mempercayaiku, calon suamimu." Rey berdiri untuk melepaskan semua kain yang masih melekat ditubuh mereka dan meletakkan begitu saja.
Wajah Jessica memerah melihat benda asing terpampang jelas di depan matanya, dan Jessica bisa bernafas lega karena milik Rey tidaklah semenyeramkan yang dia bayangkan. Dia saat wanita lain menyukai yang besar dan panjang tapi tidak dengan Jessica, setiap kali membayangkannya membuatnya merinding dan ingin muntah.
Tanpa banyak bicara. Rey segera melancarkan aksinya dengan memasukkan benda kebanggaannya dengan sekali hentakan kuat dan membuat semua syaraf dalam tubuh Jessica aktif kembali. Dan malam ini akan menjadi malam yang panjang bagi mereka berdua untuk bisa saling memiliki sepenuhnya.
__ADS_1
.
.
.
"Aaahh...!!" rintih kesakitan keluar dari selama-sela bibir Jessica saat dia merasakan perih dan ngilu pada area Miss-nya.
Wanita itu mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi semalam dan seketika muncul semburat merah dipipinya saat sudah berhasil mengingatnya. "Patung es itu, sepertinya dia memang sengaja membuatku tidak bisa jalan pagi ini." gerutu Jessica sambil berjalan kearah kamar mandi.
"OMO?" dan nyaris saja ia terkena serangan jantung dadakan saat mendapati Rey berada diruangan itu dalam keadaan telanja** dada. Buru-buru Jessica berbalik badan. "Ma-maaf, aku tidak tau jika kau ada di dalam. A-aku akan keluar sekarang."
Dan sepertinya Rey tidak bisa membiarkan Jessica pergi begitu saja, laki-laki itu menarik lengan Jessica hingga wanita itu jatuh kedalam pelukkannya.
"Kau fikir bisa semudah itu lepas dariku? Dan bagaimana jika sekarang kita lanjutkan yang semalam." bisik Rey dan sontak membuat kedua mata Jessica membulat sempurn.
Baru saja Jessica hendak membuka mulutnya, tapi segera di hentikan oleh Rey yang langsung menyergap bibirnya. Bibir Rey melum** bibir ranum Jessica dengan rakus, dan sepertinya bibir wanita itu kini menjadi candu baru untuknya selain rokok dan minuman beralkohol.
"Pa, apa kau ada di dalam?"
Buru-buru Jessica mendorong tubuh Rey saat mendengar suara Laurent yang sepertinya mencari dirinya. "Sebaiknya kau segera keluar atau dia akan menemukan kita di sini?" bisik Jessica setengah panik.
Rey mendesah kecewa, dengan terpaksa dia harus mengubur keinginannya untuk kembali bercinta dengan Jessica. Tanpa mengatakan apapun, Rey segera meninggalkan Jessica dan menghampiri putri kecil mereka.
"Papa, apa Papa melihat bibi cantik? Aku, dan kakak Kevin tidak menemukan dia di kamarnya! Kakek buyut sudah menunggu kalian di meja makan."
"Papa, dan bibi cantikmu akan segera turun. Dia tidak ada di kamarnya karena bibi cantikmu menumpang mandi di sini, kran dikamar tamu rusak dan tidak bisa digunakan." Jelas Rey, ia terpaksa berbohong agar Laurent tidak semakin banyak bertanya. Laurent mengangguk paham.
"Aku mengerti, aku akan menberi tau kakek buyut dan kakak Kevin, Papa segera pakai pakainmu atau bibi cantik akan histeris melihat Papa bertelanja** dada. Dan biarkan aku saja yang memilihkan pakaian untuk Papa."
Laurent berlari menuju lemari pakaian milik Rey lalu membukanya. Bocah itu terlihat melompat beberapa kali karna tidak bisa mencapai pakaian-pakaian tersebut. Rey mendengus geli, ia mengangkat tubuh mungil Laurent dan mengarahkan pada pakaiannya. Dan pilihan Laurent jatuh pada kemeja hitam lengan terbuka dan sebuah tanktop putih polos serta celana jeans yang senada dengan warna kemejanya.
"Papa pakai yang ini saja. Tapi ingat, jangan ada satu pun kancingnya yang dikancingkan agar Papa terlihat lebih c**ool dan keren. Baiklah, aku keluar dulu." Laurent mengecup pipi Rey dan meninggalkannya begitu saja.
Rey mendesah berat. Putrinya itu memang sulit ditebak, tak lama setelah Rey memakai pakaiannya, sosok Jessica keluar dari kamar mandi hanya berbalut handuk yang menutupi dadanya sampai sebatas paha.
Jessica diam terpaku di depan kamar mandi melihat bagaimana tampannya Rey saat ini. Dan ini ketiga kalinya dia melihat laki-laki itu memakai pakaian casual. Tak ingin terlihat konyol di hadapan pria itu, buru-buru Jessica meninggalkan kamar Rey dan kembali ke kamar tamu untuk berganti pakaian.
Sedangkan Rey hanya bisa mendengus geli dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah wanitanya.
-
__ADS_1
Bersambung.