
Rasanya Jessica ingin mengutuk Rey karena sudah membuatnya kesulitan berjalan pagi ini. Jessica benar-benar tidak tau apa yang di bisikkan oleh Laurent pada ayahnya sampai-sampai dia mengajaknya berperang padahal masih pagi.
Jessica sedang duduk di atas tempat tidur ketika Rey keluar dari kamar mandi. Wanita itu harus menahan napasnya ketika melihat tubuh bagian atas Rey yang terbuka, tanpa satu helai benang pun. Sedangkan celana panjang menggantung di pinggulnya.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?"
"Tck, Dasar menyebalkan," Jessica mendecih dan menatap suaminya itu sebal.
"Aku mau menyusul anak-anak, kau ingin ikut atau tetap di rumah?" tanya Rey memastikan.
"Tentu saja ikut. Tunggu sebentar, beri aku waktu untuk bersiap-siap." Ucapnya yang kemudian di balas anggukan oleh Rey.
Sambil menahan rasa nyeri di paha dalamnya. Jessica beranjak dari atas tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi. Ini adalah akhir pekan dan Jessica tidak ingin melewatkan moment berharga bersama kedua buah hatinya.
-
"Mama,,, Papa..."
Laurent berseru kencang melihat kedatangan kedua orang tuanya. Bocah perempuan itu beranjak dari duduknya dan menghampiri mereka berdua. Laurent langsung berhambur ke dalam pelukan Jessica ketika wanita itu membuka lebar-lebar kedua tangannya.
Sementara Kevin langsung menghampiri Rey kemudian berdiri di sampingnya.
"Kenapa lama sekali, apa saja yang kalian lakukan di rumah? Apa, Papi tau bagaimana bocah itu sangat merepotkanku." Tutur Kevin.
"Ada pekerjaan penting yang tidak bisa di tunda. Jadi Papa lebih dulu menyelesaikannya." Jelas Rey.
"Tck, orang dewasa memang sulit di mengerti." Kevin mendengus.
Rey hanya tersenyum mendengar ucapan putranya. Dengan lembut Rey mengacak rambut coklat Kevin yang terasa lembut itu. Di saat Jessica dan Laurent tengah sibuk bermain dan kejar-kejaran. Kevin dan Rey memilih untuk duduk dan menatap mereka di bawah pohon sakura yang sedang berguguran.
Mereka sama-sama diam dan tidak ada yang membuka percakapan. Baik Rey maupun Kevin saling diam dan menatap lurus ke depan.
Sesekali Rey menatap bocah di sampingnya. Kevin benar-benar mewakili dirinya. Bukan hanya wajah mereka saja yang mirip, namun juga sikap dan kepribadian mereka. Kevin benar-benar dirinya dalam versi mini.
Rey mencoba membaca apa yang tengah Kevin pikirkan. "Kau menginginkan sesuatu?" tanya Rey pada bocah laki-laki di sampingnya.
__ADS_1
Kevin menggeleng. "Aku hanya berpikir, jika ternyata buah jatuh memang tidak jauh dari pohonnya. Laurent dan mami contohnya. Sifat mami menurun padanya, begitu pula dengan kita. Sifat Papi yang dingin menurun padaku. Bukankah ini sangat lucu?" Kevin menatap pria dewasa di sampingnya.
"Kau berpikir begitu?" Kevin mengangguk."Sejak awal melihatmu dan menatap matamu, Papi melihat banyak sekali persamaan di antara kita dan Papi berpikir itu hanyalah sebuah kebetulan saja. Tapi setelah kebenaran itu terungkap, akhirnya Papi tau. Kenapa kau begitu mirip dengan Papi dan dari siapa sikap dinginmu itu menurun."
"Apakah Papi merasa beruntung memiliki putra sepertiku? Yang payah dan terkadang menyebalkan ini?! Begitulah mami selalu menyebutku jika dia sedang kesal padaku."
Rey menarik Kevin dan membawa bocah itu ke dalam pelukannya. "Tidak ada satu orang tua pun di dunia ini yang tidak bangga pada darah dagingnya. Seandainya adapun itu karena mereka tidak tau bagaimana harus menyampaikan rasa bangganya tersebut."
Dan Papi sangat bangga memiliki putra sepertimu, Nak. Kau dan Laurent, adalah permata paling berharga yang mami dan Papi miliki. Kalian adalah anugerah yang Tuhan berikan pada kami." Kevin mengangkat tangannya dan membalas pelukan Rey.
"Aku juga bangga memiliki Papi sepertimu. Kau adalah Papi terhebat di dunia ini. Terimakasih karena sudah menjadi Papiku,"
"Sama-sama, Nak." Balas Rey dan semakin mengeratkan pelukannya.
"YAKK!! KALIAN BERDUA TIDAK BISA BERPELUKAN TANPA DIRIKU!!" teriak Laurent dan kemudian berhambur ke dalam pelukan ayahnya. Sedangkan Jessica hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepala melihat tingkah putrinya.
Rey mengangkat tangannya kemudian mengulurkan pada Jessica. Jessica tersenyum dan kemudian menyambut uluran tangan Rey. Keluarga kecil itu saling berpelukan dengan hangat.
Baik Rey maupun Jessica sama-sama merasa bahagia karena pada akhirnya keluarga kecilnya dapat bersatu setelah seperkian tahun terpisah. Dan kembalinya Jessica serta Kevin kian menyempurnakan hidup Rey. Rey sangat bahagia memiliki mereka di sisinya.
-
"Tck,"
Wanita itu berdecak lidah kemudian bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja. Dia lebih baik kembali ke dalam sel penjara dari pada harus melihat Diego terus diam tanpa mengatakan apapun.
"Apa benar kau telah menculik Laurent ketika dia masih bayi dan membawanya pada Rey demi kepentinganmu sendiri?"
Tapp....
Tiffany menghentikan langkahnya kemudian berbalik dan menatap datar pada pria yang juga tengah menatap padanya. Wanita itu kembali ke kursinya dan duduk di sana.
"Jika aku mengatakan iya bagaimana? Ya, aku memang melakukannya dan aku melakukan itu demi kepentingan pribadiku. Aku sangat muak dengan hubungan kita yang selama bertahun-tahun tidak ada kemajuannya sama sekali."
"Aku mencoba peruntungan dengan merebut kekasih Jessica tapi aku tidak untung juga. Lalu ketika ada berlian di depan mata, bagaimana aku bisa melepaskannya?!" Tiffany menyeringai, menatap Diego dengan senyum meremehkan.
__ADS_1
Diego menatap Tiffany dengan jijik. "Kau benar-benar wanita yang licik Tiffany Hong, dan aku menyesal karena sudah mencintai wanita sepertimu. Sepertinya tidak ada gunanya lagi aku di sini. Dan aku berharap semoga kau mendapatkan hukuman yang pantas untuk semua perbuatanmu itu. Dan jika perlu, kau dihukum mati!!" Diego menggebrak meja di depannya dan pergi begitu saja.
Ternyata selama ini dia telah mencintai wanita yang salah dan menuduh Rey tanpa alasan. Karena Diego pikir Rey-lah yang telah merebut Tiffany darinya. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Diego tidak tau jika Tiffany selicik itu.
"Tiffany Hong, aku tidak akan pernah memaafkanmu! Tidak akan pernah!!"
-
"Nenek, ayah." Gumam Jessica ketika melihat dua orang yang sangat ia kenal tengah duduk di trotoar jalan. Mereka terlihat sangat buruk, pakaian lusuh, penampilan yang berantakan, mereka terlihat seperti gembel.
Hati Jessica terenyuh melihat keadaan mereka saat ini. Ia tidak menyangka jika mereka akan bernasib seperti itu. Jessica berniat menghampiri mereka namun hal itu ia urungkan saat mengingat bagaimana buruknya perlakuan mereka pada dirinya dan mendiang ibunya.
"Untuk apa juga aku harus peduli pada manusia tak berhati seperti mereka? Toh mereka memang layak mendapatkannya." Wanita itu masuk ke dalam mobil, di mana keluarga kecilnya tengah menunggu dirinya.
"Ma, siapa yang sedang kau lihat tadi?" tanya Laurent penasaran.
Jessica menggeleng. "Bukan siapa-siapa, Sayang. Hanya seorang pengemis. Awalnya Mama ingin memberi mereka uang, tapi Mama rasa mereka tidak membutuhkannya." Tuturnya.
Rey yang merasa penasaran mengikuti arah pandang Jessica dan kini dia mengerti kenapa istrinya bicara seperti itu. Tapi Rey tidak mau ambil pusing apalagi memikirkannya. Toh itu bukan menjadi urusannya lagi. Bila Jessica sudah tidak mau peduli lagi, lalu kenapa dirinya malah harus peduli.
Rey menghidupkan mesin mobilnya dan mobil mewah itu melaju perlahan meninggalkan Sungai Han.
"Sepertinya mereka kelelahan, lihatlah Rey... Mereka tertidur pulas." Ucap Jessica sambil melirik ke belakang. Kedua buah hatinya tengah tertidur pulas saat ini.
Rey tersenyum. "Mengingat bagaimana aktifnya putrimu, jadi wajar bila dia kelelahan. Sedangkan Kevin sepertinya mengidap sindrom yang sama denganmu, hobi tidur." Alih-alih kesal dan marah, Jessica malah terkekeh.
"Bukankah buah jatuh tak jauh dari pohonnya?" pria itu mengangguk.
"Ya, kau benar. "Kau ingin pergi kemana lagi setelah ini?" tanya Rey tanpa menatap lawan bicaranya. Fokusnya tertuju pada jalanan beraspal di depan sana.
"Mini market. Aku harus berbelanja, kulkas mulai kosong." Jawabnya.
"Baiklah,"
-
__ADS_1
Bersambung.