Tragedi Cinta Satu Malam

Tragedi Cinta Satu Malam
Akhir Yang Bahagia


__ADS_3

Rey memicingkan matanya melihat kedatangan Diego dengan muka kusutnya seperti pakaian yang belum di setrika.


"Jangan menatapku dengan tatapan mengerikan seperti itu, Rey Lu," sinis Diego melihat tatapan Rey padanya.


Rey memutar jengah matanya. "Sebenarnya ada apa denganmu? Dan mukamu itu, kenapa semakin jelek saja?"


"YAKK!!" teriak Diego tertahan. "Mulut tajammu terlalu melukai perasanku,kawan. Hiks, aku sedang sedih setengah mati. Seharusnya kau menghiburku."


"Karena Tiffany?" tebak Rey 100% benar. "Apa lagi kali ini? Aku pikir kau sudah melepaskan perasaanmu pada setelah kau tau bagaimana kelakuannya."


"Cintaku padanya tidaklah sedangkal itu padanya kawan. Aku memang kecewa dan marah atas apa yang pernah dia lakukan di masa lalu. Tapi cinta ini terlalu besar untuknya. Apakah kau tidak bisa meringankan hukuman untuknya? Setidaknya jangan hukuman mati, aku sungguh tak sanggup jika harus kehilangan dia."


Rey bangkit dari duduknya dan berjalan menuju dinding kaca di belakang meja kerjanya. "Aku tidak bisa mengambil keputusan apapun, karena Jessica-lah yang meminta supaya Tiffany di hukum mati. Jika kau ingin memohon, sebaiknya memohon padanya. Karena dia adalah korban utama dari semua kejahatan yang pernah Tiffany lakukan." Tutur Rey.


Diego menjatuhkan kepalanya di atas meja."Aku tidak yakin dia mau mencabut tuntutannya. Mengingat seberapa dalam luka yang telah Tiffany berikan padanya. Aku juga tidak bisa menyalahkan Jessica, jika aku berada di posisinya. Aku pasti akan melakukan hal yang sama. Hanya saja aku tidak siap jika harus kehilangan wanita yang aku cintai untuk selamanya. Sejahat apapun Tiffany, tapi aku tetap tidak bisa membenci apalagi berhenti mencintainya." Ujar Diego.


Rey memijit pelipisnya. Sepertinya pria di depannya ini benar-benar cinta mati pada Tiffany. Hal itu terbukti dari ucapannya.


"Aku akan mencoba bicara pada Jessica. Mungkin saja dia mau mendengarkanku dan merubah tuntutannya. Tapi aku tidak janji akan berhasil."


Diego menggeleng. "Tidak apa-apa, setidaknya kau sudah mencobanya." Jawab Diego. "Terima kasih, Rey. Aku tidak akan melupakan kebaikanmu ini. Baiklah, aku pergi dulu." Alden bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja.


Rey mendesah berat. Dia yakin bila Jessica tidak akan mau mencabut tuntutannya pada Tiffany setelah apa yang dia lakukan padanya. Dan Rey bingung bagaimana cara dia harus berbicara pada Jessica.


"Aku bertemu Diego di luar, ada apa dia datang kemari?"


Rey menoleh dan mendapati Jessica berjalan menghampirinya. "Dia memohon supaya kita meringankan hukuman untuk Tiffany. Dia tidak tahan jika Tiffany harus di hukum mati," jelas Rey.


"Sudah aku duga!! Sebenarnya aku juga sedang memikirkan tentang masalah ini. Aku merasa jika aku dan dia tidak akan ada bedanya jika aku menuntutnya dengan hukuman mati. Mungkin aku akan mengurangi hukumannya dengan memberikannya hukuman seumur hidup. Aku tidak ingin menjadi Tiffany yang kedua dengan bersikap seperti monster. Apa kau setuju dengan keputusanku ini?"


Rey menarik lengan Jessica dan membawa wanita itu ke dalam pelukannya. "Apapun keputusanmu, aku pasti akan mendukungnya. Jika menurutmu baik, menurutku juga baik." Ujar Rey sambil mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


Jessica tersenyum. Wanita itu mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan suaminya. Sungguh betapa Jessica merasa beruntung karena memiliki suami seperti Rey.


Jessica tidak pernah menyesal karena telah memberikan malam pertamanya pada Rey 13 tahun yang lalu. Karena jika malam itu tidak terjadi,mungkin dia tidak akan memiliki dua malaikat yang hebat dan ia juga tidak akan bertemu dengan pria seperti Rey.


Rey melepaskan pelukannya kemudian mencium singkat bibir Jessica. "Tumben kau datang kemari sepagi ini?Apa kau tidak pergi bekerja hari ini?" Jessica menggeleng.


"Aku mengambil cuti selama beberapa hari. Sunny bisa mengomeliku lagi jika aku tetap bekerja sementara dia sudah menyarankan untuk mengambil cuti."


"Kali ini aku berpihak padanya. Sunny memang ada benarnya dan aku akan berterimakasih padanya karena sudah berhasil memaksa istriku yang keras kepala ini untuk mengambil cuti."


Jessica mendecih dan memukul pelan dada Rey. "Tidak lucu," Rey terkekeh. Kembali ia merengkuh wanita itu ke dalam pelukannya. Dan dengan senang hati Jessica membalas pelukan Rey.


Hangat dan nyaman. Itulah yang Jessica rasakan ketika Rey memeluknya. Dan ia ingin kebersamaannya seperti ini tidak akan pernah berakhir.


"Bukankah kau harus kembali bekerja. Aku akan menemanimu di sini." Rey tersenyum dan kemudian mengangguk.


"Baiklah,"


-


Seorang anak perempuan terlihat malu-malu memberikan sebuah coklat pada Kevin. Alih-alih menerima coklat tersebut, Kevin hanya menatapnya dengan pandangan datar dan melewatinya begitu saja.


Anak perempuan itu pun hanya bisa menunduk sedih. Ini sudah yang ke sepuluh kalinya Kevin menolak pemberiannya. Dan itu membuatnya sedih setengah mati. Dengan kesal anak itu membanting kotak coklatnya dan lari sambil menangis. Banyak yang merasa iba, tapi tak sedikit pula yang merasa sedih.


"Kau membuat, Amarah menangis lagi."


Kevin menoleh dan menatap sosok cantik yang berjalan di sampingnya. "Aku tidak peduli." Jawabnya datar. Gadis cantik itu mendecih dan dengan kesal menoyor kepala Kevin. "Yakk!!Luna Nero,apa yang kau lakukan!!" bentak Kevin marah.


Mungkin Luna adalah satu-satunya orang yang berani melakukan hal semacam itu pada Kevin. Luna sendiri adalah teman sekelas Kevin. Ada yang bilang jika Luna menyukai Kevin, tapi kenyataannya tidak, mereka hanya berteman dan Luna adalah satu-satunya anak perempuan yang membuat Kevin merasa nyaman.


"Membuatmu sadar, jika yang kau lakukan itu terlalu kejam."

__ADS_1


"Cih, terserah." Kevin memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya dan pergi begitu saja. Meninggalkan Luna yang sedang menghela nafas.


"Dasar bocah kutub itu!! Yakk!! Kevin Lu, tunggu aku!!"


Laurent yang melihat pemandangan itu hanya bisa mendengus geli. Mereka berdua memang selalu seperti itu. Seperti kucing dan tikus tapi ketika jauh saling merindukan. Tak ingin ketinggalan keduanya, Laurent pun segera menyusul mereka.


"Yakk!! Kalian berdua, tunggu aku...!"


-


Sebuah kebahagiaan tak lahir dari satu aspek, bahkan seluruh aspek yang mewakili hidup. Terkadang sebuah pilihan itu yang mampu menghasilkan kebahagiaan yang utuh. Manusia biasanya tidak akan puas mengejar sesuatu, namun tidak dengan kebahagiaan itu sendiri.


Saat Rey membuka mata yang di lihatnya pertama kali ialah Jessica dengan hanya memakai baju tidur tipis yang hampir memperlihatkan lekuk tubuhnya. Jessica tengah duduk di perutnya dengan tumpuan kudua tanganya di letakkan di dada bidangnya.


Rey memandang heran pada istrinya yang sedang tersenyum manis padanya..


"Good morning, suamiku tersayang," ucapan Jessica dan sungguh membuatnya bahagia. Rey tidak ingat sudah sejak kapan telah berhasil memikat hatinya. Menawan segala cinta kepunyaannya degan jeratan manis Jessica.


"Aku mencintai mu, Jess. Terimakasih untuk segalanya. Memberikan kebahagiaan yang utuh dalam hidupku dengan memberikan dua malaikat yang begitu hebat." Rey duduk dari berbaringnya mengecup pelan bibir ranum Jessica.


Jessica menyandarkan kepalanya pada dada bidang Rey. "Seharusnya aku yang berterimakasih padamu. Karena sudah menjadi pria terhebatku. Aku sangat bahagia memiliki suami sehebat dirimu. Aku juga mencintaimu, Rey Lu." Rey menakup wajah Jessica dan kemudian mencium bibirnya.


Rey mengakhiri ciumannya dan kembali membawa Jessica ke dalam pelukannya. Wanita itu tersenyum lebar dalam pelukan suaminya.


"YAKK!! KALIAN TIDAK BISA BERPELUKAN TANPA KAMI!!" seru seorang anak perempuan yang datang bersama saudara kembarnya.


Rey dan Jessica tersenyum. Mereka berdua mengulurkan kedua tangannya pada kedua buah hati mereka.


Dan keluarga kecil itu terlihat begitu bahagia. Bahkan Kevin bisa tersenyum lebar. Dan tak ada kebahagiaan yang sempurna selain kebahagiaan yang datang dari kehangatan keluarga.


-

__ADS_1


THE END.


Season satu sudah selesai. Season kedua akan menceritakan kisah si kembar, tapi lebih ke Kevin ya. Dan di bab selanjutnya mereka udah dewasa.


__ADS_2