
"Hei, kamu kenapa?" Felix bertanya lembut sambil mengusap lembut pipi Barbara.
Barbara membuang muka. Dari tadi malam sejak sampai di rumah, Barbara enggan bicara dengannya.
Bahkan tidur pun, Barbara ngotot tidur di sofa ujung ranjang nya.
"Bar, kamu kenapa?" Suara Felix mulai terdengar mengancam.
Barbara mana takut. Ia terus mengunyah sarapan nya dengan kasar dan kesal.
"Barbara." Felix mulai membentak.
Barbara malah memilih berdiri dan pergi dari ruang makan.
Felix tentu saja mengejarnya.
Dengan cepat Barbara masuk ke kamar dan membungkus tubuhnya dengan selimut.
Malas melihat Felix.
"Bar, ngomong dong kalo aku punya salah." Pinta Felix kini memelas sambil memaksa Barbara membuka selimut nya.
Barbara akhirnya membuka selimut nya dan duduk, lalu menatap Felix dengan tatapan membunuh.
"Kamu tuh yah, gak punya pikiran tau nggak. Buat apa coba harus sampe ngebunuh si Jay. Nyesal aku kasih tau kamu yang sebenarnya. Tau gitu mending aku nyerahin diri aja buat dia lecehkan, hitung-hitung dapat enaknya juga." Barbara kesal mengingat kejadian tadi malam.
Felix marah mendengar kalimat terakhir Barbara.
Ia mencengkeram kuat dagu Barbara.
"Ingat satu hal ini baik baik Bar, nggak ada yang boleh nyentuh kamu selain aku." Felix geram.
"Noh si Frans maksa nyium aku tadi malam." Barbara membatin.
Barbara menatap Felix dengan tatapan semakin membunuh membuat Felix menyeringai.
Rasanya bahagia melihat perempuan didepan nya punya tatapan seperti dirinya.
"Udah deh Fel. Malas aku ladenin kamu. Batalin aja lah kontrak kita. Terserah deh kamu mau cabut nyawa aku kek, aku pasrah." Ucap Barbara malas.
"Aku nggak mau nyawa kamu. Aku ingin sesuatu yang berharga dalam diri kamu." Felix kemudian meraih pisau lipat dari saku celana nya dan menggunakan ujung pisau itu untuk menelusuri kening, hidung, bibir, hingga berhenti di dada Barbara.
"Ih mesum ya. Kamu pikir aku cewek apaan. Enak aja main minta. Aku cuma punya satu dan cuma mau aku kasih sama cowok yang aku cinta." Barbara menggeser tubuhnya menjauh sedikit dari Felix.
"Haha kita bisa lihat nanti Bar. Tapi aku yakin aku akan mendapatkan itu dari kamu dengan suka rela." Felix percaya diri dan semakin mendekat pada Barbara lalu menindih Barbara.
"Fel, berat tau." Barbara mencoba mendorong tubuh Felix, namun tidak berpindah sedikitpun.
"Say i love you to me." Felix memerintah lalu menekan sedikit ujung pisau nya pada leher Barbara.
"Ya Tuhan Fel. Kayaknya jiwa kamu benar-benar bukan jiwa manusia lagi yah." Barbara malah mengomeli Felix.
__ADS_1
"Katakan Barbara." Felix semakin menekan ujung pisau nya.
"Bunuh aku aja sekalian udah. Biar kamu puas." Barbara geram.
Dengan cepat Felix melepaskan pisau tersebut dan melempar nya sembarangan.
Barbara menatap benci pada nya.
"Maaf sayang. Aku terbawa suasana. Aku nggak sengaja." Felix membawa Barbara bangkit dari baring nya dan memeluk erat Barbara.
Barbara merasa sangat nyaman dan jantung nya sangat tidak bersahabat.
"Fel, kalo ada yang nyentuh aku selain kamu?" Barbara bertanya mengingat Frans yang mencium nya secara paksa tadi malam.
"Aku pasti nggak akan biarin orang itu hidup." Felix menjawab datar.
"Apa kamu akan memaksa aku meskipun aku nggak cinta sama kamu?" Barbara bertanya.
"Nggak akan. Aku nggak akan maksa kamu. Tapi jika kamu mau ngasih buat aku walau kamu nggak cinta sama aku, aku senang Bar." Ucap Felix penuh cinta lalu mengecup puncak kepala Barbara.
"Bar, aku pengen jadi yang pertama dan terakhir buat kamu." Felix membatin.
"Fel, gimana kalo aku bilang sekarang aku udah jatuh cinta sama kamu?" Barbara bertanya ragu.
Hening.
Felix ragu harus menjawab apa. Sesuai perjanjian, jika Barbara yang jatuh cinta duluan padanya maka Barbara harus menyerahkan nyawanya pada nya.
"Aku cinta sama kamu Fel." Barbara berucap tulus.
Kembali hening.
Jantung Felix sedang berlari marathon.
"Haha gimana? Terharu nggak? Aduh, ternyata akting aku nggak jelek yah." Barbara tiba-tiba tertawa.
"Barbara." Felix menggeram.
Tapi ia tidak sanggup untuk melukai Barbara dan malah memeluk Barbara semakin erat.
"Fel, kamu dekat yah sama Frans?" Barbara bertanya penasaran.
"Nggak terlalu." Felix melepaskan pelukan nya dan menatap Barbara curiga.
"Kalo dia berusaha deketin aku, kamu gimana?" Barbara bertanya penuh harap agar Felix memihak nya.
"Nggak akan aku biarin. Saling bunuh sama dia juga aku rela asal aku bisa menangin kamu." Ucap Felix menatap Barbara serius.
"Dia berbahaya Bar. Jangan dekat-dekat sama dia. Dia bahkan lebih berbahaya dari aku. Kamu nggak akan bisa nebak pikiran dia seperti kamu nebak aku. Dia selalu memakai topeng di depan orang lain." Felix menjelaskan tentang Frans.
Frans memang tampak lebih manis dari Felix, jika Felix berani membunuh secara terang-terangan, maka berbeda dengan Frans yang selalu memakai topeng dan kedok.
__ADS_1
Hal itu yang membuat Felix terlihat menakutkan, padahal yang lebih berbahaya adalah Frans.
"Tapi aku nggak takut sama dia." Barbara berucap percaya diri.
"Pokoknya jangan Bar. Please." Felix khawatir dan takut.
Frans memang selalu berusaha untuk bersaing dengan nya terutama dalam hal membunuh.
"Iya iya. Aku janji nggak dekat-dekat sama dia." Barbara berjanji pada Felix.
"Fel, hari ini aku nggak ada jadwal ya?" Barbara bertanya bingung.
Pasalnya dari tadi Felix tidak menyuruh nya bersiap atau sebagainya.
"Kamu nggak baca agenda yang udah aku kasih kamu kemarin?" Felix kesal.
Felix tidak suka pada orang yang ceroboh.
"Gimana mau baca? Agenda nya ketinggalan di ruangan kamu, gara-gara nyariin kamu tadi malam." Barbara menjawab tak kalah kesal.
"Siapa suruh?" Felix bertanya asal.
"Aku khawatir sama kamu Fel." Barbara merengek membuat jantung Felix kembali lari marathon.
"Hari ini kamu free. Tapi nanti malam kamu ada jadwal." Felix menjawab santai lalu turun dari ranjang nya.
"Malam?" Barbara bertanya curiga. Pikirannya sudah berkelana kemana-mana.
Felix tidak menjawab dan malah berjalan santai ke arah lemari pakaian nya.
"Jadwal apa Fel? Jangan bilang kamu mau jual aku yah? Aku nggak mau Fel. Aku rela ngasih kamu gratis deh daripada kamu jual aku sama bapak-bapak botak terus perutnya buncit." Barbara menyilangkan tangan nya didepan dada nya dan menatap Felix memelas.
"Aku udah bilang nggak ada yang boleh menyentuh kamu selain aku, jadi nggak mungkin aku jual kamu." Felix sibuk memilah pakaian yang cocok.
Pakaian yang dipilih adalah pakaian Barbara.
"Terus kenapa kamu yang mesti milih baju buat aku? Biasanya kan gitu, bos-bos yang mau jual cewek pasti mereka yang milihin baju buat tu cewek-cewek." Barbara menuduh asal.
"Pakai ini." Felix menyerahkan sehelai dress panjang dibawah lutut, berwarna hitam, dan belahan dada rendah.
Setelah itu Felix melangkah keluar dari kamar nya.
"Felix.." Barbara berteriak kesal sambil menghentakan kaki nya.
...~ To Be Continue ~...
********
Like dan komentar jangan lupa yah.
Makasih.
__ADS_1