Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)

Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)
Kamu hamil?


__ADS_3

"Sayang, ayo bangun!" Denio membangunkan Fera yang masih nyaman dengan tidurnya.


Tidak terasa seminggu lagi pernikahan mereka akan genap satu bulan. Kehidupan keduanya tidak ada gangguan yang terlalu berarti selama ini. Mereka juga menjalani pendidikan dan kehidupan rumah tangga mereka dengan baik dan seimbang.


"Nanti aja ya, aku ngantuk. Capek ini..." Fera merengek manja dan kembali menarik selimut. Denio tersenyum gemas, wajar jika istrinya kelelahan seperti itu. Pria itu tadi malam menggarap istrinya hingga tengah malam.


"Bukannya hari ini ada kelas ya? Ayo bangun! Kalo kamu enggak mau bangun, aku garap lagi ya!" Ancam Denio.


"Ih, nyebelin tau ga..." Fera akhirnya bangun dari tidurnya dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi sambil menghentakkan kakinya karena kesal. Denio tersenyum melihat tingkah lucu istrinya dan memilih menyiapkan pakaian Fera.


"Pakaian kamu udah aku siapin ya! Nanti langsung ke bawah aja" teriak Denio dan tanpa menunggu jawaban ia langsung turun ke bawah bergabung bersama Dean dan Kaina yang sedang menikmati sarapan mereka.


Kaina dan Dean pada akhirnya benar-benar tinggal bersama pengantin baru itu. Jadi Denio mau tak mau harus membayar seorang asisten rumah tangga untuk membantu mengurus Dean dan Kaina dalam beberapa hal. Denio sekarang sudah kembali bersekolah di sekolah umum berkat Kaina yang selalu meyakinkan dirinya.


"Hei, pada ngobrolin apa?" Suara seorang pria yang begitu familiar menyapa mereka.


"Papa..." Dean berlari dan langsung memeluk Felix yang tentu saja datang bersama Barbara. Pria itu tidak akan pernah bisa lepas dari istrinya lagi karena Barbara tidak akan mengijinkan hal itu sampai terjadi. Bukan posesif, Barbara hanya tidak ingin penyakit suaminya kambuh dan menggila lalu menghabisi nyawa orang lagi.


"Mama engga dipeluk nih?" Tanya Barbara memanyunkan bibirnya.


"Hehe, maaf Mama" Dean segera berhambur memeluk Ibunya.


"Dean, kamu sama Kaina hari ini berangkat sama Papa sama Mama ya. Terus malam ini pulang ke rumah kita, besok kan weekend. Nanti kak Nio sama kak Fera nyusul, besok kita adain pesta barbeque. Mau?" Barbara menatap putra bungsunya itu penuh harap.


"Em...iya deh" Dean mengangguk semangat.


"Papa, Mama..." Fera yang baru menuruni tangga pun langsung berlari berhambur memeluk kedua orang tuanya.


"Kangen..." Rengek Fera manja.


"Makanya kalo kangen itu pulang sesekali. Ini mentang-mentang pengantin baru, lupa mau pulang ke rumah" Barbara menggoda putrinya.

__ADS_1


"Kamu kayak enggak pernah ngerasain pengantin baru aja, sayang" Felix malah menggoda istrinya hingga Barbara tersipu malu. Jika dibandingkan dengan Fera dan Denio, jelas sekali mereka lebih gila sewaktu masih pengantin baru bahkan sebenarnya hingga sekarang.


"Pa, Dean sama Nana udah" Dean menghampiri Felix dan Barbara sambil menggandeng tangan Kaina. Felix bisa melihat sorot mata Dean saat menatap Kaina begitu dalam, tapi ia tidak ingin menyimpulkan terlalu cepat.


"Ya udah, kita berangkat ya. Nio, Fera, kami duluan ya" Felix berpamitan pada anak menantunya setelah itu pergi dari rumah Denio dan Fera bersama kedua anak remaja itu.


"Sayang..." Fera memeluk Denio yang sedang menikmati makanannya dari belakang.


"Kenapa?" Tanya Denio setelah mencuri satu ciuman dari istrinya.


"Bikinin aku oatmeal!" Fera mengedipkan matanya dengan ekspresi lucu.


"Bukannya engga suka yah? Kok tiba-tiba mau?" Tanya Denio bingung tapi tetap beranjak membuatkan istrinya sarapan sehat itu.


"Engga tau. Tiba-tiba aja pengen" Fera tersenyum manis pada suaminya.


"Ini, pelan-pelan makannya!" Denio menyerahkan semangkuk oatmeal dengan topping buah kiwi pada Fera.


"Enggak lah. Tapi apa iya yah? Kayaknya aku belum dapet tamu bulanan deh bulan ini" Fera tampak berpikir keras.


"Sayang, aku saranin nanti kamu beli testpack buat cek. Aku engga mau kamu sampe kenapa-kenapa kalo beneran hamil" titah Denio khawatir.


"Em, nanti pulang kuliah aku beli. Semoga aja sih," Fera tersenyum dan otaknya sudah membayangkan bagaimana jika ia benar-benar hamil dan sembilan bulan lagi ia akan menggendong seorang bayi mungil yang lucu.


"Udah selesai?" Tanya Denio seraya melirik jam tangannya.


"Em, udah" Fera meneguk susu miliknya setelah itu mereka pun segera berangkat ke kampus. Seperti biasa, Denio akan mengantarkan Fera lebih dulu karena rutenya memang seperti itu.


"Inget ya, nanti pulang jangan lupa beli testpack!" Peringat Denio sesampainya mereka di depan kampus Fera.


"Iya sayang.." Fera menjawab manja dan berinisiatif meraup bibir suaminya hingga ciuman panas mereka terjadi selama beberapa menit.

__ADS_1


"Love you" bisik Denio setelah pagutan mereka terlepas.


"Love you too my husband. Aku turun ya.." Fera kembali mengecup singkat bibir Denio kemudian turun dari mobil Denio. Seperti biasa, Denio baru akan pergi setelah memastikan istrinya benar-benar sudah masuk ke dalam area kampus.


"Apa benar Fera hamil? Tapi beberapa hari ini dia emang sedikit aneh sih, juga sering males-malesan gitu" Denio menggosok dagunya dengan telunjuknya. Sesampainya di kampusnya, ia pun segera turun dan berjalan memasuki ruang kelasnya.


"Kok sepi?" Gumam Denio saat mendapati ruang kelasnya tidak ada siapapun. Tidak ingin banyak pusing ia segera duduk di tempatnya. Terlihat seorang wanita memasuki ruang kelas itu dan segera mengunci pintu kelasnya.


"Ngapain kamu ngunci pintu?" Tanya Denio sinis.


"Biar engga ada yang gangguin kita berduaan" wanita muda itu berjalan dengan gaya menggoda seraya melepas kancing kemejanya.


"Anneth, pergi jauh-jauh dari aku atau kamu bakal menyesal seumur hidup!" Ancam Denio jengah dengan kelakuan Anneth. Wanita muda itu tidak pernah lelah untuk menggodanya.


"Akh...sepertinya sih aku engga bakal menyesal deh" Anneth duduk di atas meja Denio dan membuka lebar kakinya hingga memperlihatkan bagian dalam tubuhnya yang tidak mengenakan dalamann.


"Pe***ur! Kamu mau bugil sekalipun aku engga bakal tergoda sama badan kamu yang entah udah pernah dinikmati siapa aja" Denio mengambil tasnya dan memilih pergi dari wanita gila itu. Denio segera ke kamar mandi untuk mencuci mata dan wajahnya.


••••••••••


"Fera, kamu mau kemana setelah ini?" Tanya seorang lelaki berkacamata yang tiba-tiba duduk di samping Fera.


"Mau ke apotek beli testpack. Kenapa emang?" Fera menjawab santai. Ia tahu maksud teman sekelasnya itu mendekati dirinya.


"Engga kok. Lupa kalo kamu udah nikah" lelaki itu oun akhirnya keluar meninggalkan Fera karena memang kelas sudah selesai.


"Cemen. Makanya jangan coba-coba godain istri orang" Fera tersenyum jahil dan segera mengemaskan buku-bukunya. Setelah itu ia keluar dari ruang kelasnya dengan niat segera pergi ke apotek terdekat.


"Woi..j**ang!"


...~ TO BE CONTINUE ~...

__ADS_1


__ADS_2