Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)

Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)
Aku mau pisah.


__ADS_3

"Kenapa Bar lama sekali?" Felix dari tadi mondar mandir tidak jelas, khawatir karena Barbara masih belum kembali.


"Sialan." Felix teringat hari ini ada jadwal photo shoot yang di tangani Frans.


Segera ia melangkah ke ruang kontrol CCTV yang masih berada didalam ruangannya.


"Bajingan." Felix memaki saat ia melihat kekasihnya ditarik oleh Frans dan masuk kedalam lift.


Segera Felix pun belari keluar dari ruangan masuk kedalam lift, menekan tombol yang membawa nya para lobi perusahaan nya.


Setelah itu ia kembali masuk kedalam lift yang akan membawa nya menuju ruang bawah tanah.


Felix mencoba mencari keberadaan Barbara disetiap ruangan yang ada. Sial nya jika pintu ruangan sedang tertutup, suara dari dalam akan sangat sulit terdengar.


Felix tidak menyerah. Ia tahu Frans akan sekejam apa jika ia sudah menginginkan sesuatu, terutama itu adalah milik Felix.


Fokus Felix tertuju pada satu ruangan yang tampak mencurigakan.


Felix mendekati pintu itu, dan saat mencoba membuka pintu itu, ternyata terkunci.


Sekuat tenaga Felix menendang pintu tersebut dan dalam tendangan ke tiga pintu tersebut terbuka.


Yang ia lihat pertama kali adalah Barbara yang tidak mengenakan pakaian sama sekali dan banyak bekas merah di sana.


Tangan dan kaki nya di ikat di tiang-tiang sisi ranjang sehingga tampak membentuk huruf x.


Ditubuh Barbara terdapat beberapa goresan pisau yang masih baru.


"Fel.." Barbara memanggil Felix.


"Wow..adik. Mau bermain bersama?" Frans yang duduk tak jauh dari ranjang tempat Barbara terikat, sedang merekam tubuh polos Barbara.


Frans tidak mengenakan atasan.


"Bajingan." Felix menendang kuat kamera ditangan Frans.


Ia meraih pisau yang dipegang oleh Frans dan tanpa aba-aba ia menusuk perut Frans berulang kali.


Entah sakit atau tidak, tapi Frans hanya tersenyum sinis melihatnya tanpa sedikit pun membalas.


Felix tidak puas, tapi saat ini menyelamatkan kekasihnya lebih penting.


Felix mengambil paksa kamera dan ponsel milik Frans, kemudian ia menghancurkan semua nya.


Felix segera melepaskan ikatan Barbara secara hati-hati.


Ia mendekap erat tubuh Barbara.


"Maaf sayang. Maafin aku." Felix berucap penuh sesal.


Barbara hanya mampu menangis.


Felix segera membungkus tubuh Barbara dengan jas nya dan membawa Barbara segera ke mobilnya.


Segera Felix melajukan mobilnya kembali kerumah nya.


"Sial." Felix memukul kuat setir mobilnya beberapa kali.


Barbara hanya menangis dan memejam kuat matanya. Ia tahu setelah ini Felix pasti akan menghukumnya habis-habisan.

__ADS_1


Setelah sampai, Felix segera turun dari mobil nya lalu menggendong Barbara secara hati-hati menuju kamar nya.


Ia meletakkan Barbara dengan hati-hati diatas ranjang.


Barbara tidak berani menatap nya, dan lebih memilih menutup rapat matanya.


Felix kemudian meraih kotak obat diatas nakas nya kemudian dengan pelan ia mengobati luka Barbara yang dibuat oleh Frans.


"Bar, buka mata kamu." Felix memerintah dengan nada dingin.


Barbara tidak berani. Ia sangat takut. Walaupun Frans tidak menggempur nya, tapi tetap saja Frans sudah mencumbu nya.


"Barbara." Felix memerintah dengan sedikit membentak.


Akhirnya perlahan Barbara membuka matanya.


Pandangan nya langsung ditangkap oleh mata tajam Felix membuat Barbara dengan cepat kembali menutup mata nya.


"Buka mata kamu." Felix kembali memerintah.


Barbara kembali membuka matanya perlahan, pandangan Felix masih sama seperti tadi.


"Aku percaya sama kamu." Felix berucap lembut namun tidak dengan tatapan nya.


Barbara menggeleng pelan kepalanya. Tidak tahu harus berkata apa.


"Aku percaya sama kamu." Felix kembali berucap.


"Aku salah Fel. Kamu bisa hukum aku kalo mau. Aku yang salah." Barbara akhirnya bersuara.


Felix berjalan ke arah lemari, mengambil sehelai kemeja nya lalu memakaikan pada tubuh Barbara.


"Aku salah Fel. Aku nggak bisa jaga tubuh aku." Barbara berucap penuh sesal.


"Apa dia benar-benar sampe ngelakuin itu ke kamu?" Felix bertanya memastikan.


Jika pun itu benar-benar terjadi, Felix tidak punya pilihan lain selain menerima Barbara apa adanya. Ia sudah terlalu mencintai Barbara hingga ke sel-sel terkecil di tubuhnya.


Barbara menggeleng sebagai jawaban untuk Felix.


"Ya udah. Nggak ada yang harus disesali." Felix berucap lembut.


Felix kemudian menyentuh bibir Barbara sesekali mengusap nya.


Seketika ia menyambar bibir Barbara dengan lembut.


Barbara tidak keberatan jika itu adalah Felix.


"Aku mau kamu Bar." Pinta Felix disela aksi nya.


Barbara mendorong Felix menjauh. Tidak siap jika harus sekarang memberi Felix jatah.


"Aku nggak bisa Fel. Maaf." Barbara menolak dengan terpaksa.


Felix menatap tajam padanya.


"Kenapa?" Felix bertanya kesal.


Barbara tidak sanggup menjawab.

__ADS_1


"Oh, jadi bajingan itu lebih bisa muasin kamu. Iya?" Felix sembarangan menuduh.


Barbara masih tidak menjawab.


"Aku udah tau, nggak mungkin kalian tuh nggak ngapa-ngapain. Udah selama itu juga." Felix kembali menuduh sembarangan.


"Aku nggak nyangka ternyata kamu kayak gitu Bar. Kamu tega nyakitin aku. Aku udah tau sekarang, pasti kamu suka rela ngasih ke dia, iya kan?" Felix bertanya kembali menuduh.


"Nggak Fel, kamu udah salah ngira. Aku nggak gitu." Barbara akhirnya bersuara dan bangkit dari baring nya walau tubuh nya masih perih karena sayatan Frans.


"Halah. Ya iyalah semua cewek tuh sam kalo udah pernah ngerasa enak nya hal itu. Pasti gampang buat dimainin cowok manapun." Felix kembali berkata yang lebih menyakitkan.


Plak


Barbara melayangkan tamparan di pipi Felix.


"Kamu bisa nuduh aku apapun, tapi bukan berarti kamu bisa jatuhin harga diri aku sebagai perempuan." Barbara meneriaki Felix.


"Alah, sok suci." Felix meremehkan Barbara.


"Aku nggak sehina yang kamu katain." Barbara membela diri.


Felix tersenyum sinis menatapnya.


"Semua cewek sama kalo udah jatuh ke tangan Bajingan itu, nggak ada yang bisa disisain lagi." Felix kini membawa Frans kedalam pertengkaran mereka.


"Aku nggak." Barbara berteriak kesal.


Felix terdiam.


Barbara menitikkan air mata menatap benci pada Felix.


"Nggak usah drama. Kamu kan nggak pernah takut apapun, jadi nggak usah sok nangis gitu. Aku nggak bakal iba." Felix kembali berucap kata yang mengoyak hati Barbara.


"Kamu jahat Fel, kamu jahat." Barbara mendekati Felix dan memukul dada bidang Felix.


Felix mencekal tangan Barbara kuat.


"Nggak usah nyentuh aku dengan tangan kotor kamu. Nggak usah sok minta dikasihani juga." Felix mendorong Barbara dengan sedikit kuat.


"Bajingan kamu Fel. Kamu jauh lebih rendah dari Frans. Kamu rayu aku bilang cinta bilang nikah, tapi semua itu palsu. Semua itu cuma karena kamu pengen tubuh aku doang." Barbara memarahi Felix.


"Terus kalo iya emang kenapa?" Felix bertanya santai.


"Udahlah Bar, cewek kayak kamu diluar sana tuh banyak, jadi nggak usah kebawa perasaan." Felix meremehkan Barbara.


"Aku mau kita pisah." Felix berucap tiba-tiba.


Barbara melongo tak percaya mendengar perkataan Felix.


"Aku mau pisah." Felix menekan setiap kata nya.


...~ **To Be Continue ~...


********


Sabar, jangan tegang, jangan emosi.


Tungguin chapter selanjutnya.

__ADS_1


Like dan komentar jangan lupa. Makasih**.


__ADS_2