Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)

Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)
Fera diculik


__ADS_3

"Gimana putri saya bisa hilang?" Felix bertanya kepada dokter Dex dan mencengkeram kuat kerah jas dokter Dex.


"Maaf Tuan Felix, kami benar-benar nggak tahu. Saat kami datang buat cek keadaan Fera, dia udah nggak ada." Dex menjawab tanpa rasa takut namun dengan rasa bersalah.


"CCTV." Frans memberi usul.


"Ayo, saya arahkan ke ruang keamanan." Dokter Dex menawarkan diri.


Felix, Frans, dan Denio pun mengikuti langkah dokter Dex.


Lima menit kemudian mereka sampai di ruang keamanan rumah sakit itu.


"Minggir!" Denio dengan kasar mendorong petugas keamanan yang memantau CCTV itu hingga jatuh tersungkur.


Petugas keamanan itu ingin melawan namun dokter Dex mencegah.


Denio segera memeriksa rekaman CCTV beberapa jam yang lalu, tepatnya sejak ia meninggalkan rumah sakit.


"Pa, om Frans, lihat ini!" Denio menunjuk ke arah layar monitor yang menampilkan Fera dibawa oleh dua orang asing menggunakan kursi roda. Fera tak sadarkan diri dan kedua orang itu tidak terlihat jelas.


"Arah lain Nio!" Felix meminta Denio untuk memeriksa rekaman CCTV dari sudut lain.


Kini Denio memutar rekaman CCTV dari arah depan yang menampilkan wajah Fera.


"Mereka?" Frans bergumam dan mencoba mengingat sesuatu.


"SIALAN!" Felix memaki kasar lalu menendang sebuah kursi di samping Denio.


"Siapa mereka?" Felix kembali menggerutu karena wajah si pelaku penculikan tidak terekam jelas.


"Nggak, ini nggak mungkin. Fel, aku rasa mereka adalah Harvest dan Mario." Frans tidak sengaja melihat salah satu rekaman lain yang menampilkan mereka baru memasuki rumah sakit itu.


Wajah Harvest dan Mario terekam meski kurang jelas.


"Mereka lagi dan kali ini putriku? Benar-benar cari mati!" Felix menggeram.


Felix segera keluar dari ruang keamanan itu diikuti Frans dan Denio.


"Jadi, apa yang bakal kita lakuin buat nyelamatin Fera?" Denio meminta penjelasan.


"Sebuah rencana! Kalian pasti nggak lupa tentang Ronald yang membeli Adela dengan jumlah uang yang fantastis tiga belas tahun yang lalu kan? Mereka kali ini nekat cari mati pasti karna uang." Felix menjawab dengan yakin.


Frans dan Denio mengangguk paham.


Mereka pun segera kembali ke rumah.


Saat mereka sampai di rumah, ternyata Barbara masih terjaga di ruang keluarga.

__ADS_1


Barbara yang melihat kedatangan ketiga lelaki berbeda generasi itu pun langsung menghampiri Felix.


"Kenapa lama?" Barbara bertanya khawatir dan langsung memeluk erat suaminya.


"Maaf sayang, tadi kami baru dari rumah sakit. Fera ternyata diculik." Felix menjawab dengan setenang mungkin.


Barbara terkejut mendengar putrinya diculik.


"Nggak, nggak mungkin Fera. Kenapa anak-anakku harus ngalamin hal-hal menyakitkan kayak gini?" Barbara melepaskan pelukannya dari Felix dan menjauh seperti orang linglung.


Ia terduduk lemas di sofa sambil menahan suara tangisnya agar tidak pecah.


Felix langsung menghampiri istrinya dan memeluk erat.


"Apa salahku Fel? Apa salah anak-anak kita? Kenapa mereka yang mengalami semua hal buruk ini?" Barbara bertanya dengan suara tercekat dan berusaha membekap mulutnya pada dada Felix.


"Sstttt..jangan nangis dulu. Aku yakin Fera kuat. Kita akan temuin dia secepat mungkin. Pelakunya itu orang-orang pengecut, aku yakin kita bisa menemukan mereka dengan mudah." Felix berusaha menenangkan istrinya.


Denio mengepalkan tangannya kuat melihat Barbara begitu terluka, sedangkan Felix memberi kode pada Frans untuk naik ke atas dan memantau Dean dan Jacob agar jangan sampai mereka bangun dan mendengar hal buruk ini dulu.


"Orang-orang pengecut? Kamu tahu siapa pelakunya?" Barbara kin menghapus air matanya dan menatap suaminya bingung.


"Harvest dan Mario yang udah culik Fera. Aku yakin mereka lakuin ini demi uang." Felix masih memeluk erat Barbara.


"Mereka cari mati Fel!" Barbara menggeram.


"Nggak! Biar aku dan Denio yang lakuin!" Felix menolak keras permintaan Barbara.


"Fel, semua kekacauan ini awalnya dari aku. Biarkan aku yang hukum mereka! Mereka nggak akan kapok kalo dihukum dengan hukuman penjara." Barbara bersikeras dengan keinginannya.


Felix kini menatap lekat sepasang manik teduh yang menyimpan sejuta luka juga tersirat amarah dan kebencian di sana.


"Maaf sayang, aku nggak bisa jadi suami dan Papa yang baik untuk lindungi kalian." Felix mengecup lembut kening istrinya.


"Kamu akan jadi yang terbaik kalo ngijinin aku buat menghukum mereka!" Barbara masih kekeh dengan keinginannya.


"Okay, aku ijinin kamu. Tapi kamu harus janji akan baik-baik aja!" Felix mengalah.


Barbara mengangguk.


"Kita harus susun rencana! Aku nggak mau libatkan polisi lagi." Felix melepaskan pelukannya dan duduk di samping Barbara.


Denio juga ikut duduk di samping Felix.


Dengan segera merek menyusun rencana untuk menjebak Harvest dan Mario.


•••••••••••••••

__ADS_1


BYURRRR


Seseorang menyiram wajah pucat Fera dengan kuat menggunakan air dingin.


Uhuk uhuk


Fera terbatuk karen terlalu tiba-tiba menghirup air yang disiramkan kepadanya barusan.


Fera mencoba membuka matanya dengan susah payah dan mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan dengan cahaya di dalam ruangan itu.


Fera terikat pada sebuah kursi di dalam satu ruangan kosong.


"Siapa kalian?" Fera bertanya dengan tidak menunjukkan rasa takut nya.


Harvest dan Mario tertawa. Mereka menutupi wajah mereka dengan topeng.


"Ternyata kamu cantik banget ya setelah dewasa. Beruntung banget Papa sialan kamu itu nggak jadi bunuh kamu." Harvest mendekat dan membelai wajah cantik Fera.


"Liat kamu, aku jadi inget body sexy Mama kamu yang nggak sempet kami cicipi." Kini Mario yang mendekat dan membelai rambut Fera dari belakang.


"Apa mau kalian hah? Lepasin aku! Kalian nggak tau kalian sedang berhadapan dengan siapa!" Fera berteriak lantang tanpa rasa takut.


"Siapa? Siapa yang kami hadapi? Papa psikopat kamu yang bahkan tega mau bunuh darah dagingnya? Haha kayaknya jiwa psikopat nya udah lama tenggelam deh.." Harvest meremehkan.


"Siapa yang kalian maksud? Siapa yang mau Papa bunuh?" Fera menjadi tidak tenang dan penasaran.


"Kamu! Kamu nggak tau kan, waktu kamu masih berbentuk janin, Papa psikopat kamu itu sangat tidak menginginkan kamu. Dia beberapa kali mencoba membunuh kamu. Untungnya kita yang bantu Mama kamu sampe bisa berhasil kabur." Mario menambah cerita yang tidak benar.


"Papa nggak mungkin kayak gitu. Papa sayang sama aku, sama Mama, sama Dean." Fera menggeleng menolak cerita Mario.


"Sayang? Ya iya sekarang dia kelihatan sayang. Semua itu palsu! Papa kamu lakuin semua itu karna harta peninggalan kakek kamu yang melimpah. Kamu tau? Papa kamu juga yang udah bunuh orang tua Mama kamu. Setelah itu dia, melimpahkan kesalahan sama om ini. Sekarang dia udah dapat yang dia mau, wajar dia bersandiwara. Kamu hanya nggak tau aja dia gimana di belakang kalian." Harvest kembali mengarang cerita.


Fera menggeleng kuat berusaha menolak cerita yang didengarnya.


"Nggak, nggak mungkin. Papa nggak kayak gitu." Fera kini terisak dan menangis.


Harvest dan Mario saling memandang dan tersenyum puas.


"Kamu tenangkan diri kamu aja dulu, nanti om pasti bebasin kamu buat interogasi Papa kamu yang baik itu." Harvest mengajak Mario meninggalkan Fera sendiri.


"Papa..nggak mungkin kan Papa kayak gitu? Papa sayang sama keluarga Papa kan? Sayang sama Fera sama Dean. Terutama sama Mama." Fera berguma seolah berbicara pada Felix.


...~ TO BE CONTINUE ~...


#####


__ADS_1


__ADS_2