
Empat Tahun Kemudian
"Mama, Papa bangun!" Fera yang kini sudah berusia hampir lima tahun membangunkan kedua orang tuanya dengan cara menepuk-nepuk wajah kedua orang tuanya.
"Aduh Fera, bentar lagi yah..Mama masih ngantuk." Barbara mengeluh dan malah memeluk Fera yang berada ditengah mereka agar Fera tidak bergerak.
"Ih..Mama sama Papa kok malas sih? Katanya mau ajakin Fera ke pantai?" Fera menggerutu sebal.
Fera sudah sangat lancar berbicara, bahkan terkadang cenderung seperti orang dewasa.
"Bentar lagi sayang, pantai nggak ada yang buka pagi gini." Kini yang Felix yang berbicara.
"Emang ini udah jam berapa? Ini tuh udah jam sembilan. Om Frans ama tante Tas mesum aja udah siap nungguin dibawah." Fera kembali menggerutu sebal.
Fera ketularan Frans memanggil Tasya dengan sebutan Tasya mesum.
"What? Jam sembilan? Ya udah, kamu turun! Papa sama Mama siap-siap." Barbara dan Felix tersentak dan bangun secara bersamaan.
"Awas lama." Fera mengancam kedua orang tuanya dan turun dari ranjang mereka lalu berjalan keluar dari kamar.
Fera berjalan turun dari kamar kedua orang tuanya sambil menggerutu.
"Kenapa sih orang tua tuh suka banget bangun siang? Padahal kan nggak baik."
"Ada apa sih? Sicantik nya om kok ngomel-ngomel?" Frans bertanya gemas lalu
"Itu loh, Papa sama Mama bangunnya telat. Padahal kan udah janji sama Fera mau ke pantai. Om sama tante Tas mesum aja bangunnya pagi banget." Fera mengadu pada Frans.
Barbara memang meminta Frans dan Tasya tinggal bersama dengan mereka sebulan setelah Frans dan Tasya menikah.
Frans dan Tasya belum di karuniai momongan hingga saat ini, namun hal tersebut tidak mengurangi sedikitpun rasa cinta mereka.
Frans dan Felix membantu Barbara membangun kembali perusahaan peninggalan Ayah Barbara yang sudah hampir bangkrut akibat ulah Harvest dan Mario.
"Ya udah, jangan ngambek gitu ah, entar cantiknya luntur loh. Mungkin Papa sama Mama Fera tadi malam habis kerja, makanya sekarang kesiangan." Frans mencoba membujuk keponakannya.
"Iya deh iya. Tante Tas mesum bawa apa itu?" Fera melihat Tasya menenteng sebuah box berukuran sedang.
"Ini makanan. Kita kan nanti mau piknik di pantai." Tasya menjelaskan.
"Ooo." Fera mengangguk paham.
"Udah om, lepasin! Fera kan udah gede. Bentar lagi masuk TK." Fera meminta lepas dari gendongan Frans.
Frans menurut dan menurunkan Fera.
Fera berdiri diantara Frans dan Tasya untuk menunggu kedua orang tuanya.
"Tuh kan, lama lagi." Fera kembali menggerutu.
__ADS_1
"Iya yah, jangan-jangan tuh anak berdua lagi bikin dikamar mandi." Frans berbisik pada Tasya.
"Po*n* mulu pikirannya. Nggak ada yang lain apa selain mesum?" Tasya mengomeli suaminya.
Frans hanya terkekeh.
Tak lama kemudian yang ditunggu pun muncul.
"Tuh kan bener, habis bikin mereka. Ngos-ngosan tuh." Frans kembali berbisik pada Tasya.
Tasya mendelik tajam pada suaminya.
"Udah, yuk." Felix langsung menggendong Fera.
Mereka pun berjalan keluar dan masuk kedalam mobil
Frans memilih menjadi sopir, Felix duduk di sampingnya. Tasya dan Barbara juga Fera duduk di belakang.
Frans pun menjalankan mobilnya perlahan menuju ke satu pantai yang sudah di pilih Fera beberapa hari lalu.
"Papa sama Mama kenapa sih suka bangun siang?" Fera bertanya menyelidik juga penasaran.
"Em..itu..am..Mama sama Papa olahraga malam harinya biar sehat." Felix menjelaskan dengan salah tingkah.
"Oohh..terus kapan Fera punya adik?" Fera bertanya antusias.
"Nanti." Barbara menjawab singkat dan tersipu malu.
Fera hanya diam dan memasang wajah cemberut.
"Ya udah, nanti adiknya dari om Frans sama tante Tas mesum mau?" Frans membujuk keponakan nya.
"Boleh deh, kan tetap adik juga." Fera akhirnya ceria kembali.
Mereka pun bergurau senda sepanjang perjalanan hingga sampai di pantai tujuan mereka.
Mereka satu persatu turun dari mobil.
"Yey..." Fera bersorak kegirangan dan langsung berlari ke arah pantai.
Barbara segera mengejar putrinya.
"Jangan terlalu kesana Fera, ombaknya kuat." Barbara mengingatkan putrinya dan Fera menurut.
Untuk saat ini, Fera adalah anak yang penurut.
Sambil menemani Fera, Barbara melihat-lihat sekelilingnya yang cukup ramai.
Kemudian pandangan Barbara menangkap seorang pria yang berdiri agak jauh dari mereka dan terus memperhatikan mereka.
__ADS_1
"Mario?" Barbara bergumam khawatir.
Barbara segera menggelengkan kepalanya untuk menepis pikiran buruknya.
"Dia kan di penjara, nggak mungkin bisa di sini." Barbara kembali bergumam.
"Mama, fotoin Fera." Fera berteriak semangat.
Fera memang sangat suka difoto, sepertinya Fera mempunyai bakat menjadi photo model sejak kecil.
Barbara menurut dan mulai memotret Fera dengan berbagai gayanya menggunakan ponselnya yang ia genggam dari tadi.
"Ciah..anak Papa bergaya aja." Felix langsung mengangkat anaknya dan Barbara tetap memotret mereka.
"Om Frans sama tante Tas mesum juga ikut." Frans dan Tasya berlari lalu bergabung bersama Felix dan Fera, Barbara masih sebagai fotografer.
"Sayang, kamu juga ikut dong." Felix menarik Barbara untuk ikut bersama dan berfoto.
Akhirnya Barbara menggunakan kamera depan untuk berselfie bersama.
Selesai berfoto, Fera lebih memilih bermain ombak bersama Frans dan Tasya.
Felix menggunakan kesempatan yang ada untuk bermadu kasih dengan istrinya dan duduk di tepi pantai.
"Fel, aku kayak liat ada Mario disana." Barbara menunjuk ke arah pria yang masih berdiri di tepi pantai dan terus menatap ke arah mereka.
Barbara tidak menunjuk secara terang-terangan agar yang ditunjuk tidak curiga, dan Felix juga tidak melihat secara terang-terangan.
"Kamu jangan banyak mikir sayang, mungkin cuma mirip aja. Lagian dia kan masih dipenjara." Felix menenangkan istrinya.
"Apa benar kita udah bahagia? Apa bisa kebahagiaan kita saat ini bertahan terus sampe nanti?" Barbara bertanya khawatir.
"Sayang, percaya sama aku. Kebahagiaan kita pasti bisa bertahan. Aku nggak akan biarkan siapapun merusak kebahagiaan kita. Nggak akan pernah." Felix menjawab optimis.
"Tapi kita nggak pernah tau kedepannya gimana? Kamu sendiri tau kan kalo Harvest masih berkeliaran diluar sana. Bisa aja dia merencanakan sesuatu yang akan membahayakan kita semua." Barbara mengutarakan kekhawatiran nya.
Felix menangkup wajah istrinya.
"Sayang, percaya sama aku! Aku nggak akan pernah biarin siapapun buat rusak kebahagiaan kita. Aku bakal jagain kalian dan aku nggak sendiri karena aku punya Frans, kakak aku. Dan Frans pasti jagain kalian dan juga istrinya, begitupun aku." Felix berusaha menenangkan istrinya.
Barbara mengangguk.
"Makasih ya sayang. Kamu udah mau berjuang menjadi suami dan Papa yang baik untu aku sama Fera." Barbara memeluk Felix.
"Iya...aku juga ... "
"Woi..kesini kek..romantisan melulu." Frans berteriak membuat ucapan Felix terhenti.
Akhirnya ia dan Barbara pun berlari dan bergabung dengan ketiga orang tersebut.
__ADS_1
...~ TO BE CONTINUE ~...