Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)

Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)
Mengajak Bicara


__ADS_3

"Barbara sayang." Frans menyapa Barbara dari balik pintu sambil membuka pintu ruangan inap Barbara.


Sudah tiga hari Barbara dirawat, kini ia tampak lebih segar dan mulai bisa tersenyum.


Setelah membuka pintu, Frans mengangkat tinggi kantong belanjaan nya.


"Apaan sih?" Barbara bertanya sambil tertawa kecil.


"Tuh kan cantik." Frans memuji sambil mengeluarkan makanan yang ia beli tadi untuk sarapan Barbara.


Barbara tersenyum melihat tingkah konyol Frans yang tidak seperti awal ia bertemu dengan nya.


"Nggak usah senyum gitu. Nanti aku gigit loh." Frans berkelakar.


"Gigit udah Frans. Pasrah aku." Barbara pun berkelakar namun hati nya masih terluka.


"Kalo aku udah gigit, nanti ujung-ujungnya menjalar kemana-mana. Mau kamu?" Frans bertanya iseng.


"Apaan sih? Mesum aja." Barbara kembali tertawa kecil.


Selama tiga hari ini Frans lah yang mengurus dan merawat nya dengan baik.


Frans melakukan semua nya sendiri, bahkan memandikan Barbara pun ia lakukan.


Tidak ada niatan kotor, dan Barbara mengijinkan nya karena saat ini memang Barbara tidak punya siapapun di samping nya.


Ia tidak ingin mengabari orang tua nya karena tidak ingin mereka bersedih dan marah.


"Ini makan." Frans memberikan makanan yang ia bawa tadi untuk Barbara.


"Makasih." Barbara menerima makanan itu dengan tersenyum.


"Hei, baby nya Papa Frans. Apa kabar kamu hari ini?" Frans berjongkok di samping ranjang Barbara dan berbicara pada janin nya sambil mengelus lembut perut Barbara yang masih rata.


Barbara tersenyum sakit.


"Seandainya yang kayak gini itu kamu Fel." Barbara membatin.


"Enak aja baby kamu. Ini baby aku." Barbara berkelakar menyanggah perkataan Frans.


"Baby kita deh kalo gitu." Frans kembali berkelakar.


"Enak aja. Makanya bikin sendiri yang benaran punya kamu." Barbara menggoda nya.


"Iya, bikin nya entar. Kalo Mama Bar udah sembuh. Bikin dedek buat baby yah." Frans berucap asal sambil masih mengelus perut rata Barbara.


Barbara nyaman dengan perlakuan Frans yang seperti ini, tapi ia sadar bukan Frans yang ia inginkan untuk bersikap manis seperti ini.


"Kamu nggak makan?" Barbara bertanya bingung.


"Nggak. Udah kenyang lihatin kamu." Frans menjawab santai sambil bangkit berdiri lagi.


Barbara hanya tersenyum meledek.


Barbara memakan makanan nya dengan susah payah, entah kenapa kehamilannya membuatnya sangat susah untuk memakan sesuatu, bahkan itu adalah makanan kesukaan nya sekalipun.


"Katanya udah kenyang?" Barbara bertanya meledek saat melihat Frans mengeluarkan kotak makanan miliknya.


"Ya nggak lah. Emang kamu itu apaan? Bisa bikin orang kenyang cuma dengan lihatin kamu doang. Nggak lucu." Frans malah balik meledek Barbara.


Barbara menatap tajam padanya.

__ADS_1


Frans duduk di kursi samping ranjang Barbara dan menyantap makanan nya.


"Gimana? Masih bisa makan? Atau mau ganti yang lain aja?" Frans bertanya khawatir saat melihat Barbara sangat susah memakan makanan nya.


Barbara menggeleng.


"Nggak usah. Ini aja udah. Lagian kamu tau sendiri dari kemarin, mau makan apapun juga aku rasanya hambar di mulut." Barbara menjawab sambil mengangkat sedikit kotak makanan nya.


Mereka kemudian melanjutkan kegiatan sarapan mereka hingga makanan mereka habis.


"Nih." Frans memberikan air mineral untuk Barbara.


Barbara menerima dengan senyuman.


Frans membersihkan sisa makanan dan kotak makanan bekas mereka lalu membuang nya di tong sampah.


"Gimana? Ngerasa mau muntah?" Frans bertanya siaga, pasalnya dua hari kemarin Barbara selalu mengeluarkan apa saja yang masuk kedalam perutnya.


"Belum ada tanda-tanda." Barbara menjawab pelan sambil menaruh minuman nya di atas nakas.


Frans mengangguk, ia lalu kembali duduk di kursi samping ranjang Barbara.


"Bar, kamu ngijinin aku buat coba ngomong sama Felix kan?" Frans bertanya pelan.


Barbara sudah menceritakan masalah sebenarnya pada Frans.


"Nggak usah Frans. Kalo dia emang niat, pasti kemarin juga dia udah ngejar aku. Dia aja nggak ada niatan ngejar walaupun dia nggak mau bayi ini, tapi kalo dia mau bertahan sama aku, aku nggak masalah mesti rawat bayi ini sendirian." Barbara menjawab pelan menahan sakit yang amat sangat dihati nya.


"Makanya aku coba ngomong sama dia." Frans memberi usul.


"Aku aja nggak mau dia dengar, apalagi kamu yang dari awal cuma selalu jadi saingan nya." Barbara meremehkan Frans.


"Nggak ada salahnya juga nyoba." Frans masih kekeh dengan pendiriannya.


Barbara mengangguk pasrah.


"Ya udah. Kamu tunggu di sini yah." Frans bangkit dari duduk nya, mengecup sayang kening Barbara lalu keluar dari ruangan itu.


Segera ia berjalan untuk mencapai mobil nya, tujuan nya adalah Felix.


Memakan waktu satu jam lebih untuk sampai di rumah Felix, padahal ia sudah mengendarai mobil nya dengan kecepatan penuh.


Sampai dirumah Felix.


Tampak sepi, tidak ada pengawal yang berjaga jadi dengan mudah ia bisa menerobos masuk kedalam rumah Felix.


"Felix." Frans berteriak memanggil nama adik tiri nya.


Felix yang baru saja keluar dari ruangan kerjanya, langsung menatap tajam pada Frans yang berada di ruang utama rumah nya.


Felix turun dan melewati Frans dengan santai dan duduk di sofa.


"Kamu sebenarnya cinta nggak sih sama Barbara?" Frans bertanya kesal sambil mengepal kedua tangannya kuat.


"Bukan urusan mu." Felix menjawab santai.


"Barbara dirumah sakit sekarang." Frans memberi tahu yang sebenarnya.


"Kenapa? Aborsi? Baguslah." Felix menjawab dengan sangat santai.


"Kok tega sih?" Frans masih mencoba menahan amarah nya.

__ADS_1


"Masalah aku sama dia, nggak perlu kamu ikut campur. Paling nanti juga dia balik lagi dan nurut buat gugurin tu kandungan nya." Felix tidak menatap wajah Frans saat berbicara.


"Bangsat. Kamu tahu nggak sih hamil bagi seorang wanita itu berapa besar makna nya?" Frans mulai habis kesabaran.


" Yang jelas nggak ada artinya buat aku." Felix masih menjawab santai.


"Bangsat."


Bugghhh


Frans melayangkan bogeman mentah diwajah Felix.


Felix juga membalas tak kalah kuat.


"Alah, nggak usah sok baik. Kamu pun kalo di posisi aku, pasti lakuin hal yang sama." Tukas Felix.


Mereka masih saling menghajar.


"Aku mungkin emang nggak punya hati yang lembut, tapi aku nggak pernah bunuh anak kecil apalagi kalo anak itu adalah darah daging ku sendiri." Frans menghantam wajah Felix dengan sangat kuat hingga Felix terkapar tak berdaya.


Segera Frans pun memilih meninggalkan rumah itu.


"Sialan." Frans memukul kuat setir mobil nya.


Segera ia melajukan mobilnya kembali kerumah sakit.


Tak lama kemudian ia sampai.


Ia tidak lagi peduli pada kondisinya yang babak belur.


Yang ada diotak nya hanyalah Barbara. Segera ia melebarkan langkahnya menuju ke kamar Barbara.


Ceklek


Ia memutar handle pintu dan mulai melihat Barbara yang sedang duduk sambil menatap keluar jendela.


Segera ia menghampiri Barbara dan memeluk nya erat.


"Bar, maafin aku."


Barbara tersentak malah membalas pelukan nya.


"Frans, kamu nggak papa? Minta maaf buat apa sih?" Barbara bertanya lembut sambil mengusap punggung lebar nya.


"Aku gagal bawa Felix buat kamu. Dia bahkan sama sekali nggak peduli sama kamu." Frans menjawab jujur.


Barbara menghela nafas kasar. Ia tidak lagi menangis walau hatinya kembali terluka.


"Udah ah. Aku juga udah bilang, dia nggak peduli." Barbara berusaha kuat.


Frans melepas pelukan nya.


"Kamu yang kuat yah, aku janji bakal jagain kalian." Frans mengelus pipi Barbara.


Barbara hanya mengangguk, tidak tahu harus menjawab apa.


Ia kembali memeluk Barbara.


"Jangan sampe kamu terlambat menyesal Fel." Frans membatin.


...~ **To Be Continue ~...

__ADS_1


********


Like dan komentar jangan lupa. Makasih**.


__ADS_2