
"Aku nemuin ini." Sir Erick memberikan sebuah benda kecil pada Barbara sambil mengatur nafasnya yang tidak beraturan.
Barbara menerima benda kecil tersebut dan memperhatikan dengan seksama.
"Ini kamera?" Barbara bertanya memastikan.
Sir Erick mengangguk.
"Kayaknya udah nggak nyala, tapi mungkin filenya masih ada." Sir Erick menimpali.
Barbara segera kembali kesamping Felix.
"Sayang, aku pinjam laptop kamu." Barbara meminta ijin dan mengambil laptop Felix dari tas kerjanya.
Barbara segera menyambungkan kamera tersebut dengan laptop Felix.
"Masih bisa dibuka Sir." Barbara berkata pada Sir Erick.
Sir Erick diikuti Frans dan Tasya pun segera merapat.
Barbara mencoba mengklik langsung file pada tanggal saat kejadian orang tuanya terbunuh.
Barbara langsung mengklik waktu kejadian di sore hari.
__Isi Rekaman
"Pa, Ma please kasih aku satu kesempatan untuk berubah. Aku mohon." Felix meminta dan bersimpuh dikaki Fanco.
Kala itu Fanco masih duduk tegak bersama Kimberly.
Fanco sigap menendang Felix hingga Felix tersungkur.
"Kesempatan kesempatan dan kesempatan. Orang gila kayak kamu akan selalu meminta kesempatan, tapi akhirnya tetap aja nggak berubah." Fanco menghina Felix.
Felix tersulut amarah, tangannya meraih pisau kecil dari dalam saku celananya.
Ia masih menahan diri untuk tidak menyerang Fanco.
"Pa, aku mohon." Felix meminta sekali lagi.
"Diam. Mulut sampah seperti kamu nggak berhak panggil aku Papa." Fanco kembali menghina Felix.
Felix geram dan bangkit dari posisinya yang tadi masih duduk dilantai.
SReet
Ia menggores wajah Fanco dengan pisaunya.
"Felix." Kimberly berteriak histeris melihat Felix mulai menyerang suaminya.
"Orang gila? Mulut sampah? Aku tunjukkan apa itu orang gila dan seperti apa itu orang gila?" Felix menggerutu dan memojokkan Fanco dengan cekikan.
"Fel..ix lepas.." Fanco memukul tangan Felix yang mencekiknya.
Felix melepaskan tangannya dan mulai merasakan sakit dikepalanya.
"Arghh." Felix mengerang.
Ia kemudian mengambil ponselnya dari saku dan tampak mengetik sesuatu. Setelah selesai, ia menyimpan ponselnya kembali kedalam saku.
__ADS_1
"Fel, mama mohon jangan kayak gini." Kimberly meminta dengan memelas pada Felix.
Felix mengabaikan dan kembali menyerang Fanco.
Sret srett
Felix kembali menggores pisaunya pada tubuh Fanco.
Ia kembali mencekik Fanco. Fanco meronta untuk lepas, dan mencakar lengan Felix.
Felix melepaskan kembali cekikan nya, bukan karena sakit pada bekas cakaran Fanco, tapi karena ia masih setengah sadar dan berusaha mengontrol dirinya.
BRAAKK
Felix memilih membalikkan meja didekat nya.
"Arghh." Felix kembali mengerang kesakitan dan memegangi kepalanya.
Ia langsung pergi dari rumah itu.
"Sayang bertahan." Kimberly mencoba meraih ponselnya dan menghubungi dokter.
Sayangnya keadaan tidak berpihak padanya, berulang kali ia melakukan panggilan tapi tidak ada satupun yang dijawab.
"Aku obati sendiri aja." Kimberly bergumam lalu mengalas kepala Fanco dengan bantal sofa.
Ia kemudian berlari kedalam untuk mengambil kotak obat.
Terlihat Mario masuk sebelum Kimberly kembali.
"Oh wow..rupanya Tuan sedang sekarat." Mario berbicara seolah mengejek.
Bukan membantu, Mario malah berdiri dan mengeluarkan sepasang sarung tangan plastik dari dalam saku jasnya dan mengenakan di tangannya.
"Tuan, sangat sayang kalo Tuan masih harus hidup dan kemudian tersiksa. Lebih baik Tuan segera pergi agar saya dan Harvest bisa lebih cepat menikmati harta Tuan yang berlimpah." Mario mengeluarkan sebuah pisau lipat yang berukuran sedikit lebih besar dari yang dipakai Felix tadi.
"Biar saya bantu Tuan." Mario langsung menancapkan pisau yang ia pegang pada dada Fanco, menekan pisau tersebut lalu menyeretnya sedikit kebawah.
Ia mengulangi hal yang sama pada area lambung Fanco, dan mulut Fanco mengeluarkan darah.
Mario tersenyum sinis.
"FANCO" Kimberly yang baru kembali langsung berteriak histeris.
Ia menjatuhkan kotak obat dari tangannya dan langsung berlari menghampiri suaminya dan membawa suaminya berbaring diatas pahanya.
"Sa..yang pergi..su..ruh Bar pergi.." Titah Fanco tertatih.
Bodohnya Kimberly malah membaringkan Fanco dilantai dan menampar Mario.
"Orang gak tau diuntung. Udah baik suami saya mau mengambil kamu bekerja dengan dia dari kantor kamu yang pailit itu. Sekarang ini balasan kamu." Kimberly memaki Mario.
Mario yang merasa terhina langsung mencekik Kimberly.
"Tadinya aku mau biarin anda hidup. Tapi mulut anda sangat beracun. Anda tau, saya direkrut oleh suami anda karena memang kinerja saya yang bagus. Tapi dia hanya menghargai kami dengan gaji yang tidak seberapa dan fasilitas sederhana yang tidak sesuai dengan kinerja kami yang besar." Mario menekankan setiap katanya.
Kimberly meronta dan memukul tangan Mario meminta lepas, namun sayangnya Mario terlanjur gelap mata.
Ia kemudian melakukan hal yang sama dengan apa yang ia lakukan tadi pada Fanco.
__ADS_1
"Enyah kalian ke neraka." Mario meludahi wajah Kimberly lalu menyeret kaki Kimberly dan memposisikan Kimberly berbaring sejajar dengan Fanco.
Mario mengeluarkan ponselnya dan memotret Fanco dan Kimberly yang sudah tak berdaya namun masih sedikit bernyawa.
Setelah itu ia tampak menghubungi seseorang.
"Setengah jam lagi bawa polisi kesini. Bagian ku udah selesai dan bahkan lebih dari yang kamu suruh." Mario pun mengakhiri panggilannya dan menyimpan kembali ponselnya.
Ia tersenyum sinis melihat dua orang tua yang tak berdaya itu.
"Selamat tinggal." Mario pun berlalu dari rumah itu membawa serta pisau yang ia gunakan tadi.
__Rekaman selesai.
Barbara memilih mematikan rekaman tersebut dan tidak ingin melanjutkannya.
Amarahnya meluap bersamaan dengan air mata yang mengalir.
Felix segera memberikan baby Fera pada Tasya dan meminta Tasya membawa baby Fera kekamar.
Tasya menurut dan segera pergi.
Felix la langsung memeluk istrinya.
"Kenapa? Kenapa mereka harus bunuh Papa sama Mama? Mereka jahat Fel." Barbara berucap getir.
"Yang kuat sayang. Setelah ini mereka akan dihukum." Felix menenangkan istrinya.
"Maaf. Harusnya aku nggak lukain Papa kamu waktu itu, jadi nggak akan bisa kasih mereka celah." Felix merasa bersalah.
"Kamu sakit Fel. Tapi mereka? Karna harta mereka bunuh orang tua aku. Padahal kalo mau, semua bisa dibicarakan." Barbara semakin menangis.
"Bar, bukti ini cuma cukup buat menyeret Mario, karna cuma dia yang ada didalam rekaman ini. Dan sepertinya Harvest bermain rapi dan menggunakan Mario sebagai kambing hitam." Ucap Sir Erick.
"Hukum Mario seberat mungkin. Tapi sebelum itu, aku perlu kasih dia kejutan ini." Barbara melepas pelukan dari Felix dan menyeka air matanya.
"Kejutan?" Sir Erick begumam.
"Em. Kejutan." Barbara berucap datar.
Sir Erick hanya mengangguk.
"Jadi si Tas mesum nggak perlu tinggal sama aku lagi kan?" Frans bertanya dengan polos seolah tak sadar keadaan.
"Untuk sementara harus. Aku nggak mau ketika kita lengah, Tasya juga jadi korban." Ucap Barbara.
Frans membulatkan matanya.
"Pasrah, pasrah udah. Kalo bukan karna aku sayang sama kamu, nggak mau aku nampung si Tas mesum." Frans menggerutu sebal.
"Bantu aku atur semuanya Fel." Barbara bertitah lembut pada suaminya.
Felix hanya mengangguk mengiyakan.
...~ To Be Continue ~...
#####
Part ini nyambung gak sih dengan sebelum nya?
__ADS_1
Bingung aku..😁😁😁