Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)

Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)
Lahiran


__ADS_3

Tidak terasa waktu dengan sangat cepat kembali berlalu. Sudah empat bulan sejak kejadian Denio melukai seorang anak laki-laki di taman permainan.


Tidak terasa juga kehamilan Barbara dan Tasya sudah berusia sembilan bulan dan mereka memilih melahirkan secara operasi sesar di hari yang sama.


Selama empat bulan ini, Denio selalu mengikat Fera agar tidak mempunyai kesempatan untuk berbicara pada kedua orang tua Fera tentang kejadian di taman permainan itu hingga akhirnya perlahan Fera pun melupakan kejadian itu.


Semakin hari Denio semakin posesif pada Fera dan selalu ingin Fera berada di dekatnya.


Seperti saat ini saja Denio selalu menempel pada Fera. Mereka sudah di rumah sakit untuk menunggu Tasya dan Barbara melewati proses operasi sesar.


Fera sedang bersandar di lengan Felix sedangkan Denio duduk disamping Fera. Frans menunggu di depan pintu ruangan operasi.


"Pa, Mama di dalem pasti sakit yah?" Fera bertanya khawatir kepada Felix.


"Iya. Tapi nggak papa, kita di sini nguatin Mama sama tante Tasya." Felix mengelus lembut pipi putri kecilnya.


"Pa, entar masih sayang sama Nio nggak?" Denio bertanya seakan Felix dan Barbara benar-benar orang tuanya.


"Masih dong. Masa nggak?" Felix mengacak pelan rambut Denio.


Denio tersenyum lebar.


"Pa, Fera ke toilet dulu ya." Fera pamit ke toilet.


Ia pun melangkah setelah mendapat ijin dari Felix. Toiletnya tak jauh dari tempat mereka berada.


Denio segera menyusul Fera.


Denio menunggu didepan pintu toilet Fera.


Selesai dengan ritualnya, Fera keluar dari toilet. Ia yakin Denio pasti mengikutinya dan memang benar.


Fera berniat mengabaikan Denio, namun Denio mencekal tangannya.


"Jangan abaikan Nio, Fera!" Nada bicara Denio terdengar menakutkan untuk anak seusianya.


"Nio, lepas! Sakit!" Fera berusaha menarik tangannya dari cekalan tangan Denio yang kuat.


Denio menyeringai dan mendorong Fera hingga terpojok di dinding. Denio menahan tubuh Fera dengan menekan kedua pundaknya.


"Nio, lepas!" Fera mulai terisak namun ia berusaha untuk tidak terlihat takut.


"Fera jangan takut! Nio nggak akan sakitin Fera kalau Fera sayang Nio!" Denio mengelus pipi Fera.


Fera sekarang benar-benar terisak. Ingin memanggil Felix tapi tidak mungkin karena jarak dan terlalu ramai.


"Sttt...Fera jangan nangis!" Denio menghapus air mata Fera.

__ADS_1


Tiba-tiba ia menarik Fera ke dalam pelukannya.


"Fera udah janji kan, mau jadi temen Nio terus? Fera udah janji mau jadi teman Nio terus. Fera udah janji, Fera udah janji." Denio mengucapkan berulang kali dengan nada yang berbeda dan tetap terkesan menakutkan.


Fera memberanikan diri untuk membalas pelukan Denio.


"Nio, Fera janji. Fera janji bakal jadi temen Nio terus. Fera nggak lupa sama janji Fera." Fera mengusap punggung Denio.


Denio melepas pelukannya dan tersenyum menakutkan pada Fera.


"Kalau Fera ingkar janji, Nio bakal bikin Fera nggak akan bahagia seumur hidup." Denio mulai mengancam anak kecil yang belum mengerti banyak hal itu.


"Fera janji." Fera mengangkat jari kelingkingnya dan Denio langsung menautkan jari kelingkingnya juga.


Denio tersenyum puas, ia kemudian menggenggam tangan Fera dan mereka kembali ke tempat mereka tadi.


"Pa, dedek udah lahir?" Fera bertanya antusias.


"Belum sayang. Mungkin bentar lagi." Felix cemas, namun ia tidak ingin menampakkan kecemasan nya.


Frans sedari tadi tidak berpindah satu sentimeter pun dari tempatnya dan terus menatap ke dalam ruangan operasi. padahal ia pun tidak bisa melihat apapun.


Mereka kembali menunggu dalam hening kurang lebih setengah jam.


Oek Oek..


Frans seketika bernafas lebih lega, namun belum benar-benar tenang.


Seorang dokter keluar dari ruangan operasi.


"Dokter, gimana keadaan istri kami?" Frans bertanya langsung.


Dokter tersebut tersenyum.


"Semuanya dalam keadaan sehat dan baik. Bayi kalian dua-duanya adalah laki-laki." Jawab sang dokter.


Barulah Frans maupun Felix bisa benar-benar bernafas lega.


"Yeyyy..dedek nya Fera udah lahir." Fera bersorak bahagia namun tidak heboh.


Entah dorongan dari mana, ia langsung memeluk Denio yang ada di sampingnya. Denio tentu tidak keberatan.


Mereka kembali menunggu lagi kurang lebih satu jam.


Pintu ruangan operasi kembali terbuka, Beberapa perawat mendorong dua brankar dengan Barbara dan Tasya di atasnya.


Lalu ada yang mendorong dua box bayi berisi bayi mungil mereka.

__ADS_1


Barbara dan Tasya masih sadar, mereka bahkan terus tersenyum melihat bayi mungil mereka.


Wajah bayi Tasya perpaduan antara wajahnya dan Frans, sedangkan wajah bayi Barbara lebih mirip Felix.


Mereka telah sampai di ruangan VVIP rumah sakit. Barbara meminta para perawat untuk menyatukan ia dan Tasya di dalam satu ruangan.


Setelah para perawat pergi, kedua suami mereka beserta Fera dan Denio pun masuk kedalam.


"Sayang, makasih." Felix dan Frans menghampiri istri mereka dan mengecup sayang kening mereka.


"Papa, nama dedek siapa?" Fera bertanya bahagia.


"Kita kasih nama dedek nya Fera Dean aja ya Pa?" Fera memberi ide.


"Dean? Boleh. Bagus juga." Felix setuju dan Barbara mengangguk pelan.


"Kalo dedek satunya siapa?" Kini Denio yang bertanya.


"Om Frans mau kasih nama dedek nya, Jacob." Frans menjawab optimis.


Sebenarnya mereka lupa untuk menyiapkan nama dari jauh hari, maka dari itu mereka sedikit kesulitan menamai putra mereka.


Mereka sangat bahagia tak terkecuali Denio.


"Dean, dedek Dean yang sehat ya. Nanti main sama kakak sama Nio juga." Fera berbicara pada adiknya sedangkan Jacob sedang di gendong Frans.


Nio tersenyum saat mendengar namanya disebut oleh Fera. Anak kecil itu sudah seperti orang dewasa yang sedang jatuh cinta pada gadis pujaannya.


Ia terus saja menatap Fera lekat sedangkan Fera sibuk berbicara dengan adiknya.


"Fera, kamu milik aku! Kamu cuma boleh sama aku! Nggak boleh ada orang lain diantara kita!" Denio mengucapkan kalimat itu lagi dalam hatinya.


Ia kemudian ikut berbicara pada adiknya Fera sambil sesekali tetap menatap Fera.


Kebahagiaan mereka kembali bertambah dengan hadirnya dua malaikat kecil yang akan meramaikan hari-hari mereka kedepannya.


Namun benarkah itu semua adalah awala dari kebahagiaan mereka? Atau justru awal untuk luka yang baru?


...~ TO BE CONTINUE ~...


######


oke..aku lagi gak fokus bgt..jadi cuma bisa segini..


Dan Next bab aku langsung menuju masa depan aja ketika Fera udah dewasa..daripada ceritanya semakin bertele-tele dan ngawur..


BTW, ada yang mau join grup chat WA?

__ADS_1


__ADS_2