Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)

Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)
Wasiat


__ADS_3

Pagi ini, sesuai janji Mario akan membawa Barbara pindah ke rumah yang Barbara minta padanya hari itu.


Rumah yang cukup terpencil dari kota.


Entah apa alasan Barbara ingin tinggal di tempat seperti itu.


"Bar, cepetan dong." Mario berteriak dari bawah.


Ia sudah sedari tadi menunggu Barbara dibawah.


Setelah selesai sarapan bersama, ia segera menyuruh Barbara bersiap begitupun dirinya, namun sampai selesai ia bersiap dan menunggu cukup lama dibawah pun, Barbara belum tampak batang hidungnya.


Mario juga sebenarnya tidak suka pada perempuan, lebih tepatnya orang yang suka mengulur waktu.


"BARBARA CEPAT!" Mario kembali berteriak dengan nada memerintah.


Ia bahkan tidak peduli jika yang sedang diteriaki adalah atasan nya sekarang.


Akhirnya Barbara perlahan keluar dari kamar nya dan berjalan turun ke bawah.


Mario kembali menelan kasar saliva nya untuk kesekian kalinya.


Kali ini ia melihat penampilan Barbara yang terkesan dewasa, dress sexy dengan make up sedikit lebih tebal dari biasanya.


"Gimana? Aku kayak gini nggak jelek kan?" Barbara bertanya cemas.


"Nggak jelek. Cuma ngapain kamu mesti penampilan kayak gini?" Mario bertanya bingung.


"Mulai detik ini, aku bakal selalu berpenampilan kayak gini. Nggak ada lagi Barbara polos yang dulu, Barbara yang sekarang adalah Barbara yang dewasa." Barbara menjawab dengan nada datar.


Mario mengangguk.


Sejujurnya ia tidak terlalu suka dengan penampilan Barbara saat ini, namun ia juga tahu bukan hak nya untuk melarang.


"Ya udah, yuk kita berangkat. Masih banyak banget yang harus kita urus." Mario berjalan duluan diikuti Barbara.


Mereka berjalan hingga masuk kedalam mobil Mario.


Mario pun segera melajukan mobilnya menuju ke rumah yang akan ditempati Barbara.


"Mar, kamu udah lama kerja sama Papa?" Barbara bertanya penasaran.


Mario mengangguk.


"Kamu bekerja dari perusahaan lawyer atau privat?" Barbara kembali bertanya.


"Dulu nya aku di perusahaan, tapi waktu nanganin satu kasus buat Tuan Fanco dan itu berhasil, beliau langsung merekrut aku menjadi lawyer pribadi nya dia." Mario menjawab tanpa memandang Barbara dan tetap fokus menyetir.


Barbara mengangguk mengerti.


"Kamu udah punya pacar atau istri?" Barbara bertanya asal.


Mario sedikit tersenyum.


"Nanya nya nggak telat? Harusnya kamu nanyain itu sebelum nyosor ke aku." Mario malah menjawab meledek Barbara.


Barbara menunduk malu.

__ADS_1


"Nggak ada. Aku single. Cuma nggak tau lah nanti, soalnya udah ada yang berani nyosor ke aku. Harusnya sih dia tanggung jawab karena udah berani nyentuh aku tanpa ijin." Mario kembali menjawab dengan nada menggoda Barbara membuat Barbara semakin tak bersuara.


Akhirnya tak ada lagi pembicaraan diantara mereka.


Mereka hening hingga sampai di rumah yang akan ditempati Barbara.


"Udah sampe." Mario menyadarkan Barbara yang tengah melamun.


"Eh, iya." Barbara sedikit tersentak lalu ia turun dari mobil nya.


Mario bukan tipe lelaki yang terlalu romantis maka dari itu jangan terlalu berharap ia akan membukakan pintu mobil bagi seseorang.


Mario melangkah masuk kedalam rumah itu duluan diikuti Barbara.


Barbara takjub melihat luaran rumah itu yang tampak sangat megah.


"Mar, ini baru bangun yah?" Barbara bertanya penasaran melihat bangunan rumah itu yang tampak masih baru.


"Kata orang yang jual sih masih baru. Baru setahunan gitu dibangun, mereka nggak berani nempatin soalnya angker." Mario menjawab santai sedikit menakuti Barbara.


Namun yang ia dapatkan, Barbara bukan nya takut malah mengangguk saja.


"Gimana? Suka?" Mario bertanya lembut saat mereka sudah sampai di ruang utama rumah itu.


Barbara mengangguk semangat.


"Makasih Mar." Barbara menjawab dengan suara sendu dan tiba-tiba memeluk Mario.


Mario terkejut, namun ia kini membalas pelukan Barbara dengan lembut.


"Udah Bar, lepas. Aku nggak bisa nafas." Mario berkilah agar Barbara melepaskan pelukan nya.


"Kita duduk." Mario bertitah sambil duduk di sofa ruang utama itu dan mengeluarkan sesuatu dari tas yang ia bawa.


"Mar, pelayan nya mana?" Barbara bertanya bingung karena dari tadi belum melihat orang lain selain mereka.


"Bentar lagi nyampe. Pak Har sama Adela yang bakal nganter dia kesini." Mario menjawab santai sambil membolak balikkan lembaran didalam map yang ada di tangannya.


"Wih, ada yang berduaan aja nih." Suara Harvest terdengar dari belakang membuat Barbara langsung menoleh.


Mario hanya cuek dan masih memeriksa map ditangan nya.


"Nona Barbara, ini Tasya. Dia yang akan jadi pelayan disini." Harvest mengenalkan pelayan itu pada Barbara.


"Barbara." "Tasya." Barbara menyalami Tasya dan mengenalkan diri nya begitupun sebaliknya.


"Tas, kamu nanti disini bakal ngurusin semua keperluan Nona Barbara. Kalo urusan bersih-bersih rumah, entar bakal ada beberapa pelayan yang datang dua hari sekali." Harvest menjelaskan pekerjaan yang harus dilakukan oleh Tasya.


Tasya mengangguk mengerti.


"Okay, saya harus membacakan surat wasiat ini. Jadi harap bisa duduk Nona Barbara, Pak Har dan Adela selaku saksi." Titah Mario.


Yang di sebut namanya pun menurut.


Mario pun mulai membacakan isi surat wasiat milik Fanco yang ditujukan untuk putri semata wayang nya.


Barbara mendengar dengan serius tanpa terlewatkan satu kata pun.

__ADS_1


"Okay, dan disini juga disebutkan bahwa Tuan Fanco memberikan sejumlah aset atas nama Frans." Mario kembali menjelaskan.


Barbara melongo tak percaya mendengar hal itu.


"Jadi gimana? Kamu sebagai pemilik sah semua kekayaan Tuan Fanco berhak untuk membatalkan aset atas nama Frans." Mario kembali meminta kepastian.


Barbara tampak berpikir sejenak.


"Biarin aja lah. Lagian aset itu juga nggak seberapa nilai nya." Barbara meremehkan jumlah aset yang akan menjadi milik Frans.


Mario, Harvest, dan Adela melongo mendengar perkataan Barbara. Barbara meremehkan jumlah aset tersebut, namun bagi mereka itu cukup untuk menyambung hidup mereka sebanyak tiga keturunan.


"Tapi, apa Papa nyebutin alasan nya?" Barbara bertanya meminta kepastian.


Mario menggeleng.


"Ya udah, tapi untuk saat ini jangan dulu hubungi dia terkait hal ini. Aku pengen misi aku selesai dulu. Baru ngurusin urusan itu." Barbara bertitah.


Mario mengangguk begitupun dengan Harvest.


Barbara bangkit dari duduk nya dan hendak melangkah ke kamar nya, namun Mario mencegat dengan menahan pergelangan tangan nya.


"Bar, kamu yakin tinggal di sini sendiri?" Mario bertanya khawatir namun ia berusaha menyembunyikan kekhawatiran nya.


"Kenapa? Kamu khawatir? Kalo khawatir kamu bisa tinggal di sini juga." Barbara menjawab dengan nada menggoda.


Mario langsung melepaskan tangan Barbara dengan sedikit menepis nya.


"Bodo amat. Buat apa khawatir sama kamu." Jawaban Mario tidak sesuai dengan isi hati nya.


Barbara hanya terkekeh dan berlalu dari tempat itu, walau ia tertawa namun hati nya menyimpan luka yang dalam.


Sepeninggal Barbara, Harvest dan Adela menatap Mario dan tersenyum sinis.


Mereka bertiga adalah sahabat sejak Sekolah Menengah Atas dan ketika kuliah mereka berpencar karena Mario lebih tertarik pada hukum sedangkan Harvest dan Adela lebih tertarik dengan dunia bisnis.


"Pak Mar bisa aja caper nya." Harvest meledek sahabatnya.


"Diam." Mario bertitah kesal.


"Mar, kalo suka sikat aja. Udah single kaya lagi." Adela ikut menggoda sahabatnya.


"Nggak minat aku. Repot." Mario menjawab dengan kebohongan.


Padahal ia bahkan sudah tertarik pada Barbara sejak pertemuan pertama mereka di prosesi pemakaman Fanco dan Kimberly.


"Oh ya Pak Mar, hal yang Nona Barbara minta itu aku udah siapin semua nya. Malam ini bisa dilaksanakan." Ucap Harvest antusias mengingat permintaan Barbara yang disampaikan Mario kepadanya.


Mario mengangguk.


"Laksanakan aja sesuai rencana kita Pak Har." Mario berucap.


...~ To Be Continue ~...


#####


Semoga ntar bisa up lagi yah..

__ADS_1


Next, yg kangen sama Frans dan Felix, mereka bakal muncul bentar..


Like dan komentar jangan lupa..Makasih yang masih setia.


__ADS_2