
"Denio, aku pastikan kamu bakal menyesal karna udah nolak aku! Aku akan pastikan kamu datang berlutut dan menjilat kaki aku" Anneth mencengkram setir mobilnya dengan sangat kuat. Setelah mendapat penolakan dari Denio tadi, ia memutuskan untuk pergi dan enggan mengikuti pelajaran. Anneth bahkan menyetir ugal-ugalan di jalan yang terbilang cukup ramai.
"Fera yah? Lihat aja, aku pastikan jadikan istri tercintamu itu j**ang murahan!" Anneth menambah laju mobilnya. Setelah sampai di depan gerbang sebuah universitas, Anneth mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Aku butuh bantuan kalian!" Anneth kembali menyimpan ponselnya. Tak lama terlihat para mahasiswa/i mulai berhamburan keluar dari kampus itu.
"Hai An..." Beberapa perempuan berpakaian terbuka menghampiri Anneth.
"Ayo, aku punya mainan bagus buat kalian" Anneth mengajak teman-temannya masuk ke dalam kampus tempat Fera berkuliah.
"Dimana Fera?" Tanya Anneth menjambak rambut seorang mahasiswa.
"Di-di sana" mahasiswa itu menunjuk ke ruang kelas paling ujung.
Anneth dan teman-temannya segera beranjak menuju ruangan itu. Saat sudah hampir sampai, ia melihat Fera keluar dari ruang kelas itu.
"Woi..j**ang!" Anneth berteriak dengan suara menggema di seluruh koridor. Ia bahkan tidak peduli jika tiba-tiba ada dosen atau petugas keamanan yang muncul.
"Siapa ya?" Fera bertanya bingung setelah berbalik menatap ke-lima wanita berpenampilan seksi itu.
"Aku kekasih suami kamu. Aku hamil tapi dia engga mau tanggung jawab gara-gara kamu. Dan sekarang kamu harus tahu akibatnya" Anneth memberi kode pada teman-temannya dan keempat temannya langsung menghampiri Fera dan menyeret Fera ke dalam ruangan kelas tadi.
"Tahan dia!" Anneth memberi perintah kepada dua orang temannya dan langsung di laksanakan. Anneth kemudian melucuti semua pakaian Fera.
"Apa yang kamu lakuin? Lepasin aku!" Fera meronta ketakutan saat melihat Anneth mengeluarkan sebilah pisau.
"Nikmati dia!" Anneth kembali memberi perintah dan keempat temannya langsung beraksi melecehkan Fera.
__ADS_1
"Lepasin aku! Aku engga kenal kalian siapa!" Fera menangis memohon pada Anneth, namun tidak ada belas kasihan yang dirasakan Anneth. Anneth semakin semangat memerintahkan temannya untuk melecehkan Fera sementara ia merekam video pelecehan itu. Kekuatan Fera tidak cukup besar untuk melawan keempat wanita yang menikmati tubuhnya itu.
"Stop! Giliran aku!" Anneth mendekat pada Fera dan menyayat kulit tubuh Fera hingga darah segar keluar mengalir dari kulit putihnya.
"Kalau aku engga bisa dapetin Denio, jangan harap ada wanita lain yang bisa memiliki dia!" Anneth mengambil sebuah kursi dan menggunakan kursi itu untuk menghantam tubuh Fera.
"Semoga cepat mati!" Anneth dan teman-temannya meninggalkan Fera dalam keadaan begitu tragis. Tubuh Fera berdarah di mana-mana, bahkan bagian intinya mengeluarkan paling banyak darah.
"Nio, sakit..." Fera merintih dengan derai air mata dan tatapan kosong ke arah pintu berharap seseorang segera datang menolongnya. Sayangnya hingga kesadarannya semakin berkurang, tidak ada satu orang pun yang tampak datang.
"Astaga, Fera..." Seorang wanita memekik histeris dan langsung membungkuk tubuh Fera dengan mantel yang ia kenakan. Wanita itu juga memanggil polisi ke tempat kejadian perkara sedangkan ia memilih membawa Fera segera ke rumah sakit terdekat.
"Siapa yang tega lakuin ini sama kamu nak?" Wanita itu sepertinya cukup mengenal Fera. Sesampainya di rumah sakit terdekat, wanita itu segera membawa Fera turun dari mobil dan membawa Fera menuju ke ruang IGD.
"Aku harus hubungi suami dan keluarganya" wanita itu mencari ponsel Fera dari tas Fera yang sempat ia bawa tadi. Setelah mendapatkan kontak Denio, ia segera menghubungi Denio dengan ponselnya sendiri. Beruntung ponsel Fera tidak dikunci. Selesai menghubungi Denio, wanita itu juga segera mencari kontak orang tua Fera dan menghubungi mereka.
"Semoga saja Fera engga kenapa-kenapa" wanita itu merapatkan kedua tangannya seperti orang yang sedang berdoa.
"Dokter masih periksa. Tapi maaf, apa Fera hamil ya? Tadi pas saya nemuin dia, kondisinya mengenaskan dan bagian bawahnya ngeluarin banyak sekali darah" Wanita itu bertanya dengan hati-hati.
"Apa mungkin? Kami belum mendengar kabar apapun si Nyonya Lily" Barbara mencoba untuk tenang meski kenyatannya mereka tidak bisa tenang.
"Semoga saja bukan ya. Entah siapa yang menyerang Fera sampai seperti itu. Saya tadi juga engga tau sama sekali. Saya datang ke kampus karna ada urusan pelajaran sama Fera" ungkap wanita yang ternyata adalah salah satu dosen Fera.
"Keluarga pasien?" Seorang dokter keluar dari ruang IGD.
"Kami" Felix dan Barbara menghampiri dokter itu
__ADS_1
"Pa, Ma..." Denio sampai dan langsung menghampiri kedua mertuanya.
"Kondisi Nona Fera tidak baik-baik saja. Tubuhnya memar dan luka di mana-mana. Yang paling parah, Nona Fera mengalami keguguran dan usia kehamilannya baru tiga minggu" jelas Dokter pria itu dengan wajah sendu.
"Engga mungkin. Katakan kalo ini salah...istri saya engga mungkin keguguran!" Denio mencengkram kerah jas sang Dokter dan memojokkan Dokter itu ke dinding.
"Maaf, tapi memang kenyataan pahit itu yang harus saya sampaikan" Dokter itu tidak melawan Denio. Ia paham bagaimana sakitnya perasaan seorang calon Ayah yang harus kehilangan janinnya dengan cara mengenaskan seperti ini.
"Nio, udah..." Barbara menarik Denio hingga melepaskan Dokter itu dan memeluk Denio erat. Denio menangis meraung, bahkan memukul-mukul dadanya yang terasa sesak. Baru tadi pagi mereka diskusi soal kehamilan, dan sekarang ia harus kehilangan calon bayi mereka yang bahkan masih berbentuk gumpalan darah.
Tak lama beberapa perawat keluar dari ruang IGD mendorong brankar dengan Fera yang terbaring lemah di atasnya. Denio segera melepaskan diri dari Barbara dan berlari lalu berjalan di samping brankar itu seraya menggenggam tangan pucat istrinya.
"Sayang, maafin aku. Aku gagal menjaga kalian" isak tangis Denio masih terdengar meski tidak se-menyakitkan yang tadi. Ia kini duduk di samping Fera dan memeluk Fera erat.
"Nio, biarin Fera istirahat dulu" Barbara mencoba membujuk menantunya namun Denio hanya menggeleng.
"Ma, Papa pergi" Dean menunjuk ke arah Felix yang berjalan menjauh. Barbara tidak ingin suaminya gila lagi dan memutuskan untuk segera mengejar Felix.
"Felix, stop!" Barbara berhasil menangkap tangan Felix.
"Lepasin Bar! Aku harus buat perhitungan sama orang yang udah nyakitin anakku seperti itu!" Felix menatap tajam ke depan penuh kebencian.
"Fel, udah! Selesaikan dengan cara lain! Kita bisa minta bantuan polisi untuk menghukum pelaku kejahatan itu" Barbara berusaha membujuk Felix.
"Kamu tau apa? Aku kehilangan calon cucuku dan hampir kehilangan putriku!" Felix membentak istrinya cukup kasar dan menepis tangan Barbara.
"FELIX! AKU YANG LAHIRIN FERA! AKU SAKIT SENDIRI SAAT ITU, SAAT KAMU ENGGA MENGINGINKAN DIA! DAN SEKARANG KAMU BILANG AKU ENGGA TAU APA-APA? AKU JAUH LEBIH HANCUR DIBANDING KAMU, TAPI AKU SEORANG IBU. AKU HARUS KUAT UNTUK FERA, UNTUK MERANGKUL DAN MENYEMANGATI DIA. SEKARANG TERSERAH KAMU! KAMU LANJUTKAN KEMAUAN KAMU DAN BESOK SIAP-SIAP TERIMA SURAT CERAI DARI AKU DAN JANGAN PERNAH BERHARAP KITA BISA KEMBALI LAGI!" Barbara berteriak pada Felix dan mengancam pria itu. Ia sudah tidak peduli lagi dengan orang-orang yang melihat pertengkaran mereka. Barbara memilih berbalik meninggalkan Felix.
__ADS_1
"Maaf..." Felix berhasil menahan langkah istrinya dan memeluk Barbara dari belakang.
...~ TO BE CONTINUE ~...