Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)

Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)
Fashion Show ( 2 )


__ADS_3

Frans membawa Barbara keluar dari keramaian menuju ke suatu lorong sepi di luar area tempat acara tersebut dilangsungkan.


"Frans, ngapain sih kesini?" Barbara bertanya was-was , takut jika Frans mulai gila lagi.


Dan benar saja, Frans semakin melangkah mendekati Barbara membuat Barbara semakin mundur hingga punggungnya mentok tertahan oleh dinding dibelakangnya.


Frans meraih dagu Barbara dan mulai melahap bibir nya.


Barbara mendorong Frans dengan sangat kuat.


PLAKK


Satu tamparan keras melayang di pipi Frans.


"Nggak usah kelewatan!" Barbara bertitah ketus.


Ia menghapus bekas ciuman Frans menggunakan telapak tangannya secara kasar.


"Maaf Bar." Frans berucap sendu.


Barbara tidak menghiraukan nya dan memilih pergi dari tempat itu.


Namun Frans kembali mengejar nya, menarik tangan nya dan membawanya ke sebuah taman terdekat di sana dan menuntun Barbara untuk duduk di kursi yang kosong.


"Jaga jarak!" Titah Barbara ketus.


"Dulu kamu nggak nolak aku kayak gini Bar." Frans berucap sendu.


Barbara tersenyum sinis.


"Dulu aku bodoh. Gampang termakan sama kata-kata manis." Barbara berucap sinis.


"Jadi?" Frans bertanya seolah meminta kepastian.


Barbara tidak menjawab dan hendak melangkah pergi, namun Frans kembali menahan nya.


"Ada yang mau aku katakan sama kamu Bar. Tentang kejujuran dan kesalahan ku." Frans berucap pelan menatap dalam mata Barbara yang menatap benci pada nya.


"Kayaknya nggak ada yang penting." Barbara berucap ketus.


"Mungkin emang nggak penting buat kamu, tapi aku harus mengatakan semua nya. Aku nggak mau nyembunyiin apapun dari kamu lagi Bar." Frans berucap dengan nada memohon.


Barbara yang tadinya sudah berdiri akhirnya duduk kembali.


"Cepetan. Aku nggak punya banyak waktu." Ucap Barbara ketus namun jujur, karena memang acara Fashion show tersebut akan segera dimulai.


Frans pun mulai menceritakan semua yang ia rasa perlu ia ceritakan.


Mulai dari dia menjebak Felix dihari pernikahan mereka hingga membuat Felix seolah membunuh seseorang sampai tentang orang tua Barbara yang hampir meregang nyawa di tangannya namun ia batalkan.


Barbara mengepalkan tangannya kuat.


"Apa tujuan klien kamu mau bunuh Papa aku?" Barbara bertanya kesal.


"Persaingan bisnis Bar. Bisnis nya di Australia selalu dikalahkan sama Papa kamu." Frans menjawab jujur.


Barbara menghela nafas kasar.


Ingin marah, tapi Frans bukanlah pelaku pembunuhan yang sebenarnya.


Barbara akhirnya memilih meninggalkan Frans tanpa berkata apapun, bahkan beberapa kali Frans memanggil pun tidak ia pedulikan.

__ADS_1


Barbara memilih kembali dan masuk kedalam gedung acara Fashion show tersebut dilaksanakan.


Acara inti yaitu peragaan busana sudah dimulai.


Barbara kesulitan mencari tempat duduk, sedangkan ia dapat melihat Mario sedang duduk tidak nyaman karena di apit oleh beberapa perempuan berpenampilan sexy.


Barbara akhirnya menemukan tempat duduk, barisan kedua sebelum barisan terakhir dari deretan kursi yang berbentuk tangga tersebut.


Barbara memilih duduk paling pojok.


Ia sebenarnya malas mengikuti acara tersebut, namun karena menghargai Tuan rumah yang menyelenggarakan acara tersebut saja.


"Um..pelan-pelan sayang."


Barbara samar-samar mendengar suara desahan seorang wanita di dekat nya.


Barbara mengabaikan dan berpikir ia mungkin salah dengar.


"Aw..ah..kau sangat hebat sayang."


Suara desahan wanita itu kembali terdengar.


Barbara akhirnya menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri bahkan ke depan dan ke belakang.


"Pria bangsat." Barbara menggerutu saat melihat Felix sedang mencumbu seorang wanita yang hampir telanjang.


Felix membaringkan wanita tersebut di kursi panjang itu, sedangkan ia berada di atas wanita itu.


"Tuan, jika ingin berbuat mesum sebaiknya kalian ke hotel saja." Barbara menegur perbuatan buruk mantan suaminya itu.


Ada rasa cemburu sekaligus amarah yang Barbara rasakan, namun ia berusaha menahan semuanya.


Tidak ingin memalukan siapapun apalagi jika sampai membuat penyamaran nya terbongkar.


Wanita yang berada di bawahnya masih terus memaksa nya agar melanjutkan permainan mereka dan bahkan meminta lebih, namun Felix menolak dan bahkan mengancam nya.


Akhirnya wanita itu pergi meninggalkan Felix dalam keadaan marah.


Barbara kembali menyaksikan kelangsungan acara tersebut dengan serius.


"Kamu tau Nona, dulu ada seorang gadis yang punya impian ingin berjalan diatas sana kayak mereka." Felix berucap pada Barbara.


Ia duduk membungkuk hingga wajahnya berada tepat di samping wajah Barbara.


Barbara tidak menjawab.


"Tapi sayangnya, aku menyakiti dia sampe akhirnya dia ninggalin aku bahkan untuk selamanya. Dia juga membawa anak kami pergi selamanya." Ucap Felix lagi dengan nada bicara yang susah diartikan.


Barbara lagi-lagi tidak peduli pada nya walaupun ia merasakan perasaan bergejolak di hatinya.


"Rasanya pengen banget nyusulin mereka. Tapi aku belum bisa sebaik dia. Aku malu kalau nanti disana ketemu dia, dia masih benci sama aku. Apalagi aku udah bunuh kedua orang tua nya juga walaupun nggak ada niat." Felix kembali berkata pada Barbara lalu bangkit dari duduk nya dan melangkah pergi meninggalkan Barbara.


Felix benar-benar tidak mengenali Barbara atau hanya sekedar sandiwara? Entahlah, hanya Felix yang tau.


Lain dengan Felix, lain pula Barbara yang sedang mengepalkan kedua tangannya kuat hingga kuku-kuku tajam nya mulai melukai telapak tangannya.


"Akhirnya kamu mengakui sendiri perbuatan kamu." Barbara tersenyum sinis.


"Liat aja nanti Felix, aku bakal balas semuanya lebih menyakitkan dari apa yang udah kamu lakuin." Barbara bangkit dari duduk nya dan melangkah keluar meninggalkan gedung itu.


Ia berjalan sendirian melewati jalan yang panjang dan remang-remang itu sendirian.

__ADS_1


Semakin melangkah, hati nya terasa semakin perih.


Hatinya berkali-kali lipat lebih sakit saat mendengar Felix mengatakan sendiri bahwa ia yang telah menghabisi kedua orang tua nya daripada mengetahuinya dari hasil autopsi.


Tiba-tiba hujan turun dengan deras bersamaan dengan air mata Barbara yang meluncur bebas.


"Aku benci sama kamu Fel, aku benci." Barbara berteriak dibawah derasnya hujan.


"Apa salah Papa sama Mama aku sampe kamu tega bunuh mereka? Apa begitu balasan kamu atas kebaikan yang mereka berikan sama kamu? Kasih sayang yang udah mereka curahkan buat kamu?" Barbara masih berteriak seolah sedang berbicara pada Felix.


"Apapun kesalahan mereka, kamu nggak pantes bunuh mereka. Kamu penjahat Fel, penjahat. Aku nyesal udah cinta sama kamu bahkan sampe detik ini. Aku nyesal Fel, nyesal." Barbara masih berteriak mengeluarkan unek-unek dan semua rasa sakit dihati nya.


"Aku benci sama kamu Fel. Aku nggak akan pernah maafin kamu sekalipun kamu memohon sampe nangis darah sekalipun. Kamu tunggu aja hari baik dimana kamu juga bakal nyusul Papa sama Mama aku dengan cara yang tragis." Barbara kembali berteriak.


"Bar." Mario yang dari tadi mencarinya, akhirnya menemukan nya dalam keadaan memilukan seperti itu.


Mario memeluk nya dengan erat.


"Bar, aku disini." Mario memberikan kekuatan pada nya.


"Dia jahat Mar. Dia jahat. Dia bahkan berani ngaku di depan aku kalo dia yang udah bunuh Papa sama Mama aku." Barbara berkata dengan nada pilu sambil memukul lemah punggung Mario.


"Maaf Bar udah ninggalin kamu sendirian. Mario malah merasa bersalah.


Barbara masih terisak walaupun sudah tidak separah tadi.


Perlahan tangis Barbara mereda, namun hujan masih turun dengan sangat deras.


"Kita pulang ya Bar." Mario menuntun Barbara masuk kedalam mobilnya karena tadi ia memang mencari Barbara menggunakan mobilnya setelah tidak mendapati keberadaan Barbara didalam gedung acara itu.


Setelah Barbara masuk kedalam mobil, begitupun Mario, ia pun melajukan mobilnya kembali kerumah Barbara.


Tak butuh waktu lama, mereka pun sampai karena Mario mengendarai mobil nya dengan kecepatan penuh.


Barbara langsung turun dan masuk kedalam rumah nya tanpa menghiraukan Mario.


Mario tentu saja mengejarnya.


Barbara langsung masuk kedalam kamar dan Mario menyusul.


Barbara mengambil pakaian ganti dan masuk kedalam kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.


Setelah selesai ia keluar dan langsung naik keatas ranjang nya dan membungkus tubuhnya dengan selimut.


Mario menghela nafas kasar.


"Semoga besok kamu bisa lebih baik ya Bar." Mario menggerutu pelan.


Ia hendak keluar dari kamar Barbara, namun matanya menangkap sebuah gelang yang tersimpan rapi didalam kotak kaca di atas nakas Barbara.


Mario mendekati kotak kaca tersebut dan dengan hati-hati mengangkat nya untuk melihat isi nya.


Mario membulatkan mata nya tak percaya melihat bentuk gelang tersebut.


"Ini kan?" Mario bergumam pelan.


...~ To Be Continue ~...


#####


Sabar ya reader ku sayang..diriku buka satu persatu misteri yang sudah terangkai dibab bab sebelumnya sambil menjelang Barbara lahiran gitu.

__ADS_1


Like, komen, kritik, dan saran jangan ragu untuk sampaikan. Semua saran kalian bisa aku jadikan bahan pertimbangan untuk aku tuangkan kedalam alur cerita ku.


Tapi jika tidak dapat aku pake, aku minta maaf.


__ADS_2