
Sebentar lagi Barbara dan bayinya akan pulang kerumah mereka.
Tasya kini sedang mengemas barang-barang mereka yang kemarin mereka bawa untuk dibawa kembali ke rumah.
Sejak kejadian kemarin, Tasya benar-benar seharian tidak pulang kerumah. Bahkan saat Harvest memintanya pulang pun dirinya menolak dengan berbagai alasan.
"Cie...anak bayi udah mau pulang kerumah sama Mamanya." Tasya sambil menggoda baby Fera yang sedang menyusu.
Barbara memutuskan untuk tetap memakai nama Fera untuk bayinya. Bagaimanapun Felix tetaplah Ayah kandung Fera, jadi wajar saja jika ia memberikan nama untuk bayi mereka sekalipun ia tidak menginginkan bayi tersebut, pikirnya.
"Tas, kamar buat Fera udah siap kan?" Barbara bertanya memastikan.
"Apa nggak sebaiknya Nona Fera tetap satu kamar sama Nyonya dulu? Nona Fera kan juga masih ASI." Tasya mencoba membujuk Barbara agar tetap menempatkan Fera sekamar dengannya.
Tasya tidak ingin saat dirinya atau Barbara lengah, Harvest mendapatkan kesempatan.
Barbara tampak berpikir sejenak dengan usul Tasya.
"Bener juga sih. Ya udah deh. Ikutin saran kamu aja." Barbara akhirnya setuju pada saran Tasya dan itu membuat Tasya bernafas lega.
"Udah semuanya Nyonya." Tasya berkata sambil menepuk tas yang sudah ia kemaskan tadi.
Kondisi Barbara pasca operasi termasuk yang cepat pulih, maka dari itu ia diijinkan pulang cepat.
"Iya. Tunggu Fera selesai nyusu, kita pulang." Barbara menjawab Tasya.
Tasya mendekati Barbara dan menatap sayang pada baby Fera.
Ada rasa bersalah dalam hatinya walau ia tidak pernah menyakiti Barbara dan bayinya.
"Nyonya, kalo seandainya yang bunuh orang tua Nyonya bukan mantan suami Nyonya melainkan orang lain gimana?" Tasya bertanya tiba-tiba.
Barbara sedikit terkejut dengan pertanyaan Tasya. Ia menjadi berpikir, apakah Tasya sudah mengetahui sesuatu atau memang mengetahui sesuatu?
"Saya akan menyelidikinya." Hanya itu jawaban yang Barbara berikan.
Barbara memutuskan untuk mencari tahu sendiri apa yang sebenarnya terjadi, tapi tentu saja harus menunggu sampai keadaannya benar-benar pulih.
Tasya hanya mengangguk mendengar jawaban Barbara.
Rasa bersalah tentu ada dalam hati nya, ia tahu semuanya tapi ia terpaksa menutup mulut.
"Udah yuk." Barbara sudah selesai menyusui baby Fera dan baby Fera sudah tertidur.
Tasya membantu Barbara untuk duduk di kursi roda yang sudah disediakan. Kemudian seorang perawat datang untuk mendorong kursi roda Barbara sedangkan Tasya membawa tas yang berisi semua barang-barang mereka tadi.
Hari ini pun Tasya tetap akan menyetir.
"Kayaknya entar aku mesti nyiapin amplop gede buat kamu ya Tas." Barbara menggoda Tasya yang kini sedang serius menyetir.
"Haha. Nyonya bisa aja. Gaji saya juga udah besar banget. Dan udah kewajiban serta tugas saya juga untuk melayani dan mendampingi Nyonya." Tasya berucap sopan sambil tertawa kecil.
Barbara hanya tersenyum dan terus menatap wajah cantik putrinya.
Wajah gabungan ia dan Felix, bahkan lebih cenderung mirip Felix.
"Fel, apa kamu ngga mau gendong anak kita sekali aja?" Barbara membatin.
Tidak bisa dipungkiri, jaub didalam hatinya yang paling dalam ia masih sangat mencintai dan merindukan Felix.
Sejak pertemuan dengan Felix beberapa hari lalu, dan juga apa yang sudah Felix ucapkan padanya, ia selalu mencoba berpikir menggunakan logika dan menggabungkan beberapa kejadian, namun sulit mendapatkan jawaban.
Tak lama mereka pun sampai dirumah Barbara.
Tampak sebuah spanduk besar bertuliskan "Welcome Home" menyambut kedatangan mereka. Harvest, Mario, dan Adela tampak tersenyum menyambut mereka didepan pintu.
"Bar, miss you." Adela memeluk nya hangat.
__ADS_1
Setelah melepaskan pelukan nya, Adela segera meminta untuk menggendong Baby Fera dan Barbara mengijinkan.
Adela sangat bahagia dan gemas dengan baby Fera.
"Welcome home Bar." Harvest memeluk Barbara dan seketika menatap tajam pada Tasya yang berada di belakang Barbara.
Tasya hanya menunduk takut.
Harvest melepaskan pelukan nya, giliran Mario.
Mario memeluk Barbara namun mengabaikan Tasya. Ia tahu Tasya tidak mungkin mengatakan hal sebenarnya pada Barbara, lagipula Tasya tidak mempunyai bukti.
Setelah acara sambutan hangat tersebut, mereka pun masuk ke dalam rumah.
Mereka tidak sadar akan kehadiran Felix yang hanya mampu mengintip kehangatan mereka dari balik semak-semak yang menghiasi pekarangan rumah Barbara.
"Aku juga ingin tersenyum bahkan tertawa bahagia sama kamu lagi Bar. Aku kangen. Apa aku layak,setelah semua yang udah aku lakuin ke kamu? Apa aku layak?" Felix bergumam dan menyalahkan dirinya sendiri.
Felix jelas tahu saat itu ia memang melukai Fanco, namun tidak dengan Kimberly. Ia sempat mencekik Fanco membuat Fanco mencakar tangannya, maka dari itu bekas kulitnya tertinggal didalam kuku Fanco.
Felix tidak sampai membunuh Fanco, apalagi Kimberly, ia tidak menyentuhnya sedikit pun. Felix meminta Barbara pulang melalui pesan agar ia tidak melewati kemampuannya untuk menahan hasrat membunuhnya, namun Barbara tak kunjung kembali hingga akhirnya ia pergi dari rumah orang tua Barbara dengan menahan sakit dikepalanya.
Barbara tidak mengijinkan polisi untuk menahan Felix, karena ia merasa janggal dengan bukti yang ada.
Felix hanya bisa tersenyum getir melihat kebahagiaan wanita yang ia cintai itu.
"Apa kamu benar-benar bahagia tanpa aku Bar? Apa benar-benar nggak ada kesempatan lagi buat aku sekalipun aku sembuh?" Felix bergumam dan terus menatap rumah Barbara.
Tak ada niatan untuk beranjak dari tempatnya sekarang.
Lama berada di tempatnya dan tidak bergeming. Felix setia menunggu hingga ketiga orang tersebut beranjak meninggalkan rumah Barbara.
Dan yang ia tunggu akhirnya terjadi. Mario, Harvest, dan Adela pun akhirnya meninggalkan rumah Barbara.
Hari sudah malam, namun tidak mengubah sedikitpun niat Felix untuk bertemu Barbara.
Barbara yang baru saja hendak naik ke kamarnya sambil menggendong Fera pun tersentak merasakan seseorang memeluknya dari belakang dengan badan basah.
"Aku kangen Bar." Kalimat pertama yang Felix ucapkan.
Barbara lebih terkejut saat tahu pelakunya adalah Felix.
"Felix." Barbara berucap dengan nada sedikit tinggi.
"Please jangan usir aku. Malam ini aja." Felix meminta dengan suara sendu.
Barbara akhirnya iba dan mencoba kembali bersikap lembut walaupun hatinya masih ragu.
"Ikut aku." Barbara bertitah dengan nada dingin.
Felix menurut.
Barbara menuntun Felix hingga masuk ke dalam kamarnya.
Barbara meletakkan Fera dengan berhati-hati kedalam box bayinya.
Barbara kemudian berjalan menuju lemarinya untuk mengambil handuk serta pakaian ganti untuk Felix.
Felix tersentuh, dan terkejut karena pakaiannya masih Barbara bawa dan Barbara simpan. Barbara memang membawa pakaian Felix yang ada dirumah orang tuanya.
"Keringin dulu badan kamu, kalo perlu mandi pake air hangat." Barbara bertitah dengan nada dingin namun Felix senang mendengarnya.
Segera Felix pun melaksanakan perintah Barbara.
Oek oek
Setelah Felix masun kedalam kamar mandi, tiba-tiba Fera menangis.
__ADS_1
"Anak Mama laper ya? Daritadi bobo belum nyusu lagi." Barbara mengangkat bayinya dengan hati-hati.
Ia kemudian membuka kancing bajunya lalu mulai menyusui putrinya.
Baby Fera menyedot rakus payudara Ibunya.
"Anak Mama pintar, nyusu yang banyak biar cepet gede." Barbara berbicara pada bayinya.
"Bar." Suara Felix tiba-tiba terdengar dari belakang.
Barbara tidak keberatan jika Felix yang melihatnya, toh ia sudah pernah berjanji, bahkan bersumpah bahwa dirinya hanya milik Felix seorang.
"Yang kotor taruh aja disitu." Barbara menunjuk tempat pakaian kotor pada Felix dengan dagunya.
Felix menurut.
Felix kemudian menghampiri Barbara dan duduk di sampingnya dan memperhatikan Fera menyusu.
Tak ada pikiran kotor dalam otaknya, hanya ada rasa haru dan syukur.
Lama Fera menyusu dari payudara satu berpindah lagi ke sebelahnya membuat Felix tersenyum geli.
"Anak gadis Papa kok rakus?" Felix berkata tanpa sadar.
Barbara mendelik tajam padanya, namun tidak ada niatan untuk marah.
"Ya emang dia rakus Bar, tuh belum berhenti nyusu udah lama banget." Ucap Felix merasa tidak enak hati karena sudah mengatai bayinya rakus.
Akhirnya baby Fera selesai menyusu dan kembali tertidur.
"Bar, aku boleh yah tidur disamping kamu dan meluk kamu, malam ini aja." Felix meminta dengan memelas.
Barbara tidak menjawab dan bangkit dari posisinya lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah selesai ia pun mengenakan pakaian dengan hanya mengenakan lingerie tipis agar mudah menyusui bayinya nanti.
Ia pun naik keatas ranjang dan berbaring menyamping menghadap baby Fera.
Felix dengan tebal muka ikut berbaring disamping Barbara dan memeluk Barbara dari belakang.
Barbara tidak menolak, jujur ia pun sangat merindukan pelukan hangat tersebut.
"Maafin aku Bar." Hanya itu yang terucap dari bibir Felix.
Barbara akhirnya berbalik dan membawa pelukan Felix serta membenamkan wajahnya pada dada Felix.
Tidak ada ucapan apapun hingga Felix mulai mendengar dengkuran halus dari Barbara.
"Beri aku satu kesempatan terakhir dan tunggu aku Bar." Felix berucap lalu mengecup kening Barbara penuh sayang.
Akhirnya perlahan ia pun ikut terlelap.
...~ To Be Continue ~...
######
Keputusan final, aku bakal satuin Bar sama Felix gimanapun caranya..meski harus maksa sekalipun..
Mario dan Harvest bakal dapat hukuman nya nanti..
Frans aku mungkin bakal kasih pasangan lain..
Dan untuk reader** **tersayang jangan lupa selalu like dan komentar nya..
Maaf baru up..makasih ❤❤❤
__Maaf kalo aku jarang balesin komentar kalian, tapi aku selalu like kok__
__ADS_1