
"Sir Erick?" Tanya Barbara mencoba mengingat.
Sir Erick masih diam, membiarkan Barbara mengingat nya.
"Oh aku ingat. Sir Erick yang malam itu bantu tangani kasus disini kan?" Barbara menggerakkan jari telunjuk nya.
"Bener banget." Sir Erick menjetik jari nya.
"Lagi patah hati?" Sir Erick bertanya asal sambil melenggang duduk di samping Barbara.
"Nggak lah." Barbara menjawab asal dan duduk kembali ditempat nya.
Sir Erick menatap wajah cantik Barbara yang tidak pernah berubah dari saat pertama kali mereka bertemu.
"Saya udah dengar semua nya kali." Sir Erick menyenggol lengan Barbara dengan siku nya.
Barbara hanya tersenyum.
"Ngomong-ngomong Sir kok bisa disini?" Barbara bertanya penasaran.
"Lagi check in." Sir Erick menjawab sambil menaik turunkan kedua alis nya.
"Ih, anggota polisi kok kelakuan nya gitu?" Barbara bertanya menunjuk pada Sir Erick.
Sir Erick terkekeh.
"Nggak lah. Tadi saya habis nganterin jodoh saya kerja. Pas mau keluar eh liat kamu, makanya ngikutin sampe sini." Sir Erick menjelaskan.
"Oh, udah punya jodoh. Jadi saya nggak ada kesempatan daftar lagi dong?" Barbara bertanya berkelakar.
"Haha maaf yah. Kalo kamu cepet dua bulan datang ke sini mungkin kamu bakal jadi jodoh saya." Sir Erick menjawab sambil tertawa kecil.
Barbara mengangguk pelan.
"Kalo seandainya dulu aku nggak ngikutin permainan bodoh itu, mungkin pasangan aku sekarang juga bakal sesantai dan senormal Sir Erick kali yah." Barbara membatin sambil tersenyum kecil.
"Ngomong-ngomong kamu sendiri ngapain di sini Bar?" Sir Erick bertanya penasaran.
"Lagi me time aja. Hehe." Barbara menjawab asal.
"Me time kok pake teriak-teriak?" Sir Erick menggoda Barbara, wanita yang sempat ia taksir.
Namun belum sempat cinta nya mekar, sudah layu terlebih dulu.
Barbara hanya tersenyum kecil.
"Oh yah gimana kabar suami kamu? sama mantan calon mertua aku?" Sir Erick bertanya menggoda Barbara.
"Papa sama Mama sehat kok. Aku udah pisah." Barbara menjawab dengan memelankan suara nya dibagian kalimat terakhir.
"Oh..turut prihatin ya Bar. Aku yakin sih kamu bakal dapat yang lebih baik lah. Secara kamu wanita baik. Jangan patah semangat." Sir Erick menepuk pelan pundak Barbara.
Barbara tersenyum kecil.
"Eh, by the way aku mesti absen ke kantor dulu nih. Mesti rajin kerja buat calon istri." Sir Erick terkekeh.
Barbara baru menyadari jika ternyata Sir Erick memiliki kepribadian yang ramah dan periang.
__ADS_1
"Iya. Harus rajin Sir. Kalo nggak bisa-bisa jodohnya di ambil orang lagi." Barbara menggoda Sir Erick.
"Kalo jodoh aku kali ini diambil orang, kamu aja yang jadi jodoh aku." Ucap Sir Erick sambil bangkit dari duduk nya.
Barbara hanya tersenyum meledek.
"Haha bercanda. Ya udah, pergi dulu ya. Ketemu lain waktu lagi. Kalo berjodoh. Haha." Sir Erick menepuk pelan puncak kepala Barbara lalu melenggang pergi sambil tertawa kecil dan melambaikan tangannya.
Barbara menggeleng sambil tersenyum kecil.
Ia pun memutuskan untuk turun dari rooftop tersebut dan kembali ke perusahaan Ayahnya.
Namun sebelum itu ia singgah terlebih dulu di cafe untuk membeli kopi untuk Ayahnya.
Menunggu cukup lama hingga akhirnya pesanan nya jadi.
Setelah membayar ia pun segera kembali ke perusahaan Ayahnya.
"Nona Barbara..Nona Barbara." Beberapa pegawai Ayahnya menyapa nya saat berpapasan dengan nya.
Barbara hanya mengangguk, menunduk, dan tersenyum manis.
Segera ia pun masuk kedalam lift.
Ruangan Ayahnya berada di lantai paling atas yaitu lantai dua puluh.
Ting
Pintu lift pun terbuka. Segera ia pun melangkah masuk kedalam ruangan Ayah nya.
Dari luar terdengar suara Ayahnya sedang tertawa bersama beberapa suara pria lain nya, hingga ia mengurungkan niatnya untuk langsung masuk.
"Pa, boleh Bar masuk nggak?" Barbara mengetok pintu terlebih dulu dan meminta ijin.
Fanco dari dalam mendengar suara putri nya langsung melangkah membukakan pintu untuk putrinya dan merangkul putrinya masuk kedalam.
Barbara bisa melihat ada tiga pria yang mungkin adalah klien Papa nya.
Dua pria paruh baya, dan satu lagi tampak muda mungkin seumuran dengan Frans atau Felix.
"Kamu darimana aja Bar?" Fanco bertanya khawatir.
Ia menuntun putrinya masuk kedalam ruangan pribadi nya tanpa memperkenalkan putrinya pada ketiga pria itu.
"Tadi Bar ke cafe terus nunggu antrian nya lama banget." Barbara menyodorkan kopi yang sudah ia beli pada Ayahnya.
"Ya udah, kamu santai di sini aja ya. Papa terusin dulu diskusi sama mereka." Ucap Fanco.
Barbara mengangguk.
Fanco pun keluar.
Barbara yang berada di dalam ruangan pribadi Ayahnya pun bersantai sambil bermain ponsel.
Tak lama terdengar pembicaraan rekan Ayahnya yang mulai tidak sopan.
"Tuan Fanco, mainan baru ya?" Tanya salah satu rekan Fanco yang suaranya terdengar sudah lanjut usia.
__ADS_1
"Putri saya itu. Jangan sembarangan." Fanco menjawab datar.
"Itu sih Barbara? Perasaan terakhir kali liat pas nikahan nggak semontok itu deh?". Rekan yang paling muda menimpali.
"Ada cucu saya." Fanco menyahuti dengan bangga.
"Wah wah..selamat ya Om Fanco. Padahal dari dulu pengen banget bisa jadi mantu nya om." Ucap rekan yang paling muda lagi.
"Kamu mah nggak pernah ngomong sama saya. Kalo ngomong bisa saya pertimbangkan." Fanco menggoda rekan bisnis nya yang paling muda itu.
Fanco hanya berkelakar tapi tidak ada niat sama sekali untuk benar-benar menjodohkan putrinya dengan rekan bisnis nya karena ia tahu mereka semua adalah hidung belang tak peduli yang tua atau yang muda.
Perbincangan pun terus terjadi, sedangkan Barbara sibuk bermain ponsel.
Sesekali ia tersenyum melihat foto kebersamaan nya dan Felix.
"Hapus semua nya sayang." Barbara seperti mendengar suara Frans.
Ia tersentak dan menggeleng kan kepalanya.
Ia tidak menghiraukan apa yang ia dengar karena baginya itu hanya halusinasi.
"Sayang, hapus semuanya. Hapus kisah lama kamu, dan kita mulai kisah baru kita." Barbara kembali mendengar suara Frans.
Ia menoleh ke sana kemari, mencari keberadaan Frans yang bisa saja tiba-tiba ada di kantor Ayah nya, namun nyatanya nihil.
"Tuh kan bener, aku cuma halusinasi doang. Nggak mungkin Frans disini." Barbara menggerutu sendiri.
Ia pun kembali melanjutkan kegiatan nya melihat foto kebersamaan nya dan Felix di galeri foto nya.
"Sayang, hapus. Hapus semua nya. Jangan pernah ingat lagi atau kamu cuma bakal tersakiti terus." Lagi-lagi Barbara mendengar suara Frans.
Akhirnya Barbara memutuskan untuk menghapus semua foto kebersamaan nya dan Felix.
"Semoga aja ini yang terbaik. Aku yang putusin buat ngelepas dia. Aku juga harus bisa buang semua memori tentang dia. Bukan demi Frans, tapi buat aku sendiri dan juga anak aku." Barbara membatin sambil menghapus semua foto kebersamaan nya dan Felix
Ada rasa sedih pasti, tapi ia juga harus memilih untuk terus terpuruk dalam harapan yang tidak akan pernah menjadi nyata atau bangkit untuk hidup yang lebih baik dengan atau tanpa pria lain.
"Sayang, pintar. I love you Bar." Kembali suara Frans terdengar setelah ia berhasil menghapus semua foto nya.
Barbara hanya tersenyum, sepertinya ia mulai terbiasa dengan kehadiran Frans dalam hidupnya.
Mulai terbiasa dengan sifat posesif Frans, sikap optimis Frans yang selalu memberinya semangat, dan semua hal tentang Frans.
"Semoga kamu yang terakhir Frans."
...~ To Be Continue ~...
*******
Aiyam sori kalo lagi2 agak ngelantur bab ini
Like dan komentar jangan lupa yah.
Belum mau aku bikin konflik, kasian Bar. Soalnya konflik berikutnya bakal nyesek banget.
Jadi sekarang mau bikin Bar sedikit happy dulu.
__ADS_1
Aku jahat ya. hehehe.