
Tak terasa sudah satu minggu ini Felix, Barbara, dan keluarga besar mereka menyiapkan segala persiapan untuk pernikahan Fera dan Denio.
Denio sangat bersemangat sedangkan Fera justru sebaliknya.
Sekali lagi, bukan tidak ingin menikah dengan Denio, hanya saja Fera rasanya belum siap untuk menjadi seorang istri.
Seperti hari ini, keluarga besarnya tengah sibuk menyiapkan ini dan itu, sedangkan Fera memilih duduk di pojokan melihat semua kegiatan keluarga besarnya dan Denio.
"Hah..." Berulang kali Fera menarik nafas dan menghembuskan kasar nafasnya.
"Hei, anak Mama kok malah di pojokan si?" Barbara bertanya sambil menghampiri putrinya.
"Eh, Mama." Fera sedikit tersentak dan tersadar dari lamunannya.
"Kenapa? Ada Apa?" Barbara duduk di samping putrinya dan merangkul pundak Fera.
"Fera ragu Ma. Masa iya sih, Fera harus nikah muda?" Fera memeluk erat pinggang Barbara.
"Loh kenapa ragu? Cinta nggak sama Nio?" Barbara bertanya menantang.
"Cinta sih, tapi kan aku sama Nio masih sangat muda." Fera mencoba membela diri.
"Sayang, sekarang Mama nanya kamu! Lebih baik kamu nikah sama Nio dan setelah itu bebas mau ngapain aja atau kalian pacaran nggak jelas dan kebablasan?" Barbara memberikan pilihan yang menurutnya benar.
"Lebih baik menikah sih." Fera memilih yang menurutnya lebih tepat.
"Nah, makanya. Menikah itu untuk menyatukan dua orang yang saling mencintai. Tapi mereka nggak harus setelah menikah langsung punya anak, apalagi kalian masih kuliah. Mama sama Papa cuma nggak mau nantinya kalian kebablasan apalagi setelah kebablasan malah pisah. Jadi kalian harus punya hubungan yang jelas." Barbara memberi pengertian kepada putrinya.
"Tapi Ma, Nio itu psiko." Fera akhirnya mempunyai kesempatan untuk bercerita tentang Denio.
Bukan untuk merendahkan Denio, Fera hanya berharap tidak ada kebohongan di antara dirinya, Denio, dan keluarga besarnya.
"Mama sama Papa udah menduga itu sayang. Beberapa hari lalu pihak kepolisian hubungi Papa kamu dan mengabari kalo rumah keluarga Nio terbakar. Setelah diusut tuntas ternyata kebakaran itu di sengaja tapi polisi nggak nemuin bukti siapa pelakunya. Lebih parah lagi, polisi juga nemuin potongan tubuh yang hangus terbakar." Barbara menjelaskan kepada Fera.
"Mama sama Papa nggak takut kalo Fera jadi korban Nio?" Fera bertanya khawatir.
__ADS_1
"Sayang, yakin Nio nggak bakalan nyakitin kamu. Kamu perlu tahu satu hal, dan rasanya memang saatnya kamu perlu tau. Papa kamu sama kayak Nio, bahkan om Frans juga. Tapi kedua pria itu berusaha berubah untuk perempuan yang mereka cintai. Sifat psiko itu gak akan bisa sembuh, tapi mereka bisa diredam. Mereka butuh seorang pawang yang mengerti mereka dan bisa menjadi sumber ketenangan buat mereka." Barbara mengusap bahu Fera lembut.
Fera sedikit kaget mendengar cerita Barbara, namun ia memilih untuk mengangguk mengerti.
"Ya udah, Mama kesana lagi yah. Kamu yang semangat dong. Jangan lemes gitu." Barbara menangkup wajah cantik putrinya dan mengecup sayang kening Fera.
Barbara pun kembali bergabung dengan anggota keluarga yang lainnya.
Selepas kepergian Barbara, Denio langsung menghampiri Fera dengan tatapan menyiratkan kemarahan.
"Ikut aku!" Denio menarik tangan Fera dengan kasar menuju ke taman belakang rumah mereka.
"Nio, apaan sih? Sakit." Fera berusaha melepas cengkraman tangan Denio namun Denio tidak mengindahkan.
"Apa yang udah kamu bilang sama Mama barusan?" Denio meninggikan nada bicaranya.
"Apa lagi salah aku sih?" Fera juga tak kalah membentak.
"Kamu bilang sama Mama tentang semua yang udah aku lakuin, jujur!" Denio kembali membentak.
"Iya! Aku kasih tau Mama semuanya. Lalu kenapa? Aku cuma pengen kamu sembuh dan hidup normal Denio." Fera kali ini tak ingin kalah dan disalahkan.
"Kamu sakit Denio, kamu butuh dukungan bukan cuma dari aku. Mereka bahkan tau apa yang udah kamu lakuin sama keluarga kamu, tapi mereka milih diam. Mereka juga bahkan nggak ragu nyerahkan aku nikah sama kamu. Karna apa? Karna mereka percaya kamu bisa menjadi lebih baik ketika aku ada sama kamu. Aku cerita sama Mama bukan dengan niat menghina atau merendahkan kamu, tapi aku ingin mendapatkan solusi dari Mama biar bisa bantu kamu sembuh." Celoteh Fera panjang lebar.
Denio masih terdiam.
"Wajarkan kalo aku ragu mau nikah sama kamu. Sifat kamu aja gini Denio, gak percayaan sama aku." Fera kembali berceloteh.
"Sekarang semua keputusan ada di tangan kamu. Kalo kamu bisa dan mau percaya sama aku serta merubah sifat kamu yang curigaan, kita lanjut nikah. Tapi kalo kamu masih kekeh gak mau berubah, lebih baik kita akhiri semua bahkan hubungan pacaran kita juga!" Fera langsung beranjak pergi meninggalkan Denio yang masih terdiam dan mematung.
Sepeninggal Fera, Denio terduduk lemas di atas rerumputan taman itu sambil merenungkan setiap perkataan Fera.
"Nio.." Felix memanggilnya dari belakang.
Felix tadi tidak sengaja sudah mendengar semua keributan pasangan muda itu.
__ADS_1
Felix mendekati Denio dan merangkul lalu menuntun Denio untuk duduk di kursi taman itu.
Mata Denio merah seperti menahan tangis.
"Kita sebagai lelaki ngomong dari hati ke hati. Kamu cinta nggak sama Fera? Tatap mata Papa!" Felix mencoba mendalami seorang Denio yang sama dengannya adalah seorang psikopat.
Denio menatap Felix tanpa ragu.
"Aku cinta sama Fera Pa, dan cuma Fera yang aku mau." Denio menjawab dengan yakin.
Felix tersenyum.
"Kalo gitu, kamu harus bisa juga jadi lebih baik seperti yang Fera inginkan. Bukan hanya kamu yang menuntut Fera untuk menatap lebih baik menurut versi kamu. Kalian harus sama-sama berubah dan mendalami karakter masing-masing." Felix berbicara dengan tenang seolah Denio adalah putra kandungnya sendiri.
"Tapi Fera sekarang marah sama aku Pa, Fera benci sama aku." Denio membuat asumsi yang menakuti dirinya sendiri.
Terkadang sikap dan sifat Denio masih seperti anak-anak meski ia telah tumbuh dewasa. Mau tak mau Felix sekeluarga mencoba memahami. Sudah resiko mereka saat mereka memutuskan untuk mengasuh dan membesarkan Denio.
"Fera nggak akan marah sama kamu. Dia cuma mau kamu renungin semua sikap kamu yang nggak percayaan sama dia. Dia juga sayang sama kamu, jadi nggak mungkin dia lakuin sesuatu yang malah membuat kamu malu atau menyakiti kamu." Felix mencoba memberi pengertian kepada Denio.
"Jadi Fera nggak marah sama aku Pa?" Denio bertanya dengan wajah berbinar.
Felix menggeleng.
"Pasti nggak! Sekarang kamu susulin dia dan ngomongin semuanya baik-baik." Felix memberi usul.
Denio segera bangkit dari duduknya dan berlari meninggalkan Felix menuju ke kamar Fera.
"Sayang, aku masuk ya?" Denio bertanya sambil membuka pintu kamar Fera.
"Sayang?" Denio bisa melihat Fera berbaring di atas ranjang dengan tubuh terbungkus selimut.
Denio mendekati Fera dengan ragu dan naik ke atas ranjang lalu duduk di samping Fera.
"Sayang.." Denio kembali memanggil Fera sambil membuka pelan selimutnya.
__ADS_1
"Astaga..sayang kamu kenapa?"
...~ TO BE CONTINUE ~...