
Satu Minggu Kemudian
"Ih..om Frans udah seminggu ini rakus terus ih.." Fera menatap Frans yang tengah lahap menyantap makanannya.
Mereka semua sedang makan malam di ruang makan.
Tasya selalu tidak berselera selama satu minggu ini, berbanding terbalik dengan suaminya.
Felix dan Barbara makan seperti biasa, Barbara hanya akan mengalami morning sickness saja dan setelah itu semuanya normal seharian.
"Iya nih, Frans udah seminggu ini rakus terus." Tasya menimpali.
Felix dan Barbara kemudian saling memandang.
"Jangan bilang kamu lagi isi Tas." Barbara mengutarakan pendapat nya.
Tasya terheran mendengar perkataan Barbara.
"Tapi aku nggak morning sickness kayak kamu dan nggak ada gejala lain yang menandakan aku hamil. Aku malah nggak nafsu makan terus." Tasya berusaha menyanggah perkataan Barbara.
Ia tidak ingin terlalu berharap yang malah akan membuatnya kecewa.
"Tas, setiap ibu hamil itu gejala dan tandanya beda-beda. Hamil anak pertama dan seterusnya aja bisa beda." Barbara menimpali perkataannya.
Tasya terdiam sejenak.
"Mending kamu coba test aja deh Tas. Buat mencegah sesuatu yang buruk kalo emang beneran hamil." Felix kini memberi saran.
"Bener Tas. Testpack aku kemarin yang kamu beli juga masih ada yang nggak kepake. Test nya besok pagi pas kamu bangun tidur lebih akurat." Barbara menimpali perkataan Felix.
Tasya hanya mengangguk pelan. Tentu Tasya sangat berharap, hanya saja ia ragu dan takut akan kecewa lagi.
OAAK
Frans bersendawa kuat.
"Ih..om Frans jorok.." Fera bersungut.
"Tau ih..jorok banget. Dulu aja serem, psikopat. Sekarang udah nggak ada wibawanya." Barbara ikut meledek kakak iparnya dan yang diledek hanya tersenyum tanpa rasa bersalah.
Acara makan malam pun telah selesai.
Mereka berkumpul bersama di ruang keluarga.
Barbara mengajar Fera mengerjakan tugas sekolahnya, sedangkan Frans bermanja pada istrinya. Felix duduk disamping Barbara sambil mengelus dan mengusap kepala serta rambut Barbara.
"Hoam..ngantuk." Frans menguap lebar.
"Ya udah, tidur yuk." Tasya mengajak suaminya.
Frans mengangguk.
"Testpack nya ada didalam laci nakas. Kamu ambil aja ya Tas dikamar aku." Barbara memberitahu Tasya.
Tasya mengangguk dan berlalu meninggalkan keluarga kecil itu.
"Gimana? Ada yang masih bingung?" Barbara bertanya pada putrinya.
"Nggak Ma. Makasih Mama." Fera sambil mengemaskan buku-bukunya.
__ADS_1
"Ma, kemarin pas Denio datang kesekolah tangannya biru-biru gitu. Terus Fera nggak sengaja nyenggol, katanya sakit. Fera tanya kenapa, tapi dia nggak mau jawab." Fera bercerita tentang Denio.
Felix dan Barbara saling menatap.
"Ibu guru nggak ada yang nanya?" Felix bersuara.
Fera menggeleng.
"Jangan bilang Denio dapat kekerasan fisik dari orang tuanya." Felix bergumam pada Barbara.
Barbara menatap bingung pada suaminya.
"Udah ya Pa, Ma. Fera tidur dulu. Nanti weekend Fera ajak Nio kesini. Night Papa, Mama." Fera pun naik ke kamarnya setelah mengecup pipi kedua orang tuanya bergantian.
"Sayang.." Felix memanggil manja pada istrinya.
Barbara sudah tahu apa yang Felix inginkan.
"Fel, aku tuh lagi hamil muda loh." Barbara berpura-pura menolak dengan alasan.
Barbara tahu ia tidak mungkin bisa menolak suaminya dalam hal ini, namun menggoda suaminya sangat menyenangkan.
"Aku tau, tapi kan kita bisa pelan, maksudnya aku yang pelan." Felix merayu istrinya dengan tangan yang sudah menjelajah kemana-mana.
"Sejak kapan juga dia bisa pelan?" Barbara berpura-pura menggerutu.
Tak ingin menunggu lama, Felix pun mengangkat istrinya dan naik ke dalam kamar mereka.
•••••••••••
Pagi telah menyambut.
Ia berharap cemas dengan hasil yang akan ia dapatkan.
Menunggu hingga dua puluh menit akhirnya testpack nya menampilkan hasil.
Tasya sangat takut dan gugup untuk melihat hasilnya.
Tasya bahkan menutup rapat kedua matanya lalu membukanya kembali secara perlahan.
"Ini?" Tasya menjatuhkan testpack nya ke lantai saat ia melihat hasilnya dan langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Matanya berkaca-kaca karena haru.
"Aku beneran hamil." Tasya kini terduduk di lantai dan mengambil kembali testpack nya lalu ditatap nya tak percaya dengan hasil yang ia dapatkan.
Penantian lima tahun akhirnya membuahkan hasil.
Tasya segera keluar dari kamar mandi dan menghampiri suaminya.
"Sayang bangun!" Tasya menggoyang pelan tubuh Frans.
"Em..ada apa?" Frans membuka matanya secara perlahan dan bangkit dari tidurnya menjadi duduk.
Frans mengucek matanya lalu menatap wajah istrinya yang habis menangis.
"Sayang kamu kenapa? Kok nangis? Kamu sakit? Mana yang sakit?" Frans panik dan memeriksa tubuh istrinya.
Tasya tersenyum dan menghadapkan hasil testpack nya pada Frans.
__ADS_1
Frans masih bingung.
Ia mengambil testpack tersebut dan menatapnya lama.
"Eh..tunggu..kamu hamil?" Frans bertanya tak percaya.
Tasya tersenyum dan mengangguk.
"Beneran? Oh my..makasih sayang." Frans memeluk erat istrinya.
"Harus aku umumin kesemua orang." Frans kemudian menarik lembut tangan istrinya lalu beranjak keluar dari kamarnya.
Ia segera menuju kekamar Felix Barbara dan menggedor pintu kamar mereka.
"Apaan sih?" Felix membuka sedikit pintunya dengan matanya yang masih terpejam.
"Istriku hamil ei.." Frans sangat bahagia.
"Oh..biasa aja." Felix kembali menutup pintu kamarnya.
Tasya merasa tidak enak hati, bukam karena jawaban Felix tapi karena mereka sudah mengganggu istirahat Felix Barbara.
"Udah ah..nanti aja ngomongnya. Mereka masih istirahat." Tasya mengajak Frans untuk kembali kekamar dan Frans menurut.
Sigap, ia langsung menggendong istrinya untuk kembali kekamar mereka.
"Makasih ya sayang." Frans mengecup habis wajah Tasya membuat Tasya tertawa geli.
"Aku yang harusnya makasih sama kamu. Selama lima tahun ini kamu nggak pernah sekalipun bersungut karena belum bisa kasih keturunan sama kamu." Tasya menatap wajah suaminya dengan tatapan terharu.
"Karna aku cinta sama kamu. Dan kebahagiaan dalam rumah tangga nggak cuma diukur dari punya anak atau nggak." Frans memeluk erat istrinya..
"Udah yuk, mandi bareng. Laper aku, serius." Frans mengangkat istrinya masuk kedalam kamar mandi dan merekapun mandi bersama.
Selesai dengan semuanya, mereka pun langsung turun kebawah menuju ke ruang makan dan ternyata Felix, Barbara, dan Fera sudah di ruang makan menunggu mereka.
Barbara langsung bangkit dan memeluk Tasya.
"Selamat ya Tas, akhirnya terwujud juga impian kamu." Barbara ikut merasa terharu.
"Makasih Bar." Tasya membalas pelukan Barbara.
"Selamat ya tante Tas. Fera bakal dapet dua adik sekaligus." Fera mengembangkan senyum sempurna.
"Fera bisa ngeramal ya? Minggu lalu bilang tante bakal punya dedek di perut satu minggu lagi dan hari ini beneran kejadian." Tasya memandang gemas pada Fera.
"Nggak lah. Fera kan cuma doain aja." Fera menjawab sambil mengunyah sandwich nya.
"Udah makan yuk, laper." Frans langsung duduk di kursinya dan segera menyantap sandwich nya dengan rakus.
"Ini istri yang hamil, suami yang rakus rakus ya." Felix menggeleng kepalanya heran.
"Tas, gak selera makan juga harus makan. Bayinya didalam rahim kamu, bukan di perut Frans." Barbara membujuk Tasya yang hanya diam.
Tasya mengangguk dan mulai menyantap makanannya walau dipaksa.
Selesai dengan kegiatan sarapan nya, mereka pun berangkat ketempat kerja dan melakukan kegiatan masing-masing.
Barbara tidak mengizinkan Tasya untuk menyentuh pekerjaan rumah lagi sama sekali. Selama ini Tasya meminta untuk tetap melakukan pekerjaan rumah karena kebaikan Barbara dibantu dengan pelayan lain.
__ADS_1
......~ TO BE CONTINUE ~......