Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)

Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)
Fera Masuk Sekolah


__ADS_3

Beberapa Bulan Kemudian


"Papa gimana? Fera bagus kan pake seragam sekolah?" Fera bertanya girang sambil berputar menunjukkan seragam TK nya yang terbalut indah di tubuh mungilnya.


"Bagus lah, masa nggak. Anak Papa paling cantik deh pokoknya." Felix mengangkat kedua jempolnya.


"Fera sayang Papa." Fera langsung memeluk Ayahnya.


"Papa juga sayang Fera." Felix mengecup pipi putrinya.


Mereka sedang menunggu Barbara yang masih bersiap dikamar padahal sebentar lagi Fera sudah harus berangkat, apalagi ini adalah hari pertama Fera masuk TK.


Fera sudah sangat antusias.


"Em..kok Mama lama sih?" Fera menggerutu penasaran.


Akhirnya ia memutuskan untuk berlari naik menuju kamar kedua orang tuanya, Felix menyusul dari belakang.


"Ma, mama udah belum?" Fera bertanya sambil membuka pintu kamarnya.


Saat sudah masuk, Fera tidak mendapati Barbara didalam kamar.


"Mama nya udah?" Felix ikut bertanya.


"Mama nggak ada dikamar Pa?" Fera bingung.


HUEK HUEKK


Suara Barbara muntah terdengar dari dalam kamar mandi.


Felix dan Fera segera berlari ke dalam kamar mandi.


"Sayang kamu nggak papa?" Felix bertanya khawatir sambil memijat tengkuk istrinya.


"Mama kenapa?" Fera bertanya khawatir.


"Nggak sayang. Mama nggak papa. Cuma masuk angin mungkin." Barbara menjawab dengan lemah.


"Ya udah, Fera hari ini pergi sama om Frans aja nggak papa kok. Mama istirahat aja." Fera mencoba mengerti keadaan Mama nya.


Barbara menggeleng.


"Nggak sayang, Mama nggak papa kok. Ini juga udah selesai." Barbara membujuk putrinya.


Ia tentu tak ingin putrinya sampai kecewa padanya.


Barbara berjalan keluar dari kamar mandi dengan lemas dibantu Felix.


Setelah Barbara merapikan riasan wajahnya agar tidak terlalu pucat, mereka pun keluar dari kamar dan turun ke bawah.


Tidak lagi sarapan karena mereka memang sudah hampir terlambat jika harus sarapan dulu.


Setelah masuk mereka masuk kedalam mobil, Felix pun menjalankan mobilnya menuju ke sekolahan Fera.

__ADS_1


Fera sangat antusias.


"Ma, Fera seneng banget udah masuk TK akhirnya. Nanti Fera bakal nyari banyak temen." Fera memeluk leher Barbara dari belakang.


"Iya sayang. Pokoknya nanti sekolah yang bener. Nggak boleh nakal loh ya." Barbara mengelus tangan anaknya yang melingkar di lehernya.


"Udah, jangan meluk gitu! Kasian tangan Fera pegel, terhalang kursi Mama juga." Felix memerintah dengan lembut.


Fera terkekeh dan melepaskan pelukannya.


"Pengen banget deh punya adek..biar bisa sekolah sama-sama." Fera menatap kedua orang tuanya bergantian dengan tatapan penuh harap.


"Fer, kamu nggak takut kalo nanti kamu punya adik, kasih sayang Papa Mama ke kamu jadi terbagi?" Felix bertanya khawatir.


"Ya nggak dong. Fera kan udah gede, sekarang udah sekolah." Fera menjawab semangat.


Felix dan Barbara tersenyum melihat semangat dan antusias putri kecil mereka.


"Semoga kamu selalu bahagia seperti ini ya sayang." Barbara membatin.


Tak lama mereka pun sampai disekolahan Fera.


Karena hari ini adalah hari pertama, maka setiap orang tua murid diwajibkan untuk hadir lengkap ataupun tidak.


Mereka turun dari mobil dan berjalan masuk, namun sebelumnya dicegat oleh petugas keamanan.


"Maaf Tuan, Nyonya bisa saya minta data diri dan kartu Identitas nya?" Sang petugas keamanan bertanya dengan sopan.


Felix dan Barbara pun mengeluarkan kartu Identitas mereka dan mengisi data diri di buku daftar pengunjung.


"Saya dan istri saya sendiri itu sudah pasti. Dan kalau kami berhalangan, maka yang berpotensi untuk mengantar jemput Fera adalah Om nya Fera Frans Lorenzo dan istrinya Tasya Alexo." Felix menjawab dengan sopan juga dan menyebutkan semua anggota keluarganya.


"Baik. Jadi saya meminta data-data barusan adalah untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan satu hari nanti. Dan jika ada keterlambatan dalam menjemput murid saat pulang sekolah maka kami dari pihak sekolah akan menghubungi pihak keluarga terkait untuk mengingatkan atau menanyakan alasan keterlambatan. Semua ini adalah prosedur dari sekolah kami untuk memastikan keamanan dan keselamatan dari murid-murid kami." Si petugas keamanan menjelaskan.


Felix dan Barbara mengangguk mengerti.


"Baik Pak. Terima kasih sekali karena pihak sekolah sangat memperhatikan hal sensitif seperti itu. Ada lagi mungkin yang diperlukan?" Felix bertanya kembali dengan sopan.


Si petugas keamanan memeriksa kembali semua data diri yang Felix isi tadi.


"Semuanya sudah lengkap. Nomor yang bisa dihubungi saat darurat juga sudah. Baik, semuanya sudah lengkap. Silahkan masuk. Selamat belajar nak Fera." Si petugas keamanan mempersilahkan dengan sopan dan menyemangati Fera.


"Terima kasih pak keamanan." Fera membungkuk dengan sopan.


Mereka bertiga pun masuk kedalam lingkungan sekolah.


Sangat ramai, itulah yang mereka lihat pertama kali.


Tak lama beberapa orang guru keluar dan mengarahkan para murid dan orang tua murid masuk kedalam aula sekolah yang sangat luas.


Para orang tua murid diarahkan untuk duduk dengan mengapit anak mereka masing-masing.


Pandangan Fera menangkap seorang anak laki-laki yang duduk sendirian di pojok ruangan dan terus menunduk.

__ADS_1


Fera turun dari tempat duduknya dan menghampiri anak laki-laki itu.


"Hai, kok kamu sendiri?" Fera bertanya dengan sopan.


Anak laki-laki tersebut mengangkat kepalanya untuk menatap wajah cantik Fera.


Tatapan tajam namun tersirat luka ia tujukan untuk Fera.


"Aku Fera." Fera mengulurkan tangannya.


"Denio." Anak laki-laki itu menjawab tanpa membalas uluran tangan Fera.


"Papa sama Mama kamu nggak datang? Ayo, gabung sama aku aja." Fera menarik paksa Denio untuk mengikuti nya dan bergabung dengan orang tuanya.


Denio mengikuti namun ia menepis tangan Fera, Fera tidak keberatan sedikitpun. Fera bukanlah anak yang mudah tersinggung.


"Hai, siapa namanya?" Barbara menyapa duluan.


"Denio, tante." Denio menjawab dengan nada datar.


"Nama tante Barbara dan ini om Felix." Barbara memperkenalkan diri dan juga Felix.


Denio hanya tersenyum kecil. Barbara dan Felix pun duduk dengan mengapit Fera dan Denio.


Tak lama para guru dan seorang kepala sekolah pun masuk kedalam ruangan aula tersebut dan mulai menjelaskan aturan-aturan sekolah dan sebagainya.


Fera menyimak dengan serius, dan Denio hanya menatap Fera dengan tatapan yang sulit diartikan.


Setelah selesai, mereka pun diijinkan pulang karena memang proses belajar belum dimulai hari ini.


"Ma, Fera laper." Fera menggoyang tangan Barbara manja.


"Mau makan apa?" Felix yang bertanya sambil menggendong Fera.


"Mau makan burger sama kentang goreng." Fera memeluk leher Felix dan mengecup pipi Felix sebagai tanda sogokan


"Denio, Papa sama Mama nya belum jemput?" Barbara bertanya lembut pada Denio.


"Nggak tante. Mereka sibuk dengan urusan mereka. Paling nanti supir yang jemput." Denio menjawab datar.


"Ya udah, kamu ikut kita aja. Kamu kan mulai hari ini jadi teman aku." Fera memberi usul dengan semangat.


Entah kenapa Denio sangat susah sekali untuk menolak Fera hingga akhirnya ia pun ikut bersama dengan keluarga Barbara.


Sebelumnya Felix sudah meninggalkan kontak agar supir Denio bisa menghubungi saat menjemput nanti.


...~ TO BE CONTINUE ~...


######


Maaf lama up nya..lagi mumet dan ngadat otak ku....


Mampir yok ke TWINS (Belenggu Gangster Kejam) sambil nunggu FeRa up lagi..

__ADS_1


Makasih yang masih setia nungguin..


__ADS_2