Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)

Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)
Agensi


__ADS_3

Hari ini Barbara memulai hari pertama nya sebagai model. Impian yang sudah lama dipendam nya dan menjadi kenyataan berkat Felix si pembunuh.


Mereka kini berada di dalam mobil Felix. Felix tentu saja harus mengantar Barbara.


"Fel, terus kamu kok gak dihukum sama pihak berwajib dulu nya?" Barbara masih penasaran dengan kisah Felix.


"Mereka dulu sempat bawa aku ke psikiater dan pusat rehabilitasi. Tapi aku gak mau disembuhkan." Felix menjawab sejujurnya.


"Kenapa?" Barbara penasaran.


"Karena aku udah terlanjur menyukai itu. Udah terlanjur menjadikan itu sebagai bagian dari hidupku." Felix menjelaskan tanpa rasa bersalah.


"Terus sekarang?" Barbara masih bertanya.


"Mereka udah gak sanggup jerat aku. Kalo mereka masukin aku ke penjara ya aku bunuh para napi kalo lagi pengen ngebunuh." Felix menjawab santai.


Barbara terperangah tak percaya dengan perkataan Felix.


"Terus, jangan bilang kamu juga ngebunuh pihak agensi buat dapetin kontrak?" Barbara bertanya menyelidik.


"Nggak lah. Agensi itu punya aku." Felix membela diri.


"Dapat dari mana?" Barbara masih menyelidik.


"Hasil membunuh." Dengan santainya Felix menjawab.


Prok prok prok


Barbara bertepuk tangan dan memberikan jempol pada Felix.


Kemudian hening.


Tak lama kemudian mereka pun sampai di agensi milik Felix.


Gedung megah dengan lambang FL di puncak teratas gedung.


"Ini sih keren banget." Barbara takjub akan keindahan dan kemewahan gedung tersebut.


"Dulu buruk rupa." Felix menjelaskan bahwa dulu nya gedung agensi itu adalah agensi yang hampir bangkrut.


"Kamu hebat Fel." Barbara mengecup pipi Felix.


Barbara benar-benar tidak ada takutnya. Disaat orang lain berusaha menjauhi Felix, dia malah memilih untuk terikat pada Felix.


"Bar, jadi cewek yang lemah dan bergantung sama aku, please." Felix memohon dan meraih tangan Barbara dalam genggaman nya.


Felix mulai tidak ingin terpisah dari Barbara.


"Nggak mau. Aku cukup bergantung sama kamu dalam urusan modelling aja. Yang lain nggak perlu." Barbara menggeleng kepalanya.


Barbara memang tidak ingin terlihat lemah, jauh dari orang tua nya membuat nya belajar arti kekuatan.


"Tapi Bar ... " Felix tidak melanjutkan perkataannya.

__ADS_1


"Nggak ada tapi tapi. Aku cuma akan menggantungkan hidup aku sama diri aku sendiri dan orang yang mencintai serta aku cintai." Barbara tidak ingin diganggu keputusan nya.


"Itu aku Bar. Aku akan cinta sama kamu nanti." Felix masih berusaha meyakinkan Barbara.


"Nggak Fel. Aku nggak boleh cinta sama kamu. Itu masalah nya." Barbara mengingatkan tentang perjanjian kontrak mereka.


Hening, Felix tidak punya alasan untuk memaksa Barbara lagi.


"Ya udah, ayo kita masuk." Felix menggenggam tangan Barbara lalu berjalan masuk diikuti Barbara disamping nya.


Beberapa staf yang mereka temui di lobi agensi itu terperangah tidak percaya melihat sikap Felix yang bisa di bilang manis.


Mereka tentu tahu atasan mereka seperti apa, mereka bahkan tahu semua perempuan yang mendekati Felix, hanya bertahan satu hari karena pada malam nya akan berakhir mengenaskan setelah Felix menikmati mereka.


"Fel, kok pada liatin gitu? Aku aneh?" Barbara bertanya merasakan tatapan aneh dari mereka.


"Biarin aja. Mereka mau aku congkel mata nya." Felix berucap santai.


"Felix." Barbara geram dan mencubit kuat lengan Felix. Felix hanya meringis dan tersenyum.


Para staf tambah jantungan saat melihat senyuman manis Felix yang ditunjukkan pertama kalinya didepan mereka.


Mereka kemudian menaiki lift menuju ke lantai tiga belas dimana ruangan nya berada. Bagi sebagian orang angka tiga belas adalah angka terkutuk tapi bagi Felix itu adalah angka keberuntungan.


Hanya satu ruangan di lantai itu. Ruangan kerja Felix.


Ting


Pintu lift terbuka dan mereka pun keluar.


"Suka?" Felix bertanya dengan berjalan mundur didepan Barbara dan tangannya setia menggenggam tangan Barbara.


"Ini sih keren banget Fel desain dan furniture nya." Barbara memuji habis kemewahan didepan mata nya.


"Kalo suka aku bisa kasih ke kamu." Felix menawarkan pada Barbara.


"Syaratnya?" Barbara tentu tahu semua itu gak gratis.


Felix menghentikan langkahnya dan berdiri tepat di depan Barbara.


Telapak tangannya menangkup wajah Barbara lalu mengecup lembut bibir Barbara.


"Jangan pernah pergi dari aku walaupun kamu nggak pernah cinta sama aku." Felix mengucapkan syarat nya dan menatap dalam pada mata Barbara setelah melepas kecupan nya.


Dug dug dug


"Kalo gini caranya sih bakalan aku yang cinta duluan sama dia." Batin Barbara dalam hati.


"Nggak usah aja deh. Kalo nanti aku nemuin cowok yang aku cinta kan aku pasti pergi." Barbara menolak.


"Kalo itu sampe terjadi, aku yang akan maksa kamu untuk tetap tinggal dengan cara ku." Felix kembali dingin dan datar, lalu berbalik dan berjalan masuk kedalam ruangan nya.


"Felix." Barbara berteriak kesal.

__ADS_1


Tidak boleh jatuh cinta pada nya, dan juga tidak boleh pergi dari nya. Barbara menghilang dari bumi aja yah.


"Ini susunan jadwal kamu." Felix melempar ringan sebuah buku agenda berukuran sedang didepan meja Barbara. Barbara masih berdiri, sedangkan Felix sudah duduk di kursi kebesarannya.


"Aku nggak ada manajer?" Barbara bertanya penasaran, pasalnya biasanya setiap artis ataupun model pasti punya satu manajer yang mengurus semua jadwalnya dan hal lain yang menyangkut penampilan nya kan?


"Aku." Felix menjawab yang berarti dirinya yang akan menjadi manajer Barbara.


"What?" Barbara terperanjat tidak percaya.


"Itu artinya dia akan ngikat aku terus tanpa jarak." Batin Barbara.


Barbara pasrah dan duduk lalu membaca buku agenda tersebut.


Sambil Barbara membaca, Felix meraih rokok dari laci meja nya dan membakar nya lalu menghisap nya dalam.


Uhuk uhuk uhuk


Barbara terbatuk dan seketika merasa sesak. Barbara alergi pada asap rokok atau asap lainnya.


Wajah Barbara memerah.


Felix terperanjat melihat keadaan Barbara yang tidak baik itu.


Ia mendekati Barbara dengan rokok yang masih menyala di tangannya.


"Kamu kenapa?" Felix bertanya khawatir.


Barbara tidak sanggup menjawab dan langsung berusaha berlari keluar dari ruangan itu.


Barbara menarik nafas panjang untuk mendapatkan oksigen setelah diluar ruangan.


Ia terduduk lemas di lantai yang beralaskan karpet bulu mewah.


Barbara memejamkan matanya sejenak, rasanya hampir mati karena sesak tadi.


Felix menyadari ada yang tidak beres dari Barbara. Ia pun mematikan puntung rokok nya dan keluar menyusul Barbara.


Felix kaget saat melihat Barbara terduduk lemas di lantai dan memejamkan matanya.


"Bar, kamu nggak papa?" Felix bertanya khawatir sambil menepuk pelan pipi Barbara.


"Please, satu hal aja aku minta kamu nurut sama aku. Jangan ngerokok didepan aku. Aku nggak bisa sama asap nya atau asap apapun." Barbara meminta dengan suara pelan tapi masih memejamkan matanya.


"Maaf Bar." Felix memeluk erat Barbara seolah takut kehilangan.


Dan untuk pertama kalinya Felix mengucapkan maaf pada seseorang.


...~ To Be Continue ~...


********


Like dan komentar jangan lupa.

__ADS_1


Makasih.


__ADS_2