Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)

Truth Or Dare? (Terjebak Cinta Pembunuh Psikopat)
Aku akan coba.


__ADS_3


# Salam Toleransi


.


.


.


.


...NOTE : Terdapat sedikit bagian 21++...


...Bijak Dalam Memilih Bacaan!!!...


.


.


.


.


Barbara kini tengah duduk di atas ranjang, bersandar pada kepala ranjang nya.


Sedangkan Felix sedang berada di dapur untuk membuatkan makanan untuk nya.


Pandangan Barbara setia menelusuri setiap sudut kamar nya itu.


Kamar tempat ia dan Felix berulang kali saling memadu kasih, meluapkan segala hasrat dan cinta mereka.


Senyum tipis tersungging di bibir nya.


Mencoba memberi Felix kesempatan, membuat nya merasa lebih baik.


Walau tetap saja masih ada keraguan apakah Felix akan benar-benar berubah, atau hanya kedok untuk menariknya kembali.


"Sayang." Felix memanggil Barbara sambil membuka pintu kamar nya dengan susah payah karena membawa nampan makanan.


Barbara ingin membantu, tapi apalah daya kaki nya saat ini terasa lebih sakit dari sebelumnya.


Setelah berhasil membuka pintu, Felix melangkah mendekati Barbara lalu menata makanan dan minuman yang ia bawa di atas nakas.


"Aku suapin yah." Pinta Felix sambil memilih makanan yang ingin ia berikan pada Barbara.


Barbara hanya tersenyum tipis.


"Aaaa." Felix menyuruh Barbara untuk membuka mulutnya.


Barbara menurut.


Dengan telaten Felix menyuapi Barbara, dan anehnya Barbara malah makan dengan lahap.


Tidak seperti saat bersama Frans, ia harus bersusah payah hanya sekedar untuk menelan makanan nya.


"Enak?" Felix bertanya lembut.


"Em." Barbara menjawab singkat sambil mengangguk pelan.


Felix merasa tidak nyaman melihat Barbara bersikap dingin kepadanya.


"Sayang, masih marah sama aku?" Felix bertanya pelan.


Barbara hanya tersenyum dan menggeleng.


"Jangan cuek gitu donk." Felix meminta.


Lagi-lagi Barbara hanya tersenyum.


Entahlah, tapi rasanya Barbara saat ini sedang tidak dalam keadaan ingin berbicara apapun.


Tangannya hanya setia mengelus perut nya yang masih rata.


Felix marah.

__ADS_1


Ia meletakkan makanan ditangan nya dengan kasar diatas nakas.


"Ini juga nih salah satu alasan kenapa aku nggak mau punya anak. Perhatian dan fokus kamu terbagi." Felix membentak sambil melepas kasar tangan Barbara dari perutnya sendiri.


Barbara hanya diam, memilih untuk tidak menjawab.


Barbara lelah, jika hanya karena masalah anaknya membuat mereka bertengkar terus menerus.


Barbara hanya menunduk sedih.


Tiba-tiba Felix kembali merasa iba pada wanitanya itu.


"Maaf sayang. Maafin aku." Felix spontan memeluk Barbara.


Barbara tidak membalas atau menjawab apapun.


Entah kenapa, sekarang rasanya memilih diam adalah yang terbaik untuk menghadapi Felix.


Barbara mulai merasa seakan tidak mengenal Felix lagi.


Lalu pandangan mata Felix jatuh pada bahu Barbara yang belum sempat ia obati tadi.


"Sayang, aku obatin yah." Felix meminta ijin dengan lembut.


Barbara pun hanya mengangguk.


Felix meraih beberapa perlengkapan yang bisa ia gunakan untuk mengobati luka di bahu Barbara.


Perlahan ia membuka baju Barbara.


Dengan telaten ia mulai membersihkan luka Barbara dengan alkohol kemudian mengoleskan salep khusus pada luka itu.


Setelah itu ia menutupi luka tersebut dengan perban.


Felix kembali duduk berhadapan dengan Barbara.


Mata Felix kini menatap lekat bibir dan juga kembaran kenyal Barbara yang tampak lebih berisi.


Hasrat birahi Felix seketika terpancing.


Perlahan ia mendekati Barbara yang sedari tadi tidak menatapnya.


Barbara menghela nafas kasar.


Entah harus menolak atau tidak.


Barbara benar-benar berkecamuk dengan perasaan nya.


Takut langkah yang diambil akan salah.


Tidak mendapatkan jawaban, Felix menganggap itu adalah tanda Barbara setuju.


Ia mulai mencium lembut bibir Barbara dan tangannya mulai melepaskan pengait bra milik Barbara.


"Umh..Fel." Barbara melenguh saat Barbara merasakan tangan Felix memainkan gundukan kenyal nya.


Felix menghentikan sejenak aksinya dan membawa Barbara berbaring.


Felix turun hingga kebawah Barbara lalu melepaskan celana hotpan yang sedang ia pakai beserta isinya.


Barbara benar-benar polos tak berbalut apapun saat ini.


Felix kembali naik keatas Barbara dan mencium lembut bibir Barbara.


Barbara yang ikut terpancing pun akhirnya membalas perlakuan Felix.


Ia mengalungkan tangannya pada leher Felix.


Keduanya berciuman panas cukup lama.


Felix kemudian melepaskan ciuman nya dan turun hingga berada di antara paha Barbara.


"Sayang, mau lebih?" Felix bertanya sensual, namun Barbara tidak menjawab.


Barbara ragu, dirinya juga sedang terpancing gairah, tapi takut akan melukai janin nya.

__ADS_1


"Tapi pelan-pelan Fel." Barbara akhirnya bersuara.


Felix hanya tersenyum.


Ia mulai bermain di area pribadi milik Barbara menggunakan mulutnya.


"Fel..umh..akh.." Barbara mendesah.


Meski Felix hanya menggunakan mulutnya, Barbara tetap saja merasakan nikmatnya.


Felix tersenyum.


Ia tetap setia bermain menggunakan mulutnya.


Entahlah, tapi Felix juga ragu untuk melakukan permainan yang sesungguhnya dengan Barbara meski ia sangat ingin.


Mungkin karena takut akan melukai janin yang ad didalam perut Barbara.


"Fel..akh aku nggak kuat." Barbara berucap dengan susah payah saat ia merasakan dirinya sudah di puncak.


Felix tetap melanjutkan aksinya hingga akhirnya ia merasakan Barbara mencapai pelepasan.


Felix naik dan bergabung dengan Barbara. Ia menarik selimut menutupi tubuh polos Barbara.


"Maaf sayang. Aku cuma kasih kamu segitu." Ucap Felix memeluk tubuh mungil itu.


Barbara hanya mengangguk. Ia juga membalas pelukan Felix.


"Kamu nggak?" Barbara bertanya malu-malu pada Felix.


Felix menggeleng.


"Aku masih bisa tahan sekarang." Felix menjawab pelan.


"Jangan malah solo karir di kamar mandi nanti." Barbara mengejek Felix.


"Nggak kok. Tadi aku emang mau main. Tapi aku masih takut. Karena aku udah mancing kamu, jadi yah aku kasih kamu dengan cara itu aja. Maaf ya." Felix memeluk erat Barbara.


Barbara tersenyum.


"Mau aku bantu kasih kamu juga?" Barbara bertanya menggoda lelakinya itu.


Felix menggeleng.


"Nggak. Aku nggak mau bikin kamu capek. Aku nggak apa kok. Lagian dia udah reda juga karena aku maksa nggak ngasih dia." Felix berucap sensual.


Barbara malah terkekeh.


"Sayang, jangan takut lagi sama aku ya." Pinta Felix pelan.


"Aku nggak takut kalo kamu nyakitin aku Fel. Tapi aku nggak bisa kalo kamu nyakitin bayi kita. Dia itu anugerah buat kita. Kita yang udah ngundang dia datang, bukan dia yang maksa ngikut kita." Barbara berucap lembut dan jujur dari hati.


Ia berusaha memberi pemahaman pada Felix.


Felix hanya diam.


"Mungkin emang berat buat kamu. Tapi percaya deh, kamu pasti bisa kok. Percaya aja sama diri kamu sendiri kalo kamu nggak akan sama kayak orang tua kamu." Barbara membujuk menenangkan Felix.


Felix hanya mengangguk.


"Kalo kamu nggak siap nerima dia, aku nggak masalah kok. Tapi jangan minta aku buat bunuh dia. Aku nggak bisa." Barbara kembali berkata.


"Em..aku nggak bisa janji sayang. Tapi aku akan coba." Felix menjawab lirih.


"Tidur gih. Udah malam. Aku pelukin." Titah Felix pada Barbara.


Barbara mengangguk.


Tanpa menunggu lama Barbara akhirnya terlelap.


"Maaf sayang, cuma bisa ngasih kamu rasa sakit yang betubi-tubi. Mungkin harusnya dari awal kita emang nggak pernah bersama. Tapi semuanya udah terlanjur dan aku udah nggak bisa lepasin kamu lagi." Bisik Felix pelan berharap Barbara mendengar nya meski sudah terlelap sekalipun.


...~ To Be Continue ~...


*******

__ADS_1


Jujur, jgnkan Barbara yang bingung mau ngmg apa sama Felix. Eyke aja bingung mau ngetik apaan.


Like dan komentar jangan lupa. Makasih.


__ADS_2