
"Terserah Felix. Terserah." Barbara berteriak histeris.
Ia kemudian, menuju ke arah lemari kemudian mengganti pakaian nya menjadi pakaian yang lebih layak.
Setelah itu, Barbara meraih koper lalu mengemas semua barang-barang nya kedalam koper. Tidak lupa untuk terus memaki Felix.
"Pria sialan. Mati masuk neraka. Mayat nya nggak bakalan ada yang doyan, bahkan belatung juga nggak. Brengsek, sialan." Barbara mengucapkan setiap kata itu dengan niat dari hati sambil melempar kasar semua barang nya kedalam koper.
"Ya ampun. Kenapa wanita ku manggemaskan banget?" Batin Felix yang sedari tadi hanya senyum-senyum melihat dan mendengar semua perkataan Barbara.
Setelah Barbara selesai, ia pun melangkah keluar dari kamar itu tanpa berkata apapun ataupun berpamitan.
Felix segera mengejarnya, menggenggam tangan nya dan berjalan didepan nya.
"Lepasin. Aku tau jalan keluar." Barbara berusaha melepaskan tangan Felix dari nya namun gagal.
"Udah kan barang barang nya?" Felix bertanya lembut.
Tidak ada lagi Felix yang kejam seperti tadi.
"Apaan brengsek, lepasin. Nggak perlu kamu usir juga aku bisa pergi sendiri." Barbara dengan kuat menepis tangan Felix hingga genggaman nya akhirnya terlepas.
Barbara terlalu sakit untuk bicara baik-baik pada Felix setelah semua yang Felix katakan pada nya.
"Kita bakal pulang ke Australia. Ketemu orang tua kamu, dan bicarain tentang pernikahan kita." Felix berucap serius menatap dalam mata Barbara.
"Nggak. Mati pun aku nggak mau lagi sama kamu. Mulut kamu lebih jahat dari mulut b*****ng." Barbara meluapkan emosi nya.
Felix tahu memang salah nya, tapi ia ingin sekali melamar Barbara dengan caranya sendiri.
"Ya ampun sayang, kamu juga sekarang jahat banget mulut nya ih." Felix malah berkelakar.
Barbara semakin kesal. Ia meraih pisau buah yang ada di atas meja dekat tampat nya berdiri, kemudian ia melayangkan pisau itu pada leher Felix.
Setelah itu Barbara melempar pisau itu sembarangan lalu melangkah pergi. Barbara benar-benar sedang berada di puncak emosi nya.
Felix segera berlari memeluk Barbara dari belakang.
"Sayang, maaf. Aku nggak beneran bilang kamu jahat kayak gitu. Sumpah. Aku niat nya tadi cuma prank kamu. Tapi ternyata kamu benaran nanggapin nya. Maaf." Felix berucap tulus menjelaskan kesalahan nya.
"Aku sebenarnya udah nyiapin persiapan kita buat pulang ke Australia besok. Tapi bingung mau ngomong sama kamu gimana, karna kamu pasti mikir kecepatan melulu." Felix kembali menjelaskan rencananya.
"Maaf sayang."
Felix bahkan tidak peduli leher nya sedang berdarah akibat ulah "Romantis" kekasihnya.
"Bodo amat." Barbara melepaskan kasar tangan Felix yang ada di perut nya.
__ADS_1
Secepat mungkin ia melangkah pergi.
"Okay Bar, kalo cara lembut nggak bisa, terpaksa aku maksa pake cara kasar ya." Felix berteriak berharap Barbara takut dan menghentikan langkahnya.
Seperti nya Felix lupa siapa itu Barbara, dan Felix sendiri yang meminta Barbara untuk tidak takut pada nya.
Barbara tidak peduli. Ia terus dan terus melangkah.
Felix geram, secepat kilat ia berlari ke depan Barbara menghadang langkah Barbara.
"Jangan halangin jalan aku." Barbara memekik kesal.
Barbara berusaha melangkah, dan Felix berusaha menghalangi.
"Felix, apaan sih?" Barbara bertanya kesal lalu mengangkat tangan nya hendak menampar Felix, namun dengan sigap Felix menahan tangannya.
"Jangan pikir karna kamu gak takut sama aku, kamu bisa seenaknya." Tatapan membunuh Felix kembali lagi.
"Ikut aku, atau aku maksa dengan kekerasan berkali-kali?" Felix kembali berusaha mengancam kekasihnya.
Ia mendekat sangat dekat pada Barbara.
"Bar, aku minta maaf. Tapi aku nggak beneran bilang kamu jahat kayak gitu. Please, aku salah. Kamu bisa hukum aku nanti, tapi sekarang jangan dulu Bar. Please." Felix memohon pada Barbara tepat di depan wajah Barbara.
"Bodo amat. Kamu sendiri yang minta pisah, ya udah pisah. Aku nggak akan mati cuma karena kehilangan mahkota aku. Paling juga nggak ada yang mau, ya udah." Barbara berucap menantang Felix.
Perempuan mana pun pasti akan sakit hati jika pria yang dicintai menuduh seperti itu pada mereka.
Barbara menatap tajam pada Felix, namun sayangnya air matanya justru lolos begitu saja dari mata indahnya.
Felix terluka melihat wanita nya menangis karena ulah konyol nya.
Tapi ia sudah terlanjur bergerak dengan caranya untuk menjadikan Barbara miliknya seutuhnya dalam ikatan suci pernikahan.
"Awas ih." Barbara mendorong kasar tubuh kokoh Felix dengan tubuhnya yang lemah.
Tidak ada hasil, sedikitpun Felix tidak berpindah.
Felix menyerah membujuk Barbara dengan lembut terpaksa kini ia menggunakan cara kasar.
Sigap ia memanggul Barbara disalah satu pundak nya, dan tangan satunya menyeret koper Barbara.
Ia berjalan ke mobilnya, kemudian melempar Barbara dengan cukup kuat kemobil. Mau bagaimana lagi cara lembut tidak bisa, terpaksa cara kasar.
Setelah itu, ia segera mengitari mobilnya dan masuk kedalam bagian kemudi. Setelah itu ia melajukan mobilnya menuju ke hotel terdekat dengan Bandara, agar besok tidak tergesa-gesa.
Barbara tidak sekalipun menatap padanya. Benci, saat ini Barbara sangat membenci Felix setelah semua yang Felix katakan pada nya. Walau hatinya tetap menginginkan Felix, tapi ia juga sakit bersamaan.
__ADS_1
Setelah sampai di depan hotel, Felix menuntun Barbara turun dari mobil nya, saat ini mereka harus meredam ego terlebih dulu karena di tempat umum.
Felix menggenggam tangan Barbara erat, bibir nya menampilkan senyum penuh kemenangan. Setidaknya saat ini Barbara tidak bisa kasar atau menolak nya.
Felix sengaja berjalan dengan sangat santai setelah mengambil kunci kamar mereka dari resepsionis tadi.
Barbara berusaha melepaskan tangan nya dari genggaman Felix, tapi selalu saja gagal.
Akhirnya sampai di kamar yang sudah Felix pesan. Kamar mewah dengan fasilitas mumpuni.
Setelah masuk, Barbara langsung berlari ke arah ranjang dan merebahkan tubuhnya. Ia menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Rasa lelah yang teramat sangat menyerang tubuhnya.
Felix juga ikut naik ke atas ranjang dan masuk kedalam selimut Barbara.
"Sayang, maafin aku ya." Felix kembali meminta maaf.
Barbara tidak menjawab, walau masih terbangun tapi ia tidak ingin peduli. Malas menanggapi.
"Aku nggak mungkin mau pisah beneran sama kamu. Maksud aku itu kita pisah, udahan pacaran nya tapi setelah itu kita nikah." Felix menjelaskan dengan lembut dan memeluk erat kekasihnya sesekali mengecup leher Barbara.
"Maaf ya. Kamu bisa hukum aku nanti dengan cara apapun. Tapi jangan ninggalin aku. Nggak apa kamu nggak cinta lagi karna kata-kata jahat aku tadi, tapi jangan ninggalin aku. Please." Felix memohon dengan tulus.
Bahkan Barbara bisa merasakan air mata Felix menetes di rambut nya.
"Aku percaya sama kamu sayang. Sangat percaya. Aku yakin kamu nggak mungkin nyakitin aku setelah semua yang kamu lakuin dan kasih buat aku. Please, maafin aku." Felix kembali memohon.
Barbara akhirnya berbalik posisi menghadap Felix, dan benar saja, Felix menangis.
Spontan, tangan Barbara menghapus air mata Felix.
Barbara tidak berkata apapun, hanya menatap dalam mata tajam Felix.
Tiba-tiba ia menyambar bibir Felix membuat Felix berada di bawah nya. Felix dengan senang hati membalas perlakuan kekasihnya.
Hingga Barbara tanpa sengaja tertidur di atasnya.
"I love you sayang. Maaf udah nyakitin terus. Kamu milik ku Bar. Sekalipun kamu udah nggak mau sama aku, tapi aku akan tetap maksa kamu untuk tetap jadi milik aku. Nggak peduli kamu akan benci sama aku. Aku nggak bisa kehilangan kamu. Maaf, harus ngasih kamu rasa sakit terus." Felix berucap tulus.
Ia mengecup sayang puncak kepala Barbara dan membiarkan Barbara tertidur di atasnya. Perlahan ia pun memejamkan matanya hingga ia akhirnya terlelap.
...~ **To Be Continue ~...
******
Ayo ngaku, siapa yang udah kesal duluan sama Felfel kemarin?
Like dan komentar jangan lupa yah..
__ADS_1
Makasih**.