
WEEKEND
"Ma, Papa mana?" Fera bertanya semangat saat melihat Barbara yang sudah anggun dengan dress hingga ujung mata kakinya.
"Ada, bentar lagi turun. Ada apa sih? Seneng banget?" Barbara memberi kode agar Fera duduk diatas pangkuannya.
Fera menurut namun ia duduk dengan hati-hati.
"Mama lupa hari ini Nio mau datang?" Fera bertanya gemas dan memeluk manja leher Barbara.
"Em..sayang banget sih sama Nio?" Barbara mencubit gemas hidung putrinya.
Fera hanya terkekeh.
"Papa." Fera berteriak girang saat melihat Felix turun dari atas.
Ia langsung menghampiri Felix dan meminta gendong.
"Astaga, anak Papa udah berat ternyata." Felix menggoda putrinya namun Fera hanya tertawa kecil.
Fera bukan tipe anak yang sensitif atau mudah marah.
"Anak Papa hari ini cantik banget. Ada apa?" Felix bertanya lembut.
"Itu Nio hari ini mau datang." Fera menjawab semangat.
Felix hanya menggeleng gemas melihat antusiasme putrinya.
"Om Frans sama tante Tas mau kemana?" Fera bertanya semangat.
"Mau cek dedeknya Fera." Frans menjawab singkat dan langsung keluar dari rumah.
"Mama nggak cek juga?" Fera bertanya penasaran.
"Mama entar entar aja. Sama Fera juga perginya." Barbara sambil tersenyum.
"Yeyy..." Fera bersorak bahagia.
"Kok Nio belum sampe yah?" Fera bergumam cemas.
"Udah, sabar aja nunggunya." Felix memberi saran.
Fera pun kembali tenang.
Tak lama yang ditunggu pun datang bersama seorang pria yang diyakini adalah sopir Denio.
"NIO." Fera berteriak kegirangan sambil berlari memeluk Denio.
Denio membalas pelukan Fera dengan lembut.
"Nio kamu kenapa? Kok muka kamu biru-biru?" Fera bertanya khawatir.
Denio hanya menggeleng sebagai tanda jawaban tidak apa-apa.
"Ya udah, ke kamar aku yuk. Aku mau tunjukkin mainan baru." Fera menarik tangan Denio untuk mengikutinya.
__ADS_1
Denio pun menurut.
"Pak, silahkan duduk disini." Barbara mempersilahkan sopir Denio untuk masuk dalam duduk dengan mereka.
"Siapa nama Bapak?" Felix bertanya sopan.
"Saya Jo, Tuan. Saya sopirnya Denio." Pak Jo menjawab dengan sopan.
"Panggil Felix aja Pak, dan ini mamanya Fera, Barbara." Felix memperkenalkan diri dan juga istrinya.
Pak Jo hanya mengangguk sopan.
"Pak, kalo boleh saya tahu, itu Denio kenapa yah? Kata Fera sering banget badan, tangan, bahkan hari ini mukanya lebam gitu?" Barbara bertanya penasaran.
Pak Jo menunduk sedih.
"Saya itu udah ngurusin Denio sejak dia lahir. Orang tuanya nggak menginginkan dia. Sejak dia lahir, yang ngurus dia itu saya dan istri saya. Orang tuanya hanya memberikan uang bulanan yang banyak buat kami. Dan sekarang setiap orang tuanya bertengkar, Denio yang selalu jadi sasaran amukan." Pak Jo menjawab dengan menunduk sedih, bahkan air matanya menetes dengan sendirinya.
Felix dan Barbara saling tatap tak percaya.
"Malang banget nasib Denio." Barbara bergumam.
"Makanya nggak heran kalau Denio sangat pendiam seperti itu. Dia juga kadang lebih rela ditindas agar ada yang mau berteman sama dia. Nggak ada yang mau berteman sama dia karena dia sangat pendiam selain Nona Fera." Pak Jo kembali bersuara.
"Kasian banget. Oh iya, silahkan diminum teh nya Pak." Felix menuangkan secangkir teh untuk Pak Jo.
"Makasih Fel." Pak Jo menyesap teh nya.
Felix dan Barbara tersenyum.
Mereka kembali berbincang kecil dan lebih banyak mengenai Denio.
Ketiga orang tua yang ada di ruang keluarga pun bergegas naik kekamar Fera untuk melihat yang terjadi.
"Nakal banget sih? Kan jadi merah gini deh muka aku." Fera menggerutu kesal karena Denio mencoret mukanya dengan cat crayon.
Denio hanya tertawa melihat Fera menggerutu.
"Ini, rasain ini." Fera membalas dengan mencoret muka Denio menggunakan cat warna hitam.
"Hahaha kamu itam. Kayak Zebra." Fera tertawa terbahak dan Denio juga.
Ketiga orang tua yang berdiri di pintu pun hanya tersenyum dan bernafas lega karena mereka saling coret rupanya.
"Saya baru kali ini lihat Denio tertawa lepas kayak gitu. Dan cuma Nona Fera yang bisa buat dia tertawa." Pak Jo menatap kagum pemandangan di depannya.
Felix dan Barbara tersenyum kaku.
"Apa jika dulu aku tetap ego dan nggak nerima Fera, Fera akan seperti itu juga?" Felix membatin.
"Udah, ayo kita duduk lagi dibawah. Biarkan mereka bereksperimen aja." Felix mengajak Barbara serta Pak Jo.
Mereja bertiga pun turun kebawah dan kembali duduk di tempat mereka.
Meninggalkan para orang tua yang sibuk membahas ini dan itu, maka berbeda dengan kedua anak kecil yang sedang sibuk menggambar.
__ADS_1
"Loh Nio, itu gambar apa?" Fera bertanya bingung saat melihat hasil gambar Denio yang terbilang seram.
Ia menggambar dia orang dewasa dan satu anak kecil dengan crayon hitam. Kemudian kedua gambar orang dewasa itu ia coret dengan menggunakan crayon warna merah.
Mulutnya komat kamit menyebutkan kata mati.
Fera sedikit aneh melihat tingkah Denio yang seperti itu.
Fera menghentikan sejenak kegiatan gambarnya lalu tiba-tiba ia memeluk Denio.
"Nio jangan sedih. Kalo Nio mau, Nio bisa kok disayang sama Papa Mama Fera, Fera nggak akan marah. Kita berbagi Papa sama Mama." Kata-kata yang terdengar ajaib keluar dari mulut Fera membuat Denio tersenyum menakutkan.
"Aku nggak butuh orang tua. Aku cuma butuh kamu Fera." Denio mengatakan itu semua dengan nada menakutkan.
"Iya, Fera janji Fera bakal jadi teman yang baik selamanya untuk Nio. Nio jangan sedih ya." Fera mengusap punggung kecil yang rapuh itu.
"Itu janji kamu Fera. Jangan pernah ingkari janji kamu!" Nada Denio kecil terdengar mengancam bahkan terbilang menakutkan.
Namun Fera hanya anak kecil yang belum mengerti sepenuh tentang segala sesuatu.
Ia hanya terus mengatakan iya dan iya pada Denio.
"Aduh, Fera jadi laper. Kita makan yuk." Fera pun melepaskan pelukannya dan mengajak Denio turun kebawah untuk makan bersama.
"Mama, Papa, Fera sama Nio laper." Fera berteriak namun tetap sopan.
Fera segera menghampiri kedua anak kecil itu.
Sigap Fera menggendong Denio, Denio spontan memeluk leher Barbara.
"Anak-anak Mama laper ya? Mau makan apa?" Barbara bertanya dengan penuh kasih sayang membuat Denio terharu.
"Tante, boleh aku minta spaghetti gak?" Denio bertanya dengan malu-malu dan terus memeluk leher Barbara.
"Boleh dong. Tapi Papa Felix yang masakin yah." Barbara pun meminta Felix untuk memasak spaghetti yang Denio inginkan.
Tak lupa jatah untuk Fera kecil juga.
Pak Jo terkagum melihat kebaikan dan kelembutan kedua orang tua Fera pada Denio.
Setelah selesai, Felix memberikan spaghetti tersebut masing-masing pada dua anak kecil itu.
Denio menatap lekat makanan di depannya seolah sedang merekam momen indah itu.
"Nio kenapa? Kok nggak dimakan?" Felix bertanya khawatir terutama saat melihat Denio menitikkan air mata.
Denio hanya menggeleng.
"Yaudah, Papa suapin ya." Felix pun menggulung pelan spaghetti tersebut dengan garpu dan menyuapi Denio.
Sungguh Denio merasa bahagia dan sangat terharu mendapatkan perlakuan yang begitu manis dari kedua orang tua Fera.
Fera dan Barbara hanya tersenyum melihat Felix dan Denio yang sangat manis.
"Nio jangan sedih lagi. Pokoknya Nio bisa datang ke sini kapanpun Nio mau. Nanti tante sama om Felix bakal jagain Nio seperti anak kami sendiri juga." Barbara tersenyum pada anak kecil yang tumbuh dengan luka fisik dan batin itu.
__ADS_1
Sungguh jika boleh, Denio ingin berteriak dan mengungkapkan kebahagiaan nya saat ini mendapatkan dua orang tua yang begitu menyayanginya meski mereka bukan siapa-siapa Denio.
...~ TO BE CONTINUE ~...